Amiruddin Hasan
**I Manyambungi Raja Balanipa **
Beberapa susun abad silam
Kau membesar di perut suci Weappas
Ayahmu bernama puang Digandang
Benih raja Mandar si kembar keris perlahan merekah
Si pahit lidah makmurkan kerajaan Balanipa mendatang
Di waktu kanak-kanak
Kerismu merobek dada sepupumu sendiri dengan tanganmu
Kau diasingkan
Sandeq’ bercadik tajam membawamu berlayar ke negeri Gowa
Mengiris pinggang selat biru Makassar
Menjumpai kerabatmu diberkati jiwa dewa
Berbunga cinta dari kepala sungai Sa’dan
Matahari teduh menjuntai pelangi di cakrawala Makassar
Kau menghadap Karaeng Batara Gowa di paviliun istana
Kau ceritakan Tomanurung suci leluhurmu
Karaeng Batara Gowa berdiri dan berkata
“Kaulah saudaraku, pelajari banyak ilmu dari hati para guru
Tingallah di sini wahai cucu Tomanurung!”
Saat usiamu laayak menginjak tangga pernikahan
Karaeng Surya berparas cantik menjadi pengantinmu
Perempuan berdarah Makassar bertulang rusuk Mandar
Kemanakan tersayang istri Karaeng Batara Gowa
Di rahimnya calon putra mahkota kerajaan Balanipa Tomepayung
Lahir ke bumi mewarisi keagungan tahtamu nanti
Berkat bimbingan gurumu
Yang mengasah kemahiran akal budimu
Kau dinobatkan panglima perang kerajaan Gowa
Menyongsong medan-medan perang
Memimpin ratusan ribu prajurit berperahu
Berkeris keramat bertombak panjang
Menghalau dan melumpuhkan semua musuh
Bertekuk lutut memegang darahnya merembes dari cabikan luka
Takluk jadi tawanan
Tak terhitung pula mereka tumbang dipukat kematian
Kegagahan dan keberanianmu
Selaku panglima perang kerajaan Gowa
Dibawa desir angin Makassar
Menimpa pesisir putih tulang lautan Mandar
Mahsyur di telinga petinggi-petinggi Appe’ Banua Kayyang
Dirudung malang dan gumpalan kecemasan
Kini tertatih hendak merangkak
Menahan gempuran para perusuh
Demi keagungan Appe’ Banua Kayyang
Cara terbaik bertahan
Harus meminta pertolongan ke raja Gowa
Memanggil pulang I Manyambungi
Pada hari itu ribuan pengawal bersenjata
Seratus dayang perawan dan perjaka
Dibelakang barisan kuda-kuda hitam
Mengangkut harta pemberian raja Gowa
Melimpahkan kemilaunya di tanah Balanipa
Maka saat itu kau diberikan gelar Todzilaling
Di Napo yang dingin
Dikelilingi hutan belatara
Pagi itu puang Digandang dan Weappas berwajah rindu
Menantimu di pintu kayu berdandan cahaya matahari
Akhirnya berjumpa
Mereka berdua memeluk tubuhmu kuat besi
Kau balas pelukannya
Memberinya puluhan kecupan
Diiris bening air mata
Di medan perang melawan pemberontak
Berbala tentara pemberani
Kau redam kekacauan negeri penuh kesatria
Hingga Appe Banua Kayyang mengangkatmu
Menjadi raja kesatu Balanipa
Keesokan harinya kau utus perwakilanmu ke Gowa
Memohon kitab lontar kuno dibawa pulang ke Mandar
Untuk memandu sistem pemerintahan yang kau dirikan
Mengatur tata krama pergaulan rakyat dengan sopan
Maka saat itu orang tua dipanggil puang
Sementara orang muda dipanggil ana’
Di lontar kau berkata lantang di hadapan para menterimu
Tentang pemerintah sehat dan baik
“Meski dia adalah anakku atau keluargaku
Jika dia buruk perkataan dan perilaku
Jangan kau sekali-kali mengangkat dia
Sebagai pemimpin sepeninggalku
Sebab dia akan mengawali kehancuran negeriku”
Di kesempatan lain kau berakata bijak
“Jika kalian ingin mencari pemimpin sebuah negeri
Suruhlah calon pemimpin itu menanam padi
Andai padinya tumbuh subur
Maka angkatlah dia sebagai pemimpin
Sebab pemerintahan sebuah negeri akan makmur
Jika semesta merestuinya”
selain dihapus pula pengadilan maut Bala Tau
Di sana Perkara-perkara lelaki disudahi dengan pembunuhan mengerikan
Pemenang pertarungan dalam satu sarung itu dianggap benar
Sedang lelaki yang terbunuh oleh keris
Pasti salah dalam sebuah perkara
Sedang bagi seorang perempuan berperkara
Tangan kanannya dicelup di air mendidih yang mengupas kulit
Kebenaran ditetapkan pada perempuan terakhir
Mengangkat tangannya dalam wajan panas
Beberapa tahun berselang
Kau mangkat ke langit dewata
Semua harta milikmu menyertai jazadmu
Begitu pula empat belas dayangmu yang masih hidup
Setia mengikutimu ke kubur
Mereka bernyanyi memainkan alat musik sepanjang empat puluh malam
Setelah itu
Sunyi
Sesunyi lambe’ berdaun rimbun di puncak bukit
Hidup seperti di makammu
Mandar, 26 Desember 2021
*
I Manyambungi(1):Raja I Balanipa
Balanipa(2) :Salah satu nama kerajaan yang pernah ada di mandar pada masa silam. Sekarang menjadi salah nama kecamatan di Polewali Mandar
Puang(3):Panggilan penghormatan tertinggi dalam masyarakat Mandar/Bugis/Makassar dan Toraja
Mandar(4):Suku bangsa yang menempati wilayah Sulawesi Barat
Si kembar keris(5):Menurut cerita I Manyambungi punya saudara kembar keris yang muncul saat dilahirkan dari perut ibunya
Si pahit lidah(6):Menurut cerita I Manyambungi dijauhi teman sepermainannya. Teriakan dan marahnya bisa membuat orang meninggal dunia
Sandeq’(7):Perahu layar bercadik yang digunakan orang mandar pergi melaut
Sungai Sa’dan:Sungai terpanjang di provinsi Sulawesi Selatan
Karaeng Batara Gowa(9):Raja Gowa VII
Tomanurung(10):Sosok orang yang turun dari langit
Karaeng Surya(11):Putri dari Karaeng Sandrabone seorang putri Mandar yang bersaudara dengan I Reasi istri Karaeng Batara Gowa
Tomepayung(12):Raja II Balanipa, sosok raja yang selalu dipayungi dimana pun berada
Appe’ Banua Kayyang(13):Empat negeri besar di kerajaan Balanipa yaitu Napo, Samasundu, Mosso dan Todang-Todang. Empat negeri bertugas sebagai penasehat raja
Todzilaling(14):Gelar yang disematkan kepada raja I Manyambungi yang membawa atau memindahkan semua harta bendanya saat meninggalkan kerajaan Gowa untuk pulang ke Mandar. Cerita lain mengatakan ketika I Manyambungi mangkat, seluruh kekayaan bahkan dayangnya dimasukkan ke dalam kubur
Ana’(15):Anak
Bala Tau(16):Tempat pengadilan kuno suku Mandar untuk memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah, bertempat di atas bukit Desa Tammejarra Kec. Balanipa Kab. Polewali Mandar
Lambe’(17):Pohon beringin