I MADE SUANTHA
FORUM PUISI INDONESIA 1987, KOTA PUISI ITU BERNAMA TAMAN ISMAIL MARZUKI JAKARTA
Dengan kereta angin aku mengeja puisi dan kereta api aku di antar bersama puisi sampai ke sini. Sebuah kota bernama puisi. Kota puisi yang tumbuh dari rasa. Rasa ada untuk memahami cintamu kepadaku.
Karena puisi pula yang mengingatkanku akan adanya udara yang masuk dari hidung dan memompa jantungku menjadi kehidupan.
Aku menuliskan kata demi kata, sampai akhirnya kata itu melenyap menjadi kalimat. Kalimat yang menjadi jalan lurus dan kadang sangat menyesatkan, tanpa tanda panah untuk menandai kembali.
Hingga pada saatnya, aku baca kemudian berupa amsal.
(1)
Pohon puisi. Pohon berdaun kata. Dan seekor kupukupu menjadikannya taman dengan bungabunga selalu berembun yang takpernah kuncup. Mekar serupa semburat cahaya matahari pagi. Kalanya, setiap senja mulai, burung burung mengembalikan sunyinya ke dalam helai helai daun yang tak penat menangkap panas surya, untuk menghangatkan demam tubuhmu. Dan igauanmu selalu tembang tembangkan puisi di luar kesadaran itu. Pohon puisi. Pohon puisi tumbuhkan diriku agar tak tumbang oleh semilir angin atau puting beliung sekalipun. Tak terhanyut oleh bah. Bah airmata!
Mencatatkan asam tanah dan asin peluh pada setiap rekah akar, hingga kau tumbuh dengan lebat bunga dan ranum buah: Kenangan apa yang begitu sempurna di dalam setiap perjalanan?
Begitu pula, jalan menelikung menghindari sebatang pohon lalu melewati sebuah sungai yang mengalirkan airmata dan menenggelamkan arus adalah jalan puisi. Jalan puisi yang sunyi untuk menemu kesendirian. Yang kadang lupa kutera dalam peta serta teraan angka pada almanak.
Jalan menuju kemah, sebuah api unggun, sebait kalimat. Adalah puisi kenangan yang selalu berdarah setiap kua baca.
Puisi kenangan itu, serupa patung tanpa kepala dan tangan, di mana cairan otak serta jari jari tergeletak pada selembar kertas. Maka, tulislah masing masing nama dalam antrean ini.
(2)
Jakarta. Kutulis puisi tentang Jakarta untuk menandai banjir yang selalu menggenang. Puisi ini takpernah menjadi usang. Atau mubazir untuk di baca kembali, walau tanpa tanda baca dan kode jeda. 38 tahun telah menjadi tambahan usia dan almanak kadang lupa memberi catatan kaki. Tapi, aku mengingatnya dengan puisi. Puisi cinta yang kutulis, takpernah srlesai dengan kata ke kata, dari waktu ke waktu. Serupa labirin. Lorong rahasia. Tidurpun selalu dibangunkan oleh mimpi dan sesekali dengan igauan demam. "Bersiaplah. Kau lupa memberi tanda baca pada sebuah kalimatmu", katamu sambil berlalu hingga kau menghilang tertelan dalam udara yang kuhirup.
Aku teringat Jakarta. Kota yang menera puisi. Kota tanpa halimun. Puisi labirin yang membekam sewaktu waktu. Puisi membawaku dan pertama kali kereta api mengantarku jauh dari kampung. Jauh dari batas yang kubayang. Dan, ingatan ini membekas, masihkah kita bersahabat?
(3)
Kenangan apa masih teringat dan tercatat?
Buku harian tersobek namun tak berduka untuk terus mengingatkan. Mesti, almanak terus menggantikan angka ke angka, tanpa merubah musim dan arah angin. Kita masih terjaga memberlakukan kata kata dengan sangat hormat dan setia merawat.
Berkumpul karena puisi, kata menjadi mengikat. Serupa kupukupu dengan sebentang margasatwa. Dan, aku bertani di ladang puisi. Tak lagi menggaru, hanya mencabut gulma dan membasmi hama. Menyemai palawija tumbuhlah katakata yang kadang kasar dan khianat. Namun, di dalam tubuh mendewasakan hidup: Menanam kesendirian.
"Kadang membalurkan parampusaka ke seluruh badan. Persendian yang menggeretak sewaktu waktu dan setia menulis tentang muara yang takhenti henti dan tulus mencampur tawar air sungai dengan asin air laut menjadi payau di dalam raupan tangan yang gemetar itu!"
Aku kadang mengingatmu karena namamu. Sementara wajahmu sangatlah rahsia untuk ku tatap.
(4)
Catatan 1987 adalah ingatan sebuah kenangan tanpa waktu dan tanggal kadaluwarsa. Seperti puisi mengalir karena kata yang arusnya menggelinjang dalam hati dari hidup yang tak berduka. Serupa jukung berlayar dan sekaligus melabuhkan aku pada dermaga di pelabuhan cintamu yang tulus.
Catatan puisi 1987, adalah kenangan dari kaakata yang gila dan memabukkan. Katakata candu, katakata yang buta namun menatapku sangatlah tajam dan mengiris perih.
(4.a)
Bab pertama, aku terkesan akan pohon yang berjejer sepanjang jalan masuk ke kampung puisi itu. Menyapa dengan cara berdiam saja dan bisikan itu hanya geliat angin yang mengubah dingin ke dalam gigil demammu. Panas sisa perjalanan yang lupa tercatat dalam ingatan dan jarum jam beku menambah angka. Tiba tiba siang menguapkan muaian daun daun. Seekor kupukupu tertangkap dalam tatapan.
Lalu, mengajakku masuk dengan cara berdiam saja dan jejak yang muncul tenggelam itu hanya menuju pintu tanpa gembok, "Beristirahatlah, lepaskan lelah dan rasa kantuk"
(4.b)
Bab kedua, puisi yang mengantarku sampai jauh menempuh kaki kaki. Tak menapak jejak, yang tersisa hanya deru yang bersenyawa dengan angin di luar kereta. Derunya terjaga seperti hirupan nafas.
Perjalanan ini, serupa percintaan langit dengan bumi, menyatu tanpa rekatan, terpisah tiada sisaan ruang. Tapi tetap menyiapkan ruang terbuka di antaranya untuk penempuhan hakiki. Tempat kita berkemah dan menulis peta serta mewarnainya dengan lelehan embun yang dimuaikan oleh panas purnama.
Adakah kupukupu yang beranakpinak di hutan raya katakata?
Puisi mengantarku memasuki ceruk ceruk kerahasiaan kehidupan ini!
(4.c)
Bab ketiga, teman dan persahabatan yang lahir dari rahim puisi. Berkepompong di antara lelehan madu bunga. Berkelindan sepanjang guratan tangan. Membacabaca menggaligali melukuluku, hingga takbisa melarikan diri dalam cidukan puisi, mengajariku banyak percakapan. Selayak pesona taman dengan mekar kembang dan birahi seribu kupukupu, apakah keindahan ini layak untuk dilupakan?
Kini, teman itu berapa di peta masing masing, membangun menara puisi, ada yang runtuh karena gempa, puting beliung, bah dan runtuh oleh desiran angin.
Siapakah di antara kita kini masih ada untuk menulisi kegilaan ini. Catatlah dengan senang hati pada catatan kaki ini, dalam mencintai katakata yang liar ini. Hutan katakata,
I Made Suantha, Kumpulan puisi tunggalnya adalah PENIUP ANGIN, 1989. PASTORAL KUPUKUPU, 2008. KUKUBUR HIDUP HIDUP PUISIKU DALAM HIDUPKU, 2023. SIPTA UMA DIKA (rencana terbit)