Dokumentasi Puisi Penyair Indonesia
Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Edisi Spesial HUT RI Ke-72 dalam tema Kita Dijajah Lagi 2017

Laraswati Tiya dalam Kita Dijajah Lagi : Masih Sedang Terjajah

Masih dan Sedang Terjajah Setelah tiga setengah abad, tiga setengah tahun Negeri nyata nyata Terjajah Rakyat nyata nyata Terjarah Perih pedih berlumur darah Tujuh puluh dua tahun terlewati Masih terasa pedih dalam lubuk pertiwi Atas keserakahan dan kekejian, Para Nippon dan Kompeni Kemerdekaan Menjadi obat penawar kehancuran Tapi Sang Proklamator takut akan renkarnasi kolonial Kekuasaan bayangan dan siluman anak bangsa Sekarang Biru langit menjelma abu-abu penuh debu Penjajahan atas nama industri Rakyat jadi abdi wara wiri Sekarang Tarian ronggeng Jarang tampil Wayang dan ... lainnya »

Nur Komar, dalam Kita Dijajah Lagi : Kemurungan wajahmu

Nur Komar Kemurungan Wajahmu Murung adalah warna pudar Sang Saka dalam lindap damai kata merdeka Murung adalah compang-campingnya bulu garuda meriap duka pengkhianatan menyesakkan dada Murung adalah runtuhnya cinta yang agung di mana kita enggan saling menyambung ; ada apa ini? negeriku terkoyak kini Siapakah yang mengotori bajumu? hingga permusuhan tiada jemu Maka, murung wajahmu harus diterjemahkan kekonyolan ini harus dibumi hanguskan Kemurungan ini sudah sepatutnya melecut bahwa kita bukan bangsa pengecut Budaya santun agar tetap bisa menuntun gemah ripah loh jinawe hidup rukun ;... lainnya »
Gilang Teguh dalam Kita Dijajah Lagi : Menulis Apa Kita
Gilang Teguh Pambudi Menulis Apa Kita Muhammad Toha ditulis anakku Depan rumah makan Sunda Sebagai perlawanan yang siap meledak Dengan bom di tangan Menjadi kesejahteraan Aku menulis apa dalam kesaksian yang tua? Pintui ruang dalam Kesejahteraan adalah tempat tidur Bagi segelintir keras kepala dan hati api Yang menimang serba keuntungan sendiri Dan sebagian pesta korupsi Muntah daging ditulis anakku Karena t-pintu kesejahteraan itu ditutup kembali Lalu d ragedi anak negri yang tidak bisa menelan tubuhnya sendiri Dengan ziarah kesalehan Karena selalu berdarah kecelakaan sosial yan... lainnya »

Thomas Haryanto Soekiran dalam Kita Dijajah Lagi : Tumbal Tinombala

Tumbal Tinombala Apa yang diperjuangkan hingga lari kehutan. Terjepit gunung menyelinat takut ketangkap. Lalu apa yang mesti dipertahan kan sampasampai takut tembakan. Kisahnya sampai kemana mana tapi desah nafas tersengal. Kanapa bersembnyi dibelan tara padaal balatentara menyuarakan siap menghayal. Siap ja di calon pengantin. Siap mengajal. Siap ketemu Tuhan. Bidada ribidadari akan menyambut. Bahkan 40 bidadari siap menyam but mengiringi kematian.Kematian yang ternyata hanya dimata senapan. Apa yang diperjuangkan hingga sangat berani deng... lainnya »
Syahriannur Khaidir dalam Kita Dijajah Lagi : Gogoglo
Gogoglo Merdekalah kata-kata Memapah kita-kita merdeka Gagah kaprah lengah kiprah terjajah Membabi-buta cita-cita Lupa mata Lupa tangan Lupa kaki Lupa pula di kebiri di tanah sendiri Merdekalah kata-kata Memapah kita-kita merdeka Gagah kaprah lengah kiprah terjajah Bersarang di kepala anak negeri Tersungkur karena buta Tersingkir karena eja mengeja merdeka Yang asing bertolak pinggang Memainkan gemulai telunjuk Pribumi bergulat mengisap debu Tiang-tiang perusahaan Sepatu-sepatu teknologi Jas perlente aristokrat Usus-usus peradaban semburat Pribumi terseok-seok Budaya terperos... lainnya »

Djemi Tomuka dalam Kita Dijajah Lagi : Perempuan tua

Djemi Tomuka Perempuan Tua di mata tua perempuan itu langit tak pernah berubah kecuali pundak kini lekuk setiap kali dia menyeret uban yang mengelupas di kakinya disebutnya rumah, gubuk tempat menaruh senyum di sampingnya, gundukan tanah selalu basah oleh kenang dan airmata adalah tugu kecil dengan relief bambu runcing bertuliskan kekasih ditimangnya hari-hari di ujung bersama nama kekasih yang terbungkus merah putih telah lusuh hilang warna di mata tua perempuan itu langit tak pernah berubah kecuali juang terus saja memanjang menggelung ke langit Tanpa sesiapa Menanti merde... lainnya »

Iwan Dartha dalam Kita Dijajah Lagi : Kopi Pahit

KOPI PAHIT Puisi Iwan Dartha Lebih besar harapan daripada bukti-bukti dua teguk pertama cukup sadari rasa kopi ada bayangan merdeka dalam kepul nyali Tebarkan gula-gula seusai kau tumbuk palu rumput hijau kau arit dengan retorika palsu sampah busuk kau pungut tanpa rasa malu Kopi pahitku lebih manis daripada gulamu saat pesta meriah sublimasi ambiguitasmu Menarik arakan awan kelabu menghangati setiap rasa merasuki kepercayaan dirimu Warna tertepis mengabaikan asa sendimu Kopi pahitku selalu memaniskan sukmaku Dunia telah mencintai madu seperti aku juga Tapi secangkir kopi pahitku d... lainnya »

**Zaeni Boli, dalam Kita Dijajah Lagi : Aquiarium
**

Zaeni Boli
Aquarium
malam itu di sebuah aquarium bernama comuter line ikan -ikan tak saling bertegur sapa mungkin lelah atau sibuk dengan ponselnya sementara seorang ibu dan sahabatnya seorang bapak berdiskusi kecil tentangsisa-sisa kerja dan sedikit gosip di kereta terakhir bangku- bangku begitu dingin begitu pula para penumpangnya mataku yang lelah masih juga di sesaki oleh iklan-iklan yang menempel di setiap sudutnya air conditioner dan kipas yang berputar mengantar dingin yang asing ke kulit dan kata-kata seakan membeku membiru perasaan begitu asing di negeri sendiri ... lainnya »

Sarwo Darmono dalam Kita Dijajah Lagi : Seni Budaya Mung Kari Tilas

Sarwo Darmono Seni Budaya Mung Kari Tilas Kabeh

pada nyengkuyung sanajan hamung kentrung Kabeh pada gemnruduk sanajan hamung ludruk Kabeh pada guyub sanajan hamung tayub Kabeh pada sigrak sanajan hamung kethoprak Kabeh pada jingkrak sanajan hamung jaran kencak Kabeh pada girang sanajan hamung wayang Lan Glipang Kabeh seni budaya iki wus pada ilang Sanajan ana mung kari arang Kabeh mung kari tilas Kabeh Mung pada ora nggagas Jare ngunu kuwi budaya wus lawas Budaya ora duwe kelas. Jarene sing duwe kelas budaya manca Apa-apa kudhu teka budaya manca Jogete joget manca Busanane busana cara ... lainnya »
FE Sutan Kaya, Memaknai Kemerdekaan dalam Secangkir Kopi dalam Kita Dijajah Lagi

**Kita Dijajah Lagi FE Sutan Kayo **

Memaknai Kemerdekaan dalam Secangkir Kopi
memaknai kemerdekaan dalam secangkir kopi yang benar-benar belum Merdeka entah itu arabica atau pun robusta sebab manisnya gula masih saja dicuri oleh segerombolan semut yang semakin perkasa membangun dinasti di dalam tempurung ah entahlah di mana katak bersembunyi
*Muara Bungo-Jambi-2017 *