Rita Nurningsih

PASRAH

Di ufuk barat, rindu ini menjelma menjadi belati mengiris tanpa henti
Malam menikam sunyi, diantara detak jantung tak pasti
Angin telah membawa khabar tubuh mu mulai layu
Sementara aku terkunci jarak yang menjelma menjadi tembok karang pongah
Suara pecah sebelum sampai ketelingaku yang lelah
Tapi aku tak henti mencari jejakmu di sela gelombang udara bisu
Tentang khabarmu yang tak lagi kunjung mengetuk pintu kalbu
Namun tak satu jawab ku temu
seolah tenggelam dalam samudera tak bertepian
Sakitmu bagai badai merobek layar harapan,
meninggalkan aku karam, terkunci ketidaktahuan.
Apakah bahumu masih kuat memikul hari?
Atau menyèrah dengan pucat pasi?
Tidak sayang...
Jangan pernah lakukan itu.
Aku tak akan merubah haluan
Jikapun semesta menuliskan titik pada bait kita,
Aku tidak mematahkan sayap-sayap doa,
Biarlah jarak masih menjadi penjara,
dan aku tawanan tak berdaya
merangkai air mata menjadi puisi duka
Namun dengarlah, wahai pemilik rusukku yang jauh
Jika takdir memang menuliskan kita bukan satu pelabuhan labuh
Cintaku tak akan meluruh
Kulepas egoku, melipat kepak sayap rindu dengan jemari ridha
Membuka pintu pasrah lebar-lebar melepasmu kepada bidadari dunia di sana,
Sebab bagiku bahagiamu yang utama
Bukankah Ikhlas adalah mahkota, meski hati berdarah berkobar?
Kasihku sembuhlah, meski mungkin bukan untukku lagi
Karena Cinta bukan menggenggam bara hingga hangus,
tapi keberanian memutus benang saat garis tak lurus.
Jik takdirku tidak menentukan bahwa bukan kau dermaga tempatku menyandarkan sauh!
Biarlah lukaku mengering dalam diam paling jauh.

  • π’₯π“Šπ“ˆπ“‰π’Άπ“‡π“‰κ§‚β„³β„―π’Ήπ’Άπ“ƒ010226*