Uleceny

POTRET DI (RI) DALAM PANJAT PINANG

Dalam bingkai jiwa
merah putih menari-nari;
di pucuk-pucuk bambu
di tiang-tiang kota
di pagar-pagar desa, dan
di depan rumahku, bendera terpancang
dikibarkan angin sepoi-sepoi
sambut hari nan merdeka

Di sudut desa
anak-anak tertawa riang
tanpa kasta
bertarung sepak bola, sepak raga, dan tarik tambang
mengema hiruk-pikuk jelata
dalam tradisi panjat pinang
licin dibaluri oli, sabun, dan jelaga
tergambar kehidupan yang layak

Siapa mengira
ada gejolak menikam relung
hidup harus dipertahankan
sepeda plastik dan setali uang
menjanjikan di atas sana?
"panjatlah! panjatlah! "
sorak suara dari balik meja berpita
bahu-bahu kusam bapak tempat berpijak

tanpa sadar
jangan ajari kami,
bagaimana licinnya oli di batang pinang
pundak lawan jadi penopang
kaki-kaki tegap melingkari pinang
pekatnya oli merusak kulit
demi sekotak mimpi di ujung pohon
yang digantungkan elit negeri

bukan rasa manis kemenangan
menetes di dahi
melainkan peluh air mata
kami yang memanjat
kami yang memar
kami yang jatuh berulang kali
lalu siapa bertepuk tangan
‎di kursi empuk ber-AC itu, hai?

Pesta ini pesta kami!
tapi aturan permainan ini milik kalian
kemerdekaan dibaluri hadiah murah
direbut dengan luka
menjual gelak tawa
atas nama tradisi dan kebersamaan
dibiarkan saling menjatuhkan
sampai kapan drama ini usai?

baiklah!
kini kami bingkai gugatan ini;
di kertas segel berstempel luka
di pungung-pungung mengelupas nanah
bahwa batang pinang ini:
bukan simbol perjuangan suci
melainkan potret di(RI) dalam panjat pinang.
rakyat dimobilisasi, dibaluri oli jelaga, dan dijatuhkan berkali-kali.

Sumbawa, 08082026

Uleceny, dilahirkan di Sumbawa, 5 Juli. Aktif menulis puisi.