Budiyanah
PANJAT PINANG
Sebuah momentum warisan jaman kolonial Belanda
Pertunjukan untuk menyenangkan penguasa dan antek Belanda
Betapa bahagia mereka melihat rakyat kecil berebut hadiah
Aku membayangkan bangsaku terhinakan
Bagaimana penguasa feodal ingin memperoleh hiburan
Menertawakan kemiskinan rakyat negeriku
Memperebutkan sesuatu yang tak seberapa
Namun sangat mewah bagi rakyat tertindas ketika itu
Di pucuk pinang yang berlumur oli
Bergantungan hadiah agar diperebutkan
Rakyat kecil saling injak pundak menuju ujung batang
Mujur nasib, jika tidak terhempas dari ketinggian
Jika tengah sial, maka kematian dan kesakitan pasti adanya
Panjat pinang modus penghinaan peninggalan penjajah
Yang saat ini dilestarikan sebagai hiburan rakyat
Meski mereka saling injak pundak
Bahkan kepala pemanjat rela dijejak tapak
Mengapa pula panjat pinang dilestarikan?
Mengapa dihadirkan kembali di tengah alam kemerdekaan?
Filosofi panjat pinang semata mata cara penjajah menghina
Menertawakan kebodohan rakyat negeri ini saat itu
Maka lupakan dan tinggalkan
......Budy ......
Kranggan, 13082026
Bionarasi:
Budiyanah lahir di Temanggung, Jateng pada 15 September 1968. Menyukai dunia sastra sejak di bangku SMP, gemar menulis puisi dan menggambar. Kini kegemarannya berlanjut meski usia menjelang senja. Gejolak Hati, Bias Pelangi, dan Kemilau Cinta Di Langit Jingga, adalah 3 (tiga) judul buku antologi karya tunggalnya, yang diterbitkan oleh Penerbit Anantavidya Yogyakarta. Belum lama ini Budiyanah turut berkontribusi dalam buku antologi puisi bersama Lewatlah Gelap Terbitlah Terang, bersama Komunitas Dapur Sastra Jakarta (2025). Dan juga kontribusi dalam buku antologi Jejak Perjalanan Jiwa Hijau bersama Komunitas Teras Budaya Jakarta (2026). Melalui karya karyanya Budiyanah menyuarakan tentang indahnya hidup, cinta dalam berbagai segi kehidupan. Goresan aksaranya adalah pesan yang menginpirasi banyak orang.