Satria Rizal

MANTAN AKTIVIS ITU
HIDUPNYA KINI
TERLUNTA-LUNTA

Lelaki terlunta-lunta itu Mario namanya, 36 tahun umurnya. Sebagai mahasiswa waktu itu, orasinya berapi-api di depan gedung parlemen. Dengan spanduk di tangan, meneriakkan tuntutan, menyuarakan harapan "wong cilik". Menuntut keadilan pada pemerintah yang sedang berkuasa, berharap adanya lapangan pekerjaan bagi anak-anak bangsa.
Tapi hari ini dia tertunduk lesu di pinggir jalan.
Mario menyimpan ijazah sarjananya dalam tas lusuh, menyimpannya bersama poster yang sudah kehilangan warna. Dulu orasi tentang hari depan bangsa.
Tapi "hari depan" yang pernah diorasikannya itu sekarang pergi menjauhinya.
Gas air mata sudah tidak pernah mendekatinya, berganti asap knalpot dan debu jalanan. Banyak teman-teman Mario yang dulu satu barisan dengannya kini satu persatu menghilang entah kemana.
Pemerintah yang berkuasa pada waktu itu menganggap aktivitas kampus yang berdemonstrasi sebagai pengganggu ketertiban. Menganggap mereka sebagai pemimpi yang keras kepala.
Nasib baik menghampiri beberapa teman satu angkatannya. David yang putra pemilik Toko Bangunan itu sudah mengenakan seragam menyidik perkara. Begitupun Anne yang mantan kembang kampus itu sekarang sudah menjadi sekretaris Pengacara.
Sementara Mario belum punya masa depan. Masa depannya masih dicari di saat usia yang tidak lagi muda. Hidupnya yang tidak tentu arah menjadi cemoohan tetangga, menjadi cibiran banyak orang, menjadi benalu dalam keluarga.
Empat tahun sebelas bulan Mario menimba ilmu di bangku kuliah. Orang tuanya bukan orang berada, bukan keluarga mampu. Orang tuanya sempat berhutang ke sana kemari untuk membiayai kuliahnya hingga tamat.
Hari ini lelaki yang belum mengantongi masa depan itu menaruh gelar sarjananya di pundak. Pundak yang legam terbakar matahari. Tidak ada yang meliriknya. Tidak ada yang memperhatikannya.
Mario melamar kerja ke banyak institusi dan perusahaan-perusahaan milik negara, tapi tidak pernah mendapat panggilan (ada selentingan: "ini jatah orang dalam).
Untuk memperjuangkan nasibnya, dia taklukkan jalanan berdebu dengan modal jalan kaki. Gedung-gedung tinggi menjulang yang angkuh, dia lewati dengan peluh bercucuran. Dilewatinya bangunan-bangunan kokoh yang penghuninya tidak pernah menyapa.
Ibunya berulang kali bertanya: “Nak, kapan kamu kerja?"
Mario menjawab: “Insyaallah dalam waktu dekat. Ibu bantu doa, ya!"
Dompetnya kosong, harga diri juga sudah hampir tidak ada. Yang ada cuma sedih dan kecewa berkepanjangan yang dia tanggung bersama keluarga.
Dulu Mario berani menghadapi kendaraan taktis petugas keamanan, tapi sekarang nyalinya ciut menghadapi hari depan. Dulu orasinya paling keras berdiri paling depan, tapi sekarang bisiknya terdengar paling pelan.
Sepertinya tidak ada lagi yang menaruh ingatan pekik mereka waktu itu: "Tempatkan ribuan sarjana ke dunia kerja!"
Dia tidak menyesal pernah bersuara, karena dia tahu bahwa diam bukanlah solusi.
Apakah masih mungkin bangsa ini akan memberinya secercah sinar harapan? Harapan bagi Mario dan bagi pemuda-pemudi yang lain yang sampai saat ini kehidupannya belum ada titik terang.
Hujan turun membasahi tubuhnya, membasahi gelar sarjananya. Dia tidak lari, hanya mengaduh. Mengaduh bukan karena lemah, tapi karena lelah.
Dan sekarang Mario memahami, bahwa untuk menggenggam kesuksesan tidak cukup hanya modal keberanian berorasi. Untuk meraih masa depan tidak cukup hanya dengan berdemonstrasi. Pun untuk mendapatkan pekerjaan serta untuk memperoleh kedudukan tidak cukup hanya bermodal indeks prestasi yang memuaskan. Ada faktor lain yang lebih penting, yang lebih menentukan. Dan faktor itu yang ia tidak punya.

Bengkulu, 15 Agustus 2026

**SATRIA RIZAL. **Adalah putra Bengkulu kelahiran Lahat Provinsi Sumatera Selatan pada tanggal 14 Januari. Karyanya berupa puisi pernah dimuat di Surat Kabar Harian (SKH) Berita Buana dan Harian Rakyat Bengkulu. Puluhan puisinya tergabung dalam Antologi Bersama. Saat ini menetap di Kota Bengkulu.