
**Leon Agusta **(5 Agustus 1938 – 10 Desember 2015) adalah sastrawan Indonesia.
Ia pernah menjadi guru SGB Bengkalis (1959), pemimpin Bengkel Teater Padang (1972), dan anggota Dewan Kesenian Jakarta. Ia mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1976-1977) kemudian menerbitkan sebuah kumpulan puisi berjudul Di Sudut-sudut New York Itu (1977) dan sebagian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
Setelah menulis puisi selama lebih kurang lima belas tahun dia mengatakan: "Menulis puisi bukan pekerjaan, menjadi penyair bukan tujuan". Ini dikatakannya dengan kesadaran hidup yang lebih luas dibanding dengan masalah penciptaan puisi semata-mata.
Karya :
- Monumen Safari: kumpulan puisi (1966)
- Lagu Senja dari Tenggara: kumpulan puisi (1974)
- Catatan Putih: kumpulan puisi (1975)
- Di Sudut-Sudut New York itu: novel (1977)
- Di Bawah Bayangan Sang Kekasih: novel (1978)
- Kisah Kepergiannya: novel (1979)
- Hukla: kumpulan puisi (1979)
- Berkemah dengan Putri Bangau: kumpulan puisi anak-anak (1981)
- Hedona dan Masochi: kumpulan cerpen (1984)
- Hedona dan Masochi: kumpulan cerpen (1984)
- Gendeng Pengembara: kumpulan puisi (2012)
Ode buat Proklamator
Bertahun setelah kepergiannya kurindukan dia kembali
Dengan gelombang semangat halilintar dilahirkannya sebuah negeri
Dalam lumpur dan lumut, dengan api menyapu kelam
Menjadi untaian permata hijau di bentangan cahaya abadi
Yang senantiasa membuatnya tak pernah berhenti bermimpi
Menguak kabut gelita mendung, menerjang benteng demi benteng
Membalikkan arah topan, menjelmakan impian demi impian
17 Agustus 1945 mereka tandatangani naskah itu
Mereka memancang tiang bendera, mengubah nama pada peta
Berjaga membacakan sejarah, mengganti bahasa pada buku
Meniup terompet dengan selaksa nada kebangkitan sukma
Kini kita ikut membubuhkan nama di atas bengkalainya
Meruntuhkan sambil mencari, daftar mimpi membelit bulan
Perang saudara mengundang musnah, dendam tidur di hutan-hutan
Di sawah teruka dan sakti, di bawah langit negeriku
Kata jadi pasir di bibir pantai, oh, lidahku yang terjepit
Derap suara yang gempita cuma bertahan atau menerkam
Ya, walau tak mudah, kurindukan semangatnya kembali.
Bersama gemuruh cinta yang membangunkan sejuta rajawali
Tak mengelak dalam bercumbu, biar di ranjang bara membatu
Tak berdalih pada kekasih, biar berbisa perih di rabu
Berlapis cemas menggunung sesal mutiara matanya tak pudar
Bagi negeriku, bermimpi di bawah bayangan burung garuda.
1979
Sumber: Gendang Pengembara (2012)