Arc Badil
Kuterima suratmu
untuk sahabat penyair
T'lah kubaca dan aku mengerti
Bergidik kudukku
Suratmu satire dan pilu
Dulu kita rekat jarak dengan tinta
Kini dinding dingin bisu menjelma
Tiap huruf kau gores beraroma luka
Menceritakan dunia yang remuk fana
Aku menggenggam baitmu dengan gemetar
Mencari sisa hangat sahabat yang dulu kukenal
Apakah kau tersesat di labirin yang gelap?
Atau sedang menertawakan takdir yang banal?
Balasan ini kutulis dengan jemari yang ragu
Berharap rindu tak runtuh menjadi abu
Di tengah algoritma penuh drama tak menentu
Kucoba merajut kembali rajutan waktumu
Dunia tidak sedang baik-baik saja
Berdiri di bawah atap cakrawala yang sama
Meski terpisah langkah terbelah samudera
Situasi di sini pun tak jauh berbeda
Krisis global melanda menikam dada
Di balik jeruji layar yang terus menyala
Bertukar kabar tentang bumi yang lara
Kau bicara krisis, aku mengeja luka
Ketika media menari atas kecemasan manusia
Sahabatku, penyeru bait-bait sunyi
Jangan biarkan penamu mati suri
Jika dunia hari ini runtuh dan retak
Biarlah sajak kita yang menjadi perekat
Di atas kertas ini kita tetap merdeka
Menolak tunduk pada takdir yang fana
Maka tulislah terus, sampai perih itu kikis
Hingga satiremu berubah jadi tangis yang habis
Sebab selama tinta kita belum mengering
Kita tak 'kan pernah benar-benar terasing
Bandung, 4 November 2026