Dedy Bachta**
**
TUAN KEMBARA**
**Untuk Penyair : Tuan Kembara
Ia seorang penyair
yang menitipkan perjalanan pada punggung buku
sementara secangkir kopi menjadi penanda waktu
yang mengukur usia percakapan
Di matanya, senja tak hanya peristiwa cahaya
melainkan halaman terakhir
yang selalu gagal diakhiri matahari.
Di tangannya, gitar menyimpan
suara burung-burung yang kehilangan musim
Di kepalanya, kata-kata tumbuh
seperti akar yang mencari air
di bawah tanah ingatan
Sementara hatinya,
sebuah perpustakaan tanpa katalog
menyimpan nama-nama
yang tak pernah selesai dibaca.
Aku mengenalnya sebagai Tuan Kembara
lelaki yang menjadikan meja kopian sebagai pelabuhan
tempat cerita-cerita menurunkan sauh
tempat waktu kehilangan arlojinya
dan dua cangkir kopi
menjadi saksi bahwa kebersamaan
pernah memiliki alamat.
Kami pernah membagi sepotong senja
menukar rahasia dengan kepulan kopi
menyusun hari esok dari percakapan sederhana.
Kami mengira persahabatan
adalah jalan yang tak mengenal persimpangan
padahal setiap perjalanan
menyimpan sebuah belokan
yang tak tercantum dalam peta.
Kini, ia masih menulis puisi
Mungkin di halaman yang berbeda
dengan musim yang tak lagi kukenal
Gitar itu masih memiliki enam dawai
kopi masih mengenali uapnya
dan matahari tetap menemukan jalan pulang
Hanya percakapan kami
yang tak lagi menemukan cerita.
Aku telah menjadi titik
yang dicoret dari peta perjalanannya.
Bukan karena jarak memanjangkan jalan
bukan pula karena waktu menghapus jejak
Ada sesuatu yang lebih ganjil
daripada kehilangan sebuah tempat:
ketika dua orang masih mengingat jalan yang sama;
tetapi tak lagi memiliki alasan
untuk saling menemukan.
Tuan Kembara
di tepian danau, bangku tua itu masih kokoh
Pohon randu menjatuhkan bunganya
ke tanah yang pernah menampung cerita kita.
Air danau mengulang riaknya sendiri
seolah tak pernah mengenal kata berpisah.
Barangkali alam memang demikian:
ia tak menyimpan nama
hanya mengulang segala yang pernah disentuhnya.
Aku tak tahu kepada siapa kini
kau membacakan sajak-sajakmu,
siapa yang menampung lagu dari gitarmu,
atau siapa yang duduk di seberang cangkir kopimu
ketika malam mulai menghabiskan waktu.
Aku tak berhak mengisi halaman-halaman itu
dengan dugaanku sendiri
Sebab hidupmu bukan lagi
naskah yang dapat kubaca sesuka hati.
Maka biarlah jarak menjadi jarak
Tak perlu kucari pintu
pada rumah yang telah berganti penghuni
Tak perlu pula kupaksa kenangan
menjadi alasan untuk kembali
Ada perpisahan yang tak membutuhkan penjelasan;
cukup dua orang berhenti mengetuk
pada pintu yang sama.
Namun, dengarlah;
aku tidak sedang menulis untuk memanggilmu pulang
Aku hanya sedang menyelamatkan
sesuatu yang nyaris tenggelam
di antara tahun-tahun yang tak saling menyapa:
sebuah nama
sebuah perjalanan
dan persahabatan yang pernah membuat
dunia terasa lebih luas dari kesunyian.
Sebab seorang penyair
tak selalu mampu mengembalikan yang hilang
Ia hanya memiliki bahasa
untuk memberi kehilangan sebuah bentuk
memberi kenangan selembar halaman
dan memberi seseorang
tempat yang tak disediakan oleh waktu.
Tuan Kembara
kelak, ketika sajak ini menemukan pembacanya
mungkin tak seorang pun mengenal wajahmu
Mereka hanya akan menjumpai seorang lelaki
secangkir kopi, sebuah gitar
dan senja yang tertahan di tepian danau.
Biarlah demikian
Tak semua yang berharga
harus diketahui asal-usulnya
Tak semua nama harus dipanggil
agar tetap memiliki arti.
Aku akan mengakhiri sajak ini
bukan untuk mengakhiri perjalanan
melainkan agar namamu
tak tercerai dari halaman-halaman yang lain.
Sebab ada seorang manusia
yang selesai menjadi bagian dari hidup kita
tetapi tak pernah selesai menjadi;
bagian dari sajak indah ini.
Solok, 3 November 2026