KARIYAU HUTAN DARI MULUT BORNEO
Fahmi Wahid

Mendengarkah kariyau hutan dari mulut Borneo yang lantang membelah lazuardi di ketinggian sana
mengabarkan sungai yang terantai tangan keserakahan
permata hitam yang dibongkar dikirim ke seberang benua
batang-batang pohon yang dikuliti sampai ke asal akar
Kariyau hutan menjadi jeritan panjang Borneo yang didengar tapi membisu terbungkam kuasa
di mana uang bertakhta lebih tinggi dari gunung
dan ancaman mengalir melebihi arus yang mati
terhimpit tonggak-tonggak pembangunan kota yang menulis bait-bait sejarah kehilangan
Kariyau hutan suara rakyat Bumi Khatulistiwa yang diriwayatkan kepada masa depan tanah ini yang menggenggam erat petitih semangat bahari
hingga kami di Borneo sudah menjadi Tahan Apilan
Balangan, 2025

Fahmi Wahid (Drs. H. M. Fahmi Wahid, M.M.Pd.). Lahir di Barabai, 03 Agustus 1964. Antologi tunggalnya telah terbit: Suara Orang Pedalaman (2016), Perjalanan Debu (2018), Tandik Meratus (2020), Tanah Perindu (2020), Rista Kabak Burung di Tanah Banyu (2021). Karya juga terangkum pada antologi bersama, seperti: Lewatlah Gelap Terbitlah Terang (2025), Jejak Perigi di Tanah Melayu (2025), Zamrud (2025), lainnya. Biografinya dalam Ensiklopedia Sastra Kalimantan Selatan (2008) dan Apa dan Siapa Penyair Indonesia (2017). Menerima Hadiah Seni (sastra) Gubernur Kalimantan Selatan (2011) dan Anugerah Seni dan Budaya Kalimantan Selatan (sastra) Gubernur Kalimantan Selatan (2023). Ketua Dewan Kesenian Balangan, Kalsel. Beliau meninggal pada awal 2026.