**Jumlah Puisi dalam Antologi **

Dalam hal ini antologi adalah antologi puisi. Bakunya adalah kumpulan puisi-puisi seorang maupun kolaburasi (bersama) yang dibendel menjadi buku

Dulu 1970-an ada sisipan bonus sebuah majalah sastra berupa bendel puisi dibuat seperti buku dengan jilid tipis. Tertulis dibendel itu "Antologi ...." dan nama seorang penyair. Antologi tipis ini dibuat oleh penerbit majalah sastra itu. Isinya belasan lembar jumlahnya puisinya hanya 8 buah. Sisipan ini kadang berisi puisi dari beberapa penyair. Ada juga antologi cerpen .

Jadi sebetulnya tak ada batasan jumlah puisi dalam sebuah antologi. Antologi karya sastrawan angkatan '45 juga angkatan '66 biasanya tipis karena isinya hanya belasan puisi saja. Contohnya antologi puisi Rendra rata-rata ketebalan bukunya tipis.
Sampai dengan tahun 80-an kita hanya menjumpai antologi puisi yang tidak begitu tebal. Bahkan antoligi bersama yang dikumpulkan oleh Linus Suryadi AG, yg berjudul Tonggak tak sampai ratusan halaman.

Kini Antologi mengalami perkembangan yaitu puisi yang dikumpulkan menjadi buku itu banyak hingga ratusan puisi jumlahnya. Sehingga tampak buku itu tebal. Terlepas dari mutu isinya, ketebalan buku bermaksud agar hemat dan tidak tercecer. Namun ada juga yang mengumpulkan hanya puisi-puisi pilihan sehingga buku antologinya disesuaikan dengan jumlah puisi pilihan itu.

Disamping itu antologi tebal menjadikan tampilan buku dapat terbaca dari pinggul buku. Ketebalan buku itu memuat huruf lebih besar pada pinggul buku sehingga terbaca ketika ditata dalam rak . Namun demikian sekali lagi antologi yang baik kembali kepada isi puisi itu. Banyak yang membuat antologi yang berisi puisi-puisi terbaik karyanya sehingga antologi itu menjadi bernilai. Terlebih jika buku antologi sudah terbaca orang lain dan disukai. Yang pada gilirannya antologi itu menuai pujian dan kritik dari pembaca atau tokoh sastra.

Jadi antologi yang bagus tidak mempersoalkan ketebalan buku. Yang mempersoalkan ketebalan buku adalah penerbit. Mereka menghitung jumlah halaman untuk kemudian dihitung biaya cetak.
( 9-4-26 rg bagus warsono )