Rosmita
DI SANA BATINKU TERINGGAL
Tahun duaribu delapan belas,
pertama kali kulihat Makkah,
langkahku terhenti sebelum sempat berkata.
Ka'bah berdiri dalam diam di hadapanku,
air mata jatuh tanpa kuminta,
seakan seluruh perjalanan hidupku sedang dibawa pulang kepada-Mu.
Di dekat Hajar Aswad, hatiku gemetar,
dalam jarak yang hanya Kau dan aku tahu,
kubisikkan janji di antara sesak
dan derai air mata
jika masih Kauizinkan namaku dipanggil,
aku akan kembali memelukmu.
Tubuhku pulang membawa langkah,
sebagian batinku tertinggal di sana.
Sejak itu, rindu kepada Makkah menjadi doa yang selalu kulangitkan,
dan doa perlahan menjadi kerinduan untuk selalu bersujud
di hadapan-Mu.
Ternyata Kau mendengar bisikan yang nyaris tak terdengar.
Tahun demi tahun, langkahku kembali menuju Makkah,
membawa dosa, harap, dan doa yang belum selesai.
Semakin sering dahiku menyentuh tanah,
semakin kusadari, yang kucari di sana adalah Engkau yang Maha pengasih lagi Maha penyayang.
Kini tak lagi kuhitung berapa kali aku Kauundang,
sebab setiap pulang justru menambah rindu.
Aku hanya ingin namaku tetap ada dalam daftar hamba-Mu,
hingga kelak kaki ini tak mampu lagi melangkah,
batinku tetap menghadap Ka'bah dan hatiku tetap bersujud kepada-Mu.
Semarang 2026