Sari Banowati
Cermin Pengantin
Cermin rias itu tidak terletak di ujung tempat tidur
Tempat tidur yang masih menyisakan wangi melati, roncean pengantin wanginya meresap ke rambut hitam panjang terurai. Tanpa sengaja rambut hitam itu tersampir di bajumu yang bidang. Dan kau menepis. Aku tersinggung ingin menangis
Aku tahu aku bukan wanita moderen. Tak pernah ke salon kecantikan. Aku merawat diri dengan ramuan warisan orang tua. Memotong rambut sendiri. Memotong poni sendiri. Perias pengantin mengasapi rambutku dengan ratus wangi. Melulur tubuhku dengan lembut. Dan memberi gambaran malam pertama
Cermin rias itu terletak di samping kanan tempat tidur. Pagi dengan ribuan embun turun dibawa hangat matahari. Aku duduk di muka cermin rias dengan rambut yang masih basah. Dan kau ada di belakangku memegang bahuku lalu mengecup ubun ubun ku. Tubuhku gemetar. Berdetak lembut jantungku melantunkan merdunya cinta di nadiku ketika aku merasakan lembutnya tatapanmu terpantul di kaca rias. Angin mempermainkan tirai jendela kamar yang terbuka lebar membawa udara segar
Itulah kamar kita pertama. Untuk kemudian kau memboyongku membangun ruang kamar penuh cumbuan
Seperti dulu di kamar kita tak pernah ada apa apa. Tak ada hiasan bunga dalam jambangan. Tak ada bunga imitasi . Tak ada boneka pajangan. Aku takut boneka yang kadang disusupi roh jahat. Aku menghias kamar kita dengan lukisan kaligrafi. Menyimpan doa doa di terang cahaya
Kaca rias itu terletak di samping tempat tidur. Mengukir rasa dan posisinya selalu aku duduk di muka cermin rias dan kau di belakang ku memegang bahuku rambutmu memutih dan aku mengecat rambutku dengan warna blonde dan kau berseloroh punya istri bule
Cermin rias itu terletak di samping kanan tempat tidur tapi tak lagi memantulkan bayangan. Tinggalkan garis garis kehidupan dalam kenangan
Lampu padam bulan membayang
Memperingati ulang tahun pernikahan bulan Maret
Cikampek 25 Maret 2026