Tahun-tahun 70-80 an tahun masa 'perkembangan, kala Presiden Soeharto awal. Tahun 1970-an pendidikan menjadi prioritas utama karena memang kebutuhan.
Tak hanya kebutuhan melek huruf tetapi juga kebutuhan orang pinter (sarjana) di berbagai segi kehidupan. Kebutuhan guru dan sarjana tampak sekali waktu itu. Pendek kata jarang sekali sarjana dan lulusan sekolah guru nganggur, begitu lulus kesempatan kerja begitu banyak.
Dalan dunia sastra adalam masa produktif yang 'dihargai, kebutuhan melek huruf dan tingkat rata-rata sekolah yang tertinggal disambut dengan antusias kalangan media baik cetak dan penyiaran radio dan tv. Disinilah peran sastrawan mewarnai jalannya sejarah bangsa ini.
Disamping pendidikan formal, diluar pendidikan formal media massa berperan sangat membantu dalam hal budaya baca.
Media massa tak lepas dari penyampaian informasi budaya dan budaya tak lepas dengan seni termasuk seni sastra. Sastra pada masa ini menjadi bacaan yang diminati masyarakat. Hal ini juga dikarenakan situasi yang aman dan tenang negeri sehingga rakyat berkesempatan mendapatkan berbagai informasi termasuk mendapatkan infornasi berbagai jenis sastra.
Pada masa ini perpustakaan sekolah ramai dikunjungi siswa. Mereka yang sekolah lanjutan atas di tahun 70-80 an banyak yang sudah menamatkan sebuah novel kesukaannya, bahkan ada yang sampai tamat sekolah lanjuran atas telah membaca lebih dari 5 novel di sela-sela belajarnya.
Media cetak di tahun 70-80-an seakan menjadi kebutuhan masyarakat. Sudah biasa dikalangan terpelajar berlangganan koran dan majalah yang dibayar setiap bulan. Keluarga, kantor dan sekolah berlangganan media cetak (koran) sesuai kebutuhan dan daerahnya. Di kantor kantor pelayanan publik dipasang papan informasi yang memajang korang hari atau minggu itu. Juga di sekolah dan universitas media cetak dipasang di papan baca atau majalah dinding.
Karena media informasi menjadi kebutuhan maka media cetak menjadi perusahaan yang menguntungkan. Mereka bisa menggaji karyawan sampai korespinden atau wartawannya di setiap daerah. Bukan hanya membayar wartawan tetapi juga bisa memberikan honorarium yang lumayan bagi penulis artijel dan sastra cerpen atau puisi. Disinilah penyair mengambil kesempatan dalam berproses mengenalkan karyanya juga mendapatkan honorarium yang cukup untuk jajan atau menbantu keperluan belajar.
(Bersambung)
Bukan hanya membayar wartawan tetapi juga bisa memberikan honorarium, Pasca '66
Subscribe to Literanesia
Get the latest posts delivered right to your inbox