Eryantho Kamis
BIRUNYA SUNGAI MARON
Birunya air sungai Maron
Seperti sebuah hati yang baru saja tersentuh kata rindu
Sebelum akhirnya menjelma puisi embun menjelang malam
Menetes perlahan di jendela bus melaju menembus jalan berhutan
Birunya air sungai Maron
Seperti langit cerah setelah hujan meluluhlantakkan kota
Dimana – mana air mengenang membelah dada berisik kata
Meyimbak kehangatan yang pernah kita jalani bertahun – tahun lalu
Birunya air sungai Maron
Perahu –perahu bermotor tidak perduli terik menyerang kepala
Mereka lebih memilih tak bersuara, ketika kehangatan dapur lebih terasa
Sementara dayung sudah tak berguna
Birunya air sungai Maron
Bukan ceritera sebuah kota yang dipenuhi para penghianat bangsa
Mereka berkumpul dalam hotel mewah bersama
Menentukan apa yang bisa dibagikan diantara mereka
Kalau kita bisa berlayar menikmati indahnya sungai Maron
Karena ada tangan yang tetap berkarya untuk negaranya
Bukan diam – diam merampok harta
Pacitan, Mei 2026