**Endang Supriadi **

Bengawan Solo di Antara Kayu Bakar di Bawah Dipan Ayah

kayu bakar di bawah dipan ayah, seperti memberi harapan
bahwa esok masih ada. alasan ayah meletakan kehidupan di situ,
"jika sungai bengawan solo meluap nyaris gapai atap, kita akan
terselamatkan oleh kayu-kayu yang membopong dipan, dimana
kita sedang berada di atasnya," begitu kata ayah sambil
menyiangi senja dengan udut linting yang menyantol di bibirnya
maka aku dan ayah saling terikat di atas dipan jika musim hujan tiba
atau musim limpah air sungai datang
dongeng malam sebelum mata terpejam, mulut ayah mengeluarkan
desis ular. konon aku tak boleh terlalu ke tepi sungai saat mencari
kayu bakar. karena siluman ratu ular kerap menjerat pelintas untuk dijadikan
tumbal. bukankah pada kisah lain sang ratu ular itu dapat dikalahkan
oleh seorang laki-laki yang dibidiknya? siluman adalah siluman, kata ayah
akar ancaman dan dendam tak pernah lepas dari otaknya. "celuplah kakimu
ke dada sungai, sebagai tanda bahwa kau keluarga air yang tak mungkin
dijadikan budak di istana ratu siluman ular itu."
cerita ayah, seperti pasak-pasak yang menghalangi langkahku
bengawan solo ibarat kasur raksasa yang tengah dijemur. matahari
tak bisa mengeringkannya. sungai yang diapit oleh dataran tinggi
dan rendah, meliuk penuh pesona bagaikan selendang bumi
tapi aku lelaki. langkahku seribu derap kaki kuda. aku anak sungai,
tak elok jauh dari tepi tak patut dekat dengan takut. maka kujadikan
dongeng ayah sebagai kacamata baca. aku bisa tembus melihat
apa itu debur, apa itu urat air. maka aku mengelak untuk jadi anak jinak
aku susur panjang pinggang sungai sampai lekuk telaga suling
seratus meter dari jembatan bacem, tercium wangi mendung. kemungkinan
hujan akan tersangkut di langit. dari jembatan yang membentang,
aku melihat bayangan mayat-mayat hasil jagal dari atas dijatuhkan
ke sungai. "politik itu jahat," kata ayah suatu hari. bagiku, sejarah
adalah sejarah. sebuah negeri pasti punya sejarah hitam dan putih
setelah menjauh dari lingkaran misteri, aku menyusuri tepi sungai
tercium wangi bunga elo. pohon-pohon elo seperti berjaga di kiri-kanan
sungai. barang siapa yang sempat melihat bunga elo, keinginannya
akan terkabul, ujar hikayat. aku ingin jadi sang penakluk ratu ular. atau
memiliki kekuatan mendatangkan seratus bidadari tanpa aku undang!
bengawan solo, kayu bakar dan ayah, adalah sukma bagi hidupku
jika ayah perahu, aku dayungnya. biarlah ibu sebagai bunga elo, yang
kadang muncul dari sorga membawa harum cinta di sepanjang sungai
dan akan kubiarkan ayah berkidung menembang lagu bengawan solo
saat di mana semua mata redup dibalik bilik malam yang kelam.
Depok, 20 Desember 2021