El-Amirin
Arya Jasa
Asal Mula Arjasa-Kangean
Tidak tampak di air pasang
Orang-orang menyebutnya Kaaengan
Pulau pembuangan para tahanan kerajaan
Kini dikenal dengan nama Pulau Kangean
Berawal dari penyakit menular yang tak kelar-kelar
Raja Sumenep beroleh wangsit dalam mimpi
Diutuslah putranya yang bernama Arya Jasa
Demi mendapat keris tolak bala di pulau kaaengan
Di ujung timur pulau Kaaengan Arya Jasa bertapa
Menerima wangsit keberadaan keris tolak bala
Ia pun mengembara menyusuri lembah hutan
Patapaannya kini bernama dusun Patapan
Keliling pulau ditelusuri sudah tapi keris tak jua dijumpa
Arya Jasa pantang putus asa sampai mimpi jadi nyata
Sampailah ia di suatu tempat di mana keris berada
Keris dicabut dinamailah tempat itu kini Arjasa
Arya Jasa bersemadi untuk sembah bakti
Menyerahkan keris tolak bala pada ayahanda raja
Dengan harapan kutukan penyakit menular segera sirna
Tempat semadi demi sembah bakti itu kini bernama Sambakati
Arya Jasa pulang ke istana dengan hati gembira
Kutukan penyakit menular yang melanda telah sirna
Rakyat Kerajaan Sumenep menyambut penuh sukacita
Hidup Pangeran Arya Jasa… hidup Pangeran Arya Jasa
Dusun Bugis Pajanangger, 21 Desember 2021
*Kaaengan = terkena air
*Patapaan = pertapaan
El-Amirin
Anten-antenan
Asal Mula Burung Hantu
Hai dunia…
Ini kuceritakan kepadamu
Tentang asal mula burung hantu
Versi cerita rakyat pulau Kangean
Dahulu… Mereka sepasang manusia cantik ganteng rupa
Akan menikah atas dasar cinta dan restu ayah bunda
Tapi saat tamu-tamu undangan telah hadir semua
Sang penghulu sudah ada di depan mata
Ijab nikah selesai diucapkan sudah
Mempelai putra menyambut kabul segera
“Saya terima nikah dan kawinnya… “
Tiba-tiba... Tuuuuuuuuuuuut !!!
Klakson udara tiba-tiba bersuara
Memancar dari bokong mempelai putra
Seketika kesyahduan menjadi gelak tawa
Kedua mempelai menundukkan pucat muka
Tiada kuasa memikul beban malu
Kedua mempelai berlari ke hutan menyembunyikan rupa
Pesta meriah pun berubah menjadi huru-hara
Kedua ayah bersama para tamu berhamburan mengejar
Kedua ibu besan pingsan hidangan tak lagi dihiraukan
Di kesunyian gua di tengah hutan
Kedua manten menangis berangkulan
“Dinda… aku tak sanggup lagi menjalani kehidupan”
“Tapi kanda… bunuh diri dimurkai Tuhan”
Tersungkur keduanya tengadahkan tangan
“Tuhan… hamba ingin bunuh diri tapi Engkau murkai
Bertemu manusia hamba sudah tidak sanggup lagi
Biarlah kami menjadi burung saja Tuhan… kabulkanlah”
Tuhan mengabulkan permintaan hamba-hamba-Nya
Kedua manten berubah menjadi sepasang burung
Bersembunyi di siang hari dan berburu di malam hari
Dari manten orang-orang menamainya burung anten-antenan
Penyebrangan Kangean-Kalianget, 18 Desember 2021
**
Kentut merupakan aib yang memalukan dalam tradisi masyarakat pulau Kangean. Sehingga ia tidak boleh sembarangan dilepaskan.*