Baca Puisi di Perhelatan Kegiatan
**(*maca ora maca puisi tetep seneng) **
Rg Bagus Warsono

Tamu adalah raja, betul! Tetapi zaman modern tidak menuntut perlu dilayani oleh tuan rumah atau panitia. Tamu itu adalah dianggap apresiasi bagi tuan rumah.
Tamu yang banyak itu prestasi tuan rumah dalam 'mengundang. Tetapi tamu yang banyak membuat tak terlayani sebagai raja.
Bahkan ada yang sama sekali tidak diperhatikan
Menyadari hal ini, maklum perlu dimiliki seorang penyair.
Mari kita baca puisi pendek yang 1 bait dengan 5-10 kalimat, lalu hitung berapa menit. Kira-kira 5-10 menit. Turun dari panggung, kemudian ada jeda pembawa acara dan berikutnya naik panggung begitu seterusnya sehingga menambah 5 menit untuk setiap peserta. Jika 1 jam maka hanya 4 orang yang berkesempatan membaca puisi. Jika dipercepat karena pembawa acara itu piawai mengatur acara maka hanya 6 orang per jam. Jika mulai acara baca puisi mulai pukul jam 20.00 tiga jam berikutnya pukul pukul 23.00 hanya 18 orang berkesempatan.
Dari perhitungan itu jika penyair hadir lebih dari 20 orang maka ada yang tidak sempat membaca,puisi. Apalagi perhelatan besar hingga 40 orang penyair hadir dan menyaksikan, maka separuh dari penyair tak kebagian membaca puisi.
Melihat itu semua kita perlu mempehatikan bahwa penampilan baca puisi dan aturannya perlu disampaikan sebelumnya oleh pembawa acara. Sehingga penyair peserta yang hadir dapat memakluminya. Kecuali ada 'pesan tersembunyi dari orang tertentu pada pengatur acara sehingga tampak ketidak-adilan . Dan penyair pun perlu legowo melihat waktu dan jumlah peserta ini.
Ada juga prioritas didahulukan. Kreteria prioritas perlu dijelaskan oleh pembawa acara sebelumnya sehingga dapat memahami dan toleransi atas kretwria yang disampaikan pembawa acara.
Penonton Sombong
Di sisi lain di pihak penonton, jelas beda penonton dengan mayoritas masyarakat dan penontong dengan mayoritas penyair. Terutama penonton dengan mayoritas penyair ada gejala bibit penyakit yang tidak baik yaitu 'acuh tak acuh pada saat ada pembacaan dipanggung baca puisi. Meski tidak semua penyair penton begitu, tetapi acuh tak acuh ini diperlihatkan oleh justru penyair-penyair ternama. Berbagai kemungkinan berprasangka baik yaitu kurang pendengaran, sedang keperluan sesuatu sehingga serius ngobrol, atau tengah ngantuk amat sangat.
( bersambung).
(Gambar hanya model, tampak Penyair Sri Sunarti deklamator sekaligus pembaca puisi terpopulair Indonesia saat ini tengah membaca,puisi di ajang komunitas). Tampilkan lebih sedikit