Taufiq Ismail (lahir 25 Juni 1935) adalah seorang penyair, aktivis, dan editor majalah sastra bulanan Horison. Ismail adalah tokoh penting dalam sastra Indonesia pada periode pasca-Soekarno dan dianggap sebagai salah satu pelopor "Generasi '66". Ia menyelesaikan pendidikannya di Universitas Indonesia. Sebelum aktif sebagai penulis, ia mengajar di Institut Pertanian Bogor. Pada tahun 1963, ia menandatangani "Manifesto Kebudayaan" sebagai dokumen yang menentang pengaitan seni dengan politik. Hal ini membuatnya kehilangan jabatannya sebagai pengajar di Institut tersebut. Taufiq Ismail banyak menulis puisi, diantaranya yang paling terkenal adalah: Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Tirani dan Benteng, Tirani, Benteng, Buku Tamu Musium Perjuangan, Sajak Ladang Jagung, Kenalkan, Saya Hewan, Puisi-puisi Langit, Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI dkk, Ketika Kata Ketika Warna dan Seulawah-Antologi Sastra Aceh. Bosan dengan gaya penulisannya yang serius, pada tahun 1970 ia mulai menulis puisi bercampur humor. Ia telah memenangkan banyak penghargaan, termasuk "Cultural Visit Award" dari pemerintah Australia (1977) dan Penghargaan Penulis Asia Tenggara (1994).

TAKUT ‘66, TAKUT ‘98
Mahasiswa takut pada dosen
Dosen takut pada dekan
Dekan takut pada rektor
Rektor takut pada menteri
Menteri takut pada presiden
Presiden takut pada mahasiswa.
1998
12 MEI, 1998
Mengenang elang Mulya, Hery Hertanto,
Hendriawan Lesmana dan Hafidhin Royan
Empat syuhada berangkat pada suatu malam, gerimis air mata
tertahan di hari keesokan, telinga kami lekapkan ke tanah kuburan
dan simaklah itu sedu-sedan,
Mereka anak muda pengembara tiada sendiri, mengukir reformasi
karena jemu deformasi, dengarkan saban hari langkah sahabat-
sahabatmu beribu menderu-deru,
Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu.
Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom abad dua puluh satu,
Tapi malaikat telah mencatat indeks prestasi kalian tertinggi di
Trisakti bahkan di seluruh negeri, karena kalian berani
mengukir alfabet pertama dari gelombang ini dengan
darah arteri sendiri,
Merah putih yang setengah tiang ini, merunduk di bawah garang
matahari, tak mampu mengibarkan diri karena angin lama
bersembunyi,
Tapi perluru logam telah kami patahkan dalam doa bersama, dan
kalian pahlawan bersih dari dendam, karena jalan masih
jauh dan kita perlukan peta dari tuhan.
1998