Sakti itu Bahureksa sedang prajuritnya tidak.
Membakar-batavia

Melawan pasukan Belanda (VOC 1628) walau ribuan tentara Pasukan Mataram yang dipimpin Panglima Bahureksa tidak semudah itu, Bahureksa sadar bahwa pasukan musuh walau jumlahnya sedikit tetapi menggunakan senjata api (bedil dan meriam) sedang pasukan mataram masih menggjnakan senjata tradisional menyerang terbuka adalah bunuh diri. Jadilah hanya membuat racun yang dialirkan ke sungai Ciliwung sehingga tentara VOC banyak yg keracunan. Tetapi perbekalan terus berkurang. Bahureksa bingung menyuruh perang terbuka adalah bunuh diri membunuh prajuritnya sendiri. Jadilah ia menyuruh mengabarkan bahwa kepala gubernur jenderal VOC Jan Persoon Coen telah dipenggal kepalanya. Tetapi itu juga tidak bisa terus menerus menutupi kebohongan apalagi musim berganti hujan dan harus pulang ke Mataram. Sedang pulang harus membawa kemenangan atau dipenggal kepalanya jika gagal atau kalah perang. Kebingunan itulah yang membuat berubah pikiran. Kecerdasan Bahureksa luar biasa. Disuruhnya lima ribu prajurit itu untuk berbaur dengan penduduk sekitar dan mencari keselamatan masing2
(Rg Bagus Warsono)