/ Ulasan Puisi

Saat Jarum Jam Bersandar di Punggung Kursi Pelabuhan, Muhammad Mochammad Asrori

Saat Jarum Jam Bersandar di Punggung Kursi Pelabuhan, Muhammad Mochammad Asrori

Puisi-puisi antologi Saat Jarum Jam Bersandar di Punggung Kursi Pelabuhan, merupakan perjalanan kepenyairan Muhammad Asrori dimana setiap waktu dimana berada di situ puisu lahir. Gambaran jarumnya menunjukan waktu bahwa penyair itu slalu menulis apa yang dilihatnya di rasakan ya dan di bayangkannya.
Anda diajak untuk menyusuri sesuatu yang oleh kita tak adialami, seakan kita menjelajah dunia baru. Tetapi juga dalam antologi bagus ini juga kita diajak masa masa lalu yang kadang sebagai kerinduan.

Kebanyakan puisi-puisi Muhammad Asrori bebas sebagai layaknya puisi esai, namun tatkala Jari-jari penyair kadang menghendaki lain. Jadilah puisi pendek yang sebetulnya panjang makna yang tersyirat.
Mari kita lihat salah satu puisi pendeknya:
Perut Yang Lapang

//Dalam perutku terlahir danau dengan ikan-ikan yang siap kau kail menjelang senja. Juga rindang jalur lintasan lari tang biasa kau kitari sambil selfie: Tepat saat terbit Matahari. //

Sebuai esai pendek yang penuh arti. Puisi dengan metafora dari susunan kata dalam Bait yang menawan.
Sebsit ini puisi Perut Yang Lapang dari Saat Jarum Jam Bersandar di Punggung Kursi Pelabuhan, seakan memenuhi judul ini.** Muhammad Asrori** ternyata menyimpan banyak daya tarik apresiasi pembaca.
(Rg Bagus Warsono)
1c2fe7a5-a543-4afb-8f88-db7fdec8a671-96