Ngadi Nugroho
**Ronggolawe **
Sungai Brantas memerah
Gemuruh tumpahkan darah
Berkubang selaksa amarah
Mencabik luka teman saudara
Ronggolawe tercekik hempas ke
angkasa
Nyawanya menuju Nirwana
Daun-daunpun rebah, meratapi
kepergian Sang Adipati Tuban
Di peluk Sungai Brantas yang
memerah
Saat Kebo Anabrang berteriak,“Sora!”
“Apa yang kaulakukan?”
“Bukankah kita teman seperjuangan?”
“Mengapa kautikam aku dari
belakang?”
Sora terdiam
Sambil menghunus keris di tangan
Menyembunyikan tangis kesedihan
Di bawah derai air hujan
Tepekur melihat Sungai Brantas yang
memerah
Bertinta darah
Teman lawan
Kemenakan
Tersayang
Tumbang sebagai tumbal
pemberontakan
Kaliwungu, 2021
Ngadi Nugroho
**Baru Klinting **
Teringat cerita bapak saat kanak-
kanak
Menemaniku tidur malam
Sebagai pengantar lelap
Bapak bercerita
Tentang seorang anak yang datang ke
suatu pesta sebuah desa
Hanya ingin meminta sesuap nasi atau
hidangan sekadarnya
Dia dihinakan bagai sampah jalanan
Hanya karena tanpa pakaian
Kurus kerempeng tubuh gatalan
Oi ... sungguh luka menyanyat hati
Bila mereka tahu daging-daging yang
mereka makan adalah tubuhnya
Oi ... sungguh hati ini tersulut api
Andai mata mereka tahu daging
yang dicacah-cacah adalah tubuhnya
Saat dia bertapa di hutan
Dia Baru Klinting putra Ki Hajar
Salokantara
Hingga akhirnya, api kegetiran dia
tancapkan! sebatang lidi yang tak bisa
dicabut seorangpun selain dia
Bergemuruhlah air keluar dari ruang
getir itu
Hanya satu yang tersisa, seorang
nenek tua yang hidup sebatang kara
Dengan lesung sebagai sampan dan
kebaikan hati sebagai peta jalan
Mengarungi air bening yang
menggenang menjadi Rawa Pening
namanya
Sambil terkantuk mendengar cerita
bapak
Ku bertanya, “Pak, apakah orang yang
terlihat hina pasti di pandang sebelah
mata?”
Bapak terdiam
Dan aku mulai terlelap ketiduran
Mendandani Baru Klinting-Baru
Klinting di alam mimpiku dengan
pakaian
Kaliwungu, 2021
Ngadi Nugroho.
**Ratu Kalinyamat Topo wudo **
( Petilasan Sonder ; Sonder Hermitage Park )
Sunan Kudus berkata, “Sultan Prawoto mati karena karma!”
Dendam membara, dada tersulut kecewa
Suami tercinta, Sultan Hadlirin juga ikut tertimpa celaka
Terbunuh dalam perjalanan dari Kudus ke Jepara
Arya Penangsang otak pembunuhan, melenggang tenang, seolah, dendam sang ayah, Pangeran Sekar Seda Ing Lepen terbayar sudah
Sebelum nafas berhenti berembus, Sultan Hadlirin merambat ke tanah
Di situlah awal mula Desa Prambatan dinamakan
Pontang-panting jasad Sultan Hadlirin dipondong sang istri menyusuri sungai
Menetes darah bekas luka
Darah merah mengalir bersama air membiaskan warna ungu
Dinamakanlah daerah itu Desa Kaliwungu
Semakin ke barat Sang Ratu Kalinyamat berjalan
Melewati Pringtulis, Sang Ratu kelelahan
Mata kabur, jalan mulai moyang-moyong sempoyongan
Kata orang daerah itu dinamakan Desa Mayong
Ketika jasad Sultan Hadlirin mulai mengeluarkan bau
Di situlah asal mula nama Purwogondo dituturkan
Dengan montang-manting akhirnya jasad Sultan Hadlirin disemayamkan di Mantingan
Tiga daerah telah dilalui satu per satu
Purwogondo, Pecangaan dan berakhir di Mantingan
Tempat terakhir Sultan Hadlirin ditidurkan
Tidur dalam pelukan Tuhan
Allah Azza Wa Jalla
Dengan hati yang meradang
Sang suami terbunuh utusan Arya Penangsang
Sang Ratu Kalinyamat bertekad topo wudo
Di Dukuh Sonder Desa Tulakan, tersebutlah sebuah gunung, Gunung Donorojo
Di sanalah Sang Ratu menggembleng lakunya
Semadi; topo wudo
Melepaskan keduniawian
Menanggalkan gelar kebangsawanan
Menuntut keadilan
Kepada Tuhan Yang Maha Esa
Dengan sumpah yang menyala-nyala
“ Ora pisan-pisan ingsun jengkar saka tapa ingsun, yen durung iso kramas getihe lan kesed djambule Arya Penangsang!”
Lewat Senopati Perang Pajang; Danang Sutawijaya
Arya Penangsang meregang nyawa
Terpenggal kepalanya, terburai ususnya
Kepala ditenteng Raja Pajang; Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir namanya
Beserta mangkuk berisi darah Arya Penangsang
Diserahkanlah di hadapan Sang Ratu Kalinyamat
Penggalan kepala dan semangkuk darah
Akhirnya, usailah sebuah sumpah
Sumpah yang memerah
Diamuk amarah
Melihat yang tercinta bersimbah darah
Wujud setia
Tiada dua
Kaliwungu, 2022
*Ngadi Nugroho dia lahir di semarang 28 juni 1978
lulusan sarjana teknologi pertanian yang hobinya nulis sajak. Sajak/puisinya selama ini tayang di
group facebook AP-ANTOLOGI PUISI
group Poiesis Community & Circle
group Laman Puisi Penyair Indonesia
dengan nama pena Dimaz Nunug
Masuk dalam Buku Antologi Puisi Pujangga Facebook Indonesia