23122022095353BANJIR-SOLOK-SELATAN

Ahmad Maliki Mashar

GELONDONGAN

gelondongan menepas tingkap-tingkap hati
menabrak panji-panji adat
bukan sampah pembalakan liar
tapi limbah yang membusuk di kepala
gelondongan menyumbat halaman kitab-kitab
menampas dalil-dalil hukum
bukan sampah penebangan liar
tapi akar yang rurut oleh hasrat kemaruk
gelondongan yang mengitari pusaran nyawa
menghunjam tebing-tebing puaka
bukan sisa penjarahan liar
tapi noda tinta dari persekongkolan.
Sekara, 3 Desember 2025.

Heru Patria

BALADA KAYU GLONDONGAN

ribuan kubik kayu glondongan
terbawa arus banjir sampai pemukiman
menguak fakta betapa pemerintah telah mengabaikan lingkungan
pembalakan liar mengatasnamakan pembangunan
pabrik raksasa dibangun dengan mengorbankan hutan
tambang besar rakus menebang pepohonan
akar terkulai tak mampu menahan air hujan
tanah tergerus lepaskan diri dari lapisan
tenggelamkan sumatra dalam kedukaan
banjir bandang ini bukankah kesalahan alam
tanah longsor ribuan rumah terpendam
para pejabat rakus hanya bisa terdiam
saling menyalahkan bikin geram
nestapa sumatra amat kejam
air mata duka menghujam
akibat manusia manusia rakus
bukan hanya manusia yang jadi korban
tapi juga kawanan hewan
gajah meratap di ambang kepunahan
satwa merintih dambakan pertolongan
pohon binasa akibat kepongahan
kayu glondong bergerak pelan
menimbun segala bentuk harapan
akibat ulah orang orang serakah
sumatra lumpuh terkulai lemah
dalam keputusasaan
Blitar, 3-12-2025

**Eko Windarto **

Setelah Hujan: Narasi Air yang Menggulung

Di tanah Sumatra Utara, dimana udara berat oleh kabut, hujan mencurah tanpa lelah, tujuh hari tujuh malam tanpa jeda.
Langit menangis deras, menumpahkan luka ke lembah dan punggung bukit, menyusup di urat nadi bumi, membanjiri jalan dan rumah, memberi duka pada jiwa yang pernah tenang.
Tiga hari hujan reda, angin membawa harap, namun noda air belum surut dari wajah desa-desa.
Seratus tiga puluh ribu hektare sawah termakan cakrawala banjir,
rumah-rumah bertonton atapnya di atas air yang meronta,
seolah benteng harapan dan asa disapu gelombang.
Di Aceh, tanah pusaka yang tercekik, setengah juta jiwa melarikan diri dari pelukan air,
mencari perlindungan dari perih yang terus mengalir.
Sekolah dan pesantren, tempat ilmu dan cahaya, lekas berubah sunyi, dilumat amukan bah yang ganas.
Takengon, kini bukanlah oasis di punggung bukit, kerusakan datang dari dalam, bukan semata air langit.
Tambang emas ilegal mengoyak akar, hutan yang dulu bernyanyi kini terdiam tersayat pilu.
Kebun sawit menggantikan hijau alami, mengeringkan jiwa bumi yang dulu merona.
Palang Merah bertahan dalam pertempuran sunyi, terperangkap dalam deru dan deras yang tiada henti.
Lima hari kegigihan terlahir di tengah banjir membabi buta, di mana bantuan menjadi doa dan jalan keluar berupa harapan.
Namun, di bawah tanah yang penuh air dan lumpur, terlihat tirani kayu yang terus diangkut tanpa ampun, rombongan truk dan manusia yang mencari keuntungan, menggenggam hasil alam yang payah bertahan.
Korbankan bumi, seret ingatan pada kerakusan, di mana manusia sendiri menanam benih kehancuran.
Dan ketika air surut, kemarahan membakar lempung, merambat ke seluruh pelosok negeri, menuntut keadilan, menyumbat lubang kelalaian.
Alam bukan sekadar rumah, tapi guru yang diam, mengajarkan batas kesabaran dan kasih.
Kini manusia dan bumi berdiri tertunduk, melihat kerusakan yang dibuat dengan tangan sendiri.
Namun dari reruntuhan muncul lentera kecil, gotong royong menjadi nyala yang tak padam,
mengubur duka dalam benih harapan dan cinta.
Setelah hujan, bukan hanya tanah basah, tapi jiwa-jiwa yang membuka diri pada perubahan,
bersama membangun kembali rumah, ladang, dan hati.
Mari dengar bisikan alam yang murka, peringatan yang terselip di setiap tetes air, agar manusia kembali belajar harmoni, dan setelah semua reda, bumi tersenyum dalam damai abadi.
Batu, 5122025

Din Saja

Mereka tidak menangis
Dengan bencana ini
Tidak akan menangis
Bukan karena tidak sedih
Karena kesedihan
Telah lama hilang
Oleh penderitaan
Mereka tidak menangis
Bukan karena tidak sakit
Karena kesakitan
Tidak pernah berhenti menerjang
Mereka tidak menangis
Bukan karena tidak bisa marah
Karena kemarahan
Dihancurkan harga diri
Mereka tidak menangis
Apakah karena mereka kuat
2025

Suyatri Yatri

KEHILANGAN IBU DI NEGERI BENCANA

Anak-anak negeri kehilangan ibu
Sendiri menghadapi bandang
Sunyi merentang dalam ketakutan panjang
Suara hilang dihantam kayu gelondongan
Tatapan nanar digilas bebatuan
Gemuruh air bercampur lumpur menenggelamkan apapun di hadapan
Ibu diam diantara riuh jeritan
Menulikan telinga di atas singgasana
Memalingkan wajah saat kelaparan melanda
Menelantarkan jiwa-jiwa meronta dalam ketakutan luar biasa
Anak negeri yatim piatu
Gemetar menghadapi bencana
Menyaksikan kampung hilang
Menghadapi maut di pekatnya malam
Dipaksa mengobati batin kesendirian
Menuliskan cerita di lembaran sejarah bahwa ibu kehilangan nurani di jantung negeri
Pekanbaru, 07122025