Fajri Hamjah

PANJAT PINANG

Di alun-alun yang meriah itu,
didirikan lagi sebuah tiang licin.
Diolesi minyak dan tawa,
diberi nama: kemerdekaan.
Lalu kita disuruh naik.
Bertelanjang dada. Berdesak-desakan.
Yang paling bawah menahan beban,
pundaknya retak, lututnya berdarah.
Yang di tengah menginjak kepala kawannya,
sambil berteriak: "demi kebersamaan!"
Dan yang paling atas —
yang paling ringan,
yang paling licik mencari pijakan —
dialah yang sampai.
Mengambil kulkas, sepeda, dan televisi,
yang tak pernah ia butuhkan.
Di bawah, kita bersorak untuknya.
Seolah-olah kemenangan satu orang adalah kemenangan kita semua.
Padahal tiangnya masih sama.
Licin.
Tegak.
Menertawakan kita yang mengira ini lomba.
Kita memanjat bukan untuk naik,
tapi agar lupa siapa yang melumuri tiang itu dengan minyak.

Fajri Hamjah adalah guru juga kadang ke sawah
*Tinggal d cianjur *