Moh. Jumadi

Nyai Ageng Serang

Semburat langit Grobogan berubah jingga
Terkoyak ulah Belanda berlaku hina di atas tanah pusara
Tak peduli leluhur bangsa Indonesia
Main sikat dan membabat tanpa kira-kira
Dia sosok wanita perkasa
Sakit hati melihat tingkah polah bangsa Belanda
Tampil ke muka, memukul genderang perang
Walau hanya bersenjatakan tombak dan parang
Memorak-porandakan barisan lawan tuk bela rakyat dalam berjuang
Nyai Ageng Serang tanpa ragu menguliti moral bejat orang barat
Atas tindakan tercela bangsa asing yang menjajah tanah ulayat
Bersimpuh di hadapan Diponegoro untuk memperkuat pasukan Srikandi
Membela bangsa Indonesia yang semakin sengsara akibat kerja rodi
Berdiri gagah di samping suami sehidup semati
Dialah pahlawan wanita pembela kaum duafa
Rela berkorban harta dan nyawa untuk negara
Walau jalan harus ditandu, tetap bergerilya menghadapi mara bahaya
Menyusuri hutan belukar tuk menyusun strategi adu senjata
Bersama pasukan elit yang selalu setia menjaga
Meski terhempas gugur di medan laga
Kini namamu tetap terkenang sepanjang masa
Terukir pada sebutan sebuah sungai di pinggitan kota
Tempat para petani menggantungkan tangisan Sungai Serang untuk mengolah sawah
Agar hasil panennya melimpah ruah
Grobogan, 10 Januari 2022