Anas Bachtiar Arief

NOMOR GILIRAN

Pagi itu
nomor giliran
dibagikan.
Orang-orang
menerimanya,
seperti menerima
nasib.
Di tengah lapangan
sebatang pinang
berdiri.
Terlalu tegak
untuk disebut
permainan.
Di puncaknya
bergantung
sebuah sepeda mini
yang tak pernah
mengayuh
ke mana pun.
Sebuah kompor
yang tak pernah
menghangatkan
siapa pun.
Sebuah dispenser
yang tak pernah
menghilangkan
haus.
Ketiganya diam.
Tetapi setiap tahun
tubuh-tubuh datang,
mengulurkan tangan,
kehilangan genggaman,
lalu jatuh.
Sementara
sepeda mini,
kompor,
dan dispenser
tetap bergantung.
Seseorang membuka jeriken.
Minyak dituangkan
perlahan.
Batang itu berkilau.
Licin.
Setiap telapak tangan
mencari pegangan.
Setiap genggaman
kehilangan tempat berpijak.
Peluit berbunyi.
Nomor pertama.
Melorot.
Nomor kedua.
Jatuh.
Nomor ketiga.
Duduk di bawah tiang,
mengusap lutut,
menunggu napasnya
kembali.
Pengeras suara
mengulang
nomor berikutnya.
Anak-anak bersorak.
Telepon genggam terangkat.
Beberapa orang mencari
sudut terbaik.
Tak seorang pun
mencari denyut nadi.
Suara pengeras itu
terdengar begitu akrab.
Seperti pernah kudengar
di lorong berkursi plastik.
Lampunya sama-sama putih.
Lantainya sama-sama licin.
Yang satu karena minyak.
Yang satu lagi karena waktu.
Di sana
tak ada tiang pinang.
Tak ada jeriken.
Tak ada peluit.
Tetapi leher-leher
tetap mendongak.
Tangan-tangan
tetap menggenggam
nomor giliran.
Dan pengeras suara
tetap mengulang
nomor berikutnya.
Di lapangan
orang melorot
karena minyak.
Di lorong itu
orang melorot
karena waktu.
Yang satu
memegang lutut.
Yang satu lagi
memegang nomor giliran.
Tak ada
yang benar-benar menang.
Sebab yang dibawa pulang
tak selalu sepeda mini.
Tak selalu kompor.
Tak selalu dispenser.
Kadang yang dibawa pulang
hanyalah
lutut yang retak,
waktu yang habis,
dan nomor-nomor
yang tak sempat dipanggil,
berakhir di ruang jenazah.

Anas Bachtiar Arief
Lahir di Surabaya
Sekadar suka bikin puisi