** Andi Irwan**
Negeri Elit Tapi Sulit
Saya melihat lampu mahal terpajang di kota-kota,
Dari warung remang-remang sampai gedung istana.
Tapi mengapa masih ada yang sengsara,
Lalu mereka yang di dalam istana malah asik tertawa.
Saya pikir mata saya bermasalah,
Atau pendengaran saya salah.
Ternyata yang saya lihat hanya gabah,
Tertimbun di gudang bisnis manusia tak berwajah.
Lantas bagaimana dengan yang di desa,
Jika di kota saja banyak warga sengsara.
Apa benar kita ini telah merdeka,
Atau masih di jajah oleh oknum tak memiliki rasa.
Ah sial !
Pertanyaan saya terjebak di sebuah naskah,
Kalimat-kalimat terpilih menjadi pemisah.
Ada titik dan tanda tangan sampah,
Menjadikan karya saya hampir punah.
Beberapa map di meja berhamburan,
Segala jenis masalah terhidangkan.
Tapi tidak ada tindakan,
Jika upah tidak di berikan.
'" Proses tanpa Protes " Katanya,
Kalau mau cepat ya harus ikuti aturannya.
Tapi apakah bisa dipercaya,
Sebab faktanya masih banyak kasus yang dijeda.
Ah, sudahlah.
Saya akhiri saja puisi ini,
Dengan kalimat sedikit pahit,
Pengelola Negeri ini terlalu B.E.D.E.B.A.H.
Republik Rubik, 11 Januari 2026