A.Rahim Eltara

MATAHARIKU PERIH

Sudah kukatakan:
"Kemarau adalah musim yang meminang mata api."
Berkobar menjilat tubuh gersang,
melahap memori, melumat kenangan.
Asap tebal mencumbui udara,
perih matahariku,
rabun hari-hariku.
Bumi pun mendesis,
paru-paruku jelaga menghirup pekatnya racun,
dada terbatuk, meratapi napas yang kian menipis.
Akar-akar sakarat di bawah selimut debu,
menanti hujan yang tertahan di langit kelabu.
Dan kita,
hanya bisa mengecap getirnya cuaca,
menyaksikan takdir kerontang tanpa kata.
Doa-doa dilafazkan pada awan yang alpa,
sementara jelaga bertapa di rongga dada.
Di antara sisa puing dan burung yang kehilangan sayap,
kita sadar,
bukan hanya rimba yang hilang dilahap,
tetapi juga harapan yang pelan-pelan senyap.
Tanah-tanah luka menyimpan duka,
sumur-sumur mati kehabisan mata air.
Kering merenggut tiap helai nyawa,
meninggalkan kepedihan yang kian menganga.
Tinggal menanti keajaiban di ujung riwayat,
berharap sepoi angin datang berbisik:
"Bahwa kelak pucuk dan akar meminang hujan."

*Sumbawa, 12 September 2026 *