Budi Waluyo

Kepala Yang Membesar

Entah dengan alasan apa, tiba-tiba
Rasa bangga datang, menjadi kesombongan
Yang membuat tertawa sekitar, namun tetap saja
Tidak memberi kesadaran
Ia tumbuh tanpa suara,
seperti balon diisi pujian murahan,
melayang sedikit demi sedikit
menjauh dari tanah tempat kaki seharusnya belajar rendah.
Tawa orang-orang menjadi cermin retak,
memantulkan bayang yang tak ingin dilihat:
wajah yang lupa asal,
mulut yang fasih, namun telinga tertutup.
Kepala yang membesar itu
tak lagi menampung pertanyaan,
hanya gema namanya sendiri
yang berputar-putar di ruang kosong.
Hingga suatu saat,
sunyi datang tanpa permisi,
menusuk perlahan, memecahkan udara,
dan kesombongan jatuh—
bukan sebagai pelajaran,
melainkan serpihan yang melukai ingatan.
Baru di antara reruntuhan itu
kesadaran mencoba mengetuk,
bertanya lirih:
siapa aku,
sebelum semua ini disebut hebat?
Serpong. 29-12-2029