**Mohamad JJ **

**KEMARAU **

Ku lihat bumi jatuh dari langit senja dan menggantung di atas horison laut.
Anak- anak nelayan menari-narik sampan,
dengan wajah murung,
tangannya menggenggam sedikit ikan
yang hanya cukup untuk lauk.
Senja sedikit demi sedikit meninggalkan bumi,
biar terbengkalai oleh dahaga karena kemarau panjang.
Apa yang tersisa dari nafas yang tersengal-sengal,
dan tangan meraba-raba kalau ada setetes air hingga nafas pulih.
Esuk,
langit tidak ada awan yang menggumpal
orang berlalu lalang hanya diam tanpa kata, apa lagi ceria.
Kulihat seorang wanita cantik duduk di bawah pohon pantai yang rindang dengan wajah sedih
Aku dapat kabar ia ditinggal kekasihnya sejak wabah covid 19
Aku tidak tega,
wajahku seketika iba,
kucoba menghibur
"Haaa..."
Teriakku,
Ternyata banner...
Hatiku sudah kemarau.
Haus merasuk pikiranku ,
alampun tidak jujur padaku
Siapa yang salah?
Aku berteriak,
dan akupun tak butuh jawabannya.
Mungkin sebentar lagi matahari menggantung tepat di atas kepalaku,
Mendung turun dari gunung bersama angin lembah
Gemercik air yang tersisa mendesah, mengajari alam menunduk,
melihat kekeringan hati yang terlena,
yang tak pernah singgah padaNya.
Rumah-rumah air di dalam akar, terurai oleh kematian.
Hijau hilang mengering menguap,
saatnya menyapa alam sebagai nikmatNya.
Mohamad JJ
*Ponorogo, 21 Oktober 2026 *