Gejala bahasa Indonesia dipengaruhi oleh perilaku hewan .
Kenapa ada "ayam kampus" bukan sapi kampus, kenapa ada "kelinci percobaan" bukan ayam percobaan?
Untuk menyebut laki-laki petualang cinta bahasa
Indonesia menggunakan "buaya darat" kenapa tidak katak darat. Juga ada "ular kepala dua" bukan cacing kepala dua.
Untuk menyebut orang yang tidak punya wawasan kita gunakan "katak dalam tempurung" bukan bebek dalam tempurung, kenapa?
Ada juga hewan lain yang menjadi sasaran bahasa kiasan ini, "macan tidur" (untuk tidak mengusik orang diam tapi berbahaya) tidak menggunakan hewan lain seperti "anjing tidur" yang sama galaknya.
Juga yang serumah tak menikah memakai nama hewan kerbou bukan bukan kuda. "Kumpul kerbau" bukan hewan selain kerbau misalnya kuda, *kumpul kuda."
(rg bagus W)
Gejala bahasa Indonesia dipengaruhi oleh perilaku hewan
Subscribe to Literanesia
Get the latest posts delivered right to your inbox