Sebetulnya Nusantara masih menyimpan cadangan minyak bumi yang besar. Datanya lengkap di Belanda. Ratusan titik sumber minyak bumi dan gas telah disurvai oleh pertamina tetapi belum bisa ditambang. Mungkin jumlah kandungan yang tidak sesuai mungkin juga kedalaman minyak bumi yang menerlukan biaya besar.

Dulu kita bangga menjadi anggota Opec, organisasi negara-negara pengekspor minyak. Anak-anak sekolah hafal tempat-tempat sumber minyak bumi.
Minyak bumi pengolahan awal (minyak tanah) digunakan untuk bahan bakar memasak sebelum ada gas (sebelum tahun 2000) sekarang minyak tanah masih bisa diolah jenis lain yang lebih menguntungkan.

Sekarang untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri masih sangat kurang. Jadilah kita mengimpor dari luar. Lalu bagaimana dengan sumber minyak yang ada dalam perut nusantara? belum dimanfaatkan.

Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa dulu hingga sekarang rakyat belum menikmati hasilnya? Mungkin salah urus atau yang mengurusnya (pemerintah) belum menahami amanat UUD 1945.

Sementara karyawan pertamina begitu makmur sejak dulu. Satpam di perusahaan pertamina saja begitu makmur apalagi para pejabatnya. Pemerintah dari dulu membiarkan keadaan ini.

Masih ingat tahun 1980an orang terkaya Indonesia yaitu direktur utama pertamina. Sampai sampai punya pesawat pribadi dan hotel terbesar di jakarta. Namanya Ibnu Sutowo yang disebut rakyat sebagai raja minyak. (rg Bagus warsono)