Dongeng Ki Semenamena
Rg Bagus Warsono
Tersebutlah di sebuah dusun di tepi sungai Brantas seorang pandai besi bernama Ki Semenamena. Rumah sekaligus bengkel jauh dari pemukiman penduduk, di tepi hutan, sehingga aktifitas Ki Semenamena tidak mengganggu warga.
Suatu hari datanglah seorang petani kaya berbana Sakera di bengkel Ki Semenamena untuk meminta dibuatkan 100 cangkul beserta dorannya dan selesai dalam waktu 100 hari. Petani itu membawa sekantong emas srbagai ongkos pembuatannya.
Ki Semenamena menyanggupi pesanan petani itu, tetapi menolak sekantong emas yang diberikan pak petani. "Bagikan saja emas ini kepada 100 pembantumu", kata Ki Semenamena kepada Sakera. Lalu Ki Semenamena melanjutkan, " Aku hanya butuh seekor kuda saja". Sakera gembira karena harga seekor kuda tidak seberapa. Sakera kemudian melirik kuda kesayangan yang membawanya ke tempat ini. "Sayang, tapi apalah artinya seekor kuda, aku bisa membeli yang lebih baik", katanya dalam hati.
Pesanan 100 cangkul Petani Sakera pada Ki Semenamena itu disepakati. Petani Sakera berjanji untuk memberikan sekantong emas yang dibawanya pada para petani pembantunya dan Ki Semenamena menerima seekor kuda kesayangan Ki Sakera. Setelah itu Ki Sakera pulang dengan gembira.
Setelah itu Ki Semenamena dan Istrinya mengumpulkan kayu bendara untuk membuat doran. "Kita buat 100 doran dulu untuk gagang pacul" kata Ki Semenamena pada istrinya. "Ya, Pak, persediaan cangkul kita cukup banyak" , jawab Istrinya sembari mengelus-elus kuda dengan pelana yang sangat bagus pemberian upah dari Perani Sakera.
Jelang 100 hari cangkul dan doran harus disiapkan, Ki Semenamena mengajak istrinya berkuda ke desa tempat dimana Ki Sakera tinggal. Ditemuinya warga desa itu yang sebagian basar pembantu Petani Sakera. Ternyata dari 100 pembantu
Pak Sakera tak satu pun yang diberi sekeping emas.
Menjumpai kenyataan ini berarti Sakera ingkar janji. Keesokan harinya bersama Istrinya kembali ke desa itu dan membagi-bagikan 100 doran gagang pacul pada para pembantu Sakera. "Ini gagang pacul dan ambil pada besok digubukku mata paculnya, sekalian aku ajari cara memasang mata pacul pada doran agar tidak lepas!". Para petani pembantu Sakera itu gembira menerima masing-masing 1 doran yang bagus, dan berjanji akan datang bersama-sama ke gibuk Ki Semenamena dambil belajar memasang mata pacul.
Ekoknya Petani kaya raya itu datang di gubuk pandai besi untuk mengambil cangkul yang dipesan. Kali ini ia membawa kuda yang sangat bagus sebagai tunggangannya dan menuntun seekor kuda untuk membawa barang.
Ternyata di gubuk Ki Semenamena telah berkumpul 100 pembantunya sambil memegang doran. Ki Sakera merasa kaget dan tanda tanya, kenapa semua pembantunya ada di tempat Ki Semenamena.
Melihat Petani Sakera di depan rumahnya, Ki Semenamena menghampiri. "Silahkan pak Sakera, mata pacul dan dorannya sudaj selesai dan siap."
"Ya, Ki Semenamena, bawa kesini dan naikan ke kuda itu" , jawab Sakera sambil menunjuk kuda angkutan yang dibawanya.
"Baiklah akan saya ambil, tapi apakan emas itu sudah dibagikan ke para pembantumu?" , kata Ki Semena mena sambil menunjuk 100 orang pembantu yang menegang gagang pacul.
Petani Sakera bingung dan tampak malu, segera ia berkemas dan meloncat ke kudanya. Apalagi 100 pembantunya itu mengacung-acungkan dorannya sambil menghujat dan memaki-maki.
Setelah peristiwa itu 100 petani itu berangsur pindah mengawula pada Ki Semenamena yang bijaksana. Sambil membuka pertanian di dusun tempat Ki Ssmenamena tinggal.
(Rg Bagus Warsono, 31 Juli 2026)
Dongeng Ki Semenamena Rg Bagus Warsono
Subscribe to Literanesia
Get the latest posts delivered right to your inbox