Sartikah
BATANG PINANG YANG TERPURUK
Pagi cerah arunika tetap setia menerangi keluh
Sepasang kaki berjalan tergesa gesa
menuju halaman balai desa
orang orang mulai berkumpul
untuk memeriahkan hari kemerdekan
kemerdekaan dalam perayaan
Di halaman balai desa terpancang batang pinang rebutan
dengan berbagai hadiah hiburan sebagai tanda kemenangan.
satu persatu maju untuk berebut
saling menginjak saling tindih saling menekan untuk mencapai ketinggian tak jauh beda dengan berebut jabatan pangkat dan kedudukan
yang paling bawah paling berat beban, terinjak
seluruh tubuh sampai kepala
menahan sakit dan perih sebagai tanda setia
Lalu mereka tertawa dalam derita
berjuang terus sampai napas penghabisan
tanpa sebuah penghargaan
penonton berteriak dengan lantang
tertawa terbahak melihat kebodohan
Genderang terius berdentang dengan lagu maju tak gentar
Maju tak gentar membela yang benar
kata kata itu terasa asing di benak
karena yang benar belum tentu di bela
belum tentu menang karena kebenaran bisa tersamarkan kekuasaan
kebenaran terinjak kekuasaan
keadilan hanyalah simbol dengan neraca tak lagi seimbang
hukum mati suri kehabisan napas di meja pelelangan
kebebasan terkurung jeruji tirani
panjat pinang simbol di Negeri ini
yang tertawa yang menangis
yang kuat bisa memanjat
yang lemah hanya jadi pijakan
kebodohan terus jadi tontonan
akhir dipanjat batang pinang pun terpuruk
di pingir lapangan terhina dan terlupakan.
Garut, 090826
**Sartikah **seorang penikmat puisi yang lahir dan di besarkan di kota Cimahi, bertugas sebagi guru sekolah dasar di kecamatan Cibiuk kab. Garut.
Puisi dijadikanya sebagai ajang silaturahmi, persabatan dan persaudaraan