WARDJITO SOEHARSO MERANGKAI BERITA, CERITA,, DAN DERITA MENJADI SEBUAH KETAPEL (Bagian - 4)oleh: Wawan Hamzah Arfan

WARDJITO SOEHARSO MERANGKAI
BERITA, CERITA,, DAN DERITA MENJADI SEBUAH KETAPEL
(Bagian - 4)
oleh: Wawan Hamzah Arfan
Wardjito Soeharso dalam menceritakan tokoh aku pada bab 6 (Labirin Gelap) benar-benar asyik, membuat saya larut dan hanyut ikut terlibat seperti seorang wartawan. Sebagai seorang wartawan (tokoh aku) tentu saja merasa curiga dengan apa yang terjadi tentang Mega proyek bernilai triliunan, dari perusahaan yang pertama menangani hingga beralih ke perusahaan lain. Berdasarkan kecurigaan itu, sang wartawan mulai menyelidiki. Ia mengambil langkah dan menelusuri ke perusahaan awal, yaitu PT Aska. Setelah berhasil menemui perwakilan PT Aska, dan mendapat jawaban yang cukup, Ia pun bergegas pulang.
Sepulang dari PT Aska, dengan perasaan lega Ia meluncur dengan sepeda motor kesayangannya. Setelah cukup lama memutari kota, Ia merasakan seperti ada yang mengikuti. Ia terus berputar-putar untuk membuktikan bahwa mobil di belakang mengikutinya. Setelah merasa yakin, Ia mengambil langkah jitu. Tentu saja, Ia punya strategi yang unik, punya senjata andalan, yaitu ketapel dan gundu (kelereng). Setelah berhasil melumpuhkan dua orang yang mengikutinya, ia langsung pulang, tapi tidak ke tempatnya, melainkan ke rumah temannya, bernama Wawan. Rupanya nama Wawan pasaran juga. Untungnya bukan Wawan Hamzah Arfan.
Pada Bab 6 tersebut Wardjito ingin mengungkapkan situasi negeri ini yang makin carut marut. Gambaran Wardjito tentang proyek triliunan yang boleh dikatakan penuh dengan kolusi, korupsi dan nepotisme sebenarnya bukan hanya terjadi di Jawa Tengah, tetapi sudah merata di seluruh pelosok negeri ini. Secara tidak langsung apa yang diceritakan Wardjito membuat saya berpikir, bahwa di zaman reformasi jual beli jabatan, jual beli proyek ternyata lebih ganas dibanding masa orde baru. Reformasi benar-benar menciptakan kebebasan segalanya, maling bebas, kerusuhan bebas. Hingga kurikulum pendidikan yang baru saat ini sedang digalakkan menjadi Kurikulum Merdeka. Apakah negara ini masih belum merdeka?
Selanjutnya Wardjito Soeharso dalam Bab 7 (Titik Terang) menceritakan tentang kasus Mega proyek yang mulai menemukan titik terang. Ternyata rencana Proyek pembangunan pelabuhan di Batang yang sudah tiga tahun berjalan masih saja terjadi kekisruhan akibat pergantiab perusahaan yang menanganinya. Ada keterlibatan dari berbagai pihak, baik pejabat Provinsi maupun pejabat Kabupaten.
Wardjito Soeharso dalam menceritakan benar-benar terbuka, dengan bahasa jurnalis yang apa adanya. Seperti dialog antara aku (wartawan) dengan perwakilan PT Aska yang kehilangan proyek karena disalip perusahaan lain yang menggantikannya. Kita simak dialognya: "Bukan sekedar disalip, Mas, tetapi dipotong di tengah jalan. Bayangkan, sudah sejak awal kami mengikuti perjalanan rencana proyek ini. Kementrian Perhubungan sudah memberi lampu hijau. Provinsi sudah memberi lampu hijau. Kabupaten sudah memberi lampu hijau. Kami sudah masuk tim. Dan kami sudah membangun komitmen menjadi bagian dari tim yang baik. Lho, kok tiba-tiba PT Lubi nimbrung mau merebut begitu saja posisi?" (Ketapel, hal. 161)
Apa yang telah diceritakan Wardjito di atas, telah menggiring pikiran saya, bahwa dalam hal salip menyalip, bahkan memotong di jalan bukan terjadi di jalan raya semata. Salip menyalip, sikut menyikut terjadi juga di setiap lini. Terutama yang menyangkut masalah tempat yang basah, tempat di mana bisa menghasilkan keuntungan pribadi. Segala cara ditempuh, terutama bagi para penguasa. Mungkin para penguasa sejak masa reformasi punya visi dan misi yang sama, yaitu aji mumpung, kapan lagi kalau tidak sekarang mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, karena kalau sudah tidak jadi penguasa tak bisa berbuat apa-apa. (Bersambung)