TITI IRAWATI SOEPARDI oleh Harry Tjahjono

TITI IRAWATI SOEPARDI.
(10 Nopember 1955 - 4 Oktober 2024)

DALAM PERJALANAN hidup, ada sahabat yang hadir bukan hanya sebagai rekan kerja, tetapi juga sebagai bagian dari keluarga. Salah satunya adalah Titi Irawati Supardi, saya menyebutnya Te'i. Saya mengenalnya ketika kami sama-sama berada di majalah Sarinah, 1985 sd 1992. Saat itu, ia baru melangkah dari dunia akademik, seorang psikolog, lulusan Universitas Gajah Mada— belum lama menjejak dunia jurnalistik yang penuh dinamika.
Saya masih ingat, bagaimana Titi dengan kesungguhan dan rasa ingin tahu yang tinggi, menekuni dunia baru itu. Saya berkesempatan jadi redakturnya, mengajaknya dalam beberapa wawancara penting. Bertiga Mas Harry Suwandito, kami mewawancarai tokoh-tokoh besar, Rendra, Mochtar Lubis Mendikbud Fuad Hasan dan tokoh terkemuka lain. Bagi Te'i, itu pengalaman baru yang menantang. Bagi saya, itu kebahagiaan, karena bisa melihat sahabat tumbuh dan menemukan suaranya sendiri.
Yang saya kenang dari Te'i adalah ketekunannya dan kegigihannya. Ia mendengarkan dengan penuh perhatian, mencatat dengan rapi, lalu menulis dengan hati. Ia tidak sekadar mewawancarai tokoh, tapi berusaha memahami pikiran dan batin mereka. Mungkin di situlah latar belakang psikologinya berpadu dengan insting jurnalistik yang tajam. Ia tidak hanya ingin tahu apa yang dikatakan orang, tapi juga mengapa mereka mengatakannya.
Di luar dunia kerja, persahabatan kami meluas hingga ke rumah. Te'i mengenal akrab istri saya, dan ketiga anak saya. Dari situlah persahabatan ini terasa semakin hangat. Ia tidak hanya hadir sebagai rekan seprofesi, tapi juga bagian dari lingkaran keluarga. Itu yang membuat hubungan kami lebih dari sekadar kerja sama profesional. Ada rasa saling percaya, ada ikatan keluarga.
Tahun 1992, saya pindah kerja di media yang diterbitkan Grup Ciputra. Kami jarang bertemu, tapi persahabatan tetap berlanjut. Te'i kembali memasuki dunia aktivis. Mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), bergiat di era perlawanan politik melawan Orde Baru, pergi ke Timor Leste dan ikut dalam perjuangan kemerdekaannya, dan menikah dengan Mas Nug Katjasungkana.
Sampai akhir hayatnya di Timor Leste, kami masih berkabar lewat WA. Te'i selalu mengirim salam pada istri dan ketiga anak saya. Saya dan istri kaget dan sedih ketika mendengarnya wafat di Dilli, Timor Leste. Te'i dimakamkan di Yogya.
Kini, ketika saya menoleh ke belakang, saya merasa bersyukur pernah berjalan bersama Te'i dalam masa itu. Dunia jurnalisme tidak pernah mudah, apalagi bagi perempuan. Tapi Te'i melaluinya dengan keteguhan, kegigihan, ketekunan dan keanggunan yang khas.
Persahabatan dengan Titi Irawati, bagi saya, adalah pengingat, bahwa pekerjaan boleh menjadi awal pertemuan, tapi yang membuat hubungan bertahan adalah ketulusan hati. Te'i menunjukkan, bahwa seorang sahabat sejati akan terus hadir, bukan hanya dalam ruang redaksi, tapi juga dalam ruang-ruang kehidupan sehari-hari.
Kematian memang akan datang pada akhirnya, tapi persahabatan yang tulus meninggalkan kenangan yang tak bisa dihapus. Dan persahabatan dengan Te'i adalah salah satu jejak yang indah dalam perjalanan hidup saya. Jejak yang membuat saya merasa tidak pernah sendirian, bahkan di tengah kerasnya jalan hidup di dunia kata-kata.***
Hartjah
06102025