Terminal Yang Terakhir, Barokah
Terminal Yang Terakhir
T adalah tuli
Tidak mendengar kata hati
Tidak mendengar tanda-tanda cinta yang bernyanyi.
T adalah tanda tanya
Tempat manakah yang akan kita tuju
Sebagai dermaga akhir setelah sekian tahun berlayar
Terombang-ambing dihempas badai kehidupan.
T adalah tujuan
Muara misteri yang melingkari rahasia hidup manusia
Terkadang tampak nyata terkadang lenyap tiada.
T adalah tersembunyi
Tempat terjauh yang paling sunyi
Tempat yang paling aku cintai
Karena hanya dalam sunyi aku bisa merasa
Betapa Engkau mencintaiku
Tuhanku.....
Purworejo, Agustus 2021
100 Chairil Anwar Masa Kini, ed Rg Bagus Warsono Hyang Pustaka 2022
Barokah, *lahir di Pacitan 18 Agustus 1954.
Pensiunan PT Telkom ini telah menulis sejak remaja di berbagai media antara lain Jawa Pos, Berita Yudha dan Suara Karya. Buku karya puisinya antara lain Antologi puisi Bunga Bunga Semak, diterbitkan Pustaka Haikuku Bandung, tahun 2017. Antologi haiku Pancaran Hati, diterbitkan Pustaka Haikuku Bandung, tahun 2019. Ikut berbagai antologi puisi di group Lumbung Puisi sejak tahun 2018.
, lahir di Pacitan 18 Agustus 1954.
Pensiunan PT Telkom ini telah menulis sejak remaja di berbagai media antara lain Jawa Pos, Berita Yudha dan Suara Karya. Buku karya puisinya antara lain Antologi puisi Bunga Bunga Semak, diterbitkan Pustaka Haikuku Bandung, tahun 2017. Antologi haiku Pancaran Hati, diterbitkan Pustaka Haikuku Bandung, tahun 2019. Ikut berbagai antologi puisi di group Lumbung Puisi sejak tahun 2018.