Tepat Taukem, Naim Emel Prahana
53.Naim Emel Prahana
Tepat Taukem
Cerita itu dari atas bukit
dihembuskan kata meneruni lereng
mengalir di Air Ketahun
melayang-layang di puncak Bukit Barisan
dari dulu sampai kini ceritanya sama
tentang Tepat Taukem
keramatnya orang-orang Rejang
di tanah Renah Sekalawi
di puncak bukit Taukem
pengawas sepanjang waktu di pelataran Danau Tes
penuh pesona ragam ceritanya
sebuah meriam besi berpeluru besi bundar
ramai dikunjungi yang berkepentingan
telusuri jejak cerita Tepat Taukem
dikisahkan turun temurun
“Siapapun yang dilahirkan karena zina
takkan mampu mengangkat peluru meriam
padahal anak kecil saja dapat mengangkatnya
dan meletakkan peluru di atas bahunya!”
dari hulu ke hilir
ceritanya turun temurun dan sama
pesan mulia para pendahulu yang besar bermakna
tak heran ada yang ketakutan untuk tiba di sana
ada perasaan malu jika tahu tak dapat mengangkat
peluru besi tetap mendampingi meriam kuno
penjaga di bukit Tepat Taukem
gagah perkasa bersemanyam di puncak bukit
Tepat Taukem kesohor di mana-mana
kokoh di puing-puing kisah Kerajaan Rukam
si penakluk legenda Ular Kepala Tujuh penunggu Danau Tes
semakin tersohor kabar ceritanya
Tepat Taukem sepenggal cerita
ditinggalkan zaman kerajaan Renah Sekalawi
pada suku Rejang Bermani Jurukalang
dua marga dikemudian jadi satu kesatuan
dijaga dan dipelihara alam Bukit Barisan
Tepat Taukem dari masa ke masa.
Desember 2021.
Catatan:
Puisi ini diangkat dari cerita rakyat Rejang di Provinsi Bengkulu yang cukup populer dan sering diziarahi WNI keturunan China. Letaknya memang berada di atas bukit yang disebut Bukit Taukem (Rukam) dengan posisi membujur dari Barat ke Timur menghadap ke Danau tes (Danau terbesar yang ada di Kota Bengkulu berada di Desa Kotadonok, Kecamatan Lebong Selatan Kabupaten Lebong).
Cerita Tepat Taukem (Kramat Rukam) mengandung nilai mistis di tengah masyarakat Rejang di Lebong.
Terjemahan Kata:
Tepat Taukem : Tepat (Kramat), Taukem (Rukam, nama tempat)
Air Ketahun : Nama sungai terbesar di provinsi Bengkulu bermuara ke Samudera
Indonesia.
Ular Kepala Tujuh : Legenda/cerita rakyat Bengkulu berasal dari daerah Lebong
Renah Sekalawi : Nama wilayah yang sekarang menjadi nama kabupaten Lebong
Marga : Kelompok masyarakat di suatu daerah yang menjadi satukesatuan
Bermani : Nama kesatuan masyarakat (marga)
Jurukalang : Nama kesatuan masyarakat (marga)
Naim Emel Prahana**
**
Legenda Ular Kepala Tujuh
Kemarahan merasuki hati Gajah Meram
calon isteri diculik saat mandi di tepian
di bawa ke dalam air Bioa Tebet Tluk Lem
bergurulah Gajah Meram dalam tapa brata
agar kuat menyelam dan hidup di dalam air
pintu penyelamatan calon isteri bidadari Kutei Rukam
selama tujuh hari tujuh malam malang melintang
pantang mundur batalkan geram hati
menyusuri dasar Danau Tes untuk masuk ke istana
tempat bersemanyamnya sang raja ular
penyekap calon isteri putra mahkota Gajah Meram
jalan dimudahkan sang penguasa
Gajah Meram menemukan pintu masuk istana raja bengis
dikawal enam ekor ular jelmaan setiap pintu gerbang
pantang surut ditantang jiwa terguncang
perang tanding tak terelakkan dengan pengawal raja bawah air
satu per satu tewas terbunug di ujung pedang Gajah Meram
saatnya berhadapan dengan sang raja jahat
Gajah Meram kian lantang siap bergalang tanah
Jika sang raja jahat tidak mengabulkan tuntutannya
“Bebaskan si calon isterinya tanpa syarat!”
debat keduanya mengguncang alam semesta
si raja jahat semakin licik mengajukan syarat pembebasan
“Hidupkan para pengawal yang sudah mati dan tempelkan
dikedua bahu sang raja!”
Sang penguasa alam berpihak kepada Gajah Meram
dibawanya kepala para pengawal raja bawah air
dengan keyakinan kepala ituakan hidup lagi
ajaib, setelah diletakkan di atas bahu sang raja
enam pengawal yang sudah mati hidup kembali
menempel di bahu sang raja, dengan ketakutan
akhirnya sang raja melepaskan calon isteri Gajah Meram
untuk dibawa pulang ke daratan
Gajah Meram sesampainya di istana disambut meriah
Diadakan pesta istana siang malam.
31 Desember 2021
Arti kata daerah dalam puisi Ular kepala Tujuh
Gajah Meram = nama putra mahkota Kerajaan Kutai Rukem
Air Bioa Tebet Tluk Lem = air (sungai), Bioa (air), Tluk (Teluk), Lem (Dalam)
. Naim Emel Prahana, lahir pada 13 Desember 1958 tinggal di Lebong Selatan. Memasuki S-1 jurusan Kriminologi FH UII Yogjakarta, tinggal di kota Metro Lampung. Kegiatan lain yang diikuti baca puisi, Kongres Cerpen di Bali, Penyair Indonesia 1997 di TIM—DKJ Jakarta, duta budaya daerah Lampung Tengah ke berbagai daerah di Indonesia dan lainnya. Dan, karya-karya puisi sering dibacakan di radio Koln, Jerman. Karya-karya puisi yang sudah dihimpun dan dibukukan (diterbitkan) antara lain; Sajak Kaca (1984, bersama empat penyair muda Yogyakarta), Kasih Tuan (Yogyakarta, 1985), Kembang Malam Kembang Kelam (Metro, 1986), Poros (Metro, 1986), Puisi Indonesia (DKJ-TIM Jakarta1987), Bruckkenschlag (Koln Jerman, 1988, diterbitkan dalam bahasa Jerman), Solidaritas (1991, bersama penyair Lampung), Puisi Selatan (1992, bersama penyair Sumatera Bagian Selatan), Nuansa Hijau (Bogor, 1995), Sagang (Pekanbaru, Riau 1994),
Dari Negri Poci 3 (Cirebon), Buku Cerita Rakyat Lampung (jilid 1, 2 dan 3 Grasindo-Kompas Jakarta, 1988), Buku Cerita Rakyat Bengkulu (jilid 2 dan 3, Grasindo-Kompas Jakarta, 1988)