Setangkai Bunga Seroja, Wiji Yulianto

Wiji Yulianto

Setangkai Bunga Seroja

Di air paling kelam,
ia memilih lahir sebagai cahaya,
tak menuntut langit,
tak memaki dasar yang menghitam.
Air memeluknya,
dengan sunyi yang sabar,
hingga luka-luka dunia,
menjelma kelopak yang bening.
Ia mekar bukan untuk dipetik,
melainkan untuk meruntuhkan,
dada yang memandangnya—
sebab keindahan sejati,
tak menyelamatkan,
ia justru menenggelamkan,
jiwa yang belum siap hancur.