SEPUCUK SURAT SEWANGI KENANGA A.Rahim Eltara
SEPUCUK SURAT SEWANGI KENANGA
A.Rahim Eltara
Bermiliar-miliar tetes air mata sunyi,
mencatat duka di kanvas tanah merah bata,
tentang bayang-bayangmu yang jalang,
tentang sajak-sajakmu yang murung.
Dan di ranting pohon, burung kedasih telah menerjemahkan mendung dengan bahasa paling pilu,
saat bunga kamboja gugur di atas isak zikir dan doa.
Alunan musikalisasi Derai-Derai Cemaramu,
membingkai wajah Asrul Sani, Rivai Apin, dan entah
siapa lagi teman cengkeramamu,
pun kuhirup wangi sajakmu dari aroma kembang-kembang peziarah.
Beberapa helai daun kenanga
tak henti-henti menenun tasbih di pucuk nisan
dan kau tersenyum di antara kepak sayap malaikat,
menyemai cahaya dalam kamar istirahmu yang lengang.
Di karet pun rintik-rintik hujan cemas
dalam lembar-lembar kertas yang kauremas, karena di sana
tak kutemukan sajakmu terbungkus kain kafan,
hanya ada gelegar suara mengaum di atas mimbar, bukan raja hutan yang bertitah di tahta,
tapi suara ilusi binatang jalang, ingin hidup seribu tahun lagi.
Mungkin aku akan datang bertamu dalam sunyimu,
berziarah ke pusaramu bersama Jassin dengan tanpa membangunkanmu dari tidur panjang,
untuk membacakan surat dan kartu pos yang pernah kautulis dengan bahasa gelisah.
Telah lebih setengah abad aku dan Sapardi
memungut diksi, di antara bunga-bunga kamboja
yang gugur menjadi peziarah setiap pagi,
di antara kertas berserakan yang diterbang doa-doa ke langit.
Sepucuk surat sewangi kenanga yang kutulis kala senja,
kukirim kepada beratus-ratus Chairil yang lahir dari rahim sajakmu,
dan mereka membacanya tanpa teks.
Sumbawa, 2024-2025