Seorang Koki Tetap Koki, KKcrayfish Phing

Benar Mas, setelah melihat postingan Mas RgBagus Warsono, saya merenung, di situlah salah satu persoalan paling serius dalam dunia sastra kita. Ketika seorang sastrawan atau penyair mulai merasa dirinya lebih sastrawan, lebih penyair, atau lebih sahih daripada yang lain, yang tumbuh sering kali bukan mutu, melainkan jarak batin dan kebanggaan semu. Dari situ lahir kesenjangan perilaku yang tidak lagi ditopang oleh karya, tetapi oleh rasa unggul yang belum tentu punya dasar yang kuat.
Menurut saya, ukuran seorang penyair tidak pernah bisa disamakan dengan banyaknya fasilitas yang pernah ia terima. Bantuan dana, pada hakikatnya, diberikan agar seorang penyair lebih leluasa berkarya, bukan sebagai pengesahan bahwa karyanya otomatis lebih tinggi dari yang lain. Saya melihat banyak orang lalu memandang bantuan itu seolah menjadi tanda kemuliaan estetik, padahal niat pemberi bantuan sering kali jauh lebih tulus dan sederhana, yakni membantu agar kreativitas tumbuh.
Hal yang sama juga berlaku pada pengabdian. Pengabdian memang pantas dihormati, tetapi pengabdian bukan ukuran langsung bagi mutu karya. Seseorang yang lama mengabdi layak diberi apresiasi, bahkan bila ia bukan penyair. Sebab nilai pengabdian dan mutu puisi adalah dua perkara yang berbeda, dan tidak semestinya dipertukarkan begitu saja.
Begitu pula dengan buku. Banyaknya buku tidak otomatis berarti seseorang lebih unggul dari yang tidak pernah menerbitkan buku sendiri. Kita tahu ada penyair besar yang karyanya justru dihimpun dan dibukukan oleh generasi sesudahnya, karena puisinya memang pantas menjadi buku. Sebaliknya, siapa pun yang memiliki dana dapat menerbitkan buku, mencari editor, meminta prakata, pergi ke percetakan, lalu selesai. Karena itu, jumlah buku tidak boleh dijadikan ukuran tunggal untuk menilai kedalaman atau kebesaran seorang penyair.
Di situlah saya sepakat dengan Mas Bagus. Yang harus dijaga adalah martabat karya, bukan kebanggaan semu yang bertumpu pada nama, bantuan, atau jumlah produksi.
Seorang koki tetap koki, entah ia bekerja di rumah makan sederhana atau di restoran mewah. Begitu juga penyair, ia tetap penyair sejauh karyanya hidup, bukan sejauh ia merasa lebih tinggi dari yang lain. Tampilkan lebih sedikit