SELEMBAR MEMORI, Satria Rizal (057)

Satria Rizal
SELEMBAR MEMORI

kurasa ini saat yang tepat
untukku sejenak membuka kembali
selembar memori tentangmu. Tentang kita
yang sampai hari ini
masih setia bermukim di bilik ingatanku
di suatu waktu
lima ratus dua puluh satu purnama yang lalu
pertama kali aku mengenalmu
pemilik mata bening berwajah ayu
waktu itu engkau masih berseragam putih biru
sementara aku sudah mahasiswa, tingkat dua
walau engkau masih belia
tapi kurasa keberadaanmu sudah gadis remaja
dari tatap mata serta bicaramu
meyakinkan aku bahwa dirimu menyukaiku
dan sepertinya engkau pun tahu
bahwa aku sudah lebih dulu menyukaimu
walau tak lama
tapi aku pernah bersamamu
dalam sebuah simpul cinta, kasih dan sayang
namun apa daya, simpul itu
harus dilepaskan. Kita pun berpisah
bersama keluargamu, engkau pindah ke lain daerah
menjelang perpisahan itu
selepas hujan reda kita bertemu
engkau pemilik mata bening berwajah ayu
hari itu tertunduk lesu
"Aku harus pergi..!" katamu
aku diam tak mampu bicara
aku kehilangan kata-kata
setelah kepergianmu
tiada pilihan lain bagiku
kecuali berdamai dengan gejolak rindu
yang acapkali datang
mengetuk dinding kalbu
setelah empat dasawarsa berlalu
aku sudah tidak muda lagi
tentu engkau pun begitu
mungkin engkau di sana
sudah beranak bercucu
sebagaimana halnya denganku
mengenangmu bukan berarti aku mendua
di usia yang kian menua
tentu aku harus semakin menjauh dari keinginan itu
di era medsos ini, era digital kini
dengan susah payah kucari kamu
sekadar ingin tahu keberadaanmu
namun tak kutemu
tak jua kutemu
Bengkulu, 22 Oktober 2025

SATRIA RIZAL. Adalah putra Bengkulu kelahiran Lahat Provinsi Sumatera Selatan pada tanggal 14 Januari. Puisi-puisinya pernah dimuat di Surat Kabar Harian (SKH) Berita Buana dan Harian Rakyat Bengkulu. Tergabung dalam beberapa Antologi bersama. Saat ini menetap di kota Bengkulu.*