Sekumpulan Puisi Kopi Rg Bagus Warsono

Sekumpulan Puisi Kopi
**Rg Bagus Warsono **

Seperti hari sebelumnya

Seperti hari sebelumnya
liku waktu tiada beda
mencari dan menunggu lalu
kau saja mengira kapan
melihatku jemu
aneka peristiwa alam malam
tak salah mata sekilas

Membasuh luluh kering
Aku mendengar guntur dadamu getar
tak percaya mengapa bersatu
tak ada catatan pagi tersenyum
membasuh luluh kering
lepaskan kalau memang sayang
seperti mata mandau meluncur
dadamu terbuka membiarkan hatimu terluka
mengusap putih darah bibir beku

Butiran kasih itu memecah memberi lagu
Sebaris bait ditengah terik peluh deras
Merintih lalu tertawa
Memberi apresiasi hidup ini
Bahwa liku dan waktu adalah tanda-tanda
Kita dan dan kami hidup dalam waktu
Tidak percuma belajar membaca hidup

Memberi rasa

25 tahun beselang seperti musim buah
kesetiaan dungu
tanda-tanda lusuh rapuh
mengisi lemari bersaf empat
jangan pilih pakai bila terasa
merah pun seperti kebiruan
25 tahun rasa menerima
memberi rasa
bukan hilang pura-pura

Aku mendengar guntur dadamu getar
tak percaya mengapa bersatu
tak ada catatan pagi tersenyum
membasuh luluh kering
lepaskan kalau memang sayang
seperti mata mandau meluncur
dadamu terbuka membiarkan hatimu terluka
mengusap putih darah bibir beku

Digenggam atau bebas
Seandainya ada pita rekam waktu
menjadi renung perjalanan layang-layang
disamping atau tak kelihatan
menusuk hati membakar daging
digenggam atau bebas
hari-harimu bukan agenda
hanya memori besok lusa saja.

"Jangan malam ini, cukup secangkir kopi."

Kau tak lagi muda
tapi kau mewarisi dayang sumbi
atau kendedes
anugerah kecantikan diusiamu setengah abad
itu karunianNya.
Jika kau merasa
biarkan malam menjemput fajar
Kau terjaga dalam tidur
bukan lagu keroncong rindu malam
bukan pula penasaran
jangan , jangan kau nekat bergelanyut
kita tlah terlambat lama
itu hanya simfoni malam
"Jangan malam ini, cukup satu puisi."
Kau mulai terangsang puisiku terbuka
kau peluk puisi, aku biarkan dia mengapresiasi
kau semakin bergairah
puisiku memanas
kau puas, puisiku memberi sejuk hatimu
kau meminta halaman baru
aku tantang apa maumu.
Jangan malam ini, cukup secangkir kopi.

Pupus batas sayang

Menyimpan pagi, membakar sore
pupus batas sayang
mataku jeli mengapa terhalang
mengapa dilarang
tak ucapkan kata tak cinta tapi sengaja
asal tahu tahu hatimu di saku bajuku.

Kuketahui kau undur diri
bukan kantuk malam atau butuh tidur
tetapi seakan kau mengikuti
bidadariku menjelma hayal
aku mengusir malah membesar aku terpejam kau dalam bayang
ingin kuutarakan berterus terang
hati takut bertepuk sebelah tangan
salah siapa dipertemukan

Rg Bagus Warsono nama lainnya Agus Warsono atau Bagus Warsono lahir di Tegal, Jawa Tengah, 29 Agustus 1965, adalah sastrawan Indonesia. Menulis sejak bangku sekolah berupa puisi di Pikiran Rakyat Edisi Cirebon, dan sejak tahun 1985 menulis puisi, cerpen, cerpen anak dan artikel di berbagai media massa di antara lain majalah Gentra Pramuka, Bekal Pembina, Mingguan Pelajar, Pikiran Rakyat, Suara Karya, Binakop, Bhinneka Karya Winaya, Suara Guru, dan Suara Daerah. Buku puisinya antara lain Bunyikan Aksara Hatimu 1992 diterbitkan Sibuku Media 2014 {1} ; Jangan Jadi sastrawan , Indhi Publishing 2014 {2}; Jakarta Tak Mau Pindah diterbitkan Indhie publishing, Jakarta 2014 {3}; Si Bung, Leutikaprio , Yogyakarta 2014 {4}; Surau Kampung Gelatik diterbitkan Sibuku Media , Jogyakarta 2015 {5} dan Mas Karebet , Sibuku Media , Yogyakarta 2015 {6}. Satu Keranjang Ikan Sibuku Media , Jogyakarta 2016 {7}.
Selain sebagai penyair, dia mendirikan Himpunan Masyarakat Gemar Membaca {HMGM}. dan Dokumentasi Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Sebagai seorang sastrawan ia dikenal juga seorang pelukis.