Sastrawan dan Kegelisahan Bangsa, Rg Bagus Warsono
Rg Bagus Warsono
**Sastrawan dan Kegelisahan Bangsa **
Adalah Muhammad Sobari, seorang budayawan yang mengatakan bahwa sebagian besar kaum intelektual beramai-ramai 'bisu" menyikapi situasi negeri ini. Kebisuan itu dianalogikan dengan sebagi 'Nyanyi Sunyi" Pamudya Ananta Toer. Nyanyi tapi sunyi, senyap , bisu tak berkata apa-apa.
Mohammad Sobari tidak melihat sastrawan kita pada karya-karya terkini terutama di jenis karya puisi. Kegelisahan itu sebetulnya telah dijawab dengan menyuarakan nada menyikapi situasi negeri ini lewat suara-suara puisi yang ditulisnya.
Tetapi puisi-puisi yang menyuarakan kritik itu masih dianggap sepi dikarenakan sedikitnya perhatian terhadap puisi. Mereka yang berada dalam pemerintahan bukan buta huruf tetapi tidak membaca. Dan tidak membaca itu karena telah hilang sendi-sendi nurani pada seni. Mereka tak tersentuh dengan kritik yang di sampaikan melalui seni. Apalagi mau nendengar puisi yang dibaca lantang atau puisi yang disebarkan ke seluruh media dan akun-akun sosial.
Ketika Pandji Pragiwaksono tampil di Mens Rea ada jawaban atas kegelisahan itu, yaitu adanya rakyat yang justru membela pemerintah yang dikritik Pandji, dengan melaporkan Pandji pada polisi. Sebuah contoh dan bukti bahwa kelakuan pemerintah yang dikritik oleh seniman komika Pandji justru dibela oleh kita sendiri sebagai rakyat biasa. Sesuatu yang aneh. Kok bisanya yang dikritik pemerintah yang tidak terima justru kita sendiri. Inilah yang penulis maksudkan sebagai suatu kegelisahan bangsa yang dipandang oleh sastrawan masa kini.
Dari gambaran itu semua bukan berarti karya sastra sudah tidak mempan sebagai alat kritik tetapi kita berharap untuk tidak putus asa. Banyak sastrawan yang lewat puisi-puisinya tak henti menyuarakan kritik. Dengan berbagai cara juga sastrawan menyuarakan kritik demi kebaikan negeri ini. Judul-judul puisi, antologi bahkan judul kegiatan yang banyak ditampilkan dengan bahasa kritik, ironi dan perumpamaan yang digelar masih belum juga mempan dihati orang-orang ysng duduk dipemerintahan. Mereka telah tipis hati nurani , hati mereka kering kerontang bahkan di musim hujan. Bahkan di bulan Ramadhan bulan dimana sebagian besar rakyat Indonesia melaksanakan ibadah puasa kegelisahan sastrawan tetap muncul manakala terdapat berita-berita yang menyakitkan hati rakyat.
(Rg Bagus Warsono, penulis tinggal di Indramayu)