<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"><channel><title><![CDATA[Literanesia]]></title><description><![CDATA[Media Literasi Sastra Indonesia]]></description><link>https://literanesia.com/</link><image><url>https://literanesia.com/favicon.png</url><title>Literanesia</title><link>https://literanesia.com/</link></image><generator>Ghost 1.26</generator><lastBuildDate>Mon, 06 Jul 2026 21:16:10 GMT</lastBuildDate><atom:link href="https://literanesia.com/rss/" rel="self" type="application/rss+xml"/><ttl>60</ttl><item><title><![CDATA[Prajurit Berganti Menjadi Petani]]></title><description><![CDATA[Prajurit Berganti Menjadi Petani]]></description><link>https://literanesia.com/prajurit-berganti-menjadi-petani/</link><guid isPermaLink="false">6a47b34b815b0b0001ea8fa4</guid><category><![CDATA[Membakar Batavia]]></category><dc:creator><![CDATA[Literanesia]]></dc:creator><pubDate>Fri, 03 Jul 2026 13:06:00 GMT</pubDate><media:content url="https://literanesia.com/content/images/2026/07/Membakar-batavia-3.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<div class="kg-card-markdown"><img src="https://literanesia.com/content/images/2026/07/Membakar-batavia-3.jpg" alt="Prajurit Berganti Menjadi Petani"><p><img src="https://literanesia.com/content/images/2026/07/Membakar-batavia-2.jpg" alt="Prajurit Berganti Menjadi Petani"></p>
<p>ahu Bahureksa? Salah satu Panglima Mataram yang diutus menyerang Batavia. Jika pulang tidak mendapat kemenangan dituduh penghianat, kalau menang harus menbawa kepala Jan Petersoon Coen. Pulang tanpa kemenangan dihukum mati. Ya sudah, ia suruh semua prajurit dan dirinya untuk berbaur dangan rakyat Pantura (Jawa Barat: Indramayu, Subang dan Karawang) maka banyaklah penduduk/ gadis gadis  yang menikah dengan prajurit Mataram. Mereka para prajurit itu berganti menjadi petani bercocok tanam. Bukti itu sampai sekarang masih ada dengan banyaknya desa2 di pantura jawa barat menggunakan bahasa tegalan, seperti di Haurgeulis, di Ciasem, di kecamatan2 ujung utara karawang sampai daerah Pedes dan sebagian bekasi utara. . Juga penggunaan nama2 ukuran pertanian tanah pertanian menggunakan cara cara Mataram.<br>
(Rg Bagus warsono)</p>
</div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Sakti itu Bahureksa sedang prajuritnya tidak]]></title><description><![CDATA[Sakti itu Bahureksa sedang prajuritnya tidak]]></description><link>https://literanesia.com/sakti-itu-bahureksa-sedang-prajuritnya-tidak/</link><guid isPermaLink="false">6a47b288815b0b0001ea8fa0</guid><category><![CDATA[Membakar Batavia]]></category><dc:creator><![CDATA[Literanesia]]></dc:creator><pubDate>Fri, 03 Jul 2026 13:03:29 GMT</pubDate><media:content url="https://literanesia.com/content/images/2026/07/Membakar-batavia-1.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<div class="kg-card-markdown"><img src="https://literanesia.com/content/images/2026/07/Membakar-batavia-1.jpg" alt="Sakti itu Bahureksa sedang prajuritnya tidak"><p><strong>Sakti itu Bahureksa sedang prajuritnya tidak</strong>.<br>
<img src="https://literanesia.com/content/images/2026/07/Membakar-batavia.jpg" alt="Sakti itu Bahureksa sedang prajuritnya tidak"></p>
<p>Melawan pasukan Belanda (VOC 1628) walau ribuan tentara Pasukan Mataram yang dipimpin Panglima Bahureksa tidak semudah itu, Bahureksa sadar bahwa pasukan musuh walau jumlahnya sedikit tetapi menggunakan senjata api (bedil dan meriam) sedang pasukan mataram masih menggjnakan senjata  tradisional menyerang terbuka adalah bunuh diri. Jadilah hanya membuat racun yang dialirkan ke sungai Ciliwung sehingga tentara VOC banyak yg keracunan. Tetapi perbekalan terus berkurang. Bahureksa bingung menyuruh perang terbuka adalah bunuh diri membunuh prajuritnya sendiri. Jadilah ia menyuruh mengabarkan bahwa kepala  gubernur jenderal VOC Jan Persoon Coen telah dipenggal kepalanya. Tetapi itu juga tidak bisa terus menerus menutupi kebohongan apalagi musim berganti hujan  dan harus pulang ke Mataram. Sedang pulang harus membawa kemenangan atau dipenggal kepalanya jika gagal atau kalah perang. Kebingunan itulah yang membuat berubah pikiran. Kecerdasan Bahureksa luar biasa. Disuruhnya lima ribu prajurit itu untuk berbaur dengan penduduk sekitar dan mencari keselamatan masing2<br>
(Rg Bagus Warsono)</p>
</div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Ulasan Puisi 100 Chairil Anwar Masa Kini]]></title><description><![CDATA[Ulasan Puisi 100 Chairil Anwar Masa Kini ]]></description><link>https://literanesia.com/ulasan-puisi-100-chairil-anwar-masa-kini/</link><guid isPermaLink="false">6a42dc8b815b0b0001ea8f82</guid><dc:creator><![CDATA[Literanesia]]></dc:creator><pubDate>Fri, 03 Jul 2026 12:55:02 GMT</pubDate><media:content url="https://literanesia.com/content/images/2026/06/chairil-Anwar-1.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<div class="kg-card-markdown"><img src="https://literanesia.com/content/images/2026/06/chairil-Anwar-1.jpg" alt="Ulasan Puisi 100 Chairil Anwar Masa Kini"><p>Ulasan Puisi 100 Chairil Anwar Masa Kini</p>
<p>KEPADA CHAIRIL ANWAR</p>
<pre><code>Bagaimana seorang penyair menatap hidup dirinya dan pembandingan dengan Chairil Anwar dipadu situasi masa kini diketengahkan oleh Wawan Hamzah Arfan, penyair kawakan yang menetap di Cirebon ini. Judulnya ditujukan kepada Chairil Anwar. Ia nyatakan bahwa di masa ini gejolak Chairil tak perlu diungkapkan baginya hidup tak perlu ngoyo dan tetap menjalani dengan kemampuannya yang ia pasrahkan Kepada Allah. Agaknya Wawan Hamzah Arfan sengaja memberikan suri tauladan kepada yang muda bahwa hidup perlu dihayati. Dalam bait terkhirnya ketara bahwa ia menyadari tantangan dalam hidup ini. 
</code></pre>
<p>Kuingat Sebuah Nama<br>
Bagaimana seorang penyair menoreh tintanya dalam waktu singkat adalah Joko Kahhar, penyair senior Indonesia asal Yogyakarya ini. Tentu tentang Chairil Anwar. Ia katakan bahwa puisi yang kuat akan ditemukan dalam kertas usang yang berlubang. Artinya akan ada orang lain yang membaca bahwa puisi kita itu hidup walau kadang terlantar atau terbuang. Hidup puisi itu puisilah yang membawanya.</p>
<p>Joko Kahhar</p>
<p>Kuingat Sebuah Nama<br>
Di lipatan kertas usang sebagian robek dan berlubang/<br>
Kubaca larik-larik kalimat bersajak/</p>
<p>.....</p>
<p>Aku sekarang api aku sekarang laut/<br>
Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat/<br>
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar/<br>
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak &amp; berlabuh/<br>
(1948)</p>
<p>Lalu kuingat sebuah nama: Chairil Anwar/<br>
Binatang jalang dari kumpulannya terbuang//<br>
Yogyakarta, 26 Juli 2022</p>
<p>Dengan Puisi<br>
Mari kita lihat puisi Anisah Effendi, penyair Cirebon yang aktif namun nyaris tak terlihat wajahnya. Sebetulnya sisi yang diambil cukup indah. Ada mengungkapkan manfaat puisi dan juga tentang puisi Chairil Anwar. Baitnya yang terakhir tampak memberi kesimpulan bahwa dengan puisi memiliki semangat hidup. Sayang Anisah kurang melebar serta kosa kata yang minim sehingga puisi ini pendek. Namun demikian puisi adalah puisi apa pun yang ditulis bagi seorang penyair memiliki maksud tersendiri oleh penyairnya.</p>
<p>Anisah Effendi<br>
Dengan Puisi<br>
(Mengenang Chairil Anwar)<br>
Cinta dan doa kau lantunkan dengan puisi<br>
Amarah dan kecewa kau tumpahkan dengan puisi<br>
Sunyi dan sepi kau lukis dengan puisi<br>
Luka dan duka kau bawa berlari dengan puisi<br>
Dengan puisi pula<br>
Kau menjaga jiwa dan menjaga Indonesia<br>
Darimu aku temukan<br>
Semangat hidup<br>
Seribu tahun lagi<br>
Cirebon, 26 Juli 2022</p>
<p>Bambang Widiatmoko adalah sastrawan akademika yang tak asing lagi di Indonesia sejak tahun 1980-an. Kali ini memberikan puisinya yang sangat apik yaitu sebuah percakapan ruang batin. Adalah gaya Bambang Widiatmoko dalam puisi imajenernya dengan Chairil Anwar. Tampak puisi ini memberikan nuansa gambaran Chairil di saat masa-masa perjuangan dulu. Pemuda kurus kerempeng yang meyakinkan bahwa Chairil seorang pejuang meski hanya dengan aksara. Dalam puisi itu pula Chairil berkata aku kumbang aku kembang, sebuah baris yang memiliki makna tersirat. Baris baris metafora puisi Bambang memang luar biasa. Pada ia memandang gambar-gambar baliho yang kini terpasang sepanjang jalan Cikini Raya dan pada saat itu pula bayangan Chairil menghilang seakan dia berkata bahwa &quot;Taman punya kita berdua&quot;, yang artinya tidak saja pada diri penulisnya (Bambang Widiatmoko) tetapi juga siapa saja yang membacanya. Jempol untuk Mas Bambang Widiatmoko .</p>
<p>Bambang Widiatmoko</p>
<p>Percakapan Ruang Batin<br>
Dalam pertemuan yang tak perlu dicari tanggal dan tempatnya<br>
Namun telah menjadi napas dalam jiwa bersama<br>
Kita selalu bercakap dalam ruang batin<br>
Tentang semangat yang tak pernah padam<br>
Dan sambil menepuk dada ramping menonjol tulang<br>
Engkau berseru “Aku ingin hidup seribu tahun lagi.”<br>
Kita tentu tak peduli semesta tertawa<br>
Membaca hidup yang dipenuhi metafora<br>
Tapi aku selalu suka, karena itu semangat yang kita miliki<br>
Dan tetap terjaga di sudut jiwa<br>
Seperti saat bertempur tapi tak membawa senjata<br>
“antara Krawang – Bekasi”<br>
Namun engkau tetap memiliki dan meyakini<br>
“Berselempang semangat yang tidak bisa mati.”<br>
Atau kita akan menjadi bagian dari takdir<br>
“Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.”<br>
Kita memang sesama pejalan malam<br>
Menyusuri sudut-sudut jalan dan berhenti di persimpangan<br>
Mencari kata-kata yang terbang bersama kelelawar<br>
Lalu dalam percakapan ruang batin engkau berkata<br>
“Kau kembang, aku kumbang<br>
“Aku kumbang, kau kembang.”<br>
Entahlah, telah memasuki perjalanan usia seabad<br>
Sajak-sajakmu tetap mengikat kuat<br>
Lalu sambil terbata-bata engkau berucap<br>
“Hidup hanya menunda kekalahan.”<br>
Di persimpangan jalan kita berpisah<br>
Namun dalam percakapan ruang batin terasa menjelma<br>
Sajak-sajakmu tertulis di baliho sepanjang jalan Cikini Raya<br>
Dan ketika aku memasuki halaman Taman Ismail Marzuki<br>
Mulutku tercekat, kulihat bayangan tubuhmu sekelebat lewat<br>
Ah, benarkah? “Taman punya kita berdua.”<br>
2022<br>
Aku Seperti Bukan Aku<br>
Kutemukan puisi dari banyak puisi-puisi 100 Chairil Anwar Masa Kini yang menarik. Kali ini adalah Erndra Achaer perempuan penyair asal Banjarnegara.  Judulnya sangat menarik dan memiliki magnet untuk dibaca. Seseorang dalam perjalanan hidupnya memiliki cerita sendiri-sendiri. Bagaimana membagi cerita diri agar dinikmati orang lain melalui puisi.Pilihan judul  Aku Seperti Bukan Aku memberi kesan bahwa penyair ini sudah sudah pandai memberi nama judul. Bait pembuka dan kedua memberi kisah diri. Yang mengundang pembaca untuk membaca seterusnya. Sayang sekali  Erndra Achaer menepis cerita diri dengan mengalihkan alur puisinya pada bait</p>
<p>//.../Lihatlah<br>
Ada banyak cerita<br>
Tentang bocah-bocah malang<br>
Tercekam ancaman<br>
Tak sedikit impian pupus<br>
Dicekal bius nafsu/..// .</p>
<p>Namun pada bait penutupnya kembali bercerita diri. Sungguh pun demikian puisi ini tetap menawan untuk dibaca.</p>
<p>Percakapan Malam<br>
Chairil adalah fenomena, bicara Chairil Anwar tak ada habisnya. Bagaimana seorang penyair memandang Chairil bagaimana kedekatan dengan tokoh itu dibangun. Dalam Percakapan Malam karya Khalid Alrasyid tentang Chairil Anwar disampaikannya bahwa sosok pujangga Angkatan '45 itu menjadi pesona bagi siapa saja yang membacanya. Disampaikannya bahwa puisi-puisi Chairil begitu abadi sepanjang masa. Pada baris-baris terakhir puisi Khalid Alrasyid melihat kenyataan yang terjadi sekarang ini.</p>
<p>//../lihatlah rintik-rintik yang pasrah berjatuhan<br>
menjadi ketentuan waktu<br>
dari isyarat yang lindap<br>
saat kata-kata kau sembunyikan dalam gela//.</p>
<p>Dada Cahaya Chairil Anwar<br>
Ini puisi Rissa Churria perempuan penyair penuh talenta asal Bekasi tak ketinggalan memuji Chairil. Banyak kata dan kosa kata indah untuk memuji Chairil bahkan memperingatinya dengan banyak acara. Termasuk Rissa Churria juga . Namun ada istimewanya puisi ini yakni dalam bait :</p>
<p>//.../Aku merapal doa<br>
Sembari menyusun sajak untukmu<br>
Meski hanya seuntai fatihah<br>
Sebaris shalawat tak bersyahwat<br>
Yang aku tulis pada dinding langit Tuhanku/...//</p>
<p>Yakni sebuah kiriman doa kepada Sang Chairil yang ada di sana. Rissa mengingatkan kita bahwa ujud terima kasih tak lain bagi orang tlah tiada adalah kiriman doa. Ini menjadi cermin pembaca bahwa kelak kita pun ada yang mendoakan . Amien.</p>
<p>Abad Berlari Penyair Bersyair<br>
Rosyidi Aryadi, penyair kelahiran Banjarmasin yang tingal di Palangkaraya ini masih sempat juga mengirim puisi di Lumbung Puisi. Rosyidi demikian mengutarakan dalam puisinya Abad Berlari Penyair Bersyair. Ia hendak menyampaikan bahwa kita beda zaman dengan zaman Chairil. Tetapi Rosyidi Aryadi mengungkapkan bahwa tak ada salahnya kita mengusung di Hari 100 Tahun Kelahiran Chairil. Baginya penghormatan terhadap pujangga angkatan'45 itu untuk mendapatkan bertkah kita. Sebuah kebijaksanaan yang luar biasa dimiliki Rosidi Aryadi. Dalam bait terakhirnya sebuah amanat bagi kita semua para penyair bahwa kita menengok diri kita kembali, untuk mencari jati diri , demikian bait terakhir itu:</p>
<p>//..../Bangkit dan bergerak menapaki jalan puisi mengurai kepekaan jiwa sambil.menyimak pertobatan nasuha.</p>
<p>Perjalanan penuh liku luka semesta berpagar niat berbagi kata sembari meratapi jati diri.//</p>
<p>Depan Makam Chairil<br>
Masih Tentang Chairil Anwar, kali ini Penyair Cianjur Ence Sumirat menorehkan puisinya berjudul &quot;Depan Makam Chairil&quot; . Ence Sumirat melukiskan bagaimana Chairil menjadi sosok penyair yang dihormati hingga kini yang sudah seabad lamanya. Bahkan batu nisannya tetap dipelihara oleh kita semua sebagai penghormatan kepada pujangga angkatan '45 itu. Disana Chairil yang berbaring di keabadian itu terus menghembuskan aroma perjuangannya dimasa Chairil hidup. Ence Sumirat melukiskan betapa sosok Chairil begitu besar pengaruhnya dalam perkembangan puisi di Indonesia. Pada baris baris puisinya menegaskan bahwa puisi-puisi Chairil Anwar terus hidup. Bahwa perjuangan Chairil lewat puisi menjadi nafas perjuangan kita semua penyair Indonesia.</p>
<p>Puisi pendek Ence Sumirat tampak padat dan apalagi Depan Makam Chairil.</p>
<p>Ence Sumirat<br>
Depan Makam Chairil<br>
Tanah merah masih tetap basah<br>
Saat jutaan doa tumpah ruah<br>
Pancang nisan berdiri kokoh bertahan<br>
Dalam aroma pekat kerinduan<br>
Seabad sudah<br>
Terbaring pejuang kata<br>
Yang takhenti menghunus cinta<br>
Menjaga marwah manusia<br>
Genap bakti usai menderma<br>
Bersama keagungan jiwa<br>
Di keabadian<br>
Tuhan telah janjikan<br>
Rumah puisi hakiki kemerdekaan<br>
Seperti yang sering ia dengungkan<br>
Pada setiap napas perjuangan<br>
Cianjur 26 Juli 2022</p>
<p>Membaca jejak Chairil<br>
Senada dengan yang lain, Erwan Juhara Penyair asal Bandung juga menuliskan puisinya tentang Chairil. Erwan menyoroti jejak pujangngga angkatan '45 itu dalam puisinya sehingga ia mengenalnya. Tentu juga disuguhkan bagi pembaca puisi Erwan Juhara ini. Pada baitnya yang pertama ditatapnya puisi Chairi di masa ini, di masa transisi ini. Dan selanjutnya ia uraikan betapa puisi Chairil Anwar memiliki sarat perjuangan hinga puisi-puisinya itu menjadi prasasti sejarah bangsa ini.</p>
<p>Puisi pendek yang sarat puisian terhadap puisi-puisi Chairil Anwar, demikian Erwan Juhara memotret puisi Chairil menjadi sebuah puisi.</p>
<p>Pada Sebuah Nama<br>
Mari kita lihat puisi Karya Warsono Abi Azzam. Penyair Cilacap  ini juga masih tentang Chairil Anwar. Meski tak disebut nama Chairil, jelas Pada Sebuah Nama itu untuk Chairil Anwar. Hal ini dari cuplikan kata puisi Chairil yang diambil untuk puisi tersebut. Warsono Abi Azzam menyampaikan lewat puisinya bahwa puisi-puisi Chairil memberi motivasi penyair masa kini. Bagunya puisi Chairil memberi peringatan agar kita tak menjadi binatang jalang dan yterbuang. Pada ujung puisi ini Ia pun menyampaikan doa untuk sebuah nama penyair itu: Chairil Anwar.</p>
<p>Warsono Abi Azzam</p>
<p>Pada Sebuah Nama</p>
<p>Pada sebuah nama<br>
yang darinya ku warisi<br>
geletas semangat<br>
untuk hidup seribu tahun lagi<br>
karya literasi<br>
membumi<br>
mengabadi<br>
biar tak sekali berarti sesudah itu mati<br>
Diksi-diksi bernas berisi<br>
bertumbuh semi<br>
deras mengalir<br>
dari generasi ke generasi<br>
biar tak jadi binatang jalang<br>
dari kumpulannya terbuang<br>
Terlantun doa panjang<br>
untuk abadinya sebuah nama<br>
: Chairil<br>
Cilacap, 26 Juli 2022</p>
<p>Warsono Abi Azzam, nama pena dari Warsono, M. Pd adalah guru Matematika  penyuka dan penikmat sastra. Telah menerbitkan 5 buku solo puisi, 2 buku solo pentigraf, dan puluhan buku antologi puisi, cerpen, cernak, pentigraf. Dapat dihubungi melalui WA 081642937101, surel:  <a href="mailto:warsono_clp@yahoo.co.id">warsono_clp@yahoo.co.id</a> instagram: @warsonoclp</p>
<p>Jika Aku Boleh Bicara<br>
Maki kita simak puisi Karya perempuan penyair asal Bekasi , Tarni Kasanprawiro. Jika Aku Boleh Bicara. Membandingkan karya Chairir dan 100 Chairil Anwar Masa Kini. Tentu kata Arifin Brandan beda peradaban. Namun demikian puisi kadang memiliki tujuan yang sama bagi penyairnya. Tarni Kasanprawiro hendak mengungkapkan isi hatinya. Judulnya memberi penerang isi bahwa ada belenggu dalam dirinya. Bait pertamanya menceritakan kesan diri yang begitu panjang. Namun juga menyadari kodratnya sebagai manusia seperti pada bait kedua.</p>
<p>Pada bait terakhirnya optimesme pun dibangun dan tegas, seperti baris bagusnya ini :</p>
<p>;;.../...terselip sudah di lipatan buku-buku purba<br>
yang konon katanya, tanpa mereka<br>
dunia akan kiamat, segera//</p>
<p>Agaknya Tarni Kasanprawiro mengambil keputusan bahwa bukan berarti tak boleh membaca karya sastrawan terdahulu tetapi kita harus berani membuat sesuatu yang baru, yang tak seperti dulu agar bermakna.<br>
<em>(Rg Bagus Warsono, curator sastra di Lumbung Puisi)</em><br>
<img src="https://literanesia.com/content/images/2026/06/chairil-Anwar.jpg" alt="Ulasan Puisi 100 Chairil Anwar Masa Kini"></p>
</div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Tentang Cairil]]></title><description><![CDATA[<div class="kg-card-markdown"><p>Tentang Cairil</p>
<p>Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Julai 1922. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Kedua ibu bapanya bercerai, dan ayahnya berkahwin lagi. Selepas perceraian itu, saat habis SMA, Chairil mengikut ibunya ke Jakarta.<br>
Semasa kecil di Medan, Chairil sangat rapat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan</p></div>]]></description><link>https://literanesia.com/untitled-35/</link><guid isPermaLink="false">6a42de20815b0b0001ea8f84</guid><dc:creator><![CDATA[Literanesia]]></dc:creator><pubDate>Fri, 03 Jul 2026 12:54:43 GMT</pubDate><content:encoded><![CDATA[<div class="kg-card-markdown"><p>Tentang Cairil</p>
<p>Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Julai 1922. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Kedua ibu bapanya bercerai, dan ayahnya berkahwin lagi. Selepas perceraian itu, saat habis SMA, Chairil mengikut ibunya ke Jakarta.<br>
Semasa kecil di Medan, Chairil sangat rapat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan kepada hidup Chairil. Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih:<br>
Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta<br>
Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa membilang nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.<br>
Sejak kecil, semangat Chairil terkenal kedegilannya. Seorang teman dekatnya Sjamsul Ridwan, pernah membuat suatu tulisan tentang kehidupan Chairil Anwar ketika semasa kecil. Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya ialah pantang dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan, maupun dalam mendapatkan keinginan hatinya. Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam.<br>
Rakannya, Jassin pun punya kenangan tentang ini. “Kami pernah bermain bulu tangkis bersama, dan dia kalah. Tapi dia tak mengakui kekalahannya, dan mengajak bertanding terus. Akhirnya saya kalah. Semua itu kerana kami bertanding di depan para gadis.”<br>
Wanita adalah dunia Chairil sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Namun, kepada gadis Karawang, Hapsah, Chairil telah menikahinya.<br>
Pernikahan itu tak berumur panjang. Disebabkan kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah meminta cerai. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi duda.<br>
Tak lama setelah itu, pukul 15.15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia.</p>
</div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Tentang Cairil]]></title><description><![CDATA[Tentang Cairil]]></description><link>https://literanesia.com/tentang-cairil/</link><guid isPermaLink="false">6a42de4d815b0b0001ea8f86</guid><category><![CDATA[100 Chairi Anwae]]></category><dc:creator><![CDATA[Literanesia]]></dc:creator><pubDate>Fri, 03 Jul 2026 12:54:27 GMT</pubDate><media:content url="https://literanesia.com/content/images/2026/06/chairil-Anwar-2.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<div class="kg-card-markdown"><img src="https://literanesia.com/content/images/2026/06/chairil-Anwar-2.jpg" alt="Tentang Cairil"><p>Tentang Cairil</p>
<p>Tentang Cairil</p>
<p>Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Julai 1922. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Kedua ibu bapanya bercerai, dan ayahnya berkahwin lagi. Selepas perceraian itu, saat habis SMA, Chairil mengikut ibunya ke Jakarta.<br>
Semasa kecil di Medan, Chairil sangat rapat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan kepada hidup Chairil. Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih:<br>
Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta<br>
Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa membilang nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.<br>
Sejak kecil, semangat Chairil terkenal kedegilannya. Seorang teman dekatnya Sjamsul Ridwan, pernah membuat suatu tulisan tentang kehidupan Chairil Anwar ketika semasa kecil. Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya ialah pantang dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan, maupun dalam mendapatkan keinginan hatinya. Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam.<br>
Rakannya, Jassin pun punya kenangan tentang ini. “Kami pernah bermain bulu tangkis bersama, dan dia kalah. Tapi dia tak mengakui kekalahannya, dan mengajak bertanding terus. Akhirnya saya kalah. Semua itu kerana kami bertanding di depan para gadis.”<br>
Wanita adalah dunia Chairil sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Namun, kepada gadis Karawang, Hapsah, Chairil telah menikahinya.<br>
Pernikahan itu tak berumur panjang. Disebabkan kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah meminta cerai. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi duda.<br>
Tak lama setelah itu, pukul 15.15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia.</p>
</div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Monolog : Gugurnya Patih Celeng]]></title><description><![CDATA[Monolog : Gugurnya Patih Celeng]]></description><link>https://literanesia.com/monolog/</link><guid isPermaLink="false">6a47b052815b0b0001ea8f9c</guid><category><![CDATA[monolog]]></category><dc:creator><![CDATA[Literanesia]]></dc:creator><pubDate>Fri, 03 Jul 2026 12:53:47 GMT</pubDate><media:content url="https://literanesia.com/content/images/2026/07/patih-celeng-1.jpeg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<div class="kg-card-markdown"><img src="https://literanesia.com/content/images/2026/07/patih-celeng-1.jpeg" alt="Monolog : Gugurnya Patih Celeng"><p>Rg Bagus Warsono**<br>
**<br>
Monolog:<br>
<img src="https://literanesia.com/content/images/2026/07/patih-celeng.jpeg" alt="Monolog : Gugurnya Patih Celeng"><br>
<strong>Gugurnya Patih Celeng</strong></p>
<p>Tersebutlah kerajaan Manikmantaka,<br>
Kerajaann bangsa rotadenawa bangsa butho.<br>
Raja Manikmantaka bernama Prabu Niwatakawaca ingin mempersunting Dewi Supraba.<br>
Dewi Supraba tak kuasa menolak asal mendapat ijin ayahnya, Begawan Ciptaning, yang tengah bertapa di gua Mintaraga dalam hutan Kaliangsa yang maha buas di pegunungan Indrakila.<br>
Sang Prabu Niwatakawaca sudah kasmaran ingin segera Dewi Supraba bersanding di kerajaan.<br>
Diutuslah Mamangmurka, patih terbaik Niwatakawaca<br>
Patih sakti putra Patih Sakipu keturunan Giliwangsa<br>
yang sakti mandraguna.<br>
Mamangmurka diutus bertugas meminta restu Begawan Ciptaning, pertapa di gua Mintaraga.<br>
Begawan sakti tahu dipertapaannya akan ada tamu mengganggu.<br>
Begawan Ciptaning tak mau menemui Mamangmurka.<br>
Hutan Kaliangsa menjadi gelap gulita pegunungan Indrakila membentang tak berujung.<br>
Gua Mintaraga tak akan ditemukannya.<br>
Melihat Indrakila pegunungan gelap gulita, apalagi gua Mintaraga. Tugasnya terhalang pertanda tujuannya ditolak.<br>
Mamangmurka mengamuk dihutan gelap,<br>
pohon dan batu diobrak abrik.<br>
hutan rusak, hewan berpencaran mencari selamat.<br>
Begawan Ciptaning yang tengah bertapa menjadi marah<br>
dikutuknya Mamangmurka menjadi butho celeng.<br>
Melihat tubuhnya berganti celeng,<br>
Mamang murka semakin mengamuk merusak hutan<br>
Akhirnya Begawan Ciptaning menghentikan amuk Mamangmurka dengan panah kalitawarna<br>
Menancab di tubuh Mamangmurka.<br>
Mamangmurka patih Celeng yang setia.<br>
<em>(Rg Bagus Warsono,2022)</em></p>
</div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Buku 394 (Seri IV Jilid 94)]]></title><description><![CDATA[Buku 394 (Seri IV Jilid 94)]]></description><link>https://literanesia.com/buku-394-seri-iv-jilid-94/</link><guid isPermaLink="false">6a45642d815b0b0001ea8f97</guid><category><![CDATA[ABDM]]></category><dc:creator><![CDATA[Literanesia]]></dc:creator><pubDate>Wed, 01 Jul 2026 19:04:36 GMT</pubDate><media:content url="https://literanesia.com/content/images/2026/07/ADBM-2.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<div class="kg-card-markdown"><img src="https://literanesia.com/content/images/2026/07/ADBM-2.jpg" alt="Buku 394 (Seri IV Jilid 94)"><p>“Jangan. Lalu dari mana kami mendapatkan dana bagi kepentingan kademangan dan padukuhan kami?”</p>
<p>“Itu adalah urusan kalian. Jika kalian tidak ingin terjadi, maka kalian harus menepati kewajiban kalian tentang pajak yang harus kalian bayar.”</p>
<p>“Ki Lurah,” berkata Ki Demang, “kami tidak dapat memutuskan sekarang. Kami akan berbicara dahulu dengan para bebahu kademangan dan padukuhan ini.”</p>
<p>“Apa yang akan kalian bicarakan? Cara untuk mendapatkan uang yang akan kalian pergunakan membayar pajak, atau cara untuk apa?”</p>
<p>“Masalah pajak itu sendiri.”</p>
<p>“Apa yang harus dibicarakan tentang pajak itu? Kalian harus membayarnya! Tidak ada jawaban lain. Itu pun harus kalian lakukan segera. Hari ini atau besok. Kami tidak mempunyai banyak kesempatan untuk mengurusi pajak kalian. Pekerjaan kami terlalu banyak. Apakah kalian kira tugas kami hanya mengurusi kalian?”</p>
<p>“Bukan begitu, Ki Lurah. Tetapi kami memerlukan waktu.”</p>
<p>“Ki Demang dan Ki Bekel, aku tidak mau tahu persoalan di antara kalian. Besok aku akan datang lagi. Jika besok kalian belum membayar pajak itu, maka orang-orangku ini akan menangkap kalian dan membawa kalian menghadap Ki Panji di Ngadireja.”</p>
<p>“Ki Lurah. Kami juga tidak tahu berapa banyak biaya yang dikeluarkan sebenarnya oleh Pangeran Jayaraga. Pangeran Jayaraga memang meninggalkan sejumlah uang. Tetapi selain yang kami keluarkan untuk membeli bahan-bahan bangunan, batu, batu bata, kayu dan yang lain-lain, orang-orang yang dikirim oleh Pangeran Jayaraga itu juga mengeluarkan uang bagi keperluan itu.”</p>
<p>“Besok aku akan menaksir berapa biaya pintu gerbang itu. Dengan demikian maka kami akan menentukan besar biaya yang harus kalian bayar.”</p>
<p>Ki Demang dan Ki Bekel nampak menjadi bingung. Beberapa orang yang mengerumuninya pun tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Yang memberikan perintah itu seorang lurah prajurit dan datang bersama beberapa orang prajuritnya.</p>
<p>Tetapi menurut pendapat orang-orang yang berkerumun itu, perintah lurah prajurit itu benar-benar tidak masuk akal. Namun lurah prajurit itu membawa wewenang dan kuasa dari Ki Panji di Ngadireja.</p>
<p>Tetapi tiba-tiba orang-orang yang berkerumun itu terkejut, ketika tiba-tiba saja dua orang, laki-laki dan perempuan, telah menyibak orang-orang yang berkerumun itu. Demikian ia berdiri di depan Ki Lurah, laki-laki itu pun berkata, “Aku setuju Ki Bekel dan Ki Demang menghadap Ki Panji di Ngadireja. Aku bersedia menyertai mereka.”</p>
<p>“Kau siapa, he?”</p>
<p>“Aku penghuni padukuhan ini. Rumahku di belakang pasar ini. Bahkan tanpa Ki Bekel dan Ki Demang, kami berdua akan pergi ke Ngadireja untuk menghadap Ki Panji. Persoalan tentang pajak atas bangunan yang dibuat oleh Pangeran Jayaraga ini memang memerlukan penjelasan.”</p>
<p>Wajah Ki Lurah menjadi tegang. Dengan nada tinggi ia pun berkata, “Kau kira kau ini siapa, he? Apa hakmu menghadap Ki Panji di Ngadireja?”</p>
<p>“Setiap orang dapat menghadap Ki Panji. Kami adalah rakyatnya. Karena itu kami berhak menyampaikan gejolak perasaan kami kepada Ki Panji, karena Ki Panji adalah pemimpin kami. Orang tua kami, yang wajib mengasuh, melindungi dan merawat kami.”</p>
<p>“Bicaramu seperti orang gila. Untuk menghadap Ki Panji ada tatanannya. Ada aturannya. Tidak setiap orang begitu saja dapat menghadap.”</p>
<p>“Ki Lurah. Kami ingin memberikan penjelasan tentang pintu gerbang pasar ini sejelas-jelasnya, agar Ki Panji mengerti bahwa tidak seharusnya Ki Panji minta Ki Bekel dan Ki Demang membayar pajak.”</p>
<p>“Cukup!” bentak Ki Lurah, “Aku dapat membungkam mulutmu.”</p>
<p>“Mungkin. Tetapi mulut tetanggaku, mulut para bebahu padukuhan ini dan bebahu kademangan? Mulut orang-orang pasar ini? Apakah Ki Lurah akan membungkam semuanya? Kalau membungkam itu Ki Lurah artikan membungkam untuk selama-lamanya, apakah Ki Lurah akan melakukan terhadap kami semuanya?”</p>
<p>Ki Lurah itu menggeretakkan giginya. Sementara Ki Bekel dan Ki Demang serta orang-orang padukuhan itu yang mengerumuninya menjadi bingung. Mereka belum pernah mengenal kedua orang laki-laki dan perempuan itu. Namun kedua orang itu mengaku bahwa mereka tinggal di belakang pasar ini.</p>
<p>Panggraita Ki Bekel dan Ki Demang yang tajam mampu meraba bahwa kedua orang itu tentu bukan orang yang tinggal di belakang pasar, tetapi kedua orang itu tidak dapat membiarkan Ki Lurah itu berbuat semena-mena. Tetapi perbuatan mereka itu akan dapat mengakibatkan malapetaka yang gawat bagi mereka berdua. Sementara itu Ki Bekel dan Ki Demang mengetahui bahwa para pemungut pajak adalah sekelompok orang yang tidak berjantung. Mereka dapat berbuat apa saja untuk memaksa orang-orang yang tinggal di daerah kuasanya untuk membayar pajak. Dibekali dengan sekelompok prajurit, maka pemungut pajak itu benar-benar mampu berbuat sebuas anak iblis yang bangkit dari neraka.</p>
<p>“Sudahlah.” berkata Ki Demang, “biarlah kami selesaikan masalah pajak ini. Sebaiknya kalian berdua tidak usah mencoba untuk menghadap Ki Panji di Ngadireja.”</p>
<p>“Harus ada yang menyampaikannya, Ki Demang,” sahut Glagah Putih. “Jika tidak ada yang berani menyampaikan kepada Ki Panji, maka persoalan seperti ini akan berlarut-larut. Bukankah tidak wajar sama sekali bahwa Ki Bekel dan Ki Demang harus membayar pajak atas pembuatan pintu gerbang pasar yang tidak pernah Ki Bekel dan Ki Demang buat? Kalau Ki Panji ingin memungut dengan paksa pajak atas pembuatan pintu gerbang pasar ini, seharusnya Ki Panji memaksa Pangeran Jayaraga, penguasa di Panaraga, untuk membayarnya.”</p>
<p>Kemarahan Ki Lurah hampir tidak terkendali. Tetapi seorang prajuritnya pun kemudian berkata, “Ki Lurah, baiklah kita mengalah. Marilah kedua orang ini kita bawa menghadap Ki Panji di Ngadireja. Biarlah mereka mengatakan apa yang ingin mereka katakan kepada Ki Panji. Tetapi mereka harus menanggung segala akibat dari perbuatan mereka itu. Jika Ki Panji marah dan kemudian berbuat di luar dugaan, sama sekali bukan tanggung jawab kita.”</p>
<p>Ki Lurah itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun mengangguk-angguk sambil menjawab, “Baiklah. Tetapi akibat yang dapat timbul karena kemarahan Ki Panji biarlah mereka tanggung sendiri.”</p>
<p>“Tidak, Ki Lurah.” sahut Ki Demang dengan serta-merta, “mereka tidak akan pergi menghadap Ki Panji. Biarlah aku dan Ki Bekel menyelesaikan pembayaran pajak ini dengan baik.”</p>
<p>“Nah, terserah kepada kalian, jalan yang manakah yang akan kalian tempuh.”</p>
<p>Namun Glagah Putih nampaknya tetap pada pendiriannya. Katanya, “Sudahlah, Ki Bekel dan Ki Demang. Biarlah kami berdua menghadap. Kami tahu bahwa Ki Bekel dan Ki Demang ingin menghindarkan kami dari kemungkinan buruk yang dapat terjadi. Tetapi akibat apa pun yang dapat timbul, biarlah kami tanggung, tanpa menyentuh Ki Bekel dan Ki Demang.”</p>
<p>Ki Bekel dan Ki Demang benar-benar menjadi heran. Tetapi mereka tidak dapat mencegah lagi ketika Glagah Putih dan Rara Wulan pun kemudian ikut bersama Ki Lurah pergi ke Ngadireja. Ki Lurah berjalan di paling depan. Kemudian Glagah Putih dan Rara Wulan. Sementara itu sekelompok prajurit berjalan di belakang mereka.</p>
<p>Demikian mereka pergi, maka Ki Bekel dan Ki Demang pun menjadi gelisah. Dengan nada berat Ki Demang pun bertanya, “Apakah mereka itu orang-orangmu, Ki Bekel?”</p>
<p>“Bukan, Ki Demang. Aku tidak mengenal mereka. Namun agaknya mereka tidak dapat menerima kesewenang-wenangan ini. Sehingga mereka telah melakukan satu perbuatan yang aneh.”</p>
<p>“Kau percaya bahwa Ki Lurah akan membawa mereka kepada Ki Panji di Ngadireja?”</p>
<p>“Tidak. Aku justru takut bahwa laki-laki dan perempuan itu akan mengalami bencana di jalan sebelum mereka sampai di Ngadireja.”</p>
<p>Ki Bekel dan Ki Demang pun menjadi tegang. Sementara itu beberapa orang yang berkerumun itu tidak dapat memberikan pendapat mereka.</p>
<p>Namun akhirnya Ki Demang pun berkata, “Kita ikuti mereka.”</p>
<p>“Lalu apa yang dapat kita lakukan? Jika Ki Lurah dan para prajuritnya memperlakukan kedua orang laki-laki dan perempuan itu dengan buruk, bukankah kita tidak dapat berbuat apa-apa?”</p>
<p>“Kita akan menyatakan kesediaan kita untuk membayar. Tetapi jika keduanya benar-benar dibawa menghadap ke Ngadireja, kita tidak akan mengganggu mereka. Kita justru akan menunggu hasil pembicaraan mereka dengan Ki Panji.”</p>
<p>“Kalau Ki Panji yang memperlakukan mereka dengan buruk?”</p>
<p>“Kita harus mengambil alih persoalannya. Kita tidak dapat membiarkan kedua orang itu mengorbankan diri mereka bagi kita.”</p>
<p>Ki Bekel mengangguk-angguk. Akhirnya keduanya pun menyusul Glagah Putih dan Rara Wulan. Kepada beberapa orang yang mengerumuninya, Ki Demang pun berkata, “Jika kami tidak pulang, kalian tahu kemana kami pergi dan kenapa kami telah hilang.”</p>
<p>Tidak ada orang yang dapat mencegah mereka. Karena itu maka orang-orang yang berkerumun itu hanya dapat memandang dengan jantung yang berdebaran, Ki Bekel dan Ki Demang yang berjalan dengan cepat menyusul Ki Lurah, yang katanya akan membawa kedua orang laki-laki dan perempuan itu menghadap Ki Panji di Ngadireja, untuk membicarakan pajak yang harus dibayar oleh Ki Bekel dan Ki Demang karena pemugaran pintu gerbang pasar itu.</p>
<p>Dalam pada itu, Ki Lurah pun berjalan dengan cepat melintasi bulak dan padukuhan. Namun ketika mereka berada di sebuah bulak panjang, maka Ki Lurah itu pun telah berbelok di sebuah simpang tiga dan menuruni tebing yang landai. Ternyata mereka pun sampai di tepian sungai yang menikung. Di tikungan terdapat sebuah kedung yang nampaknya cukup dalam, dengan airnya yang berputar.</p>
<p>“Apakah ini jalan ke Ngadireja?” bertanya Glagah Putih.</p>
<p>Ki Lurah pun kemudian berdiri sambil bertolak pinggang. Sambil tersenyum ia pun menjawab, “Kita sekarang berada di Kedung Tangkis. Kedung ini memang bukan kedung yang besar, tetapi kedung ini adalah kedung yang keramat. Beberapa pohon raksasa yang tumbuh di pinggir kedung ini dihuni oleh dua jenis mahluk. Sepasang jin di batang dan dahannya. Sedangkan di bawah akar-akarnya itu merupakan sarang beberapa ekor buaya yang buas.”</p>
<p>“Untuk apa kita singgah kemari?” bertanya Glagah Putih.</p>
<p>“Segala penyesalan sudah terlambat. Aku tahu bahwa kau tidak tinggal di belakang pasar itu. Dugaan kami itu kalian perkuat dengan sikap kalian, bahwa kalian tidak mengenal Kedung Tangkis yang terkenal ini. Kau tentu orang asing yang berlagak sebagai pahlawan.”</p>
<p>Glagah Putih pun menjawab, “Aku memang tidak tinggal di belakang pasar itu. Tetapi aku sama sekali tidak ingin menjadi pahlawan. Aku hanya merasakan ketidakadilan. Karena itu maka aku berniat menjelaskan persoalannya kepada Ki Panji di Ngadireja.”</p>
<p>“Tidak ada gunanya, karena kau tidak akan pernah sampai di Ngadireja.”</p>
<p>“Kenapa?”</p>
<p>“Kau akan mandi di kedung itu. Jika kemudian kau akan disambar buaya, itu adalah nasibmu yang buruk. Tetapi tentu saja bahwa perempuan ini tidak akan melakukannya. Mungkin ia akan merasa malu untuk mandi di kedung ini.”</p>
<p>Namun bahwa Rara Wulan menyahut, sangat mengejutkan mereka. “Aku tidak malu. Jika Kakang akan mandi, aku juga akan ikut mandi di kedung itu.”</p>
<p>Wajah Ki Lurah menjadi tegang. Katanya, “Di kedung itu ada buayanya.”</p>
<p>“Kalau benar begitu, Kakang tentu tidak akan mandi di kedung itu pula.”</p>
<p>“Cukup! Kami tidak mempunyai waktu banyak.” Ki Lurah itu pun kemudian berpaling kepada prajurit-prajuritnya. “Lemparkan laki-laki itu ke dalam kedung. Tetapi bawa perempuan itu ke Ngadireja. Aku memerlukannya.”</p>
<p>(dalam cetakan buku asli terdapat bagian yang hilang di sini)</p>
<p>Para prajuritnya berdiri termangu-mangu. Namun sementara itu Ki Demang pun berkata, “Jangan, Ki Lurah. Jangan sakiti orang itu. Jangan pula dilemparkan ke dalam kedung. Kami akan membayar pajak yang harus kami bayar. Seberapa pun banyaknya, tentu tidak akan semahal harga nyawa orang.”</p>
<p>“Kalian ternyata adalah orang-orang gila pula. Bahwa kalian datang kemari, merupakan bencana yang sangat pahit bagi kalian. Aku tidak ingin ada saksi yang menyaksikan bahwa para prajurit telah melemparkan laki-laki gila itu ke dalam kedung. Karena itu jangan menyesal, bahwa setelah itu aku akan menghapus semua kesaksian. Termasuk kesaksian kalian berdua.”</p>
<p>“Tidak akan ada kesaksian mengenai pembunuhan itu. Karena Ki Lurah tidak akan melemparkan laki-laki itu ke dalam kedung.”</p>
<p>“Ia adalah orang yang sangat berbahaya bagiku. Orang itu telah berbicara tentang ketidakadilan karena aku menentukan pajak yang dianggapnya tidak masuk akal.”</p>
<p>“Bukankah Ki Panji di Ngadireja yang akan memutuskan?”</p>
<p>“Ia tidak akan pernah bertemu dengan Ki Panji Ngadireja.”</p>
<p>“Maksud Ki Lurah?”</p>
<p>“Jangan terlalu banyak bertanya!”</p>
<p>“Apakah yang menentukan pajak itu bukan Ki Panji di Ngadireja? Tetapi Ki Lurah sendiri?”</p>
<p>Mata Ki Lurah itu menjadi merah. Namun kemudian ia pun tertawa sambil berkata, “Ya. Akulah yang menentukan besar kecilnya pajak. Aku yang menentukan siapakah yang terkena pajak. Ki Panji tidak tahu apa-apa tentang pajak. Berapa pun aku serahkan uang pajak kepadanya, maka Ki Panji di Ngadireja hanya mengangguk-angguk saja.”</p>
<p>“Dan ternyata uang pajak yang kau pungut tidak seluruhnya kau serahkan,” sahut Glagah Putih. “Uang pajak yang kau serahkan kepada Ki Panji di Ngadireja jauh lebih kecil dari uang pajak yang kau terima, sehingga sebagian terbesar dari pajak yang kau peras itu masuk ke dalam kantongmu sendiri.”</p>
<p>“Ya, Bukankah itu sangat menyenangkan? Karena itu aku menjadi kaya. Prajurit-prajurit yang setia kepadaku pun menjadi kaya pula. Mereka mendapat bagian yang cukup dari pajak yang aku peras dari rakyat dengan meminjam kuasa Ki Panji di Ngadireja.”</p>
<p>“Kau adalah iblis yang paling laknat,” geram Glagah Putih. “Sudah sampai saatnya tingkah lakumu itu dihentikan. Marilah kita menghadap Ki Panji di Ngadireja. Aku akan melaporkan kepada Ki Panji, apa yang telah kau lakukan itu.”</p>
<p>Ki Lurah tertawa. Katanya, “Kau kira Ki Panji akan marah kepadaku? Ki Panji tentu hanya akan memperingatkan aku dengan kata-kata lunak, karena Ki Panji memang tidak pernah marah. Ki Panji adalah seorang pemimpin yang lemah, yang tidak dapat berbuat apa-apa tanpa dukungan kami para prajurit. Karena itu maka Ki Panji tidak akan dapat berbuat apa-apa, apapun yang kami lakukan. Karena itu, tidak ada gunanya seandainya kalian dapat menangkapku dan membawaku untuk menghadap Ki Panji.”</p>
<p>“Apapun yang akan dilakukan oleh Ki Panji, aku ingin membawamu menghadap.”</p>
<p>Ki Lurah itu tertawa berkepanjangan. Kepada para prajuritnya ia pun berkata, “Lemparkan ketiga orang gila itu ke dalam kedung. Laki-laki itu, Ki Bekel dan Ki Demang. Seperti kataku tadi, bawa perempuan ini pulang. Aku memerlukannya.”</p>
<p>Ki Bekel dan Ki Demang adalah orang yang diunggulkan di kademangan mereka. Karena itu maka mereka pun tidak begitu saja menyerahkan diri untuk dilemparkan menjadi makanan buaya di kedung yang dalam itu. Seandainya mereka harus dicabik-cabik oleh buaya-buaya yang bersembunyi di bawah akar-akar pohon raksasa yang tumbuh di pinggir kedung itu, biarlah buaya itu mencabik-cabik mayatnya saja.</p>
<p>“Ki Bekel,” berkata Ki Demang, “ternyata kita benar-benar tidak akan pulang.”</p>
<p>“Rakyat kita tahu apa yang terjadi atas diri kita, meskipun mereka tidak menyaksikan sendiri.”</p>
<p>“Jangan merajuk.” berkata Ki Lurah lantang, “kalian sudah terlanjur masuk ke sarang srigala lapar. Tidak ada jalan kembali. Kematianlah yang akan mencengkam kalian sesaat lagi.”</p>
<p>Ki Bekel dan Ki Demung itu pun segera meloncat ke tepian. Mereka pun segera bersiap menghadapi segala kemungkinan.</p>
<p>Glagah Putih menarik nafas panjang. Ia senang melihat sikap Ki Bekel dan Ki Demang yang bertanggung jawab atas tugas mereka. Bahkan mereka bersedia mempertaruhkan nyawa mereka untuk berusaha membela rakyatnya.</p>
<p>Tetapi kemampuan seseorang memang terbatas. Demikian pula kemampuan Ki Bekel dan Ki Demang. Mereka berdua merasa bahwa hari-hari terakhir mereka telah tiba. Mereka tidak akan mampu melawan sekian banyak prajurit yang dipimpin oleh Ki Lurah yang bengis itu.</p>
<p>Tetapi Ki Bekel dan Ki Demang tidak memperhitungkan kemampuan Glagah Putih dan perempuan yang berjalan bersamanya itu.</p>
<p>Sejenak kemudian, para prajurit itu pun telah menghambur menyerang Ki Bekel dan Ki Demang. Yang lain menyerang Glagah Putih, serta dua orang di antara mereka berusaha menangkap Rara Wulan.</p>
<p>Tetapi yang terjadi sangat mengejutkan mereka. Dua orang prajurit yang berusaha menangkap Rara Wulan itu telah terlempar beberapa langkah surut. Hampir saja mereka terguling masuk ke dalam air. Sementara itu para prajurit yang berniat menangkap dan melemparkan Glagah Putih ke dalam kedung, telah kehilangan kesempatan mereka. Mereka pun berjatuhan sambil mengaduh kesakitan. Ketika Glagah Putih meloncat sambil memutar tubuhnya dengan kaki terayun mendatar, maka kakinya itu telah menyambar beberapa orang prajurit sekaligus, sehingga mereka pun terpelanting jatuh.</p>
<p>Sementara itu, Rara Wulan telah menyingsingkan kain panjangnya, serta melenting bergabung dengan Ki Bekel dan Ki Demang yang segera mengalami kesulitan.</p>
<p>Sejenak kemudian pertempuran pun menjadi sengit. Glagah Putih dan Rara Wulan berloncatan menyambar-nyambar. Tangan dan kaki mereka bergerak dengan cepat mengenai tubuh para prajurit sehingga mereka pun berjatuhan.</p>
<p>Ki Lurah yang menyaksikan pertempuran yang berat sebelah itu mengumpat sejadi-jadinya. Kemarahannya tidak mampu dibendungnya lagi. Karena itu maka ia pun segera terjun memasuki arena pertempuran.</p>
<p>Yang menghadapinya bukannya Glagah Putih, tetapi justru Rara Wulan.</p>
<p>“Iblis betina!” geram Ki Lurah, “Aku akan mencekikmu dan melemparkanmu ke kedung itu. Aku ingin melinat tubuhmu dikoyak-koyak oleh buaya yang tinggal di dalamnya.”</p>
<p>Tetapi Rara Wulan justru bertanya, “Apakah kau tidak jadi membawa aku ke Ngadireja? Bukankah kau mengatakan bahwa kau memerlukan aku?”</p>
<p>“Persetan kau, perempuan binal!” teriak Ki Lurah.</p>
<p>Rara Wulan tertawa. Sementara itu Ki Lurah yang marah pun segera meloncat menyerangnya.</p>
<p>Tetapi Rara Wulan telah bersiap menghadapinya. Sehingga dengan cepat pula Rara Wulan itu bergeser menghindar.</p>
<p>Bahwa serangannya sama sekali tidak menyentuh lawannya, Ki Lurah pun menjadi semakin marah. Sebagai seorang lurah prajurit ia merasa, bahkan para prajuritnya meyakini, bahwa Ki Lurah adalah seorang yang berilmu tinggi. Karena itu, berhadapan dengan seorang perempuan, Ki Lurah tidak boleh mengecewakan keyakinan para prajuritnya. Ia harus dapat menangkap perempuan itu dan dengan tangannya sendiri melemparkannya ke dalam kedung yang dihuni oleh beberapa ekor buaya itu.</p>
<p>Jika semula Ki Lurah itu memang tertarik melihat perempuan itu, namun kemudian wajah perempuan itu baginya telah berubah menjadi wajah iblis, yang menyeringai dengan taring-taringnya yang tajam serta suara tertawanya yang melengking tinggi.</p>
<p>Ki Lurah pun kemudian telah meningkatkan ilmunya. Serangan-serangannya datang bagaikan banjir bandang. Tetapi bagi Rara Wulan, yang dilakukan oleh Ki Lurah itu adalah sia-sia. Justru beberapa kali serangan Rara Wulanlah yang telah menembus pertahanan Ki Lurah. Betapapun Ki Lurah itu mengerahkan kemampuannya serta tenaga dalamnya, namun tataran kemampuannya masih belum mampu menjangkau tataran kemampuan Rara Wulan.</p>
<p>Karena itulah maka justru berkali-kali Ki Lurah itu tergetar surut. Bahkan ketika kaki Rara Wulan itu menyambar lambung Ki Lurah, maka Ki Lurah itu telah terlempar beberapa langkah. Hampir saja Ki Lurah itu terpelanting masuk ke dalam kedung yang dihuni oleh beberapa ekor buaya yang buas itu.</p>
<p>Dengan tergesa-gesa Ki Lurah itu pun bangkit berdiri. Dengan tergesa-gesa pula Ki Lurah itu pun bergeser menjauhi air kedung yang nampak berputar perlahan-lahan.</p>
<p>Sementara itu, Glagah Putihlah yang kemudian bertempur bersama Ki Bekel dan Ki Demang. Ki Bekel dan Ki Demang sendiri telah mengalami kesulitan menghadapi prajurit-prajurit yang menyerang mereka. Tetapi setiap kali prajurit-prajurit itu telah terlempar jatuh di pasir tepian. Glagah Putihlah yang berloncatan menyambar-nyambar seperti sikatan memburu belalang. Dengan demikian maka para prajurit itu tidak sempat berbuat apa-apa terhadap Ki Bekel dan Ki Demang, yang serba sedikit mampu pula melindungi dirinya.</p>
<p>Dengan demikian maka Ki Lurah dan para prajuritnya itu pun akhirnya sama sekali tidak berdaya. Jangankan melemparkan orang-orang yang dianggapnya menghalanginya itu ke kedung, sedangkan untuk melindungi diri mereka sendiri, mereka sudah tidak mampu lagi. Ki Lurah yang beberapa kali jatuh terbanting itu memang masih berusaha bangun. Untunglah bahwa pasir yang lunak menebar di tepian, sehingga pada saat ia terbanting jatuh, tubuhnya tidak menjadi luka oleh goresan-goresan batu padas. Meskipun demikian, serangan Rara Wulan telah membuat wajahnya menjadi lebam. Sebelah matanya menjadi merah kebiru-biruan. Dadanya menjadi sangat nyeri, seakan-akan tulang-tulang iganya berpatahan. Lambungnya pun terasa mual dan nafasnya menjadi sesak.</p>
<p>Ketika Ki Lurah itu tertatih-tatih berdiri, Rara Wulan sudah siap untuk meloncat sambil menjulurkan kakinya menyamping. Maka Ki Lurah itu pun akan terlempar ke dalam kedung.</p>
<p>Tetapi Rara Wulan tidak melakukannya. Ia justru melangkah perlahan-lahan mendekati Ki Lurah sambil berkata, “Ki Lurah. Tubuh dan pakaian Ki Lurah nampak kotor sekali oleh pasir di tepian. Tubuh Ki Lurah pun nampak terlalu letih. Karena itu maka sebaiknya Ki Lurah mandi. Aku ingin mempersilahkan Ki Lurah mandi di kedung itu. Ki Lurah tidak perlu malu meskipun aku berdiri di sini, karena Ki Lurah dapat mandi dengan tetap mengenakan pakaian Ki Lurah.”</p>
<p>Wajah lurah prajurit itu menjadi pucat. Apapun yang dilakukannya, tidak akan berarti apa-apa. Perempuan itu dapat saja melemparkannya ke dalam kedung itu.</p>
<p>Namun ketika selangkah Rara Wulan maju, maka Ki Lurah itu pun segera berlutut sambil berkata, “Jangan. Jangan lemparkan aku ke dalam kedung itu.”</p>
<p>“Kita akan menghadap Ki Panji di Ngadireja, Ki Lurah. Karena itu, sebaiknya Ki Lurah mandi dahulu. Kemudian satu-satu prajuritmu juga akan terjun ke dalam kedung untuk mandi. Jika kalian nampak bersih dan segar, Ki Panji di Ngadireja tentu akan merasa senang menerima kalian.”</p>
<p>“Jangan. Aku minta ampun.”</p>
<p>Rara Wulan pun kemudian berpaling kepada Glagah Putih yang berdiri di sebelah Ki Bekel dan Ki Demang. Di tepian itu beberapa orang prajurit terbaring pingsan. Satu dua masih tetap sadar akan diri mereka. Tetapi tubuh mereka terasa sangat lemah, sehingga mereka tidak dapat segera bangkit.</p>
<p>“Sebenarnya aku ingin tahu, apakah di Kedung Tangkis ini memang ada buayanya,” berkata Glagah Putih. “Karena itu, aku ingin melemparkan seorang di antara kalian ke dalamnya.”</p>
<p>“Kau dapat memilih, Ki Sanak.” berkata Ki Lurah, “siapakah di antara para prajurit yang pingsan itu.”</p>
<p>Tetapi Glagah Putih menjawab, “Itu tidak menarik. Jika kita lemparkan seorang yang sedang pingsan, maka ia tidak akan meronta jika seekor buaya menyeretnya ke bawah akar pohon-pohon raksasa yang tumbuh di pinggir kedung itu, atau bahkan seandainya ada dua ekor atau lebih yang memperebutkannya. Aku ingin seorang yang tidak pingsan. Seorang yang masih sadar penuh, dan mampu meronta-ronta ketika mulut-mulut buaya itu menyentuhnya. Seorang yang pingsan atau sudah tidak berdaya, sama sekali tidak akan dapat memberikan satu pertunjukan yang menarik.”</p>
<p>“Maksud Ki Sanak?”</p>
<p>“Yang tidak pingsan dan yang masih mempunyai kesadaran utuh, serta mampu berusaha menyelamatkan diri meskipun tidak akan berhasil, adalah Ki Lurah.”</p>
<p>“Jangan! Jangan, Ki Sanak!” Ki Lurah itu pun kemudian membungkuk sampai dahinya menyentuh pasir sambil merengek, “Ampun, Ki Sanak. Aku mohon ampun. Jangan lemparkan aku ke dalam kedung.”</p>
<p>“Baiklah. Jika demikian, bersiaplah. Siapkan prajurit-prajuritmu. Kita akan menghadap Ki Panji di Ngadireja.”</p>
<p>Ketegangan telah mencengkam jantung Ki Lurah. Wajahnya nampak bahwa ia mengalami ketakutan yang sangat. Agaknya tidak seperti yang dikatakannya bahwa Ki Panji adalah seorang yang lembut, yang tidak pernah marah, dan segala sesuatunya hanya menurut saja kepada Ki Lurah, karena ia menyandarkan kuasanya kepada kekuatan para prajurit.</p>
<p>Tetapi agaknya Ki Lurah merasa lebih takut lagi jika ia dilemparkan ke dalam kedung, dan kemudian jatuh ke mulut seekor buaya yang akan menyeretnya ke bawah pepohonan raksasa di antara akar-akarnya yang kusut. Atau bahkan akan menjadi rebutan dua atau tiga ekor buaya, sehingga tubuhnya akan terkoyak-koyak.</p>
<p>Dalam pada itu, Glagah Putih pun kemudian membentaknya, “Cepat! Bersiaplah! Kita akan menghadap Ki Panji di Ngadireja.”</p>
<p>“Baik. Baik, Ki Sanak,” berkata Ki Lurah.</p>
<p>Ki Lurah itu pun kemudian telah memerintahkan prajurit-prajuritnya untuk bersiap-siap. Yang sudah dapat bangkit segera berusaha membangunkan kawan-kawannya yang masih pingsan. Sementara Glagah Putih pun berkata, “Sabar sajalah, Ki Bekel dan Ki Demang. Kita akan membawa mereka ke Ngadireja.”</p>
<p>“Terima kasih atas pertolongan Ki Sanak. Kami tidak menyangka bahwa Ki Sanak ternyata mampu mengatasi Ki Lurah dan sekelompok prajurit-prajuritnya yang garang itu. Bahkan dengan demikian, Ki Sanak berdua telah menyelamatkan nyawa kami pula. Hampir saja kami menjadi makanan buaya-buaya di Kedung Tangkis itu, jika saja Ki Sanak tidak tampil.”</p>
<p>“Tetapi kami pula yang memaksa Ki Sanak datang ke tempat ini. Jika kami tidak berusaha untuk membawa Ki Lurah ke Ngadireja, maka aku kira Ki Bekel dan Ki Demang tidak akan datang ke tempat ini.”</p>
<p>Ki Bekel dan Ki Demang mengangguk-angguk kecil. Sementara Glagah Putih pun berkata selanjutnya, “Ki Bekel dan Ki Demang, marilah. Kita akan pergi ke Ngadireja, bertemu dengan Ki Panji. Apakah Ki Bekel dan Ki Demang pernah bertemu dan berbicara dengan Ki Panji?”</p>
<p>“Belum, Ki Sanak.”</p>
<p>“Jadi Ki Bekel dan Ki Demang masih belum pernah mengenal Ki Panji?”</p>
<p>Ki Demang menggeleng. Katanya, “Kami memang belum pernah mengenal Ki Panji di Ngadireja. Selama ini yang kami kenal adalah Ki Lurah, yang bertindak atas nama Ki Panji.”</p>
<p>Glagah Putih mengangguk-angguk. Sementara itu, Ki Lurah pun tengah mempersiapkan orang-orangnya. Ia mencoba membangunkan mereka yang pingsan dengan memercikkan air ke wajah mereka.</p>
<p>Satu-satu para prajurit itu pun menjadi sadar. Mereka pun kemudian duduk sambil memegangi bagian tubuhnya yang masih terasa kesakitan. Sementara itu, Ki Lurah pun telah memerintahkan mereka bersiap untuk pergi ke Ngadireja, menghadap Ki Panji.</p>
<p>Beberapa saat kemudian, meskipun sambil menyeringai kesakitan, para prajurit itu pun telah bersiap untuk meneruskan perjalanan mereka ke Ngadireja. Mereka yang menolak untuk meneruskan perjalanan, akan dilemparkan ke dalam kedung yang dihuni oleh beberapa ekor buaya itu.</p>
<p>“Marilah. Jangan menunda-nunda lagi. Kami sudah merasa tidak sabar lagi,” berkata Glagah Putih.</p>
<p>Ki Lurah pun kemudian memerintahkan prajuritnya untuk bangkit dan berjalan meninggalkan tepian. Mereka naik ke tebing yang landai. Beberapa orang berjalan tertatih-tatih sambil menyeringai kesakitan. Bahkan ada di antara mereka yang setelah berjalan beberapa langkah, masih harus berpegangan dan dipapah oleh kawan-kawannya yang keadaannya lebih baik.</p>
<p>Dengan demikian maka perjalanan mereka menjadi sangat lamban.</p>
<p>Tetapi Glagah Putih tidak dapat memaksa mereka berjalan lebih cepat. Jika ada di antara mereka yang bergayut kepada kawannya, maka iring-iringan itu pun harus berhenti beberapa saat lamanya.</p>
<p>Ketika mereka naik ke jalan, maka orang-orang yang berpapasan pun memperhatikan mereka sambil bertanya-tanya di dalam hati. Apa yang telah terjadi dengan para prajurit itu, sehingga nampaknya mereka seperti sepasukan yang baru saja dikalahkan di medan perang.</p>
<p>Namun Ngadireja memang sudah tidak terlalu jauh. Karena itu maka beberapa saat kemudian, mereka pun telah sampai di Ngadireja, sebuah kademangan yang terhitung besar.</p>
<p>“Untuk sementara Ki Panji tinggal di banjar.” berkata Ki Lurah.</p>
<p>“Jadi kita akan pergi ke banjar sekarang,” sahut Glagah Putih.</p>
<p>Ki Lurah terdiam. Ia tidak dapat berbuat apa-apa. Satu-satunya harapan baginya adalah sikap Ki Panji yang mudah tersinggung. Meskipun kemudian Ki Panji itu dapat menghukumnya dengan hukuman yang sangat berat, tetapi Ki Panji itu tidak mudah menerima sikap orang di luar kesatuannya yang mencampuri persoalannya. Bahkan mungkin Ki Panji akan menolak mendengarkan laporan orang-orang yang membawanya menghadap bersama Ki Bekel dan Ki Demang. Meskipun setelah mereka pergi, ia akan mengalami perlakukan yang sangat menyakitkan.</p>
<p>Tetapi sikap Ki Panji itu memang tidak dapat ditebak sebelumnya. Jika Ki Panji itu mau mendengarkan laporan kedua orang yang menangkapnya, maka keadaannya akan dapat menjadi sangat gawat.</p>
<p>Demikian mereka memasuki pintu gerbang banjar, maka Ki Lurah itu pun berkata kepada dua orang prajurit yang bertugas di banjar itu. “Silahkan mereka duduk di pringgitan. Aku akan menghadap Ki Panji.”</p>
<p>Kedua orang prajurit itu memperhatikan kawan-kawannya dengan kerut di dahi. Tetapi keduanya tidak berbuat apa-apa, karena Ki Lurah tidak memberikan perintah apa-apa. Sedangkan Ki Lurah sendiri merasa tidak perlu memberikan perintah apa-apa kepada kedua orang prajurit yang bertugas di banjar itu, karena mereka memang tidak akan dapat berbuat apa-apa. Kedua orang yang datang menggiringnya bersama para prajurit itu adalah dua orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi.</p>
<p>“Aku tidak tahu apakah ilmu mereka setingkat dengan ilmu Ki Panji.”</p>
<p>Yang kemudian dilakukan oleh kedua orang prajurit itu kemudian adalah mempersilahkan kedua orang laki-laki dan perempuan serta Ki Bekel dan Ki Demang itu duduk di pringgitan.</p>
<p>Sementara itu, Ki Lurah telah memerintahkan prajurit-prajuritnya yang kesakitan duduk di serambi gandok, sementara Ki Lurah itu pun segera masuk ke ruang dalam untuk menghadap Ki Panji, yang sedang berada di longkangan menunggui orangnya yang sedang memandikan seekor ayam jantan. Ayam aduan kebanggaan Ki Panji, yang selalu menang dalam arena aduan ayam.</p>
<p>“Ki Panji,” desis Ki Lurah yang kemudian duduk di belakangnya.</p>
<p>Ki Panji itu berpaling. Namun ia pun menjadi terkejut ketika ia melihat wajah Ki Lurah yang lebam, serta sebelah matanya yang masih nampak merah kebiru-biruan.</p>
<p>“Kau kenapa?” bertanya Ki Panji.</p>
<p>“Telah terjadi perlawanan terhadap para prajurit.”</p>
<p>“Perlawanan? He? Kau bilang perlawanan?”</p>
<p>“Ya, Ki Panji.”</p>
<p>“Siapa yang berani melawan para prajurit? Apakah kau tangkap orang itu dan kau bawa kemari?”</p>
<p>Ki Lurah termangu-mangu sejenak. Sementara Ki Panji yang disebutnya tidak pernah marah dan yang hanya akan menasehatinya dengan lembut itu membentak. “Apakah kau tuli? Apakah orang itu kau tangkap dan kau bawa kemari?”</p>
<p>“Bukan kami yang membawanya kemari, Ki Panji. Tetapi orang itu sendiri yang datang kemari, ingin bertemu dan berbicara dengan Ki Panji.”</p>
<p>“Apa? Orang itu datang kemari setelah ia melawan prajuritku? Apakah ia orang gila? Apa yang sebenarnya terjadi?” geram Ki Panji. “Kenapa orang itu tidak kau tangkap dan kau bawa kemari, sehingga orang itu sendiri yang berniat menemui aku di sini? Seharusnya apapun keperluannya, jika ia sudah memberikan perlawanan kepada para prajurit, maka ia harus ditangkap.”</p>
<p>“Kami sudah berusaha, Ki Panji. Tetapi kami tidak berhasil menangkapnya.”</p>
<p>“Apa yang kau katakan? Kau dan prajuritmu sudah mencoba menangkapnya tetapi tidak berhasil?”</p>
<p>“Ya, Ki Panji.”</p>
<p>“Berapa orang semuanya yang telah melawan para prajurit itu?”</p>
<p>“Dua orang, laki-laki dan perempuan, serta Ki Bekel dan Ki Demang yang kami datangi untuk dipungut pajaknya.”</p>
<p>“Empat orang? Yang seorang perempuan?”</p>
<p>“Ya, Ki Panji.”</p>
<p>“Anak iblis!” tiba-tiba saja kaki Ki Panji telah menekan bahu Ki Lurah sehingga Ki Lurah itu jatuh terlentang. Sementara Ki Panji itu dengan cepat melangkah ke pendapa.</p>
<p>Demikian Ki Panji itu keluar dari pintu pringgitan, maka ia pun melihat empat orang duduk di pringgitan. Sementara beberapa orang prajuritnya duduk di serambi gandok. Sebagian dari mereka masih nampak kesakitan.</p>
<p>“Jahanam kalian! Jadi kalian telah berani melawan kuasa seorang Panji di Ngadireja?”</p>
<p>“Apakah aku berbicara dengan Ki Panji di Ngadireja?” sahut Glagah Putih.</p>
<p>“Ya. Aku Panji di Ngadireja,” jawabnya masih sambil berdiri.</p>
<p>Glagah Putih pun kemudian bangkit berdiri pula. Ia sama sekali tidak menunduk ketika Ki Panji di Ngadireja itu memandanginya dengan mata menyala.</p>
<p>“Ki Panji,” berkata Glagah Putih kemudian, “aku datang mengantarkan prajurit-prajuritmu yang telah menyalahgunakan wewenangnya.”</p>
<p>“Siapa yang mengatakan bahwa prajurit-prajuritku telah menyalahgunakan wewenangnya?”</p>
<p>“Kami. Maksudku kami berdua, Ki Bekel dan Ki Demang. Ki Lurahmu itu mencoba memeras Ki Bekel dan Ki Demang untuk membayar pajak yang seharusnya tidak perlu dibayar.”</p>
<p>“Kau tidak mempunyai wewenang untuk menilai prajurit-prajuritku. Akulah yang dapat mengatakan, apakah prajurit-prajuritku menyalahgunakan kekuasaan yang ada padanya atau tidak. Bukan kau. Bukan Ki Bekel dan bukan Ki Demang.”</p>
<p>“Kami melihat langsung apa yang akan dilakukan, sedang Ki Bekel dan Ki Demang telah mengalaminya. Kami datang untuk minta agar Ki Panji mengadili para prajurit Ki Panji itu.”</p>
<p>“Itu urusanku. Itu urusan para prajurit. Kalian tidak dapat ikut campur. Apalagi kalian telah berani menentang para prajuritku yang sedang menjalankan tugasnya.”</p>
<p>“Prajurit-prajurit Ki Panji tidak sedang menjalankan tugas, tetapi mereka sedang memeras.”</p>
<p>“Kalian harus melakukan apa yang diperintahkan oleh prajurit-prajuritku itu lebih dahulu. Tidak seorang pun yang boleh mencoba menentangnya. Baru kemudian, jika tindakan para prajuritku itu dirasa kurang adil, barulah kalian datang kepadaku. Melaporkan apa yang kalian anggap tidak adil itu. Tetapi kalian tidak dapat langsung menentang keputusan-keputusan yang telah mereka buat.”</p>
<p>“Tetapi keputusan-keputusan mereka jelas tidak pada tempatnya. Mereka memungut pajak seenaknya sendiri, tanpa mengingat sasaran pajak yang akan mereka ambil.”</p>
<p>“Cukup! Aku tidak mau mendengar sesorahmu. Pergi dari banjar ini. Biarlah aku mengurusi prajurit-prajuritku dengan caraku. Aku tidak mau kalian mengajari kami.”</p>
<p>“Aku tidak mengajari, Ki Panji. Kami datang untuk melaporkan tindakan-tindakan para prajurit yang tidak pada tempatnya. Aku melaporkan bahwa mereka telah menyalahgunakan kekuasaan yang Ki Panji berikan kepadanya.”</p>
<p>“Cukup! Kau dengar? Sekarang pergi! Biar aku mengurusi prajurit-prajuritku sendiri.”</p>
<p>“Tetapi kami adalah saksi. Ki Panji belum bertanya kepadaku, kesalahan apa yang sudah dilakukan oleh para prajurit itu. Ki Panji belum mendengarkan kesaksian kami tentang penyalahgunaan kekuasaan yang telah mereka lakukan.”</p>
<p>“Diam! Diam!” Ki Panji berteriak, “Aku dapat mengusirmu dengan kekerasan. Masih ada beberapa orang prajuritku yang dapat melemparkan kalian keluar regol halaman.”</p>
<p>“Jika itu yang Ki Panji lakukan, aku akan melawan mereka. Aku akan memaksakan kehendakku sampai Ki Panji mau mendengarkan kesaksian kami tentang prajurit-prajurit Ki Panji. Sebagian prajurit yang telah diperbantukan kepada Ki Panji di sini sudah tidak berdaya, termasuk Ki Lurah. Sisanya tidak akan mampu mengusir kami dari banjar ini.”</p>
<p>“Kau memang orang gila. Kau tidak menghitung aku sendiri.”</p>
<p>“Aku justru menghitung Ki Panji. Tetapi aku tetap saja tidak mau pergi.”</p>
<p>Wajah Ki Panji menjadi merah. Ia merasa orang yang datang itu telah merendahkannya. Karena itu maka ia pun menggeram, “Mari kita lihat. Kau atau aku yang harus menundukkan kepalanya.”</p>
<p>“Bagus. Aku tunggu Ki Panji di halaman.”</p>
<p>Glagah Putih tidak menunggu lagi. Ia pun segera turun ke halaman, diikuti oleh Rara Wulan, Ki Bekel dan Ki Demang. Nampaknya persoalannya bukan persoalan yang sederhana.</p>
<p>Demikian Glagah Putih turun ke halaman, maka Ki Panji pun telah meloncat ke halaman itu pula. Beberapa orang prajurit yang masih segar berdiri di depan tangga pendapa. Nampaknya mereka telah siap menjalankan perintah apapun, demikian diberikan oleh Ki Panji.</p>
<p>“Ki Sanak” berkata Ki Panji, “kau akan menyesal bahwa kau telah berani menentang dan menghalangi tugas para prajurit.”</p>
<p>“Bukan aku yang akan menyesal, tetapi Ki Panji. Ki Panji terbiasa menilai para prajurit Ki Panji menurut penglihatan Ki Panji sendiri. Ki Panji terbiasa tidak mau mendengar pendapat orang lain. Dengan demikian maka penilaian Ki Panji atas prajurit Ki Panji tidak didasarkan pada kenyataan yang sebenarnya terjadi. Ki Panji hanya menduga-duga apa yang telah dilakukan oleh para prajurit Ki Panji. Ki Panji mungkin memanggilnya, bertanya kepada mereka. Sedangkan mereka selalu berbohong kepada Ki Panji. Sementara itu Ki Panji sudah menjadi puas mendengarkan kebohongan mereka itu.”</p>
<p>“Anak iblis. Jangan berkata sepatah kata pun lagi. Jika kau menggerakkan mulutmu, maka aku akan mengoyakkan bibirmu.”</p>
<p>“Aku akan berbicara terus, Ki Panji.”</p>
<p>Sebenarnyalah Ki Panji menjadi sangat marah. Tangannya pun segera terayun untuk menampar mulut Glagah Putih. Tetapi Glagah Putih tidak membiarkan mulutnya tersentuh. Karena itu maka Glagah Putih telah menarik kepalanya dan sedikit berpaling.</p>
<p>Gerak yang sederhana itu ternyata telah membebaskan Glagah Putih dari sentuhan tangan Ki Panji di Ngadireja. Namun demikian, Ki Panji di Ngadireja menjadi semakin marah. Ia merasa telah dipermainkan oleh orang yang masih terhitung muda itu. Jauh lebih muda dari umurnya sendiri.</p>
<p>Karena itu, Ki Panji tidak mengekang kemarahannya lagi. Dengan tangkasnya Ki Panji meloncat sambil menjulurkan kakinya menyambar ke arah dada Glagah Putih. Tetapi sekali lagi Glagah Putih mengelak, sehingga kaki Ki Panji tidak dapat mengenai dadanya.</p>
<p>Ki Panji yang menjadi marah sekali itu pun menggeram, “Kau menantangku, orang muda?”</p>
<p>“Tidak.” sahut Glagah Putih, “aku datang untuk menyampaikan laporan serta kesaksian tentang prajuritmu yang telah menyalahgunakan kekuasaan. Jika kau melindunginya, maka itu berarti bahwa kau pun telah terlibat pula ke dalamnya. Bahkan kau pun telah melakukan pemerasan, dengan meminjam tangan prajurit-prajuritmu itu.”</p>
<p>“Anak iblis. Kau jangan asal membuka mulutmu. Sadari bahwa aku dapat menjatuhkan hukuman yang sangat berat kepadamu.”</p>
<p>“Kau akan menghukum orang yang tidak bersalah?”</p>
<p>“Siapa yang tidak bersalah? Kau telah berani melawan prajurit-prajuritku yang sedang menjalankan tugas.”</p>
<p>“Prajurit-prajuritmu tidak sedang menjalankan tugas. Tetapi mereka sedang memeras.”</p>
<p>Ki Panji tidak mau mendengarkan lagi. Ia pun segera menyerang Glagah Putih. Bahkan serangan yang dilambari kemarahan itu pun kemudian datang bagaikan banjir bandang.</p>
<p>Tetapi Glagah Putih telah benar-benar bersiap. Dengan tangkasnya ia pun berloncatan menghindari serangan-serangan Ki Panji. Bahkan Glagah Putih pun kemudian telah berganti menyerangnya pula.</p>
<p>Demikianlah, pertempuran pun kemudian segera berlangsung dengan sengitnya. Keduanya saling menyerang dan menghindar.</p>
<p>Ternyata Ki Panji pun seorang yang berilmu tinggi. Tetapi yang dihadapi waktu itu adalah Glagah Putih. Seorang yang seakan-akan telah menjadi mumpuni sehingga sulit dicari tandingnya.</p>
<p>Dengan demikian, pertempuran pun menjadi semakin lama semakin sengit. Ki Panji pun telah meningkatkan ilmunya pula. Ia tidak mengira bahwa orang yang masih terhitung muda itu telah memiliki ilmu yang mampu mengimbanginya.</p>
<p>Dengan segenap kekuatan, ditopang oleh tenaga dalamnya, Ki Panji berusaha untuk dapat menembus pertahanan Glagah Putih. Tetapi usahanya itu tidak segera dapat berhasil. Pertahanan Glagah Putih benar-benar rapat sekali. Serangan-serangan Ki Panji selalu dapat dihindari, dan bahkan sekali-sekali serangan itu telah sengaja ditangkisnya, sehingga kekuatan mereka pun berbenturan.</p>
<p>Ki Panji pun tidak dapat mengingkari kenyataan yang dihadapinya. Ternyata orang yang masih terlalu muda itu tidak dapat diabaikannya. Bukan saja dengan tangkas ia dapat menghindar, tetapi dengan kekuatan yang besar dengan sengaja telah membentur serangan-serangannya.</p>
<p>Ki Panji yang marah itu pun kemudian telah menumpahkan segenap kemampuannya. Bahkan ia pun sudah tidak memikirkan lagi, apa yang bakal terjadi dengan orang yang masih terhitung muda itu.</p>
<p>Tetapi ternyata bahwa Ki Panji itu tidak mampu menguasainya. Orang yang terhitung masih muda itu justru perlahan-lahan mulai mendesaknya, sehingga Ki Panji itu menjadi semakin sulit menghadapinya. Serangan-serangan Glagah Putih yang semakin cepat telah mulai menerobos pertahanannya. Tangan Glagah Putih yang terjulur lurus rasa-rasanya telah meretakkan tulang-tulang iganya, sehingga ki Panji itu pun terdorong surut.</p>
<p>“Gila orang ini,” geram Ki Panji.</p>
<p>Namun betapapun Ki Panji mengerahkan kemampuannya, namun sulit baginya untuk dapat menerobos pertahanan Glagah Putih yang sangat rapat. Jika sekali-sekali serangannya menembus pertahanan lawannya, terasa bahwa sentuhan itu tidak menyakitinya.</p>
<p>Kemarahan Ki Panji benar-benar tidak dapat dikekangnya lagi. Karena itu maka Ki Panji pun segera telah menarik pedangnya sambil menggeram, “Aku masih memberimu kesempatan, orang muda. Pergilah, dan jangan kembali lagi.”</p>
<p>“Bagaimana dengan Ki bekel dan Ki Demang?” bertanya Glagah Putih.</p>
<p>“Bawa orang itu pergi.”</p>
<p>“Lalu Ki Panji membiarkan pemerasan itu terjadi?”</p>
<p>“Diam! Sudah aku katakan bahwa itu bukan urusanmu. Akulah yang akan mengurusnya.”</p>
<p>“Tidak. Kau tidak melihat kejadiannya. Kamilah yang melihatnya. Karena itu Ki Panji harus mendengarkan kesaksian kami.”</p>
<p>“Persetan!” geram Ki Panji, “Jika kau mati di sini, sama sekali bukan tanggung jawabku. Kau telah berani melawan aku, penguasa di Ngadireja ini. Tidak ada orang yang mengimbangi kekuasaanku di sini. Karena itu, apa yang aku lakukan, tidak ada yang dapat menghalanginya.”</p>
<p>Namun Glagah Putih pun menjawab, “Kalau kuasamu kau landaskan pada kekuatan prajuritmu serta kemampuanmu, maka akulah yang akan mematahkannya. Akulah yang akan menghalangimu.”</p>
<p>Ki Panji tidak menunggu lebih lama lagi. Ia pun segera meloncat sambil menjulurkan pedangnya. Tetapi Glagah Putih dengan cepat menghindarinya.</p>
<p>Ki Panji yang menjadi sangat marah itu tidak lagi mengekang diri. Serangan-serangannya pun kemudian datang dengan garangnya. Pedangnya terayun-ayun mengerikan, kemudian terjulur lurus menggapai ke arah dada atau menebas langsung ke arah lehernya.</p>
<p>Tetapi Glagah Putih dengan kecepatan yang sangat tinggi mampu selalu menghindarinya. Bahkan ketika Ki Panji mengayunkan pedangnya ke arah lehernya, Glagah Putih dengan cepat merendahkan dirinya. Demikian pedang itu terayun di atas kepalanya, dengan cepat Glagah Putih pun melenting. Kakinya terjulur lurus mengenai dada Ki Panji dengan derasnya.</p>
<p>Ki Panji itu terlempar beberapa langkah surut. Bahkan Ki Panji itu pun kemudian jatuh terguling. Namun pedangnya masih saja berada di dalam genggaman tangannya.</p>
<p>Tetapi Glagah Putih tidak membiarkannya. Demikian ia meloncat bangkit, Glagah Putih pun meloncat sambil memutar tubuhnya. Kakinya terayun mendatar langsung mengenai kening Ki Panji, sehingga sekali lagi Ki Panji pun terlempar jatuh. Namun Ki Panji pun segera berguling untuk mengambil jarak. Baru kemudian Ki Panji itu berusaha untuk berdiri.</p>
<p>Tetapi demikian ia bangkit, kaki Glagah Putih telah menyambar pergelangan tangan Ki Panji, sehingga pedangnya telah terlempar jatuh.</p>
<p>Wajah Ki Panji menjadi merah. Tetapi ia tidak segera menyerah. Bahkan Ki Panji pun kemudian berteriak kepada prajurit-prajuritnya, terutama prajuritnya yang masih segar, “Tangkap orang ini, hidup atau mati!”</p>
<p>Para prajurit pun serentak bergerak. Mereka telah mencabut pedang mereka, atau para prajurit yang membawa tombak pendek telah merundukkan tombak mereka. Bahkan Ki Lurah yang wajahnya sudah menjadi lebam serta sebelah matanya menjadi merah biru, maish juga berniat untuk ikut serta menangkap Glagah Putih.</p>
<p>Glagah Putih bergeser surut. Sementara itu Ki Panji sempat memungut pedangnya yang terjatuh.</p>
<p>Namun ketika para prajurit itu mulai bergerak. Glagah Putih telah mengurai ikat pinggangnya sambil berkata, “Aku hanya sekedar membela diri. Jika karena itu ada di antara kalian yang mengalami nasib buruk, itu bukan tanggung jawabku.”</p>
<p>“Persetan dengan igauanmu itu!” geram Ki Panji. Dengan garang sekali lagi Ki Panji pun meneriakkan perintah, “Tangkap orang-orang itu, hidup atau mati!”</p>
<p>Dalam pada itu, melihat lawan yang menjadi banyak. Rara Wulan tidak tinggal diam. Para prajurit yang masih segar, dan bahkan Ki Lurah yang sudah mengalami kesakitan, bersama Ki Panji akan bertempur melawan mereka.</p>
<p>Sementara itu Rara Wulan pun telah mengurai selendangnya pula, sehingga ia pun sudah benar-benar bersiap sebagaimana Glagah Putih.</p>
<p>“Apa yang akan kalian lakukan dengan ikat pinggang dan selendangmu itu?” bertanya Ki Panji.</p>
<p>“Jangan remehkan senjata kami,” jawab Glagah Putih. “Kalian akan menyesal karena kecongkakan kalian. Kalian mengira bahwa kalian akan dapat memaksa kami dengan mengandalkan kekuatan dan kemampuan kalian.”</p>
<p>Sekali lagi Ki Panji itu pun memberikan perintah, “Cepat! Tangkap orang-orang itu, hidup atau mati.”</p>
<p>Dengan demikian, pertempuran pun telah berkobar kembali. Bahkan menjadi lebih sengit. Glagah Putih dan Rara Wulan harus berhadapan dengan Ki Panji, Ki Lurah yang bangkit lagi, serta sekelompok prajurit yang masih segar.</p>
<p>Namun ternyata bahwa kedua orang itu sangat mengejutkan Ki Panji, Ki Lurah dan para prajurit. Dengan senjata yang menurut penilaian mereka sangat sederhana itu, mereka ternyata mampu mengimbangi kemarahan Ki Panji dan para prajuritnya. Pedang dan tombak yang berputaran itu ternyata sama sekali tidak mampu menyentuh tubuh kedua orang itu. Bahkan setiap kali ada saja prajurit yang kehilangan senjatanya, sehingga beberapa orang kawannya harus membantunya untuk memungutnya kembali.</p>
<p>Tetapi mereka lebih terkejut lagi ketika seorang prajurit mulai tersentuh ikat pinggang Glagah Putih di lengannya. Lengannya pun telah terkoyak sebagaimana terkoyak oleh tajamnya pedang. Tetapi ketika ujung ikat pinggang itu mematuk perutnya, rasa-rasanya perutnya telah dihentak oleh landean tombak yang bersalut kuningan.</p>
<p>Apalagi ketika para prajurit itu dikenai oleh ujung selendang Rara Wulan. Selendang itu dapat menghentak dada seperti himpitan segumpal batu padas, namun selendang itu dapat membelit dan mencekik leher mereka sehingga mereka hampir mati karena tidak dapat bernafas.</p>
<p>Dengan demikian Glagah Putih dan Rara Wulan itu pun segera memporak-porandakan para prajurit yang bertempur bersama Ki Panji. Bahkan dari bahu Ki Lurah, darah pun telah mengalir karena sentuhan ikat pinggang Glagah Putih. Dengan demikian bukan saja wajahnya yang menjadi lebam dan sebelah matanya menjadi merah biru, tetapi tubuhnya mulai digores oleh luka-luka. Darah pun telah mengalir pula dari luka-luka itu, menitik membasahi halaman.</p>
<p>Dengan demikian maka para prajurit itu pun semakin lama menjadi semakin menyusut. Beberapa orang telah terbaring kesakitan karena luka-lukanya. Bahkan akhirnya Ki Lurah itu pun tidak dapat lagi bangkit, karena tulang-tulang di punggungnya serasa patah ketika kaki Glagah Putih menyambarnya.</p>
<p>Akhirnya Ki Panji sendiri menjadi semakin terdesak. Bahkan tubuhnya sudah mulai terluka pula.</p>
<p>“Ki Panji,” berkata Glagah Putih, “apakah kau masih akan melawan?”</p>
<p>“Kau akan menyesali perbuatanmu. Kau telah melawan penguasa di Ngadireja.”</p>
<p>“Yang diperlukan oleh rakyat Ngadireja bukan seorang penguasa, tetapi seorang pemimpin. Selama ini kau sama sekali tidak bersikap sebagai seorang pemimpin. Tetapi kau benar-benar hanya seorang penguasa, yang mengandalkan kuasamu pada kekuatan serta tajam ujung senjata prajurit-prajuritmu.”</p>
<p>“Lalu kau kira aku dapat melandaskan kuasaku pada sikap ramah tamah dan belas kasihan?”</p>
<p>“Bagus. Jika menurut pendapatmu kuasa itu dapat hanya dilandasi pada kekuatan dan ketajaman senjata, marilah kita lanjutkan pertarungan ini. Jika aku berhasil mengalahkan kalian, maka akulah penguasa di sini. Aku akan memerintah dengan landasan kekuatan dan ketajaman senjataku. Kau mau apa? Jika kau mau melawan, katakan bahwa kau akan melawan sampai titik darahmu yang penghabisan. Dengan demikian maka tuntaslah usahaku merebut kuasa dari tanganmu. Aku pun kemudian akan berkuasa sampai ada orang lain dapat mengalahkan aku dan pengikut-pengikutku yang akan aku bangun kemudian.”</p>
<p>“Itu pikiran gila. Kau akan dilumatkan oleh kekuasaan yang kebih tinggi. Kekuasaan di Panaraga.”</p>
<p>“Kau akui kekuasaan di Panaraga?”</p>
<p>“Tentu.”</p>
<p>“Kekuasaan di Panaraga itukah yang memberimu wewenang untuk mempergunakan kekuatan dan tajamnya senjata selama kau berkuasa di Ngadireja, sampai datangnya kekuatan baru yang dapat mengalahkanmu?”</p>
<p>Ki Panji menjadi bingung. Karena itu ia tidak segera dapat menjawab.</p>
<p>“Ki Panji” berkata Glagah Putih kemudian, “ketahuilah, aku adalah seorang prajurit Mataram yang sedang mengemban tugas. Demikian pula perempuan itu. Ia adalah istriku. Kami berdua telah mendapat perintah untuk pergi ke Panaraga. Kami adalah penghubung antara pemerintah Mataram dan pemerintahan yang ada di Panaraga.”</p>
<p>Wajah Ki Panji menjadi tegang. Detak jantungnya serasa bergetar lebih cepat. Dengan gagap ia pun berkata, “Jadi… jadi Ki sanak ini seorang petugas dari Mataram?”</p>
<p>“Ya. Kami akan pergi ke Panaraga. Adalah kebetulan bahwa aku melihat prajurit-prajuritmu sedang memeras Ki Bekel dan Ki Demang. Mereka minta Ki Bekel dan Ki Demang membayar pajak karena pintu gerbang pasar di padukuhan mereka telah dipugar, sehingga menjadi pintu gerbang yang terhitung sangat baik bagi lingkungan ini.”</p>
<p>“Tetapi itu bukan karena perintahku.”</p>
<p>“Kau tidak tahu apa-apa. Kau hanya dapat membentak-bentak dan meneriakkan perintah-perintah. Tetapi kau tidak mau tahu bahwa orang-orangmu telah melakukan perbuatan yang sangat tidak terpuji. Sementara itu kau hanya tahu menghitung berapa banyak prajurit-prajuritmu itu memberikan upeti kepadamu.”</p>
<p>“Tidak. Bukan maksudku.”</p>
<p>“Sementara itu Ki Bekel dan Ki Demang sudah mengatakan, bahwa yang memugar pintu gerbang pasar itu adalah justru Pangeran Jayaraga, yang sekarang diserahi pemerintahan di Panaraga.”</p>
<p>“Tetapi… tetapi itu bukan salahku.”</p>
<p>“Aku akan menghadap Pangeran Jayaraga di Panaraga. Aku akan mengatakan bahwa Ki Panji di Ngadireja telah memaksa Ki Bekel dan Ki Demang untuk membayar pajak, justru karena Pangeran Jayaraga memugar pintu gerbang pasar sebagai satu tanda dan kenangan, bahwa Pangeran Jayaraga pernah berhenti dan makan bersama keluarganya yang sedang dalam perjalanan, di pasar itu.”</p>
<p>“Tidak, jangan. Jangan katakan itu kepada Pangeran Jayaraga di Panaraga.”</p>
<p>“Kenapa tidak? Biarlah kau diadilinya dan kemudian mendapat hukuman yang setimpal.”</p>
<p>“Jangan adili aku. Aku tidak memerintahkannya. Biarlah nanti aku bunuh Lurah yang telah melakukan pemerasan itu.”</p>
<p>“Jika kau bunuh Ki Lurah, maka hukumanmu akan berlipat. Kau berusaha melenyapkan saksi yang dapat memberikan kesaksian atas kesalahan yang telah kau lakukan.”</p>
<p>“Baik, baik. Aku tidak akan membunuh. Tetapi tolong, jangan adili aku. Selama ini aku menjalankan tugasku dengan jujur.”</p>
<p>“Jangan berbohong. Para prajuritmu dapat berbicara tentang dirimu.”</p>
<p>Wajah Ki Panji menjadi tegang. Seperti seorang pencuri yang tertangkap basah, ia tidak akan dapat mengelak lagi. Karena itu ia hanya dapat memohon pengampunan atas kesalahan yang pernah dilakukannya.</p>
<p>“Baiklah, Ki Sanak.” berkata Ki Panji, “aku akan mengakui segala kesalahan kepadamu. Tetapi aku mohon jangan sampaikan kepada Pangeran Jayaraga di Panaraga.”</p>
<p>“Tetapi kau harus benar-benar jujur, Ki Panji. Ki Bekel, Ki Demang dan para prajuritmu menjadi saksi. Jika para prajuritmu itu masih akan tetap melindungimu, apakah karena mereka merasa takut kepadamu atau karena mereka sudah berhutang budi kepadamu, atau karena kau telah membiarkan mereka melakukan banyak kesalahan dan bahkan pemerasan terhadap rakyatmu sendiri, maka mereka sendirilah yang akan dijerat oleh tatanan. Mereka dapat dihukum berat melampaui hukuman yang dapat kau jatuhkan kepada mereka, apalagi karena Ki Panji sendiri sudah tidak berdaya.”</p>
<p>“Baik, baik, Ki sanak. Aku akan jujur.”</p>
<p>“Kau dan semua prajuritmu dan siapa pun yang bekerja sama dengan Ki Panji, harus mengakui kesalahan itu. Ki Panjilah yang bertanggungjawab.”</p>
<p>“Baik, baik.”</p>
<p>“Mengakui kesalahan mengandung pengertian bahwa kesalahan yang serupa tidak akan dilakukan lagi.”</p>
<p>“Ya, ya, Ki Sanak.”</p>
<p>“Kalau kemudian kesalahan Ki Panji itu tidak akan aku sampaikan kepada Pangeran Jayaraga, bukan berarti bahwa Ki Panji tidak pernah berbuat salah. Ki Panji tidak dapat berlaku seakan-akan tidak pernah bersalah terhadap rakyat Ngadireja dan sekitarnya, karena sebenarnyalah bahwa Ki Panji memang bersalah.”</p>
<p>“Ya, ya, Ki Sanak. Aku memang bersalah.”</p>
<p>“Pengakuan itu harus Ki Panji buktikan.”</p>
<p>“Aku akan membuktikannya. Aku akan berkata dengan terbuka kepada rakyat Ngadireja bahwa aku bersalah. Aku minta maaf dan aku tidak akan mengulanginya lagi.”</p>
<p>“Itu belum cukup.”</p>
<p>“Jadi?”</p>
<p>“Kalau Ki Panji memang mengaku bersalah sampai ke dasar jantung, maka sebaiknya Ki Panji mengembalikan kekayaan yang Ki Panji dapatkan dengan cara yang tidak wajar itu kepada pemiliknya. Kepada rakyat di Ngadireja dan sekitarnya.”</p>
<p>Wajah Ki Panji menjadi merah. Tetapi ia masih juga berkata, “Aku tentu tidak akan ingat lagi, uang siapa saja yang sekarang ada di rumahku.”</p>
<p>“Ki Panji tidak perlu mengembalikannya kepada orang-orang tertentu. Tetapi pergunakan uang itu untuk meningkatkan kesejahteraan hidup rakyat Ki Panji. Itu sudah cukup memadai. Namun masih harus diingat, bahwa Ki Panji pernah melakukan kesalahan yang sangat besar terhadap rakyat Ki Panji sendiri.”</p>
<p>“Ya, ya, Ki Sanak. Aku mengerti. Aku memang harus menebus kesalahan itu. Aku kira memang tidak ada gunanya aku mempertahankan kelimpahan kekayaan itu, justru pada saat aku menyadari betapa dalam kesalahan yang pernah aku lakukan itu.”</p>
<p>“Baik. Aku berjanji untuk tidak menyampaikan persoalan Ki Panji kepada Pangeran Jayaraga. Tetapi jika syarat yang Ki Panji katakan itu tidak Ki Panji penuhi, maka aku tidak akan menyampaikan persoalan ini kepada siapa-siapa. Tetapi aku sendiri yang akan menyelesaikannya dengan caraku, berdasarkan atas wewenang yang aku miliki dari Ki Patih Mandaraka di Mataram. Bukan hanya dari Pangeran Jayaraga di Panaraga.”</p>
<p>“Baik, baik, Ki Sanak. Aku mengerti.”</p>
<p>“Nah, sekarang selesaikan persoalanmu dengan prajurit-prajuritmu dan rakyatmu sendiri. Aku akan meneruskan perjalanan.” Kemudian kepada Ki Bekel dan Ki Demang, Glagah Putih pun berkata, “Ki Bekel dan Ki Demang dapat pulang. Jangan takut terjadi apa-apa lagi atas Ki Bekel dan Ki Demang. Ki Bekel dan Ki Demang tinggal menunggu janji Ki Panji, bahwa ia akan mengembalikan milik rakyat yang ada padanya dan ada pada prajurit-prajuritnya. Jika yang dijanjikan itu tidak dilakukannya, maka kami akan berbuat apa saja sesuka hati kami atas Ki Panji dan prajurit-prajuritnya. Selain berdasarkan atas wewenang yang ada padaku, maka kalau landasannya adalah ketajaman ujung senjata, maka aku telah memenangkan pertarungan melawan mereka.”</p>
<p>“Baik, Ki Sanak,” sahut keduanya hampir berbareng.</p>
<p>“Kami berdua akan pergi. Tetapi dalam waktu dekat, kami akan memantau kesanggupan Ki Panji. Diketahui atau tidak diketahui.”</p>
<p>Demikianlah, maka Glagah Putih dan Rara Wulan pun meninggalkan tempat itu. Demikian bingungnya Ki Panji, sehingga ia tidak ingat lagi untuk mempersilahkan kedua orang laki-laki dan perempuan itu untuk duduk. Demikian pula Ki Bekel dan Ki Demang yang segera minta diri.</p>
<p>Di perjalanan pulang, Ki Bekel sempat bergumam, “Jadi Ki Panji itu telah dimaafkan, Ki Demang.”</p>
<p>“Ya. Kesalahannya tidak akan dilaporkan kepada Pangeran Jayaraga. Tetapi itu bukan berarti bahwa Ki Panji tidak bersalah. Ia harus menebus kesalahannya dengan beberapa langkah yang nyata yang memberikan manfaat bagi rakyat.”</p>
<p>Ki Bekel mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut. Yang ia mengerti, Ki Panji itu bersalah. Apakah kesalahan itu akan diungkap sampai ke telinga Pangeran Jayaraga atau tidak, tetapi kesalahan itu sudah dilakukan.</p>
<p>Sebenarnyalah bahwa apa yang terjadi pada Ki Panji itu memang tidak dapat dirahasiakan lagi. Rakyat Ngadireja dan sekitarnya pun telah mendengar apa yang terjadi. Dua orang prajurit penghubung antara Mataram dan Panaraga yang menangkap basah bahwa Ki Panji di Ngadireja telah menyalahgunakan wewenangnya, tidak akan mengangkat persoalan itu ke Panaraga. Prajurit penghubung dari Mataram itu seakan-akan telah memaafkan, meskipun mereka tetap menganggap bahwa Ki Panji bersalah dan harus menebus kesalahannya.</p>
<p>Dalam pada itu, ketika Glagah Putih dan Rara Wulan telah meninggalkan Ngadireja, maka Ki Panji itu pun sempat merenungi dirinya sendiri. Ia sempat merenungi rakyatnya di Ngadireja. Ia mulai membayangkan, apa saja yang pernah dihisapnya dari rakyatnya itu.</p>
<p>Seperti asap yang mengepul dari hutan yang terbakar, Ki Panji melihat betapa gelapnya sisi kehidupannya. Sebagai seorang pemimpin yang memegang wewenang, ia dapat membanggakan dirinya karena rakyatnya menjadi sangat patuh kepadanya. Setiap wajah orang yang ditemuinya selalu membayangkan ketakutan, sehingga tidak ada yang berani mengangkat wajahnya di hadapannya dalam keadaan apa pun.</p>
<p>Ki Panji itu pun menarik nafas panjang. Pada saat-saat yang demikian, pada saat-saat ia tersudut, rasa-rasanya secercah cahaya telah menerangi hatinya, menembus asap yang tebal hitam yang bergulung-gulung menyelimutinya.</p>
<p>“Aku memang telah bersalah,” terdengar suara yang meskipun perlahan sekali, tetapi telinga hatinya dapat mendengarnya dengan jelas.</p>
<p>Pengakuannya itu telah mendorongnya untuk mengambil langkah-langkah sebagaimana dikatakan oleh dua orang suami istri dari Mataram itu.</p>
<p>Sebenarnyalah langkah itulah yang diambil oleh Ki Panji. Diperintahkannya semua prajuritnya melakukan hal yang sama sebagaimana dilakukannya.</p>
<p>Ki Panji dan para prajuritnya telah mempergunakan semua kekayaan mereka bagi kesejahteraan rakyat Ngadireja dan sekitarnya. Tidak lagi karena terpaksa, tetapi gejolak yang dahsyat yang terjadi di dalam lubuk hatinyalah yang telah mendorongnya untuk berbuat demikian.</p>
<p>Sebenarnyalah di hari-hari mendatang, rakyatnya yang semula menjadi sangat kecewa karena Ki Panji itu tidak dilaporkan kepada Pangeran Jayaraga di Panaraga, akhirnya dapat menerima sikap Ki Panji yang telah menyerahkan segala yang ia punya bagi kesejahteraan rakyat Ngadireja. Karena sebenarnyalah Ki Panji merasa bahwa apa yang ia punya itu telah dihisapnya dari darah rakyatnya itu pula.</p>
<p>Dalam pada itu, Glagah Putih dan Rara Wulan tidak segera dapat memantau apa yang telah terjadi di Ngadireja. Tetapi mereka pun menelusuri jalan menuju ke Panaraga.</p>
<p>Mereka tidak mengalami kesulitan apa-apa di perjalanan. Tidak pula ada kesulitan menelusuri jalan ke Panaraga. Sementara itu mereka pun masih juga menemukan jejak perjalanan Pangeran Ranapati, yang seakan-akan dengan sengaja mengikuti jejak perjalanan Pangeran Jayaraga.</p>
<p>Glagah Putih dan Rara Wulan di perjalanan masih bermalam semalam lagi di sebuah banjar padukuhan. Tetapi Panaraga sudah berada di depan hidung mereka.</p>
<p>Di hari berikutnya, sebelum tengah hari, Glagah Putih dan Rara Wulan telah berada di alun-alun Panaraga. Sebelum mereka mengambil keputusan untuk melakukan langkah-langkah yang terbaik dalam tugas mereka, maka keduanya pun duduk di pinggir alun-alun, di bawah sebatang pohon rimbun.</p>
<p>“Apa yang akan kita lakukan kemudian, Kakang?”</p>
<p>“Kita akan memikirkannya. Kita masih mempunyai banyak waktu sebelum kita mengambil sikap yang terbaik. Kita harus menemukan, di mana orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu berada. Mungkin di sebuah penginapan. Mungkin di rumah seseorang yang dikenalnya, atau saudaranya menurut garis perguruan, atau orang-orang lain. Baru kemudian kita akan mengamati, apa yang dilakukannya selama ia berada di Panaraga. Apakah ia mencoba membuat hubungan dengan Pangeran Jayaraga atau tidak.”</p>
<p>Rara Wulan mengangguk-angguk. Namun untuk beberapa saat keduanya terdiam,. Keduanya mengamati orang-orang yang lalu-lalang di alun-alun. Tetapi panas yang terik nampaknya membuat alun-alun itu menjadi agak sepi.</p>
<p>Namun tiba-tiba saja Glagah Putih dan Rara Wulan terkejut. Seorang laki-laki yang sudah separuh baya tiba-tiba saja berdiri di hadapan mereka.</p>
<p>Orang itu pun langsung menyingkapkan bajunya, sehingga timang pada ikat pinggangnya dapat dilihat oleh Glagah Putih dan Rara Wulan.</p>
<p>“Kau siapa?” bertanya Glagah Putih.</p>
<p>“Kau kenal pertanda pada ikat pinggangku?” bertanya orang separuh baya yang kemudian telah menakupkan kembali bajunya untuk menutupi timang pada ikat pinggangnya.</p>
<p>Glagah Putih memperhatikan orang itu sejenak. Tetapi ia masih tetap duduk. Dengan nada datar ia bertanya, “Kenapa kau tunjukkan timangmu itu kepadaku?”</p>
<p>“Aku membawa tugas dari Ki Patih Mandaraka. Aku harus menemuimu di sini. Sejak tiga hari aku berada di sini. Baru sekarang kau berdua datang.”</p>
<p>“Kau yakin, bahwa kamilah yang kau tunggu?”</p>
<p>“Ya.”</p>
<p>“Kenapa?”</p>
<p>“Aku pernah bertemu dengan kalian di Kepatihan. Maksudku, aku pernah melihat kalian menghadap Ki Patih. Tetapi mungkin kalian belum mengenal aku.”</p>
<p>Glagah Putih dan Rara Wulan pun saling berpandangan sejenak. Namun tiba-tiba saja Rara Wulan bertanya, “Awan itu ditiup angin dari mana?”</p>
<p>“Dari barat.” sahut orang itu.</p>
<p>“Bintang di pagi hari?”</p>
<p>“Lintang rinonce.”</p>
<p>“Kau sendiri?”</p>
<p>“Panjer Esuk.”</p>
<p>Glagah Putih menarik nafas panjang. Keduanya pun segera bangkit berdiri.</p>
<p>“Ikutlah aku.” berkata orang itu.</p>
<p>Dalam pesan terakhir, Ki Patih memang mengatakan bahwa ia akan mendapat bantuan dari orang-orang yang sudah berada di Panaraga. Ki Patih pun telah memberikan pesan kata-kata sandi yang harus disampaikan kepada orang-orang yang menemuinya di Panaraga, sebagaimana ditanyakan kepada orang itu. Menurut Ki Patih, di Panaraga tidak hanya ada seorang yang akan membantunya melaksanakan tugasnya, tetapi ada tiga, yang disebut dengan kata sandi Panjer Esuk, Panjer Wengi dan Panjer Sore. Yang menemuinya di alun-alun itu adalah petugas yang disebut dengan kata sandi Panjer Esuk.</p>
<p>Glagah Putih dan Rara Wulan pun kemudian mengikuti orang itu. Sambil berjalan Glagah Putih bertanya, “Siapa namamu?”</p>
<p>“Madyasta. Aku seorang lurah prajurit yang pernah menjadi Narpacundaka di Kepatihan.”</p>
<p>“O, jadi aku berbicara dengan Ki Lurah Madyasta.”</p>
<p>“Lupakan bahwa aku seorang lurah prajurit. Mungkin kau masih belum berpangkat lurah. Tetapi lupakan pangkat itu. Dalam tugas ini aku harus membantumu. Kau berdualah yang memegang perintah atas kami.”</p>
<p>Glagah Putih dan Rara Wulan saling berpandangan. Namun kemudian Glagah Putih pun berkata, “Terima kasih atas kepercayaan Ki Lurah.”</p>
<p>“Panggil namaku. Jangan panggil Ki Lurah.”</p>
<p>Glagah Putih menarik nafas panjang.</p>
<p>Keduanya pun kemudian berjalan menyusuri jalan-jalan yang terhitung ramai di Panaraga. Ki Lurah Madyasta kemudian membawa Glagah Putih dan Rara Wulan membelok ke jalan yang lebih kecil, memasuki sebuah padukuhan di pinggir Kota Panaraga.</p>
<p>Mereka pun kemudian masuk ke sebuah regol halaman yang berada di pinggir jalan kecil itu. Halaman yang tidak terlalu luas. Di sebelah-menyebelahnya juga terdapat rumah dengan halaman yang rata-rata hampir sama luasnya. Demikian pula sederet halaman di seberang jalan kecil itu. Rumah-rumah yang berdiri di halaman itu pun rata-rata adalah rumah yang sederhana pula, meskipun bukan rumah yang jelek.</p>
<p>Rata-rata rumah yang ada di sebelah-menyebelah jalan itu adalah rumah yang terbuat dari bambu. Dindingnya juga terbuat dari anyaman bambu. Demikian pula pintu lereg di depan dan di samping.</p>
<p>Pada umumnya di kebun belakang dari setiap halaman terdapat rumpun dari berbagai jenis bambu. Bambu apus, bambu wulung dan bahkan bambu petung. Ada pula yang mempunyai serumpun bambu tutul dengan ujudnya yang menarik, meskipun tidak sekokoh bambu wulung.</p>
<p>Madyasta pun kemudian membawa Glagah Putih dan Rara Wulan masuk ke rumah yang ada di tengah-tengah halaman itu. Rumah yang juga terbuat dari bambu serta dindingnya juga anyaman bambu apus. Bambu yang tidak begitu besar, tetapi cukup liat.</p>
<p>Seperti rumah-rumah yang lain, pintu rumah itu pun terbuat dari anyaman bambu. Jika membuka pintu itu, maka pintu itu pun didorong ke samping.</p>
<p>Glagah Putih dan Rara Wulan sudah terbiasa dengan pintu lereg semacam itu. Di Tanah Perdikan Menoreh, banyak rumah yang masih mempergunakan pintu lereg dari anyaman bambu seperti pintu rumah itu, meskipun banyak pula yang rumahnya sudah memasang pintu kayu.</p>
<p>Demikian pintu terbuka, mereka telah memasuki satu ruangan yang agak luas dengan sebuah amben yang besar terletak di sisi sebelah kanan.</p>
<p>“Silahkan masuk. Aku tinggal di rumah ini sendiri.”</p>
<p>“Dimana kedua orang kawan Ki Lurah yang lain?”</p>
<p>“Panggil aku Madyasta. Nama itu pun bukan namaku sendiri. Namaku sebagai lurah prajurit adalah Ki Lurah Wirasana.”</p>
<p>Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk.</p>
<p>“Silahkan duduk. Kedua orang kawanku tinggal di rumah yang lain. Kami sengaja tinggal di rumah yang berbeda.”</p>
<p>Glagah Putih dan Rara Wulan masih saja mengangguk-angguk.</p>
<p>“Kalian berdua akan tinggal di sini untuk sementara.”</p>
<p>Glagah Putih dan Rara Wulan itu pun kemudian dipersilahkan duduk di amben bambu yang besar itu.</p>
<p>Orang itu pun kemudian duduk pula bersama mereka. Katanya kemudian, “Aku akan membawa kalian berdua melihat-lihat keadaan di lingkungan ini sebelum kalian bertugas. Kalian pun akan aku perkenalkan dengan kedua orang kawanku itu pula. Tetapi tentu tidak sekarang. Sebaiknya sekarang kalian beristirahat saja dahulu. Pakiwan ada di sebelah kiri. Mungkin kalian ingin mandi lebih dahulu. Aku akan pergi ke dapur untuk merebus air dan menanak nasi. Mungkin kalian haus dan lapar. Sementara nasiku tinggal sedikit.”</p>
<p>“Biarlah aku yang merebus air dan menanak nasi. Kau duduk di sini bersama Kakang Glagah Putih.” berkata Rara Wulan.</p>
<p>“Kalian adalah tamu-tamuku. Akulah yang punya rumah, sehingga akulah yang harus menyediakan suguhan bagi kalian.”</p>
<p>“Tetapi aku perempuan.”</p>
<p>“Tetapi kau adalah tamuku. Kau tentu tidak tahu di mana aku simpan beras. Di mana aku simpan gula kelapa, dan di mana aku simpan garam.”</p>
<p>Rara Wulan tersenyum.</p>
<p>“Nah, silahkan duduk. Atau barangkali kalian akan pergi ke pakiwan.”</p>
<p>“Terima kasih.” sahut Glagah Putih.</p>
<p>Ketika kemudian orang yang minta dipanggil Madyasta itu pergi ke dapur, maka Glagah Putih dan Rara Wulan pun pergi ke pakiwan.</p>
<p>Karena rumah itu hanya dihuni oleh seorang laki-laki, maka nampaknya memang agak kurang bersih. Tetapi Glagah Putih dan Rara Wulan pun dapat memakluminya.</p>
<p>Glagah Putih pun kemudian telah mencuci kaki, tangan dan mencuci mukanya bergantian dengan Rara Wulan, sehingga tubuh mereka pun menjadi semakin segar.</p>
<p>Demikian mereka selesai mencuci muka, mereka tidak segera masuk ke rumah depan. Mereka masih mengamati halaman dan kebun belakang. Di halaman belakang nampak ketela pohon yang subur. Kemudian di bawah rumpun bambu di kebun, terdapat berbagai macam tanaman empon-empon. Glagah Putih yang serba sedikit mengenal berbagai jenis dedaunan dan akar-akaran yang dapat dipergunakan sebagai obat, mengira bahwa Madyasta memang telah menanam berbagai jenis empon-empon itu.</p>
<p>Di dekat dinding kebun di belakang, terdapat batang ubi yang merambat. Tetapi batang-batang serta daunnya sudah mulai mengering. Pertanda bahwa sebentar lagi uwi itu dapat digali.</p>
<p>Di sudut yang lain, nampak serumpun pisang yang subur. Daunnya berwarna hijau segar. Sementara itu dua batang pisang yang berbuah harus disangga dengan sepotong bambu agar tidak roboh, karena buahnya yang besar dan tandannya panjang.</p>
<p>Ketika keduanya berjalan melintas di halaman belakang, maka keduanya berhenti depan sebuah kandang kuda. Dua ekor kuda yang besar dan tegar berada dalam kandang itu.</p>
<p>Sedangkan di sekitar kandang itu berkeliaran kelompok-kelompok ayam jantan dan betina. Ada pula yang sedang menggiring anak-anaknya.</p>
<p>Dari kandang kuda mereka pun bergeser pula. Mereka berhenti di sebuah pintu butulan yang terbuka. Ternyata pintu itu adalah pintu dapur.</p>
<p>Mereka melihat Madyasta yang sedang sibuk membuat minuman setelah air yang direbusnya mendidih.</p>
<p>Glagah Putih dan Rara Wulan segera masuk ke dapur itu pula. Dengan cekatan Rara Wulan pun membantu Madyasta menempatkan mangkuk-mangkuk ke dalam nampan dan kemudian dibawanya ke ruang depan.</p>
<p>“Duduk sajalah.” berkata Madyasta.</p>
<p>Tetapi Glagah Putih justru duduk di depan perapian. Dengan sepotong bumbung bambu Glagah Putih menghembus api yang nyalanya menjadi redup, sehingga nyalanya menjadi besar kembali.</p>
<p>“Nanti pakaianmu menjadi kotor.” berkata Madyasta.</p>
<p>“Pakaianku memang sudah kotor.”</p>
<p>Ternyata Glagah Putih dan Rara Wulan pun tidak segera meninggalkan dapur. Mereka bahkan ikut membantu menyediakan makan pagi mereka bertiga.</p>
<p>Mereka telah mengambil beberapa butir telur di petarangan yang akan dapat dijadikan lauk. Kemudian Rara Wulan pun telah membuat sambal dengan bawang putih.</p>
<p>“Aku tidak mempunyai apa-apa lagi.” berkata Madyasta.</p>
<p>“Ini sudah cukup. Telur ceplok dengan sambal bawang. Sementara nasinya masih mengepul.”</p>
<p>Sebenarnyalah, sejenak kemudian mereka telah duduk di ruang depan di amben yang besar, menghadapi nasi hangat, telur ceplok dan sambal bawang.</p>
<p>“Nanti kita dapat membeli sayur di sudut simpang empat buat makan malam.”</p>
<p>“Tidak usah,” berkata Rara Wulan. “Aku melihat ada beberapa batang kacang panjang yang berbuah di kebun. Kita dapat memetik kacang panjang itu serta daun lembayungnya. Nanti biarlah Kakang memetik kelapa yang belum terlalu tua.”</p>
<p>Sambil makan, Madyasta telah bercerita tentang berbagai hal yang ada hubungannya dengan tugasnya. Madyasta pun mengatakan bahwa orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu bagaikan siluman. Madyasta dan kedua kawannya dapat menelusuri jejaknya sehingga orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu sampai di Panaraga. Tetapi setelah itu mereka pun kehilangan jejaknya. Sampai kedatangan Glagah Putih dan Rara Wulan, mereka belum menemukan orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati.</p>
<p>“Kita akan mencarinya bersama-sama,” berkata Glagah Putih kemudian. “Mungkin orang yang menyebut diri Pangeran Ranapati itu justru sudah berada di Istana Kadipaten Panaraga, serta mengelabuhi Pangeran Jayaraga dengan mengaku sebagai putra lembu peteng Panembahan Senapati.”</p>
<p>Madyasta mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Kita akan menelusurinya.”</p>
<p>Demikianlah, setelah mereka selesai makan serta sempat beristirahat sejenak, Madyasta pun mengajak Glagah Putih dan Rara Wulan untuk melihat-lihat keadaan. Mereka pergi ke alun-alun lagi. Kemudian menyusuri jalan-jalan utama. Baru kemudian mereka pun telah turun ke jalan-jalan yang lebih kecil.</p>
<p>“Kalian harus mengenal tempat ini sebaik-baiknya,” berkata Madyasta, “sehingga jika terjadi sesuatu, maka kalian telah mengenali medannya.”</p>
<p>Glagah Putih dan Rara Wulan pun mengangguk-angguk. Ketika malam mulai turun, maka mereka bertiga sampai di sebuah regol halaman rumah yang juga termasuk sederhana. Halamannya pun tidak lebih luas dari halaman rumah yang dipergunakan oleh Madyasta. Sementara bangunannya juga terdiri dari bambu, termasuk dindingnya. Atapnya terbuat dari ijuk, sehingga kesannya di malam hari rumah itu nampak gelap. Apalagi lampu minyak yang berada di ruang depan rumah itu sinarnya tidak memancar keluar. Hanya nampak secercah cahaya di sela-sela pintu lereg dan uger-ugernya, yang semua terbuat dari bambu.</p>
<p>Di rumah itu tinggal dua orang petugas yang disebut dengan nama sandi Panjer Wengi dan Panjer Sore, yang bersama-sama dengan Panjer Esuk bertugas mendahului Glagah Putih dan Rara Wulan.</p>
<p>Ketika Madyasta mengetuk pintu rumah itu, terdengar suara di dalam, “Siapa?”</p>
<p>“Panjer Esuk.”</p>
<p>Langkah yang cepat terdengar menuju ke pintu. Demikian pintu lereg itu terbuka, maka seorang yang berdiri di belakang pintu itu pun mempersilahkan mereka masuk.</p>
<p>Demikian cahaya lampu minyak di ruang depan itu menyentuh Glagah Putih dan Rara Wulan, maka orang itu pun berdesis, “Ki Glagah Putih dan Nyi Rara Wulan.”</p>
<p>“Dari mana kau tahu?” bertanya Glagah Putih.</p>
<p>“Seperti Kakang Madyasta, aku juga pernah bertugas di Kepatihan, sehingga aku mengenal Ki Glagah Putih dan Nyi Rara Wulan tanpa harus mengucapkan sebutan sandi kalian berdua.”</p>
<p>Glagah Putih dan Rara Wulan tersenyum.</p>
<p>“Marilah, silahkan masuk.”</p>
<p>Glagah Putih, Rara Wulan dan Madyasta pun kemudian memasuki ruangan depan rumah itu. Mirip seperti ruang depan rumah yang dihuni oleh Madyasta, maka di ruang itu terdapat sebuah amben yang terhitung besar.</p>
<p>“Kalian dapat bermalam di sini,” berkata orang itu.</p>
<p>Tetapi Madyasta menyahut, “Mereka bermalam di rumahku.”</p>
<p>“Bukankah sama saja?” sahut Glagah Putih.</p>
<p>“Ya. Sama saja,” sahut orang itu.</p>
<p>Sejenak kemudian mereka pun telah duduk di amben yang besar itu. Madyasta pun kemudian memperkenalkan penghuni rumah itu, “Namanya yang sebenarnya adalah Ki Lurah Cakrajaya. Tetapi namanya telah berubah menjadi Sungkana. Dan seorang lagi, Panjer Sore, yang belum kelihatan, nama sebenarnya adalah Ki Lurah Mertadrana. Sebutannya adalah Sumbaga.”</p>
<p>Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi di sini ada Madyasta, Sungkana dan Sumbaga?”</p>
<p>“Ya.”</p>
<p>“Ketiganya adalah lurah prajurit.”</p>
<p>“Lupakan,” sahut Sungkana.</p>
<p>Glagah Putih pun mengangguk-angguk. Sementara itu Madyasta pun bertanya, “Di mana Sumbaga?”</p>
<p>“Ia baru pergi ke sungai sebentar. Ia lebih senang mandi di sungai daripada mandi di pakiwan. Sebenarnya ia malas menimba air untuk mengisi jambangan. Ia lebih senang pergi ke sungai, yang hanya berjalan beberapa patok saja di belakang.”</p>
<p>Madyasta tersenyum. Katanya, “Sumbaga memang seorang yang malas sekali. Tetapi kerjanya cukup baik.”</p>
<p>Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk kecil.</p>
<p>Sebenarnyalah sejenak kemudian, seseorang telah mendorong pintu lereg yang sudah ditutup kembali. Tetapi karena pintu itu belum diselarak, maka pintu itu pun dengan mudah telah terbuka.</p>
<p>Seorang bertubuh tinggi agak kekurus-kurusan berdiri di depan pintu.</p>
<p>“Apakah Ki Glagah Putih dan Nyi Rara Wulan sudah lama?” bertanya orang itu.</p>
<p>“Apakah Ki Sanak juga pernah bertugas di Kepatihan?”</p>
<p>“Ya. Aku pernah bertugas di Kepatihan. Karena itu aku mengenal Ki Glagah Putih dan Nyi Rara Wulan.”</p>
<p>Orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu pun kemudian telah duduk pula bersama yang lain di amben besar itu.</p>
<p>“Segarnya mandi di sungai.” berkata orang yang disebut Sumbaga itu.</p>
<p>“Yang penting bagimu, bahwa kau tidak usah menimba air,” sahut Sungkana.</p>
<p>Sumbaga tertawa. Yang lain pun tertawa pula.</p>
<p>Namun sejenak kemudian Madyasta menjadi bersungguh-sungguh, “Aku sudah mengatakan kepada Ki Glagah Putih dan Nyi Rara Wulan, bahwa kita telah kehilangan jejak dari orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati.”</p>
<p>“Kami memang agak meremehkan,” berkata Sungkana, “dengan mudah kami dapat mengikuti jejak orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu sampai ke Panaraga. Dengan demikian, kami mengira bahwa untuk selanjutnya pun kami tidak akan mengalami kesulitan. Tetapi ternyata kami telah kehilangan jejaknya.”</p>
<p>“Kita harus mulai dari permulaan,” sahut Sumbaga.</p>
<p>“Tidak,” berkata Glagah Putih, “setidak-tidaknya kita sudah tahu bahwa orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu berada di Panaraga.”</p>
<p>“Bukankah sejak semula ia memang pergi ke Panaraga?”</p>
<p>“Diduga demikian. Pangeran Ranapati itu meninggalkan padepokannya begitu Pangeran Jayaraga berada di Panaraga. Tetapi bukankah waktu itu kita tidak tahu bahwa Pangeran Ranapati itu benar-benar pergi ke Panaraga? Namun sekarang kita tahu pasti, bahwa Pangeran Ranapati itu benar-benar telah pergi ke Panaraga.”</p>
<p>“Jejaknya sudah jelas, bahwa Pangeran Ranapati berada di Panaraga.”</p>
<p>“Tetapi itu belum berarti bahwa Pangeran Ranapati sekarang berada di Panaraga.”</p>
<p>“Maksud Ki Glagah Putih?”</p>
<p>“Pangeran Ranapati itu masih mampu bergerak dengan cepat. Mungkin saja ia justru telah meninggalkan Panaraga.”</p>
<p>“Jika demikian, apa maksudnya pergi ke Panaraga, jika ia kemudian harus pergi?”</p>
<p>“Itulah yang harus kita ketahui,” sahut Glagah Putih. “Tetapi mungkin pula ia masih berada di Panaraga. Bahkan mungkin Pangeran Ranapati sudah membuat hubungan dengan Pangeran Jayaraga, dengan mengaku sebagai putra Panembahan Senapati yang mengasingkan diri di sebuah padepokan, sehingga saudara-saudaranya tidak mengenalnya.”</p>
<p>“Ya. Ada banyak kemungkinan,” sahut Sumbaga.</p>
<p>“Besok aku masih akan memperkenalkan Ki Glagah Putih dan Nyi Rara Wulan dengan lingkungan ini, agar jika terjadi sesuatu, mereka telah menguasai medan. Tugas yang harus kita lakukan adalah tugas yang mengandung banyak sekali kemungkinan.”</p>
<p>“Baiklah. Jika Kakang Madyasta masih akan melihat-lihat lingkungan ini, maka aku dan Kakang Sungkana akan melanjutkan usaha kami untuk menelusuri jejak orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu. Mungkin kami akan mengulangi penelusuran kami. Kami akan melihat kembali batu lempeng, yang menurut cerita orang dipergunakan oleh Pangeran Ranapati untuk bermalam sebelum memasuki Panaraga. Pangeran Ranapati sendiri telah memerintahkan orang-orang di sekitarnya membuat pagar kayu di sekeliling batu itu. Mungkin kami menemukan petunjuk, kemana Pangeran Ranapati itu setelah meninggalkan tempatnya bermalam di batu lempeng itu.”</p>
<p>“Hati-hatilah. Mungkin Pangeran Ranapati mempunyai maksud tertentu dengan membuat petilasan-petilasan seperti itu.”</p>
<p>“Baik, Kakang. Kami akan berhati-hati.”</p>
<p>Menjelang tengah malam, maka Madyasta, Glagah Putih dan Rara Wulan itu pun meninggalkan rumah yang dihuni oleh Sungkana dan Sumbaga. Mereka menyusuri jalan-jalan kecil. Namun agaknya Madyasta telah menguasai lingkungan itu, sehingga ia dapat mengajak Glagah Putih dan Rara Wulan menghindari gardu-gardu perondan, agar mereka tidak harus terlalu banyak menjawab pertanyaan anak-anak muda yang sedang meronda.</p>
<p>Demikian mereka sampai di rumah Madyasta, maka Madyasta pun segera mempersilahkan keduanya untuk beristirahat.</p>
<p>Di dalam biliknya yang cukup luas, dengan sebuah amben yang cukup luas pula bagi mereka berdua, Glagah Putih dan Rara Wulan tetap saja berhati-hati.</p>
<p>“Tidurlah dahulu.” berkata Glagah Putih, “nanti jika aku sudah mengantuk sekali, kita akan bergantian.”</p>
<p>“Ini sudah tengah malam, Kakang. Nanti Kakang tidak sempat tidur.”</p>
<p>“Tentu ada kesempatan. Nanti aku akan membangunkanmu.”</p>
<p>Rara Wulan mengangguk. Ia pun menyadari bahwa Glagah Putih ingin berhati-hati. Mereka berada di tempat yang sebelumnya tidak mereka kenal. Orang yang bernama Madyasta itu pun hanya mereka kenal karena sebutan sandinya serta pertanda pada ikat pinggangnya.</p>
<p>Ketika Rara Wulan kemudian membaringkan dirinya di atas tikar pandan yang putih dan bergaris-garis biru, maka Glagah Putih pun duduk bersandar dinding.</p>
<p>Ternyata sejenak kemudian Rara Wulan pun telah tertidur. Ia memang selalu yakin akan perlindungan Glagah Putih. Sehingga karena itu maka Rara Wulan tidak mempunyai kecemasan sedikit pun juga. Dengan demikian, maka Rara Wulan pun segera dapat tidur nyenyak.</p>
<p>Sementara itu, malam pun menjadi semakin sepi. Di bilik yang lain, terdengar Madyasta tidur mendengkur.</p>
<p>Ketika terdengar ayam jantan berkokok di dini hari, maka sebelum Glagah Putih membangunkannya, ternyata Rara Wulan telah bangun. Ia pun kemudian duduk di bibir pembaringan sambil membenahi rambutnya.</p>
<p>“Beristirahatlah, Kakang. Aku sudah terlalu lama tidur.”</p>
<p>“Belum, kau belum lama tidur. Kau dengar ayam jantan berkokok itu? Bukankah waktunya masih dini hari?”</p>
<p>“Sebentar lagi fajar akan menyingsing.”</p>
<p>Glagah Putih mengangguk. Glagah Putih pun sangat mempercayai Rara Wulan. Glagah Putih sadar bahwa Rara Wulan memiliki kemampuan hampir sama seperti dirinya sendiri.</p>
<p>Karena itu maka Glagah Putih pun kemudian membaringkan dirinya. Rara Wulanlah yang kemudian duduk bersandar dinding.</p>
<p>Ternyata dalam waktu singkat, Glagah Putih pun telah tertidur pula.</p>
<p>Namun Glagah Putih hanya sempat tidur beberapa saat. Ketika bayangan fajar mulai nampak di langit, ia pun telah terbangun. Keduanya pun segera pergi ke pakiwan. Ketika Rara Wulan mandi, maka Glagah Putih menimba mengisi jambangan. Derit senggot timba terdengar memecah sepinya dini hari menjelang fajar.</p>
<p>Beberapa saat kemudian, Madyasta pun mulai terbangun pula. Demikian Glagah Putih dan Rara Wulan selesai mandi, maka Madyasta pun telah pergi ke pakiwan pula.</p>
<p>Sejenak kemudian, terdengar derit sapu lidi di rumah sebelah. Ayam-ayam sudah turun dari kandangnya. Burung-burung liar yang hinggap di pepohonan, bernyanyi menyambut fajar pagi.</p>
<p>Glagah Putih dan Rara Wulan pun kemudian telah mencari sapu lidi pula. Ada satu sapu lidi yang bertangkai, dan ada lagi yang tidak bertangkai. Karena itu maka Glagah Putih dapat menyapu halaman bersama-sama. Glagah Putih dengan sapu lidi yang bertangkai, sementara Rara Wulan mempergunakan sapu lidi yang tidak bertangkai.</p>
<p>Madyasta sendiri justru segera pergi ke dapur untuk merebus air.</p>
<p>Tetangga sebelah menjadi agak heran mendengar suara sapu lidi di halaman rumah Madyasta, sementara asap mengepul di dapur. Jarang sekali Madyasta menyapu halaman, sehingga halamannya kadang-kadang nampak agak kurang bersih. Tetapi hari itu, dua orang telah menyapu halaman depan.</p>
<p>Beberapa saat kemudian, setelah minuman selesai dituang, maka mereka bertiga pun duduk di ruang depan. Madyasta pun telah memberitahukan kepada Glagah Putih dan Rara Wulan, bahwa mereka akan pergi berjalan-jalan meneruskan pengenalan mereka terhadap lingkungan di Panaraga.</p>
<p>Ketika matahari mulai naik, Madyasta, Glagah Putih dan Rara Wulan telah keluar dari pintu regol halaman rumahnya, turun ke jalan. Mereka akan mulai berjalan untuk melihat-lihat keadaan dan lingkungan.</p>
<p>Seorang perempuan separuh baya yang kebetulan berdiri di regol halaman rumahnya ketika melihat Madyasta, lewat telah bertanya, “Masih pagi. Mau kemana, Ngger?”</p>
<p>“Ke pasar, Bibi.” sahut Madyasta.</p>
<p>“Siapakah kedua orang ini? Aku belum pernah melihat sebelumnya.”</p>
<p>“Sepupuku, Bi. Mereka datang kemarin sore. Sudah lama kami tidak saling berkunjung.”</p>
<p>“Apakah mereka suami istri?”</p>
<p>“Ya, Bibi.”</p>
<p>“Menyenangkan melihat sepasang suami istri yang nampak serasi. Kapan-kapan singgah di rumahku ini, Ngger.”</p>
<p>“Baik, Bibi,” Rara Wulanlah yang menyahut, “pada kesempatan lain kami akan singgah.”</p>
<p>“Apakah kalian akan lama tinggal di sini?”</p>
<p>“Mungkin, Bibi. Tetapi tentu tidak lama sekali.”</p>
<p>Demikianlah, ketiganya pun segera melanjutkan perjalanan mereka untuk melihat-lihat lingkungan.</p>
<p>Sementara Madyasta telah meninggalkan rumahnya, Sumbaga masih duduk sambil memeluk lututnya menghadapi minuman hangat yang telah disiapkan oleh Sungkana.</p>
<p>“Cepat mandi,” berkata Sungkana, “bukankah kita akan pergi ke batu lempeng yang sekarang dipagari itu?”</p>
<p>“Nanti dulu, Kakang. Aku sedang menikmati minumanmu ini.”</p>
<p>“Lihat, matahari sudah mulai naik.”</p>
<p>“Bukankah kita tidak berurusan dengan matahari?”</p>
<p>“Mumpung masih pagi. Kalau kau tidak segera mandi, aku akan pergi sendiri.”</p>
<p>Sumbaga menggeliat. Ia masih minum beberapa teguk lagi. Baru kemudian ia bangkit berdiri. Tetapi Sumbaga tidak pergi ke pakiwan. Seperti biasanya ia lebih senang pergi ke sungai. Di sungai ia tidak perlu menimba air. Ia dapat mandi dengan air sebanyak apapun.</p>
<p>Baru kemudian setelah matahari sepenggalah, Sumbaga itu siap untuk berangkat.</p>
<p>Keduanya pun berjalan dengan cepat menuju ke pintu gerbang Kota. Mereka pun kemudian mengikuti jalan utama keluar dari Kota. Mereka menuju ke sebuah petilasan yang dibuat oleh orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu. Ia sendirilah yang membuat tempat itu menjadi tempat yang dihormati oleh orang-orang di sekitarnya. Dengan membuat pagar di sekitarnya, orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu telah menjadikan tempat itu mendapat perhatian lebih dari tempat-tempat di sekitarnya.</p>
<p>Jejak terakhir yang dapat diketahui oleh Sungkana dan Sumbaga dari orang yang menyebut Pangeran Ranapati itu adalah batu lempeng itu. Batu yang pipih, tetapi cukup lebar dan cukup panjang untuk tidur. Di atas batu itu, di bawah sebatang pohon preh tua yang besar, orang yang menyebut Pangeran Ranapati itu tidur di malam terakhir perjalanannya, sebelum ia memasuki pintu gerbang Panaraga.</p>
<p>Namun setelah itu, Sungkana dan Sumbaga telah kehilangan jejak.</p>
<p>Sebelum tengah hari, Sungkana dan Sumbaga telah berada di dekat batu lempeng itu. Mereka duduk di atas akar preh raksasa yang tumbuh di dekat batu lempeng itu, sehingga daunnya yang rimbun menaungi batu yang pipih itu. Tetapi pohon itu sendiri berada di luar pagar yang mengelilingi watu lempeng itu.</p>
<p>Ketika mereka melihat seorang tua yang sedang mencari kayu bakar di sekitar tempat itu, maka Sungkana pun telah memanggilnya.</p>
<p>“Duduklah sebentar, Kang,” berkata Sungkana.</p>
<p>“Ada apa, Ki Sanak?”</p>
<p>“Aku ingin tahu, kenapa batu ini dipagari.”</p>
<p>Orang tua yang sedang mencari kayu bakar itu termangu-mangu sejenak. Namun Sungkana pun berkata, “Kau tidak usah mencari kayu bakar hari ini, Kang . Kau dapat membeli saja kayu bakar yang sudah siap disurukkan ke dalam perapian.”</p>
<p>“Aku tidak mempunyai uang, Ki Sanak.”</p>
<p>“Aku punya. Aku akan memberimu uang untuk membeli kayu bakar itu.”</p>
<p>Orang itu pun kemudian duduk pula di atas akar pohon preh yang besar itu.</p>
<p>“Kakang, kami ingin tahu, kenapa batu ini dipagari. Bahkan pagar kayu yang baik dan kokoh.”</p>
<p>“Batu ini merupakan satu petilasan, Ki Sanak.”</p>
<p>“Siapakah yang telah wafat di sini?”</p>
<p>“Bukan petilasan dalam arti makam seseorang yang telah wafat, Ki Sanak.”</p>
<p>“Jadi?”</p>
<p>“Tempat ini pernah dipergunakan oleh seorang Pangeran yang sedang lelana seorang diri untuk beristirahat. Bahkan bermalam dan tidur di batu yang pipih itu. Karena itu, maka Pangeran itu telah menghubungi Ki Bekel dan memerintahkan membuat pagar yang baik dan kokoh di sekitar batu itu. Pangeran itu telah memberikan uang cukup kepada Ki Bekel untuk pembuatan pagar kayu ini.”</p>
<p>“Siapakah nama Pangeran itu?”</p>
<p>“Pangeran Ranapati. Ia adalah putra Panembahan Senapati di Mataram.”</p>
<p>“Lalu sekarang, kemanakah Pangeran itu pergi?”</p>
<p>“Pangeran itu akan pergi ke Panaraga. Di Panaraga telah diangkat adiknya untuk menjadi penguasa.”</p>
<p>“Apakah Pangeran Ranapati itu akan menyusul adiknya yang menjadi penguasa di Panaraga?”</p>
<p>Orang tua itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak tahu.”</p>
<p>“Ketika pagar ini dibuat, apakah Pangeran Ranapati itu menungguinya?”</p>
<p>“Tidak. Ia hanya meninggalkan uang dan pesan kepada Ki Bekel. Kemudian begitu saja Pangeran itu pergi.”</p>
<p>“Kakang tinggal di padukuhan ini?”</p>
<p>“Ya. Aku tinggal di sudut padukuhan itu.”</p>
<p>“Setiap hari Kakang mencari kayu?”</p>
<p>“Hampir setiap hari. Istriku juga sudah tua. Kasihan jika tidak tersedia kayu bakar di rumah.”</p>
<p>“Kakang tidak punya anak?”</p>
<p>“Ada, Ki Sanak. Tetapi sudah tinggal di rumah mereka masing-masing. Aku mempunyai tiga orang anak. Semuanya sudah menikah dan tinggal di rumah mereka masing-masing. Aku tinggal berdua saja dengan istriku yang juga sudah tua.”</p>
<p>Sungkana dan Sumbaga itu pun saling berpandangan sejenak. Namun Sungkana pun kemudian berkata, “Baiklah, Kakang, terima kasih. Anak-anakku pun sudah meninggalkan aku dan istriku pula, sehingga aku juga tinggal berdua saja di rumah.”</p>
<p>“Berapa anakmu, Ki Sanak?”</p>
<p>“Tujuh.”</p>
<p>“Tujuh? Berapa sekarang umurmu? Kau tentu lebih muda dari aku.”</p>
<p>“Ya. Tetapi hampir setiap tahun anak-anakku mempunyai adik.”</p>
<p>“Ah,” orang itu menggeleng, “aku tidak percaya. Aku percaya bahwa anakmu tujuh. Tetapi tentu belum semuanya menikah.”</p>
<p>Sungkanalah yang tertawa. Ia pun kemudian memberikan beberapa keping uang sambil berkata, “Beli sajalah, Kang. Kau tidak usah mencari kayu bakar hari ini.”</p>
<p>Orang tua itu pun termangu-mangu sejenak. Namun kemudian orang tua itu menerima keping-keping uang itu sambil berkata, “Terima kasih.”</p>
<p>“Pulanglah. Beristirahatlah hari ini, karena kau tidak usah mencari kayu bakar.”</p>
<p>Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun bertanya, “Apakah yang sebenarnya ingin kalian ketahui?”</p>
<p>“Petilasan ini dan orang yang telah membuatnya.”</p>
<p>“Apakah Ki Sanak berkepentingan dengan Pangeran Ranapati?”</p>
<p>“Tidak. Aku hanya ingin mengerti.”</p>
<p>Orang tua itu pun mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Terima kasih atas pemberian Ki Sanak. Aku akan pulang dan tidur. Sekali-sekali aku ingin tidur di siang hari. Nanti biarlah istriku membeli kayu bakar di rumah tetangganya yang sering menjual kayu bakar ke pasar. Daripada besok pagi orang itu pergi ke pasar pagi-pagi sekali, tentu lebih baik kalau kayu bakar itu dibeli oleh istriku.”</p>
<p>Laki-laki tua itu pun kemudian meninggalkan Sungkana dan Sumbaga yang masih saja duduk di akar pohon preh raksasa itu.</p>
<p>Namun mereka tidak melihat jalur yang dapat menunjukkan jalan untuk mengikuti jejak Pangeran Ranapati.</p>
<p>“Apakah sebaiknya kita pergi menemui Ki Bekel?” bertanya Sumbaga.</p>
<p>“Aku kita tidak akan banyak gunanya. Ki Bekel tentu juga tidak dapat menunjukkan jalur jejak Pangeran Ranapati. Apalagi jika Pangeran Ranapati itu sudah berniat untuk menghilangkan jejaknya dengan tujuan tertentu.”</p>
<p>Sumbaga mengangguk-angguk. Ia pun kemudian bertanya pula, “Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?”</p>
<p>“Kita kembali ke Panaraga. Kita amati jalan dari tempat ini sampai memasuki pintu gerbang. Apakah ada pertanda atau petunjuk apapun tentang orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu.”</p>
<p>Keduanya pun segera bangkit berdiri. Perlahan-lahan mereka melangkah meninggalkan batu pipih yang disebut batu lempeng serta dipagari kayu itu.</p>
<p>Namun sebelum mereka melangkah beberapa puluh langkah, mereka pun terhenti. Lima orang tiba-tiba saja telah berloncatan dan berdiri di tengah jalan. Seorang di antara mereka adalah orang tua yang tadi diberi uang untuk membeli kayu bakar.</p>
<p>Seorang yang bertubuh kekar dan berdada bidang berdiri di paling depan. Dengan suara yang bergetar ia pun bertanya, “Apakah yang kalian cari, Ki Sanak?”</p>
<p>Kedua orang yang baru saja mengamati batu lempeng itu saling berpandangan sejenak. Ternyata orang tua itu bukan sedang mencari kayu. Tetapi orang itu justru sedang mengawasi mereka berdua.</p>
<p>Yang kemudian menjawab adalah Sungkana, “Kami tidak sedang mencari apa-apa, Ki Sanak. Kami hanya tertarik pada petilasan itu, sehingga kami ingin tahu apakah yang sebenarnya berada di dalam pagar itu. Dari orang tua itu kami mendapat keterangan bahwa petilasaan itu telah dibuat oleh Pangeran Ranapati. Bukan makamnya, tetapi Pangeran Ranapati pernah beristirahat di tempat itu. Bahkan bermalam dan tidur di atas batu itu.”</p>
<p>“Kau tentu tidak hanya sekedar ingin tahu. Kau telah memberi aku uang beberapa keping. Terlalu mahal bagi orang yang sekedar ingin tahu. Kau tentu mempunyai satu maksud tertentu. Bahkan mungkin maksud yang buruk,” berkata orang tua itu.</p>
<p>“Aku tidak mempunyai maksud apa-apa.”</p>
<p>“Bohong!” orang tua yang mengaku mencari kayu itu dengan cepat menyahut.</p>
<p>“Lalu apa kepentinganku dengan sebongkah batu pipih itu?”</p>
<p>“Itulah yang ingin kami ketahui,” geram orang yang bertubuh kekar itu.</p>
<p>“Aku sudah memberikan penjelasan, Ki Sanak. Kami tidak bermaksud apa-apa. Kami hanya tertarik oleh pagar kayu yang bagus dan kokoh ini. Kemudian selembar batu yang besar dan pipih, seperti memang sengaja dibuat.”</p>
<p>“Ki Sanak. Untuk mengusut perkaramu, kami terpaksa membawa Ki Sanak berdua.”</p>
<p>“Menghadap siapa?”</p>
<p>“Lurah-e. Maksudku, pemimpin kami.”</p>
<p>“Maaf, kami tidak merasa melakukan kesalahan apa-apa. Karena itu, kami merasa berkeberatan untuk ikut bersama Ki Sanak menemui orang yang belum aku kenal.”</p>
<p>“Jangan membantah, Ki Sanak. Jika ternyata Ki Sanak tidak bersalah, maka Ki Sanak akan kami biarkan pergi. Tetapi jika Ki Sanak memang kami anggap merugikan kelompok kami, maka kami akan mengambil tindakan.”</p>
<p>“Jangan begitu, Ki Sanak. Jangan berbuat semena-mena. Bukankah kami berdua tidak berbuat apa-apa? Apalagi merugikan Ki Sanak dan kelompok Ki Sanak. Coba katakan, kenapa aku merugikan Ki Sanak dan kelompok Ki Sanak.”</p>
<p>“Bukan aku yang menentukan apakah kalian bersalah atau tidak. Tetapi pemimpinku.”</p>
<p>“Maaf, aku merasa sangat keberatan untuk mengikuti Ki Sanak seperti yang Ki Sanak maksudkan.”</p>
<p>“Kalian berdua tidak dapat memilih. Kalian tinggal mengikuti perintahku. Ikutlah kami untuk menghadap kepada pemimpinku yang akan memeriksa Ki Sanak berdua.”</p>
<p>Tetapi Sungkana itu pun menggeleng sambil berkata, “Kenapa aku tidak dapat memilih? Tidak. Aku tidak akan ikut bersama Ki Sanak. Ki Sanak tidak berhak memaksa aku mengikuti perintah Ki Sanak, karena Ki Sanak bukan pemimpinku.”</p>
<p>“Pemimpin atau bukan pemimpin, kau harus tunduk kepada kami. Jika kalian berkeberatan, maka kami akan memaksa Ki Sanak dengan kekerasan.”</p>
<p>“Jangan mencoba memaksakan kehendak terhadap orang lain. Karena orang lain itu dapat juga berbuat seperti Ki Sanak.”</p>
<p>“Cukup!” bentak orang bertubuh kekar itu. “Aku tidak mau lagi mendengar kalian membantah perintah kami. Ikut kami, atau kami akan mempergunakan kekerasan.”</p>
<p>“Kami menolak perintah Ki Sanak. Jika Ki Sanak akan mempergunakan kekerasan, maka kami pun akan dapat mempergunakan pula, untuk mempertahankan kebebasan sikap kami.”</p>
<p>Orang bertubuh kekar itu pun tiba-tiba mengangkat tangannya, sehingga kawan-kawannya pun segera bergeser. Tiga orang langsung menghadapi Sungkana, sedangkan yang dua orang melangkah mendekati Sumbaga. Kelima orang itu pun sadar, bahwa kedua orang itu tentu orang yang memiliki bekal ilmu, sehingga mereka berani menolak perintah mereka yang terdiri dari lima orang.</p>
<p>“Kesempatan Ki Sanak adalah kesempatan terakhir. Ikut kami, atau kalian akan menyesal.”</p>
<p>“Kalau kami ikut dengan Ki Sanak, justru kami akan menyesal. Karena itu, jangan ganggu kami.”</p>
<p>Orang bertubuh kekar itu pun segera memberikan isyarat. Kelima orang itu pun serentak bergeser dan bersiap untuk bertempur.</p>
<p>Sungkana dan Sumbaga pun segera mengambil jarak. Ketika kelima orang itu hampir serentak menyerang mereka, maka Sungkana dan Sumbaga pun telah berloncatan pula. Orang yang pertama kali mendekati Sungkana, tiba-tiba telah terdorong surut. Sungkana bergerak dengan cepat sekali. Kakinya tiba-tiba sudah menghantam seorang dari ketiga lawannya.</p>
<p>Pertempuran segera meningkat. Orang-orang yang akan menangkap Sungkana dan Sumbaga itu pun segera meningkatkan ilmu mereka. Mereka tidak mau bertempur berkepanjangan. Mereka ingin dengan cepat menyelesaikannya. Membawa kedua orang itu menghadap pemimpin mereka, atau jika mereka mengalami kesulitan, maka mereka tidak akan dianggap bersalah jika mereka membunuh saja kedua orang itu.</p>
<p>Tetapi Sungkana dan Sumbaga itu sangat cekatan. Keduanya berloncatan dengan kecepatan yang tinggi, sehingga lawan-lawannya harus segera meningkatkan ilmu mereka pula.</p>
<p>Demikianlah, pertempuran itu pun menjadi semakin sengit. Meskipun Sungkana dan Sumbaga harus menghadapi lima orang sekaligus, tetapi keduanya tidak segera dapat dikuasai oleh lawan-lawannya. Jika lawan-lawannya mencoba untuk mengepungnya, maka tiba-tiba Sungkana dan Sumbaga sudah berada di luar kepungan. Sementara itu jika Sumbaga harus bertempur melawan dua orang lawan, maka kedua orang lawannya itu harus mengerahkan kemampuan mereka untuk bertahan dari serangan-serangan Sumbaga yang cepat. Sedangkan Sungkana mampu berloncatan seperti burung sikatan memburu belalang. Bahkan kadang-kadang ketiga orang lawannya itu menjadi bingung, karena seakan-akan Sungkana itu tiba-tiba saja bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi.</p>
<p>Ketiga orang lawan Sungkana itu ternyata menjadi sangat kesulitan untuk menembus pertahanan Sungkana. Meskipun mereka menyerang dari arah yang berbeda-beda, tetapi Sungkana tetap saja sulit untuk disentuh. Selain pertahanannya yang kokoh dan rapat, maka dengan tangkasnya ia dapat menghindari serangan-serangan lawannya. Bahkan serangan-serangan Sungkana sendiri kemudian datang bagaikan prahara yang menerjang ketiga orang lawannya itu.</p>
<p>Sedangkan kedua orang yang melawan Sumbaga pun mulai mengalami kesulitan pula. Bergantian mereka terlempar dari arena. Bahkan ketika seorang yang terpelanting mulai bangkit berdiri, maka kawannya yang seorang lagi justru telah terlempar dan menimpanya, sehingga kedua-duanya pun kemudian telah jatuh terlentang saling menindih.</p>
<p>Dengan cepat keduanya berusaha untuk bangkit berdiri, sementara Sumbaga tidak memburu mereka. Bahkan seakan-akan Sumbaga sengaja memberi waktu kepada mereka berdua untuk membenahi diri.</p>
<p>Demikian keduanya berdiri, maka keduanya pun menggeram. Keduanya menjadi semakin marah. Mereka beranggapan bahwa lawannya telah dengan sengaja mempermainkan mereka.</p>
<p>“Marilah,” berkata Sumbaga, “kalian atau kami yang akan dapat memaksakan kehendak dengan kekerasan.”</p>
<p>“Gila!” geram salah seorang lawannya, “Aku akan membantaimu dan membiarkan tubuhmu dikoyak-koyak oleh anjing liar.”</p>
<p>“Kau tidak usah mengancam. Kita sudah terlibat dalam pertempuran. Tetapi jika kau menyerah, maka aku pun tidak akan memaksakan pertempuran ini berlangsung lebih lama lagi.”</p>
<p>“Kami tidak akan menyerah. Tetapi kami akan membunuhmu.”</p>
<p>“Bagus,” geram Sumbaga, “kau telah menggelitik perasaanku. Jangan menyesal jika akulah yang akan membantai kalian berdua.”</p>
<p>Namun Sumbaga tidak sempat meneruskan kata-katanya. Seorang dari kedua lawannya telah meloncat menyerangnya. Kakinya terjurus lurus mengarah ke dadanya.</p>
<p>Tetapi Sumbaga pun sangat tangkas. Dengan cepat ia mengelak. Bahkan tangannya pun terayun dengan cepatnya, sehingga dengan jari-jarinya yang merapat, Sumbaga telah menyerang ulu hati lawannya itu.</p>
<p>Lawannya mengaduh tertahan sambil meloncat surut. Tetapi Sumbaga tidak dapat memburunya, karena lawannya yang seorang lagi telah menyerangnya pula.</p>
<p>Pertempuran pun segera berlangsung pula dengan sengitnya. Tetapi kedua orang lawan Sumbaga itu seakan-akan telah kehilangan kesempatan untuk melawan. Serangan-serangan Sumbaga menjadi semakin sering mengenai keduanya berganti-ganti.</p>
<p>Dalam pada itu, lawan Sungkana pun telah menjadi semakin terdesak pula. Seorang di antaranya menjadi sangat kesakitan ketika kaki Sungkana mengenai dadanya, sehingga tubuhnya terdorong dan membentur sebatang pohon. Sedangkan kedua orang kawannya yang lain pun rasa-rasanya sangat sulit untuk dapat mengatasi keadaan.</p>
<p>Karena itu maka tiba-tiba saja telah terdengar isyarat dari orang yang bertubuh kekar, yang agaknya menjadi pemimpin mereka.</p>
<p>Isyarat itu tidak perlu diulangi. Dengan cepat orang-orang itu pun segera berlari meninggalkan arena pertempuran. Mereka berlari berpencaran dengan arah yang berbeda-beda.</p>
<p>Sungkana dan Sumbaga tidak mengejar mereka. Setelah sedikit membenahi pakaian mereka, keduanya pun segera meninggalkan tempat itu.</p>
<p>“Ternyata tempat ini selalu diawasi, Kakang,” berkata Sumbaga.</p>
<p>“Ya. Hampir saja kita terjebak. Untunglah bahwa mereka bukan orang-orang yang mrantasi, sehingga kita masih dapat melepaskan diri dari tangan mereka. Jika kita jatuh ke tangan pemimpin mereka, maka kita akan mengalami kesulitan. Kita akan diperas sampai darah kita kering. Jika kita tidak mampu mengatasi tekanan mereka dan sedikit saja berbicara tentang tugas kita, maka Glagah Putih, Rara Wulan dan Kakang Madyasta akan dapat menjadi endog pangamun-amun. Mereka tentu akan berusaha untuk mengambil mereka bertiga. Bahkan tidak mustahil bahwa orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu akan menangani mereka langsung. Sedangkan orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu adalah orang yang ilmunya sangat tinggi.”</p>
<p>“Tetapi menurut pendengaran kita, Glagah Putih dan Rara Wulan adalah orang-orang yang ilmunya sangat tinggi.”</p>
<p>“Bekal mereka memang banyak, tetapi mereka masih terlalu muda. Kemudaan mereka tentu juga berpengaruh terhadap pengalaman mereka. Meskipun demikian, jika Ki Patih telah menunjuk mereka, maka Ki Patih pun tentu mempercayai mereka. Kita tahu bahwa penilaian Ki Patih terhadap seseorang tidak pernah keliru.”</p>
<p>“Itulah sebabnya maka Ki Patih menunjuk aku untuk ikut pula dalam tugas ini.”</p>
<p>“Ah, macammu,” Sumbaga tertawa.</p>
<p>Demikianlah, untuk beberapa saat kemudian mereka pun saling berdiam diri. Mereka berjalan cepat menjauhi batu pipih yang nampaknya selalu mendapat pengawasan itu.</p>
<p>Beberapa saat kemudian, mereka pun telah sampai di pintu gerbang Kota. Setelah mereka yakin bahwa tidak ada orang yang mengikuti mereka, maka mereka berdua pun langsung pergi ke rumah Madyasta.</p>
<p>“Mudah-mudahan Kakang Madyasta sudah ada di rumah,” berkata Sungkana.</p>
<p>“Ya. Mudah-mudahan.”</p>
<p>Dengan cepat keduanya menyelinap jalan kecil menuju ke rumah Madyasta.</p>
<p>Sebenarnyalah bahwa Madyasta, Glagah Putih dan Rara Wulan memang baru saja pulang. Mereka baru saja mengelilingi Panaraga dan sekitarnya.</p>
<p>“Silakan duduk,” Madyasta pun mempersilahkan kedua orang yang baru saja datang itu.</p>
<p>“Kakang,” berkata Sungkana, “hampir saja kami justru terjebak ketika kami melihat petilasan itu.”</p>
<p>“Kau baru saja mendatangi petilasan itu?”</p>
<p>“Ya, Kakang. Seperti yang sudah kami katakan, kami akan mencoba menelusuri kembali jalan dari petilasan itu sampai memasuki pintu gerbang Kota. Jika saja kami menemukan sesuatu yang dapat kami pergunakan untuk mendapatkan jejak Pangeran Ranapati yang hilang itu.”</p>
<p>“Siapakah yang telah menjebak kalian?”</p>
<p>Sungkana dan Sumbaga pun kemudian menceritakan apa yang mereka jumpai dan apa yang mereka alami di sekitar batu yang pipih, yang kemudian oleh orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu dipagari.</p>
<p>Madyasta, Glagah Putih dan Rara Wulan mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Cerita itu memang sangat menarik.</p>
<p>Baru kemudian Glagah Putih itu pun bergumam, “Dengan demikian maka orang-orang yang mengawasi petilasan itu sudah mengenali Kakang Sungkana dan Kakang Sumbaga.”</p>
<p>“Ya. Mereka telah mengenali kami.”</p>
<p>“Agaknya petilasan itu memang dibuat oleh orang yang mendirikan petilasan itu untuk menjebak.”</p>
<p>Dengan kerut di dahi Sumbaga itu pun bertanya, “Menjebak siapa? Apakah mungkin orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu sengaja membidik seseorang atau sekelompok orang?”</p>
<p>“Mungkin orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu merasa bahwa dirinya akan diikuti oleh seseorang atau sekelompok orang. Karena itu maka ia sengaja membuat satu jebakan. Orang-orang yang mengikutinya itu akan kehilangan orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu. Menurut perhitungannya, orang itu tentu akan berusaha menelusurinya kembali, dimulai dari petilasannya yang terakhir menjelang pintu gerbang Kota Panaraga.”</p>
<p>Sumbaga, Sungkana dan bahkan Madyasta itu pun mengangguk-angguk. Namun Madyasta itu pun kemudian berkata, “Jika benar demikian, maka orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu tidak sendiri di Panaraga. Ia sudah mempunyai kelompok yang dapat digerakkannya setiap saat, sebagaimana orang-orang yang menunggui petilasan itu.”</p>
<p>“Ya. Karena itu maka sebaiknya kita pun membatasi hubungan kita. Maksudku, kami bertiga tidak akan terlalu sering berhubungan dengan Ki Sungkana dan Ki Sumbaga, sehingga para pengikut orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu tidak menghubungkan kami dengan Ki Sungkana dan Ki Sumbaga. Jika mereka yang mengenali Ki Sungkana dan Ki Sumbaga itu mengetahui bahwa kita saling berhubungan, maka mereka pun akan menjadi sangat berhati-hati menghadapi kami bertiga, sementara kami bertiga masih belum mengenali mereka.”</p>
<p>“Ya,” Sungkana mengangguk-angguk. “kita harus berusaha membatasi hubungan di antara kita.”</p>
<p>“Selebihnya, Ki Sungkana dan Ki Sumbaga harus menjadi lebih berhati-hati. Mungkin mereka berusaha untuk menguasai Ki Sungkana dan Ki Sumbaga, untuk memeras keterangan Ki Sungkana dan Ki Sumbaga untuk siapa Ki Sungkana dan Ki Sumbaga berdua bekerja.”</p>
<p>“Ya. Kami memang harus berhati-hati. Orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu tentu akan berusaha mencari kami berdua.”</p>
<p>“Karena itu, jika Ki Sungkana dan Ki Sumbaga akan melakukan tindakan-tindakan penting, beritahu kami. Sebaiknya kalian datang kemari pada saat-saat yang memungkinkan. Dengan demikian maka kami akan dapat mengawasi Ki Sungkana dan Ki Sumbaga. Dalam keadaan yang memaksa, maka kami akan dapat membantu Ki Sungkana dan Ki Sumbaga, meskipun akibatnya kami juga akan mereka kenali.”</p>
<p>Sungkana dan Sumbaga mengangguk-angguk.</p>
<p>“Baiklah,” berkata Sungkana, “kami akan sangat berhati-hati.”</p>
<p>“Yang penting, kita sadari bahwa kita berhadapan dengan sekelompok orang yang dipimpin oleh orang yang berilmu sangat tinggi. Bukan hanya berhadapan dengan seorang saja.”</p>
<p>“Ya. Kita berhadapan dengan sekelompok orang. Kita belum tahu, apakah sekelompok orang itu merupakan kelompok yang kuat, atau sekedar kumpulan orang-orang yang siap dikorbankan.”</p>
<p>“Tetapi orang-orang yang berusaha menangkap Ki Sungkana dan Ki Sumbaga, agaknya masih tidak terlalu sulit untuk diatasi. Tetapi kita tidak tahu siapa saja yang berada di belakang mereka. Tetapi setidaknya seorang di antara mereka kita ketahui, orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu.”</p>
<p>Sejenak mereka terdiam. Nampaknya mereka sedang hanyut oleh gejolak perasaan mereka masing-masing.</p>
<p>Namun tiba-tiba Glagah Putih berkata, “Orang-orang yang menunggui petilasan itu akan dapat menjadi jalur untuk menelusuri di mana orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu bersembunyi. Tetapi jalan menuju ke persembunyian orang itu tentu akan merupakan jalan yang sangat rumit.”</p>
<p>“Ya,” Madyasta mengangguk-angguk, “rumit dan sangat berbahaya. Mungkin kita berhasil memasuki sarang orang yang menyebut diri Pangeran Ranapati itu. Tetapi setelah itu kita tidak dapat keluar lagi.”</p>
<p>Glagah Putih menarik nafas panjang. Rara Wulanlah yang kemudian menyela, “Apakah mungkin aku dapat memasuki sarang mereka, Kakang?”</p>
<p>“Kita belum tahu, Rara Wulan. Kita masih harus mengamati keadaan. Mungkin kita membutuhkan waktu yang panjang. Kita tidak boleh tergesa-gesa. Yang kita hadapi adalah orang yang berilmu sangat tinggi.”</p>
<p>“Tetapi kita harus mencari jalan. Sementara itu, kita juga belum tahu apakah kita dapat berhubungan dengan Pangeran Jayaraga atau tidak.”</p>
<p>“Ya. Apalagi jika orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu sudah lebih dahulu berhasil berhubungan dengan Pangeran Jayaraga.”</p>
<p>Kembali mereka terdiam. Glagah Putih dan Rara Wulan yang merasa tidak menemui kesulitan untuk melacak jejak orang yang menyebut diri Pangeran Ranapati itu, karena orang itu sengaja meninggalkan jejak di sepanjang perjalanannya, akhirnya mereka sadari bahwa itu hanyalah sekedar permainan orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu. Jika saja orang itu mengetahui betapa Glagah Putih dan Rara Wulan itu kebingungan setelah mereka dengan lancar mengikuti jejaknya, ia tentu akan mentertawakannya.</p>
<p>Tetapi Glagah Putih dan Rara Wulan bukan orang yang mudah kecewa dan putus asa. Mereka berdua akan mengerahkan segenap kemampuan mereka, dan bahkan mempertaruhkan nyawanya, untuk menyelesaikan tugas yang dibebankan ke pundak mereka.</p>
<p>Karena itu maka Glagah Putih pun mulai memikirkan gagasan Rara Wulan. Apakah Rara Wulan akan dapat mencari jalan untuk memasuki lingkungan para pengikut orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu.</p>
<p>Tetapi Glagah Putih pun menyadari bahwa langkah itu tentu sangat berbahaya. Jika langkah mereka tergelincir sedikit saja, maka akibatnya tidak dapat mereka bayangkan.</p>
<p>Meskipun demikian, gagasan itu telah tersangkut di angan-angan Glagah Putih.</p>
<p>Ketika kemudian malam turun, maka Sungkana dan Sumbaga pun meninggalkan rumah Madyasta. Mereka sepakat bahwa besok malam keduanya akan datang lagi ke rumah itu.</p>
<p>“Besok sehari penuh, jangan kemana-mana,” pesan Madyasta kepada Sungkana dan Sumbaga. “Orang-orang yang tadi kau kalahkan, mungkin sekali besok akan mencarimu.”</p>
<p>“Ya. Mungkin mereka akan mencari kami dengan kekuatan yang berlipat.”</p>
<p>Demikianlah, keduanya pun dengan hati-hati keluar dari regol halaman. Baru ketika mereka yakin tidak ada orang di jalan, mereka pun berjalan dengan cepat menjauhi regol rumah Madyasta itu.</p>
<p>Baru sepeninggal Sungkana dan Sumbaga, Glagah Putih bertanya kepada Madyasta, “Bagaimana pendapat Ki Lurah, jika kita coba mengetrapkan gagasan Rara Wulan?”</p>
<p>“Kau masih saja memanggil Ki Lurah. Kau akan dapat lupa, di tempat lain, di hadapan orang banyak, kau juga memanggil Ki Lurah. Panggilan itu akan dapat mengundang perhatian.”</p>
<p>“Maaf,” Glagah Putih tersenyum, “jika tidak ada orang lain, rasa-rasanya sepantasnya aku memanggil Ki Lurah.”</p>
<p>“Jangan. Biasakan memanggil namaku, Madyasta.”</p>
<p>Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Baiklah. Aku akan mengingat-ingat.” Namun kemudian ia pun berkata, “Bagaimana pendapatmu tentang gagasan Rara Wulan?”</p>
<p>“Apakah kita akan sampai hati untuk melepaskannya?”</p>
<p>“Rara Wulan pernah melakukannya. Ia pernah mengumpankan dirinya untuk mengungkap satu kejahatan.”</p>
<p>“Dan Rara Wulan berhasil?”</p>
<p>“Ya. Waktu itu ia berhasil.” Glagah Putih pun berpaling kepada Rara Wulan, “Tetapi harus kita sadari bahwa yang kita hadapi sekarang berbeda dengan yang kita hadapi pada waktu itu.”</p>
<p>“Ya, Kakang,” sahut Rara Wulan. “Dengan demikian maka persiapan kit apun harus lebih baik. Tentu saja aku tidak mau menjadi korban sia-sia. Jika aku harus menjadi tumbal dari tugas ini, maka seharusnya bahwa pengorbanan itu memberikan arti.”</p>
<p>“Tentu kami tidak akan mengorbankan kau, Rara Wulan,” sahut Glagah Putih, “kita akan bersama-sama menanggungnya.”</p>
<p>“Tentu setidak-tidaknya salah seorang dari kita harus tetap dapat melanjutkan perjuangan ini sampai tuntas.”</p>
<p>“Sebaiknya kita mencari jalan lain,” berkata Madyasta.</p>
<p>Tetapi Rara Wulan menyahut, “Sebaiknya kita mencobanya. Aku akan berada di tempat terbuka bersama Sungkana dan Sumbaga. Jika benar ada orang yang memburu Sungkana dan Sumbaga, maka mereka pun akan menemukan aku. Biarlah Sungkana dan Sumbaga berusaha melepaskan diri mereka, sementara itu orang-orang yang lain akan berusaha menangkap aku dan membawaku ke sarang mereka. Namun Kakang Glagah Putih dan Madyasta yang belum dikenal itu akan dapat mengikuti aku sampai ke sarang mereka.”</p>
<p>“Mengerikan,” desis Madyasta.</p>
<p>“Jika terpaksa kalian tidak dapat mengikuti aku, maka biarlah aku yang berusaha melepaskan diri dengan caraku. Bukankah aku juga mempunyai kemampuan untuk melindungi diriku sendiri? Jika rencana satu dan rencana dua ini gagal, kita akan melakukan berdasarkan keadaan yang kita hadapi saat itu. Jika itu pun gagal, apa boleh buat.”</p>
<p>“Aku tidak dapat membayangkan bencana yang dapat melibatmu, Nyi.”</p>
<p>“Setiap perjuangan memerlukan keberanian untuk mengambil sikap. Aku dan Kakang Glagah Putih telah melatih pendengaran kami dengan mendengarkan Aji Pameling. Meskipun masih belum begitu jernih, tetapi kami sudah mulai dapat menguasai Aji Pameling itu, sehingga kami akan dapat selalu berhubungan meskipun kami berada di jarak yang mungkin agak jauh.”</p>
<p>“Bukankah Aji Pameling hanya dapat dipergunakan untuk memanggil, serta pesan-pesan khusus, sehingga Aji Pameling tidak dapat dipergunakan untuk berbincang-bincang seperti kita sekarang ini?”</p>
<p>“Ya. Tetapi setidak-tidaknya kami saling dapat memberikan isyarat di mana kami berada.”</p>
<p>Madyasta menarik nafas panjang. Kedua orang suami istri yang masih sangat muda itu ternyata memiliki sebangsal ilmu yang sulit untuk dipelajari. Tetapi ternyata mereka sudah dapat menguasainya.</p>
<p>Karena itu maka akhirnya Madyasta menyerahkan segala sesuatunya kepada suami istri itu sendiri.</p>
<p>“Kami akan patuh kepada segala perintah kalian berdua,” berkata Madyasta kemudian.</p>
<p>Glagah Putih pun menarik nafas panjang. Katanya kemudian, “Baiklah, kami masih akan mempertimbangkan dalam satu dua hari ini. Baru kami akan mengambil keputusan. Kami sadari bahwa kemungkinan yang sangat buruk dapat terjadi.”</p>
<p>Namun Glagah Putih dan Rara Wulan sudah siap untuk menghadapi kemungkinan yang sangat buruk itu jika harus terjadi.</p>
<p>Di hari berikutnya, Glagah Putih dan Rara Wulan masih saja berjalan-jalan berkeliling Panaraga dan sekitarnya. Mereka berusaha benar-benar memahami lingkungan tugas mereka. Lorong-lorong kecil pun telah mereka lihat dan mereka ingat baik-baik.</p>
<p>Seperti yang sudah dipesankan, maka di hari berikutnya Sungkana dan Sumbaga sama sekali tidak keluar dari rumah. Mereka berusaha menghindari pengamatan orang-orang yang berusaha menjebaknya di dekat petilasan itu namun tidak berhasil. Bahkan Sungkana dan Sumbaga dapat memberikan ancar-ancar ujud orang-orang itu kepada Madyasta, Glagah Putih dan Rara Wulan.</p>
<p>Ketika mereka bertiga berada di alun-alun, maka mereka pun duduk di bawah sebatang pohon besar yang rimbun. Ketika tiga orang lewat tidak jauh dari tempat mereka duduk, maka Glagah Putih telah menggamit Rara Wulan dan Madyasta sambil berdesis, “Kalian lihat orang-orang itu?”</p>
<p>Rara Wulan mengangguk-angguk kecil sambil menyahut, “Maksud Kakang, orang-orang itu adalah orang-orang yang berusaha menangkap Sungkana dan Sumbaga?”</p>
<p>“Ya,” jawab Glagah Putih.</p>
<p>“Yang mana?” bertanya Madyasta.</p>
<p>Glagah Putih tidak menjawab. Tetapi ketika Madyasta mengikuti arah pandang Glagah Putih, maka ia pun segera mengetahui orang-orang yang dimaksud.</p>
<p>“Ya. Agaknya mereka adalah tiga orang di antara kelima orang itu,” desis Madyasta.</p>
</div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Buku 395 (Seri IV Jilid 95)]]></title><description><![CDATA[Buku 395 (Seri IV Jilid 95)]]></description><link>https://literanesia.com/buku-395-seri-iv-jilid-95/</link><guid isPermaLink="false">6a456317815b0b0001ea8f93</guid><category><![CDATA[ABDM]]></category><dc:creator><![CDATA[Literanesia]]></dc:creator><pubDate>Wed, 01 Jul 2026 18:59:48 GMT</pubDate><media:content url="https://literanesia.com/content/images/2026/07/ADBM-1.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<div class="kg-card-markdown"><img src="https://literanesia.com/content/images/2026/07/ADBM-1.jpg" alt="Buku 395 (Seri IV Jilid 95)"><p>Tetapi mereka pun terdiam. Beberapa langkah di belakang mereka, ketiga orang itu pun melihat tiga orang lagi yang berjalan searah dengan ketiga orang sebelumnya.</p>
<p>“Yang itu juga,” desis Rara Wulan.</p>
<p>Glagah Putih mengangguk. Katanya, “Ya. Lima orang, dan bahkan ditambah dengan seorang lagi. Tentu orang itu seorang yang dipercaya untuk dapat mengalahkan kedua orang yang luput dari tangan kelima orang itu.”</p>
<p>“Yang mana?”</p>
<p>“Yang ciri-cirinya tidak disebut oleh Sungkana dan Sumbaga adalah orang yang bertubuh agak pendek, dan membiarkan rambutnya tergerai di bawah ikat kepalanya.”</p>
<p>“Orang itu tentu orang yang berilmu tinggi,” desis Rara Wulan.</p>
<p>“Ya, menilik sikapnya. Ia bersenjata golok yang besar, tetapi agak pendek.”</p>
<p>“Sepasang.”</p>
<p>“Ya. Ia membawa sepasang golok.”</p>
<p>“Kita hampir pasti bahwa orang-orang itulah yang mencari Sungkana dan Sumbaga.”</p>
<p>“Untunglah bahwa Sungkana dan Sumbaga tidak keluar rumah. Jika mereka berada di sini sekarang, orang-orang itu tentu berusaha untuk membantainya.”</p>
<p>Madyasta menarik nafas panjang. Ternyata orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu bukan seorang Pangeran yang sedang lelana seorang diri. Tetapi ia mempunyai gerombolan yang berbahaya di Panaraga.</p>
<p>“Jika orang-orang Panaraga pada suatu saat mengerti apa yang dilakukan oleh orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu, maka mereka akan dapat berprasangka buruk terhadap orang Mataram yang berada di Panaraga.”</p>
<p>“Tetapi kita belum menemukan kenyataan apapun yang dapat kita pergunakan untuk menuduh, bahwa orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu telah melakukan sesuatu yang melanggar tatanan dan paugeran. Bahkan kita belum tahu, dimana orang itu tinggal dan apa yang dilakukannya.”</p>
<p>“Ya.”</p>
<p>“Siapa tahu, yang dilakukan oleh orang yang menyebut dirinya Pangeraan Ranapati itu justru memberikan arti kepada orang-orang yang tinggal di sekitarnya.”</p>
<p>“Ya.”</p>
<p>Ketiga orang itu pun terdiam sejenak. Mereka memperhatikan ketiga orang, dan kemudian tiga orang lagi yang berjalan di belakangnya, mengelilingi alun-alun itu. Tetapi agaknya mereka tidak menemukan orang yang mereka cari.</p>
<p>“Mereka tentu mencari dimana-mana.” desis Glagah Putih.</p>
<p>“Bahkan mungkin mereka akan masuk keluar lorong-lorong sempit di padukuhan-padukuhan.”</p>
<p>“Tetapi Sungkana dan Sumbaga menyadari bahaya yang mengancam mereka, sehingga agaknya mereka benar-benar tidak keluar dari rumahnya.”</p>
<p>Glagah Putih mengangguk-angguk.</p>
<p>Namun beberapa saat kemudian, mereka bertiga pun segera bangkit dan meninggalkan alun-alun itu.</p>
<p>Orang-orang yang lewat di alun-alun itu merupakan gambaran kekuatan yang ada di belakang orang yang mengaku bernama Pangeran Ranapati itu.</p>
<p>Karena itu, Glagah Putih dan Rara Wulan harus mempertimbangkannya sebaik-baiknya.</p>
<p>Ketika malam turun, maka Glagah Putih, Rara Wulan dan Madyasta kembali membicarakan rencana Rara Wulan untuk memasuki lingkungan orang-orang yang telah berusaha menjebak Sungkana dan Sumbaga di dekat petilasan batu pipih itu.</p>
<p>“Sudahlah,” berkata Madyasta, “kita mencari kesempatan yang lain, yang bahayanya tidak sebesar rencana ini.”</p>
<p>“Mungkin kita tidak akan mendapat kesempatan lagi,” sahut Glagah Putih.</p>
<p>Madyasta menarik nafas panjang.</p>
<p>Ternyata bahwa Rara Wulan tidak melangkah surut dari gagasannya. Ia akan berjalan-jalan di alun-alun, atau di jalan-jalan utama yang lain di Panaraga, bersama Sungkana dan Sumbaga. Jika mereka bertemu dengan keenam orang yang lewat di alun-alun, maka Sungkana dan Sumbaga akan melawan. Tetapi mereka tidak mampu mengalahkan lawan-lawannya dan melarikan diri. Dengan demikian maka Rara Wulan akan mereka tangkap dan mereka bawa ke sarang mereka. Adalah tugas Glagah Putih dan Madyasta untuk mengikuti jejaknya. Sementara itu Rara Wulan akan berusaha untuk meninggalkan jejak di tempat-tempat tertentu untuk mempermudah pelacakan Glagah Putih dan Madyasta, selain mempergunakan Aji Pameling yang telah mereka kuasai.</p>
<p>Madyasta hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya. Demikian besarnya tekad pengabdian kedua orang petugas sandi yang dikirim langsung oleh Ki Patih Mandaraka itu.</p>
<p>“Seharusnya malam ini Sungkana dan Sumbaga datang kemari,” berkata Glagah Putih.</p>
<p>“Ya,” sahut Rara Wulan. “Kita akan mematangkan pembicaraan kita. Besok kita akan melaksanakannya.”</p>
<p>Sebenarnyalah, ketika malam menjadi semakin dalam, terdengar pintu rumah itu diketuk orang.</p>
<p>“Siapa?”</p>
<p>“Panjer Wengi,” sahut suara di luar.</p>
<p>Madyasta kemudian membuka pintu. Sungkana dan Sumbaga pun kemudian melangkah masuk dan duduk di amben yang besar itu bersama Madyasta, Glagah Putih dan Rara Wulan.</p>
<p>Kepada kedua orang petugas sandi itu, Madyasta menyampaikan gagasan Rara Wulan untuk memasuki lingkungan orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu.</p>
<p>Seperti Madyasta, maka Sungkana dan Sumbaga pun masih berusaha untuk mencegah niat itu. Namun Rara Wulan pun berkata, “Jika kita sia-siakan kesempatan ini, maka belum tentu kita akan mendapatkan kesempatan berikutnya.”</p>
<p>“Bagaimana pendapat Ki Glagah Putih?” bertanya Sungkana.</p>
<p>“Apa boleh buat. Kita akan mencobanya. Tetapi tentu saja bahwa kita akan bersiap untuk melakukan apa saja dan dengan taruhan apa saja.”</p>
<p>“Baiklah, jika itu yang telah Ki Glagah Putih dan Nyi Rara Wulan putuskan.”</p>
<p>Mereka pun kemudian telah membicarakan kapan mereka akan melaksanakan rencana mereka.</p>
<p>“Besok pagi.” berkata Rara Wulan.</p>
<p>“Jangan besok,” sahut Sumbaga. “Sebaiknya kita mengatur jantung kita lebih dahulu.”</p>
<p>“Jadi?”</p>
<p>“Besok lusa. Besok sehari aku akan menenangkan perasaanku, yang tentu sangat tegang menghadapi rencana yang sangat mendebarkan ini.”</p>
<p>“Baiklah. Besok lusa kita akan melaksanakan rencana ini.”</p>
<p>Demikianlah, sampai tengah malam Sungkana dan Sumbaga masih berada di rumah Madyasta. Mereka masih mematangkan rencana mereka yang penuh dengan bahaya itu.</p>
<p>Baru kemudian, sedikit lewat tengah malam, Sungkana dan Sumbaga minta diri meninggalkan rumah Madyasta itu.</p>
<p>Di keesokan harinya, Rara Wulan tidak ikut dengan Madyasta dan Glagah Putih yang keluar untuk semakin menguasai medan. Apalagi jika Rara Wulan akan dibawa oleh para pengikut orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu.</p>
<p>Ternyata pada hari itu Glagah Putih dan Madyasta telah bertemu dengan keenam orang yang kemarin dilihatnya di alun-alun. Mereka berjalan di jalan utama sambil memandangi setiap orang lewat. Seperti kemarin, mereka berjalan bersama-sama tiga orang dalam satu kelompok, dengan jarak beberapa langkah saja.</p>
<p>“Mereka benar-benar mendendam kepada Sungkana dan Sumbaga,” berkata Madyasta.</p>
<p>“Ya. Tetapi kita tidak perlu mengikuti mereka. Sampai sekarang mereka sama sekali tidak memperhatikan kita. Tetapi jika kita mengikuti mereka, maka perhatian mereka akan mulai tertarik kepada kita.”</p>
<p>Madyasta mengangguk-angguk. Keduanya pun kemudian berjalan ke arah yang berbeda dengan keenam orang itu. Namun mereka tahu bahwa keenam orang itu masih saja berkeliaran untuk menemukan Sungkana dan Sumbaga.</p>
<p>“Kita memang tidak dapat menunda-nunda lagi. Jika dalam dua tiga hari ini mereka tidak menemukan Sungkana dan Sumbaga di sini, mungkin mereka akan mencarinya di tempat lain. Dengan demikian maka kesempatan bagi Rara Wulan untuk memasuki lingkungan mereka akan menjadi semakin kecil,” berkata Glagah Putih.</p>
<p>Madyasta mengangguk-angguk. Katanya, “Jika rencana itu sudah matang di hati Ki Glagah Putih, maka kami tinggal membantu pelaksanaannya saja.”</p>
<p>Rencana itu memang sudah matang bagi Glagah Putih dan Rara Wulan. Mereka benar-benar sudah siap untuk melaksanakannya. Rara Wulan telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghadapi kemungkinan yang paling buruk sekalipun.</p>
<p>Di hari berikutnya, mereka memang tidak melakukan apa-apa. Hanya Madyasta saja yang keluar untuk melihat, apakah orang-orang yang berkeliaran mencari Sungkana dan Sumbaga itu masih menyusuri jalan-jalan di Panaraga.</p>
<p>Namun agaknya mereka sudah mulai jemu. Madyasta yang hanya berjalan sendirian itu melihat tiga di antara mereka justru duduk di bawah sebatang pohon gayam di pinggir jalan, membeli dawet cendol. Namun tiga orang yang lain justru duduk di tempat yang agak jauh.</p>
<p>“Glagah Putih dan Rara Wulan benar,” berkata Madyasta di dalam hatinya, “jika kami menunda-nunda lagi, orang-orang itu sudah menghentikan kegiatan mereka disini. Mungkin mereka akan berpindah tempat untuk menemukan Sungkana dan Sumbaga.”</p>
<p>Ketika hal itu disampaikan kepada Glagah Putih, maka Glagah Putih pun memutuskan bahwa besok mereka akan melakukan rencana mereka tanpa ditunda lagi.</p>
<p>Sebenarnyalah di hari berikutnya, Sungkana dan Sumbaga sudah siap untuk pergi keluar bersama dengan Rara Wulan.</p>
<p>“Namamu tentu bukan Rara Wulan, Nyi,” berkata Sungkana.</p>
<p>“Panggil aku Ranti.”</p>
<p>“Baik, Nyi Ranti.”</p>
<p>“Aku harap bahwa keenam orang itu masih berkeliaran di jalan-jalan utama di kota ini.”</p>
<p>Demikianlah, mereka bertiga pun telah meninggalkan rumah Madyasta. Sementara itu, beberapa puluh langkah di belakangnya, Glagah Putih dan Madyasta mengikuti mereka dengan sangat hati-hati.</p>
<p>Sungkana, Sumbaga dan Ranti itu pun berjalan bertiga menuju ke pasar. Mereka berharap bahwa orang-orang yang pernah menjebak mereka di petilasan itu mencari mereka di pasar pula.</p>
<p>Tetapi ternyata mereka tidak bertemu dengan keenam orang yang sudah beberapa hari berkeliaran itu. Perlahan-lahan Rara Wulan pun berdesis, “Jangan-jangan mereka sudah tidak mencari kalian di lingkungan ini.”</p>
<p>Keduanya tidak menjawab. Ada semacam pertentangan di hati mereka. Di satu sisi mereka mengharap agar mereka bertemu dengan keenam orang itu, namun di sisi lain mereka justru berharap agar orang-orang itu sudah meninggalkan Panaraga. Mereka tidak memikirkan diri mereka sendiri, tetapi mereka berpikir tentang Rara Wulan, yang berniat memasuki sarang ular-ular berbisa.</p>
<p>Tetapi Rara Wulan sendiri justru menjadi cemas bahwa ia tidak akan bertemu lagi dengan keenam orang itu.</p>
<p>Karena mereka tidak bertemu dengan keenam orang itu di pasar, maka Sungkana dan Sumbaga pun telah mengajak Rara Wulan untuk berjalan menyusuri jalan utama. Mereka pun kemudian berhenti tidak jauh dari penjual dawet cendol. Tiga di antara keenam orang itu kemarin telah berhenti dan membeli dawet cendol di tempat itu.</p>
<p>Jantung Sungkana serasa berdenyut semakin cepat ketika ia melihat tiga orang yang telah dikenalnya itu berjalan ke arahnya. Sedangkan tiga orang yang lain berjalan beberapa langkah di belakang mereka.</p>
<p>“Itulah mereka,” desis Sungkana.</p>
<p>Sumbaga menarik nafas panjang. Katanya, “Hati-hatilah, Nyi. Ini bukan satu permainan yang sederhana. Tetapi satu permainan yang sangat berbahaya.”</p>
<p>“Aku sadari, Ki Sumbaga. Tetapi aku sudah siap.”</p>
<p>Ketiga orang yang berada di depan itu semula tidak memperhatikan Sungkana dan Sumbaga yang duduk di pinggir jalan, tidak jauh dari. penjual dawet cendol itu. Tetapi Sungkana ternyata dengan sengaja bangkit berdiri untuk menarik perhatian.</p>
<p>Namun yang memperhatikannya lebih dahulu adalah justru tiga orang yang berjalan di belakang.</p>
<p>“Mereka benar-benar orang yang telah menjebak aku dan Sumbaga,” desis Sungkana.</p>
<p>Rara Wulan pun mengangguk kecil.</p>
<p>Tiba-tiba saja salah seorang diantara ketiga orang yang berjalan di belakang itu berteriak, “He, inilah orangnya!”</p>
<p>Ketiga orang yang berjalan di depan itu pun berhenti. Mereka pun segera berbalik.</p>
<p>Sungkana dan Sumbaga dengan serta merta menarik tangan Rara Wulan untuk dibawa lari. Tetapi mereka tidak sempat melakukannya. Keenam orang itu dengan cepat telah mengepung mereka, tanpa menghiraukan orang lain yang berada di jalan itu.</p>
<p>“Akhirnya kami menemukan kalian berdua,” berkata orang bertubuh kekar yang tidak berhasil menangkap kedua orang itu.</p>
<p>“Kalian mau apa? Kalian telah gagal menangkap kami berdua. Jika sekarang kalian akan mencoba lagi, maka kalian pun akan gagal pula.”</p>
<p>“Hitung. Kami sekarang tidak hanya berlima, tetapi berenam. Karena itu, kau tidak akan luput lagi dari tangan kami.”</p>
<p>“Apa bedanya kalian berlima dan berenam?”</p>
<p>“Sombongnya orang ini,” geram orang yang justru agak pendek. “Kau tentu belum pernah mengenal aku, karena aku tidak ikut bermain-main waktu itu.”</p>
<p>“Ya. Dari keenam orang ini, kau adalah orang baru. Orang yang tidak ikut menjebak kami di batu pipih itu.”</p>
<p>Orang yang bertubuh agak pendek itu melangkah semakin dekat sambil berkata, ”Rasa-rasanya untuk menangkap kalian berdua, aku tidak memerlukan kawan-kawanku yang lain. Aku sendiri akan menangkap kalian berdua. Biarlah kawan-kawanku menangkap perempuan itu. Mungkin junjunganku akan membutuhkannya.”</p>
<p>“Junjunganmu? Siapa?”</p>
<p>Orang itu tertawa. Katanya, “Nampaknya kau adalah orang yang selalu ingin tahu. Tetapi sayang bahwa kau tidak akan pernah dapat mengetahuinya, karena junjunganku tentu tidak akan merendahkan dirinya menemuimu. Kau telah diserahkannya kepadaku. Dan akulah yang akan mengurusmu, sehingga kau akan menjawab semua pertanyaanku.”</p>
<p>Sumbaga pun tertawa pula. Katanya, “Kawan-kawanmu berlima tidak dapat menangkap aku. Mana mungkin kau sendiri akan menangkap kami? Kau kira kami sebangsa kecoak, yang tidak mampu melawan jika kau menginjakkan kakimu?”</p>
<p>“Bagus. Kau memang harus melawan. Aku akan merasa sangat kecewa jika dengan sangat mudah aku dapat menangkap kalian berdua.”</p>
<p>Sungkana dan Sumbaga pun segera bersiap. Mereka berdiri di sebelah-menyebelah Ranti untuk melindunginya.</p>
<p>Keenam orang yang akan menangkap Sungkana dan Sumbaga itu sama sekali tidak peduli terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya. Terhadap orang-orang yang kemudian merubungnya meskipun dari jarak yang agak jauh.</p>
<p>Tetapi tidak seorang pun yang berani berbuat sesuatu. Wajah keenam orang itu nampak terlalu seram.</p>
<p>Namun orang yang bertubuh agak pendek itu pun berkata kepada kelima orang kawannya, ”Tangkap saja perempuan itu. Jangan hiraukan kedua cecurut yang mungkin berusaha untuk melindunginya.”</p>
<p>Kawan-kawannya tidak menjawab. Namun orang bertubuh agak pendek itu pun segera menyerang Sumbaga yang berdiri di sebelah Ranti.</p>
<p>Sumbaga pun dengan tangkasnya mengelak. Tetapi dengan demikian ia telah bergeser dan membuat jarak dengan Ranti.</p>
<p>Pada saat itu, kawan-kawan orang bertubuh agak pendek itu pun berusaha menangkap Ranti.</p>
<p>Tetapi Sungkana tidak membiarkannya. Ia pun segera meloncat menyerang orang-orang yang berusaha menangkap Ranti itu.</p>
<p>Pertempuran pun segera terjadi dengan sengitnya. Sumbaga bertempur melawan orang yang bertubuh agak pendek itu, sementara Sungkana harus bertempur melawan kelima orang yang lain.</p>
<p>Ternyata orang yang bertubuh pendek itu tidak segera dapat mengalahkan Sumbaga. Bahkan Sumbaga justru mulai mendesak lawannya.</p>
<p>Namun Sungkana yang harus bertempur melawan lima orang itu pun telah terdesak.</p>
<p>Orang bertubuh pendek itu mengumpat di dalam hati. Ternyata ia tidak dapat mengalahkan lawannya. Jangankan menangkap kedua orang itu, melawan seorang di antara mereka pun ia mengalami kesulitan.</p>
<p>Sementara itu Ranti berusaha untuk menjauhi pertempuran itu. Bahkan ia telah bersiap-siap untuk melarikan diri. Namun dua orang di antara kelima orang yang bertempur melawan Sungkana itu pun segera menangkapnya dan menyeretnya, sehingga Ranti itu mereka kuasai pula.</p>
<p>Sungkana yang kehilangan dua orang lawannya, sebenarnya akan dapat mengalahkan ketiga orang yang bertempur melawannya itu. Demikian pula Sumbaga, akan mampu mengalahkan orang yang bertubuh agak pendek itu.</p>
<p>Tetapi menurut kesepakatan, mereka harus melarikan diri dan membiarkan Rara Wulan dibawa oleh keenam orang itu.</p>
<p>Karena itu maka sejenak kemudian, Sungkana pun telah memberikan isyarat kepada Sumbaga agar meninggalkan pertempuran itu.</p>
<p>Tetapi Sumbaga tidak ingin melarikan diri tanpa meninggalkan kesan apapun. Pada saat terakhir, ketiga jari-jarinya yang merapat sempat mengetuk dada orang bertubuh pendek itu, sehingga nafasnya menjadi sesak.</p>
<p>Pada saat itulah orang bertubuh agak pendek itu telah mencabut sepasang goloknya yang besar tetapi agak pendek itu.</p>
<p>Namun lawannya, Sumbaga, telah meloncat melarikan diri.</p>
<p>Pada saat yang bersamaan, Sungkana pun telah melarikan diri pula. Tetapi ia sempat menyakiti salah seorang lawannya, sehingga untuk beberapa saat orang itu berguling-guling di jalan.</p>
<p>Ternyata ibu jari Sungkana berhasil menyusup pertahanan orang itu dan tepat mengenai bagian bawah lehernya, sehingga orang itu terasa bagaikan tercekik untuk beberapa saat. Tetapi orang itu tidak mati. Lambat laun, ia berhasil mengatasi kesulitan pernafasannya.</p>
<p>Orang yang bertubuh agak pendek, yang menyatakan dirinya mampu menangkap kedua orang itu, memang berusaha mengejarnya. Demikian pula kedua orang kawannya. Tetapi Sungkana dan Sumbaga itu pun berlari terlalu cepat, sehingga keduanya berhasil menyusup di antara orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu dari jarak yang agak jauh.</p>
<p>“Iblis laknat!” geram orang bertubuh pendek itu. “Mereka ternyata pengecut.”</p>
<p>“Tetapi perempuan itu ada di tangan kita.”</p>
<p>Orang bertubuh agak pendek itu mengangguk-angguk sambil berdesis, ”Ya. Perempuan itu ada di tangan kita.”</p>
<p>Sementara itu, Ranti masih saja meronta-ronta dan berusaha untuk melepaskan diri.</p>
<p>Seorang dari kedua orang yang memeganginya itu pun membentak, “Jangan meronta-ronta! Jika kau masih saja meronta-ronta, maka aku akan mempermalukan kau disini. Di sini banyak orang yang sedang merubungi kita.”</p>
<p>“Tetapi jangan pegangi aku seperti kalian sedang menangkap seorang pencuri.”</p>
<p>“Kalau kau berjanji untuk tidak berbuat macam-macam, maka kami akan melepaskanmu.”</p>
<p>“Macam-macam apa yang kau maksud?”</p>
<p>“Misalnya melarikan diri.”</p>
<p>“Tidak. Aku tidak akan melarikan diri.”</p>
<p>Tetapi orang yang bertubuh agak pendek itu menyahut, “Biar saja jika ia akan mencoba melarikan diri. Tetapi jika ia tertangkap, maka seperti yang dikatakan kawanku itu, ia akan dipermalukan di sini.”</p>
<p>Perlahan-lahan kedua orang yang memegangi Ranti itu pun melepaskannya. Sementara itu, orang-orang yang lain pun mengawasinya dengan sungguh-sungguh.</p>
<p>Tetapi Ranti memang tidak akan melarikan diri. Seandainya ia mencoba, maka enam orang itu serentak akan menerkamnya. Agaknya mereka tidak sekedar mengancam bahwa mereka akan mempermalukannya, jika ia benar-benar berusaha melarikan diri.</p>
<p>“Kau harus ikut bersama kami,” berkata orang yang bertubuh agak pendek. “Kau akan kami bawa menghadap kepada junjungan kami. Mungkin ia membutuhkanmu. Tetapi jika junjungan kami itu tidak membutuhkanmu, maka akulah yang membutuhkanmu.”</p>
<p>Ranti terdiam. Tetapi bagaimanapun juga, terasa kulitnya meremang.</p>
<p>Namun orang yang tubuhnya agak pendek itu sama sekali tidak membuatnya gentar, ditilik dari sisi ilmu kanuragan. Tetapi sebagai seorang perempuan, rasa-rasanya Ranti pun menjadi ngeri pula mendengar kata-kata orang itu.</p>
<p>“Marilah, kita tinggalkan tempat ini,” berkata orang yang bertubuh pendek itu selanjutnya.</p>
<p>“Aku akan kalian bawa kemana?”</p>
<p>“Kau akan tahu nanti. Sekarang berjalanlah, agar kami tidak perlu menyeretmu.”</p>
<p>Ranti pun kemudian berjalan digiring oleh keenam orang itu.</p>
<p>Sementara itu, dari jarak yang agak jauh, Glagah Putih dan Madyasta berada di antara orang-orang yang menonton peristiwa itu. Demikian Ranti bergerak digiring oleh keenam orang itu, maka Glagah Putih dan Madyasta pun ikut bergerak pula.</p>
<p>Di perjalanan, salah seorang yang menggiring Ranti itu pun bertanya, “Kenapa kau berjalan bersama kedua orang itu? Apakah hubunganmu dengan mereka?”</p>
<p>“Aku adalah adik dari salah seorang di antara mereka. Aku adalah adik dari orang yang tinggi kekurus-kurusan itu.”</p>
<p>“Yang seorang lagi?”</p>
<p>“Kawan kakakku itu. Ia ingin mengambil aku menjadi istrinya. Tetapi aku masih akan memikirkannya.”</p>
<p>“Beruntunglah kau sekarang berada di tangan kami. Jika nasibmu baik, maka kau akan dapat menjadi istri seorang Pangeran. Setidak-tidaknya seorang selir.”</p>
<p>Ranti justru berhenti. Dengan wajah yang tegang ia pun bertanya, “Pangeran? Apakah kau sedang mengigau?”</p>
<p>Orang bertubuh agak pendek itu tertawa sambil mendekatinya, “Kami tidak sedang mengigau. Tetapi kami memang mengabdi kepada seorang Pangeran, yang aku sebut sebagai junjunganku itu. Tetapi jika Pangeran itu menolakmu, setidak-tidaknya kau akan menjadi istri seorang Tumenggung.”</p>
<p>“Tumenggung siapa?”</p>
<p>“Aku adalah calon Tumenggung. Junjunganku sudah berjanji untuk mengangkat aku sebagai seorang Tumenggung. Tumenggung Jantranagara.” Tiba-tiba saja orang itu tertawa berkepanjangan.</p>
<p>Ranti terdiam. Seorang yang lain mendorongnya sambil berkata, “Berjalanlah. Kau dapat berbicara sambil berjalan.”</p>
<p>Ranti tidak menjawab. Tetapi ia melangkahkan kakinya lagi.</p>
<p>Dalam pada itu, orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu pun merasa gelisah. Tetapi tidak ada di antara mereka yang berani berbuat sesuatu. Namun seorang anak muda yang merasa sangat iba melihat Ranti dibawa oleh keenam orang itu pun berkata, “Aku akan melaporkan kepada para prajurit.”</p>
<p>“Dimana?”</p>
<p>“Yang bertugas di regol Kadipaten.”</p>
<p>“Mereka bertugas di Kadipaten, mereka tidak dapat pergi kemana-mana.”</p>
<p>“Tetapi tentu ada petunjuk, kepada siapa aku harus memberikan laporan.”</p>
<p>“Tetapi perempuan itu sudah menjadi semakin jauh.”</p>
<p>“Mungkin sekelompok prajurit berkuda dapat memburu mereka.”</p>
<p>“Siapa tahu, kemana perempuan itu dibawa pergi?”</p>
<p>“Entahlah. Tetapi aku harus melaporkannya.”</p>
<p>Anak muda itu memang pergi ke pintu gerbang Kadipaten, memberitahukan peristiwa yang baru saja terjadi.</p>
<p>“Kami bertugas di sini, anak muda. Kami tidak dapat pergi.”</p>
<p>“Jadi aku harus lapor kemana?”</p>
<p>“Pergilah ke barak di belakang Kadipaten ini. Mungkin mereka dapat membantumu.”</p>
<p>Anak muda itu pun meninggalkan gerbang Kadipaten. Tetapi ia tidak pergi ke barak. Segala sesuatunya tentu sudah terlambat. Perempuan itu tentu sudah menjadi semakin jauh.</p>
<p>Anak muda itu pun berkata di dalam hatinya, “Biarlah keluarganya saja yang melaporkan kepada para prajurit. Nanti atau besok, sama saja. Perempuan itu tentu sudah disembunyikan oleh orang-orang yang membawanya.”</p>
<p>Namun ternyata Rara Wulan tidak dibiarkan saja dibawa oleh keenam orang yang memaksanya untuk ikut bersama mereka. Ada dua orang yang dengan diam-diam berusaha mengamati kemana perempuan itu dibawa pergi.</p>
<p>Rara Wulan pun setiap ada kesempatan telah memberikan pertanda di sepanjang jalan. Sekali-sekali tangannya menarik ranting-ranting gerumbul perdu. Di kesempatan lain, Rara Wulan telah menjatuhkan tusuk kondenya tanpa diketahui oleh orang-orang yang menggiringnya.</p>
<p>Ternyata perjalanan mereka cukup jauh, sehingga Glagah Putih dan Madyasta agak mengalami kesulitan untuk mengikuti mereka tanpa diketahui oleh keenam orang itu.</p>
<p>Namun Rara Wulan pun dengan sengaja berusaha selalu mengikat perhatian orang-orang yang membawanya. Bahkan kadang-kadang Rara Wulan bersikap seakan-akan hendak melarikan diri.</p>
<p>Dengan demikian maka keenam orang itu perhatiannya sepenuhnya tertuju kepada Rara Wulan, yang mereka kenal dengan nama Ranti itu. Mereka sama sekali tidak sempat berpaling. Bahkan sekali-sekali terdengar salah seorang di antara mereka mengancam perempuan itu. Jika ia berusaha untuk melarikan diri, maka ia akan mengalami perlakuan yang sangat buruk.</p>
<p>Tetapi ternyata Rara Wulan tidak dibawa keluar dari pintu gerbang Kota. Mereka memang berjalan agak melingkar-lingkar, tetapi Glagah Putih dan Rara Wulan yang untuk beberapa hari sengaja berusaha mengenali setiap jalan, setiap lorong, setiap jalan setapak di Panaraga, dengan cepat mengetahui Rara Wulan itu akan dibawa kemana.</p>
<p>Ternyata Rara Wulan telah dibawa ke sebuah rumah yang sederhana di sudut kota. Rumah yang agak terpisah dari tetangga-tetangganya. Rumah yang sederhana itu mempunyai halaman yang luas. Bahkan di belakangnya terdapat kebun yang masih nampak rimbun sekali. Pepohonan yang padat, gerumbul-gerumbul perdu dan tanaman liar yang lain, serta rumpun bambu yang masih terhitung lebat.</p>
<p>Dengan demikian, maka rumah sederhana itu rasa-rasanya memang agak terpisah dari rumah-rumah yang lain.</p>
<p>Glagah Putih dan Madyasta yang mengikuti Rara Wulan dari jarak yang agak jauh itu, masih sempat melihat keenam orang itu telah membawa Rara Wulan memasuki regol halaman rumah itu.</p>
<p>“Mereka ada di rumah itu, Ki Glagah Putih,” desis Madyasta.</p>
<p>“Ya.”</p>
<p>“Apa yang harus kita lakukan sekarang?”</p>
<p>“Madyasta,” berkata Glagah Putih kemudian, ”kita berada di satu lingkungan yang sangat berbahaya. Bukan maksudku mengecilkan arti kemampuanmu, tetapi agaknya yang melakukan pengintaian ke dalam dinding halaman itu seorang saja.”</p>
<p>“Tetapi jika kau memerlukan bantuan?”</p>
<p>“Rara Wulan akan dapat membantuku. Jika kita berdua, maka agaknya akan lebih mungkin menarik perhatian para pengikut Pangeran Ranapati itu.”</p>
<p>Madyasta menarik nafas panjang. Tetapi ia dapat mengukur diri sendiri. Kemampuannya tentu tidak setinggi kemampuan orang yang secara khusus telah dikirim oleh Ki Patih Mandaraka. Karena itu maka ia pun berkata,”Baiklah. Segala sesuatunya terserah kepadamu. Tetapi apakah kau mempunyai kemungkinan untuk berhubungan dengan Rara Wulan?”</p>
<p>“Kami telah mempelajari dan serba sedikit menguasai Aji Pameling. Kami dapat saling memberikan isyarat tanpa diketahui orang lain.”</p>
<p>“Jika demikian, apa yang harus aku lakukan?”</p>
<p>“Pulanglah. Sampaikan kepada Sungkana dan Sumbaga, bahwa sebaiknya mereka tidak berkeliaran kemana-mana. Bahkan mungkin untuk sementara mereka tinggal bersamamu.”</p>
<p>“Baik. Aku akan menyampaikannya.”</p>
<p>“Sekarang tinggalkan aku sendiri di sini, Madyasta. Aku pun belum akan berbuat apa-apa. Aku hanya ingin tahu, apakah benar bahwa di rumah itu tinggal orang yang menyebut diri Pangeran Ranapati.”</p>
<p>Madyasta itu pun mengangguk-angguk kecil. Rasa-rasanya memang ia tidak sampai hati untuk meninggalkan Glagah Putih sendiri. Tetapi ia sadar bahwa dirinya justru akan dapat mengganggu, atau bahkan Glagah Putih harus melindunginya jika terjadi sesuatu.</p>
<p>Karena itu maka Madyasta itu pun kemudian telah meninggalkan tempat itu.</p>
<p>Sepeninggal Madyasta, maka Glagah Putih pun bergeser semakin mendekati halaman dan kebun yang terhitung luas itu. Tetapi Glagah Putih masih belum berbuat sesuatu. Ia masih saja berdiri di bawah sebatang pohon yang besar yang tumbuh di pinggir jalan.</p>
<p>Jalan di depan rumah yang berhalaman luas itu memang termasuk jalan yang tidak begitu banyak dilalui orang. Setelah beberapa saat Glagah Putih berdiri di pinggir jalan itu, ternyata masih belum ada orang yang lewat. Sedangkan regol halaman di sebelah halaman yang luas itu pun nampak tertutup. Tetapi menilik regol halamannya, maka agaknya rumah di sebelah itu agak lebih baik dari rumah yang sederhana yang dikelilingi oleh halaman dan kebun yang luas itu.</p>
<p>Tetapi halaman di sebelah itu juga kelihatan sepi.</p>
<p>Sebagai seorang yang berkemampuan tinggi, maka Glagah Putih pun akhirnya berhasil menyusup ke halaman belakang rumah sederhana, yang dipergunakan untuk menyimpan Rara Wulan.</p>
<p>Dengan Aji Pameling, Glagah Putih mulai menyentuh telinga hati Rara Wulan, untuk memberikan isyarat bahwa ia sudah berada di halaman rumah itu.</p>
<p>Rara Wulan pun telah memberikan isyarat pula, bahwa masih belum ada sesuatu yang penting yang terjadi di rumah itu. Orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu masih belum berada di situ.</p>
<p>Glagah Putih pun kemudian sempat beristirahat di bawah rumpun pisang yang lebat, sambil menunggu isyarat-isyarat dari Rara Wulan yang diberikan lewat Aji Pameling.</p>
<p>Sebenarnyalah bahwa orang yang bertubuh agak pendek itu berkata kepada Rara Wulan, “Junjunganku masih belum singgah kemari hari ini. Biasanya, meskipun hanya sebentar, junjunganku itu tentu menengok rumah ini. Kami selalu memberikan laporan tentang berbagai perkembangan yang terjadi di Panaraga. Termasuk perkembangan pemerintahan yang dilakukan oleh adik dari junjunganku itu, Pangeran Jayaraga.”</p>
<p>Ranti tidak menjawab. Ia tidak mengetahui apa pun tentang orang yang disebut junjungannya, serta pemerintahan Pangeran Jayaraga.</p>
<p>“Kau jangan menjadi gelisah,” berkata orang itu. ”Hari ini masih belum habis. Junjunganku tentu akan singgah di sini. Jika tidak hari ini karena satu sebab, besok junjunganku itu tentu akan datang. Kau akan menghadap junjunganku itu untuk menyerahkan dirimu. Kau tidak akan ingkar, perintah apa pun yang akan diberikan kepadamu.”</p>
<p>Jantung Ranti itu berdesir. Tiba-tiba perempuan itu menangis. Air matanya mengalir dari pelupuknya, menetes di pangkuannya. Dengan lengan bajunya perempuan itu mengusap matanya yang basah karena air matanya itu.</p>
<p>Orang bertubuh pendek yang melihat Ranti menangis itu berkata dengan suara yang lunak, “Jangan menangis. Pada saatnya nanti kau akan berterima kasih kepadaku, karena aku sudah mempertemukan kau dengan junjunganku itu.”</p>
<p>“Lepaskan aku, Ki Sanak,” tangis Ranti, “biarlah aku pulang kepada ibuku. Ibuku tentu sangat sedih karena aku tidak dapat pulang. Bahkan ibuku yang sudah tua itu akan dapat menjadi sakit dan akhirnya meninggal.”</p>
<p>“Apakah ibumu sudah tua?”</p>
<p>“Sudah, Ki Sanak, ibuku sudah tua.”</p>
<p>“Jika ibumu sudah tua, maka sudah semestinya ia akan meninggal.”</p>
<p>“Tetapi jangan aku yang menjadi sebabnya.”</p>
<p>“Apa pun sebabnya, sama saja. Yang akan mati, biarlah mati. Mereka adalah orang-orang dari masa yang telah lampau. Tetapi kau yang masih muda adalah penghuni bumi ini sekarang dan masa mendatang. Karena itu, jangan hiraukan yang akan mati. Tetapi tataplah hari depanmu sendiri.”</p>
<p>“Itu tidak mungkin. Sekarang adalah kelanjutan hari kemarin. Aku adalah anak ibuku. Ibuku itu adalah lantaran adaku.”</p>
<p>“Bukankah kelahiranmu itu bukan atas kehendakmu? Karena itu, jangan hiraukan lagi. Jangan pikirkan ibumu. Pikirkan tentang dirimu sendiri. Jika kau beruntung, maka kau akan diambil oleh junjunganku untuk menjadi istrinya. Pikirkan itu saja. Jangan pikirkan ibumu lagi.”</p>
<p>Ranti semakin menunduk. Tangannya semakin sibuk mengusap matanya yang masih saja basah karena tangisnya. Bahkan Ranti pun menjadi terisak.</p>
<p>Namun akhirnya Ranti itu ditinggalkan di dalam sebuah bilik yang ditutup dan diselarak dari luar. Nampaknya orang-orang yang berada di rumah itu masih menunggu kehadiran orang yang disebut junjungan mereka itu.</p>
<p>Dalam pada itu, Glagah Putih masih saja berada di kebun belakang. Setiap kali ia masih menerima isyarat dari Rara Wulan, bahwa orang yang disebut junjungan mereka itu masih belum datang.</p>
<p>Sementara itu, matahari pun menjadi semakin rendah. Bahkan kemudian senjapun mulai turun. Orang-orang yang berada di rumah itu mulai menyalakan lampu minyak. Bahkan ada di antaranya yang diletakkan di luar rumah. Agaknya lampu minyak itu dimaksudkan untuk menerangi jalan ke pakiwan.</p>
<p>Sementara itu, di regol halamanpun telah dipasang pula sebuah oncor, yang nyalanya lebih besar dari lampu minyak.</p>
<p>Ketika malam mulai turun, maka sebenarnyalah orang yang disebut junjungan mereka itu pun benar-benar telah singgah di rumah itu. Demikian Rara Wulan mendengar percakapan di luar biliknya, maka ia pun segera mengetahui bahwa yang dimaksud dengan junjunganku itu telah benar-benar ada di rumah itu.</p>
<p>Karena itu maka ia pun segera memberikan isyarat dengan Aji Pameling kepada Glagah Putih, yang masih berada di bawah rumpun pisang yang lebat di kebun belakang.</p>
<p>Glagah Putih itu menjadi berdebar-debar ketika ia mendapat isyarat dari Rara Wulan. Ia tidak dapat berlama-lama berada di bawah rumpun pisang itu. Kulitnya pun sudah menjadi gatal di mana-mana karena digigit nyamuk.</p>
<p>Dengan sangat berhati-hati Glagah Putih pun bergeser mendekati rumah itu. Apalagi hari sudah gelap, sehingga Glagah Putih itu akan lebih mudah untuk mendapatkan perlindungan.</p>
<p>Sementara itu Ranti pun menjadi berdebar-debar pula.</p>
<p>Ranti mendengar suara yang berat, tetapi menggantung datar. Suara yang sebelumnya belum pernah didengarnya di antara para penghuni rumah itu.</p>
<p>“Orang itu tentu orang yang disebut junjungannya itu,” berkata Ranti di dalam hatinya.</p>
<p>Sementara itu, orang yang bertubuh agak pendek itu pun berkata, “Ampun, Pangeran. Sehari ini kami sangat mengharapkan kedatangan Pangeran. Kami hampir kehabisan kesabaran, sehingga hamba sendiri hampir saja datang untuk menjemput Pangeran.”</p>
<p>“Ada apa?” suara itu terdengar bergetar.</p>
<p>“Kami telah menemukan orang-orang yang kami curigai di dekat petilasan itu. Bersama mereka berdua terdapat seorang perempuan cantik yang masih muda, adik dari salah seorang di antara kedua orang itu, yang akan diperistri oleh seorang yang lain.”</p>
<p>“Jadi mereka akan menjadi saudara ipar?”</p>
<p>“Ya.”</p>
<p>“Bawa kedua orang itu kemari.”</p>
<p>“Ampun, Pangeran. Kami telah bertempur melawan kedua orang itu. Tetapi keduanya sangat licik. Mereka tiba-tiba saja melarikan diri, menyusup di antara orang-orang yang berkerumun menyaksikan keributan yang terjadi itu.”</p>
<p>“Maksudmu, mereka terlepas dari tanganmu?”</p>
<p>“Ya.”</p>
<p>“Jahanam kalian!”</p>
<p>“Ampun, Pangeran. Kami mohon ampun. Mereka berdua melarikan diri tanpa menghiraukan saudara perempuan mereka. Yang kemudian kami bawa, justru perempuan muda yang cantik itu.”</p>
<p>Orang yang disebut Pangeran itu termenung. Namun kemudian katanya, “Bawa perempuan itu kemari.”</p>
<p>“Baik, Pangeran.”</p>
<p>Orang bertubuh pendek itu pun kemudian telah pergi ke bilik tempat ia menyimpan Ranti.</p>
<p>Ranti mendengar pembicaraan itu. Karena itu maka ia pun telah menyampaikan isyarat dengan Aji Pameling kepada Glagah Putih.</p>
<p>Glagah Putih yang menerima isyarat itu pun telah siap menghadapi kemungkinan apapun juga.</p>
<p>Tetapi agaknya rumah itu bukan akhir dari pencarian Glagah Putih. Pangeran yang disebut junjungan orang-orang yang tinggal di rumah itu, hanya sekedar singgah. Tetapi tentu ada tempat yang lain, yang merupakan sarangnya yang sebenarnya.</p>
<p>Karena itu, maka dengan isyarat Glagah Putih pun menyampaikan pesan kepada Rara Wulan, bahwa mereka masih akan memperhatikan perkembangan keadaan.</p>
<p>“Kita ingin melihat sarang Pangeran itu yang sebenarnya,” berkata Glagah Putih dalam pesannya.</p>
<p>Ternyata Rara Wulan pun tanggap akan pesan pendek Glagah Putih itu. Ia mengerti bahwa jika ia harus dibawa pergi oleh Pangeran yang datang itu, ia tidak boleh menolak.</p>
<p>Dalam pada itu, orang bertubuh agak pendek itu pun telah membuka selarak pintu bilik Ranti. Bagaimanapun juga, Ranti itu pun menjadi semakin berdebar-debar pula.</p>
<p>Demikian pintu itu terbuka, maka orang yang bertubuh pendek itu nampak berdiri di depan pintu sambil tersenyum.</p>
<p>“Pangeran memanggilmu,” berkata orang yang bertubuh pendek itu sambil tersenyum-senyum.</p>
<p>“Iblis kau,” geram Rara Wulan di dalam hatinya. Tetapi mulutnya tidak mengucapkan kata-kata apa pun.</p>
<p>“Marilah,” berkata orang yang bertubuh pendek itu, “jangan takut. Kau sedang melangkah ke puncak keberuntunganmu. Tetapi kau tidak boleh lupa kepadaku. Jika kau mendapatkan kamukten karena pertemuanmu dengan junjunganku, kau harus ingat kepadaku. Kau harus membelikan aku timang emas bermata intan.”</p>
<p>Ranti sama sekali tidak menjawab. Ia masih saja berdiri di dalam biliknya dengan wajah yang menunduk.</p>
<p>“Kenapa kau masih membeku di situ? Jangan takut. Junjunganku menunggumu.”</p>
<p>Selangkah-selangkah Ranti pun melangkah maju. Namun orang bertubuh pendek itu pun berkata, “Benahi pakaianmu! Sanggulmu, dan seharusnya kau tidak berwajah murung seperti itu.”</p>
<p>Ranti seakan-akan tidak mendengarnya. Ia sama sekali tidak membenahi pakaiannya. Tetapi Ranti itu pun melangkah ke pintu biliknya.</p>
<p>Orang bertubuh pendek itu tidak memaksanya untuk berbenah diri. Tetapi orang itu telah menggiring Ranti untuk pergi ke ruang depan rumah itu.</p>
<p>Demikian Ranti memasuki ruang depan rumah itu yang tidak terlalu luas, ia melihat seorang yang duduk di amben bambu yang agak besar. Tetapi Ranti tidak berani memandang wajah itu, meskipun dalam sekilas ia sempat juga melihatnya.</p>
<p>“Duduklah,” terdengar suara yang berat mengambang itu</p>
<p>Ranti termangu-mangu sejenak. Namun orang bertubuh agak pendek itu pun mengulangi kata-kata junjungannya, “Duduklah.”</p>
<p>Tetapi ketika Ranti akan duduk di bibir amben yang agak besar itu, orang yang disebut junjungannya itu pun berkata, “Tunggu.”</p>
<p>Ranti pun tidak jadi duduk di bibir pembaringan itu.</p>
<p>“Berputarlah. Aku ingin melihat punggungmu.”</p>
<p>Ranti tidak segera memutar. Ia masih saja berdiri termangu-mangu. Rasa-rasanya tubuh perempuan itu bagaikan telah menjadi beku.</p>
<p>Namun orang yang duduk di amben itu pun berkata lebih keras, “Berputarlah. Aku ingin melihat punggungmu, kau dengar?”</p>
<p>Tetapi Ranti tidak segera berputar. Ia justru berjongkok sambil menangis.</p>
<p>Namun Ranti itu masih juga terkejut ketika ia mendengar orang yang duduk di amben itu berkata lantang, “Ambil cambuk! Paksa orang itu berbalik. Kemudian paksa ia berjalan hilir mudik. Jika ia berkeberatan, cambuk perempuan itu sehingga ia mau melakukannya.”</p>
<p>“Orang ini agaknya memang agak terganggu jiwanya,” berkata Rara Wulan di dalam hatinya. Tetapi sebagai Ranti maka ia pun menjadi sangat ketakutan.</p>
<p>Orang yang agak pendek itu pun kemudian mengambil cambuk di ruang dalam. Ketika cambuk itu dihentakkan sendal pancing, maka terdengar suara cambuk itu meledak.</p>
<p>Glagah Putih yang ada di luar terkejut. Tetapi sambil berjongkok serta menutup wajahnya, Rara Wulan sempat menyampaikan isyarat, bahwa ia baik-baik saja.</p>
<p>Tetapi Ranti tidak berani membantah. Ketika sekali lagi orang itu membentak agar berbalik dan berjalan hilir mudik, maka Ranti pun melakukannya. Meskipun dari pelupuknya mengalir air mata yang diusapnya dengan lengan bajunya, namun ia masih dapat berjalan dengan langkah yang agak dibuat-buat. Bukan saja untuk menarik perhatian, tetapi Ranti harus menyembunyikan langkahnya sebagai seorang perempuan yang berilmu tinggi. Orang yang disebut sebagai junjungan di tempat itu, tentulah seorang yang berilmu sangat tinggi, sehingga ia akan dapat melihat kemampuan seseorang hanya dari caranya berjalan.</p>
<p>Tetapi Ranti telah menjaga langkahnya dengan sangat berhati-hati.</p>
<p>Tetapi dengan demikian, ia justru sangat menarik perhatian orang yang duduk di amben itu. Dengan nada datar ia pun berkata, “Cukup. Sekarang duduklah.”</p>
<p>Ranti pun tidak dapat berbuat lain, kecuali duduk di bibir amben bambu itu.</p>
<p>“Namamu siapa, Nduk?” berkata orang yang disebut junjungan itu.</p>
<p>“Namaku Ranti, Paman.”</p>
<p>Tetapi orang bertubuh agak pendek itu membentaknya, “Sebut Pangeran, dungu! Kenapa kau panggil junjunganku dengan sebutan paman?”</p>
<p>Tetapi yang disebut Pangeran itu justru tertawa. Katanya, “Ia belum mengerti, dengan siapa ia berhadapan.”</p>
<p>Ranti hanya menundukkan wajahnya. Tetapi ia nampak menjadi sangat ketakutan.</p>
<p>Dalam pada itu, maka orang yang duduk di amben itu pun berkata, “Baiklah. Nanti jika aku pulang, perempuan itu akan aku bawa. Biarlah ia beristirahat dahulu. Beri ia makan yang baik secukupnya. Jangan ganggu perempuan itu jika ia sedang beristirahat.”</p>
<p>“Baik, Pangeran,” jawab orang bertubuh pendek itu.</p>
<p>“Tetapi sebelumnya, tanyakan di mana rumahnya. Kalian pergi dahulu ke rumahnya untuk mengambil kakaknya, dan kemudian kalian juga harus mengambil calon iparnya itu.”</p>
<p>“Jangan, Pangeran. Ampun. Jangan sakiti kakak dan laki-laki yang akan mengambil aku menjadi istrinya.”</p>
<p>“Mereka akan merupakan duri di dalam dagingku. Aku ingin tahu, kenapa mereka mengamati petilasan yang aku tinggalkan di luar lingkungan Kota Panaraga itu.”</p>
<p>“Mereka adalah orang baik-baik, Pangeran. Ampunkan mereka.”</p>
<p>“Aku ingin tahu, untuk apa mereka lakukan itu.”</p>
<p>“Tentu tidak dengan maksud buruk, Pangeran.”</p>
<p>“Bawa perempuan itu ke biliknya. Kalian pergi malam ini untuk mengambil keduanya. Nanti aku akan membawa perempuan itu pergi, setelah aku bertemu dengan kakaknya dan laki-laki yang seorang itu lagi.”</p>
<p>“Baik, Pangeran.”</p>
<p>Laki-laki bertubuh agak pendek itu pun segera membawa Ranti kembali ke biliknya. Namun ia masih bertanya kepada Ranti, di mana kakaknya itu tinggal.</p>
<p>“Aku tidak mau menjawab,” berkata Ranti.</p>
<p>“Jangan begitu, Ranti. Kau harus menjaga dirimu sendiri. Jika kau tidak mau mengatakan di mana rumahmu, maka junjunganku itu akan marah. Ia dapat berbuat apa saja atas dirimu jika ia marah. Meskipun semula ia tertarik kepadamu, jika ia marah, maka ia akan dapat berubah sikap.”</p>
<p>“Tetapi kasihani kakakku itu.”</p>
<p>“Tidak ada rasa belas kasihan pada junjunganku itu. Juga kepadamu.”</p>
<p>Ranti menangis lagi. Kedua telapuk tangannya telah menutup wajahnya yang basah.</p>
<p>“Tidak ada gunanya kau menangis, Ranti. Sebaiknya kau katakan saja dimana rumahmu, agar aku dapat segera melakukan tugasku. Jangan menunggu junjunganku itu marah.”</p>
<p>Ranti benar-benar menjadi bimbang. Tetapi menurut perhitungannya, meskipun rumah itu dapat diketemukan, kedua orang itu masih mempunyai kesempatan untuk melawan dan melarikan diri.</p>
<p>Sementara itu, orang bertubuh agak pendek itu pun telah menghentakkan cambuknya lagi sambil berkata perlahan, “Pangeran tentu mengira, bahwa aku telah mencambukmu karena kau tetap diam saja.”</p>
<p>Rara Wulan benar-benar dicengkam oleh kebimbangan. Tetapi ia berharap bahwa ia akan dapat menghubungi Glagah Putih, untuk memberitahukan bahwa orang yang menyebut dirinya Ranapati itu akan memerintahkan orang-orangnya untuk mengambil Sungkana dan Sumbaga.</p>
<p>“Ranti,” berkata orang bertubuh pendek itu, “katakan. Aku tentu tidak akan sampai hati menyakitimu untuk memaksa agar kau mengatakan di mana rumahmu. Karena itu, sebelum aku memaksamu, katakan saja di mana rumahmu itu, karena akhirnya kau tentu akan mengatakannya juga. Kau tidak akan tahan dengan tekanan kewadagan, karena jika junjunganku itu merasa terlalu lama menunggu, maka ia sendirilah yang akan turun untuk memaksamu bicara. Kalau junjunganku itu sendiri yang akan memaksamu bicara, maka aku tidak dapat membayangkan, kau akan menjadi apa.”</p>
<p>Akhirnya Rara Wulan mengambil keputusan untuk mengatakan, di mana Sungkana dan Sumbaga itu tinggal. Bukan sekedar untuk menyelamatkan diri, tetapi tujuannya untuk menemukan sarang orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu masih belum berhasil. Apalagi menurut perhitungan Rara Wulan, kedua orang itu tentu akan dapat melarikan diri, atau bahkan ia sempat menghubungi Glagah Putih.</p>
<p>Karena itulah, maka Ranti itu pun telah menyebutkan tempat tinggal Sungkana dan Sumbaga.</p>
<p>“Kakang dan laki-laki yang akan menjadikan aku istrinya itu tinggal di satu rumah. Sebenarnya mereka bukan orang Panaraga, tetapi mereka adalah orang-orang dari Mataram. Di Mataram hidup kami menjadi sangat kesrakat, karena kami tidak mempunyai tanah garapan yang memadai. Karena itu, demikian kami mendengar bahwa Pangeran Jayaraga mendapat tugas di Panaraga, maka kami pun mencoba untuk bertualang ke Panaraga. Ternyata hidup kami di sini menjadi agak lebih baik. Meskipun kami hanya menjual tenaga untuk kerja apa saja, dan bahkan Kakang bersedia diupah untuk mengantar barang-barang yang dikirim ke tempat yang agak jauh, tetapi upah yang didapatkan cukup memadai. Apalagi Kakang dan kawannya itu sanggup melindungi barang-barang kiriman yang harus dipertanggungjawabkan.”</p>
<p>“Tunjukkan ancar-ancarnya.”</p>
<p>Ranti pun menunjukkan ancar-ancar rumah tempat tinggal Sungkana dan Sumbaga.</p>
<p>“Baiklah. Aku akan menyampaikannya kepada junjunganku. Apa pun perintahnya, aku harus menjalankannya.”</p>
<p>Demikianlah, maka orang bertubuh agak pendek itu segera meninggalkan Ranti dan menghadap kepada junjungannya, untuk menyampaikan hasil usahanya untuk memeras keterangan Ranti tentang tempat tinggal kakaknya.</p>
<p>“Kau sakiti perempuan itu?”</p>
<p>“Tidak, Pangeran. Perempuan itu nampaknya sudah menjadi sangat ketakutan.”</p>
<p>“Aku dengar kau mencambuknya.”</p>
<p>“Tidak, Pangeran. Aku hanya meledakkan cambuk itu. Ia sudah menjadi gemetar dan hampir jatuh pingsan. Ia pun kemudian dengan lancar menceritakan tempat tinggalnya. Kedua orang laki-laki itu tinggal dalam satu rumah. Mereka bukan orang Panaraga, tetapi mereka datang dari Mataram.”</p>
<p>“Aku sudah menduga. Gaya bicara Ranti itu adalah gaya bicara orang Mataram. Tetapi kenapa mereka berada di sini?”</p>
<p>“Di Mataram mereka sulit untuk dapat mencari makan. Karena itu mereka pun pergi ke Panaraga, setelah mereka mendengar bahwa yang akan berkuasa di Panaraga adalah seorang Pangeran dari Mataram.”</p>
<p>“Adimas Pangeran Jayaraga yang dimaksudkan?”</p>
<p>“Agaknya demikian, Pangeran. Di Panaraga mereka dapat hidup lebih senang. Mereka mendapat penghasilan lebih dengan menjual tenaga. Dengan mengantar barang, atau mungkin maksudnya mengawal para pengantar barang.”</p>
<p>“Bagus. Pergilah ke rumah itu. Bawa kedua orang itu kepadaku. Jangan gagal. Aku ingin bertanya, untuk apa mereka berkeliaran di dekat petilasan itu.”</p>
<p>“Baik, Pangeran.”</p>
<p>“Bawa lima orang kawanmu. Biarlah aku menunggu di sini bersama dua orang pengawalku itu.”</p>
<p>“Baik, Pangeran.”</p>
<p>“Pergilah sekarang. Kau harus kembali sebelum fajar.”</p>
<p>“Mudah-mudahan mereka ada di rumah.”</p>
<p>“Mereka tentu ada di rumah. Kenapa? Apakah kau menduga, mungkin mereka pergi?”</p>
<p>“Adik perempuannya ada di sini, Pangeran. Mungkin mereka menjadi ketakutan, bahwa adik perempuannya itu akan menunjukkan rumahnya, sehingga kami akan datang menangkap mereka.”</p>
<p>Orang yang disebut junjungan itu pun merenung sejenak. Kemungkinan itu memang masuk akal. Tetapi orang itu pun berkata, “Tetapi kau harus mencobanya. Pergilah ke rumah itu. Kau harus masuk ke dalamnya dan melihat di setiap sudutnya.”</p>
<p>“Baik, Pangeran.”</p>
<p>Demikianlah, orang bertubuh pendek itu pun segera mengajak kelima orang kawannya untuk pergi mengambil kedua orang yang telah luput dari tangan mereka itu. Namun seperti pendapat orang yang bertubuh agak pendek itu, bahwa mungkin kedua orang yang mereka buru itu tidak berani pulang. Adik perempuannya akan dapat menunjukkan tempat tinggal mereka.</p>
<p>Sebelum pergi, orang bertubuh agak pendek itu masih sempat menyediakan makan bagi Ranti. Makan yang disediakan termasuk makan yang baik, dengan lauk yang pantas.</p>
<p>Ketika orang-orang itu sudah pergi, maka Rara Wulan pun berusaha untuk menghubungi Glagah Putih dengan Aji Pameling. Rara Wulan memberitahukan bahwa para pengikut orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu sedang pergi menuju ke rumah Sungkana dan Sumbaga.</p>
<p>“Mereka tentu berada di rumah Madyasta.” jawab Glagah Putih yang masih bersembunyi di belakang rumah.</p>
<p>Ketika Glagah Putih bertanya tentang keadaan Rara Wulan, maka Rara Wulan mengatakan bahwa ia berada dalam keadaan baik.</p>
<p>“Aku mendapat makan enak malam ini.” Rara Wulan sempat bergurau.</p>
<p>“Aku kelaparan di sini.” jawab Glagah Putih.</p>
<p>Rara Wulan tersenyum. Namun tiba-tiba ia terkejut ketika ia akan mulai makan. Pintu biliknya yang diselarak dari luar itu pun terbuka.</p>
<p>“O,” orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu berdiri di depan pintu, “kau baru akan makan?”</p>
<p>Rara Wulan tidak menjawab.</p>
<p>“Baiklah. Makanlah,” berkata orang yang menyebut dirinya Ranapati itu pula.</p>
<p>Rara Wulan hanya menundukkan wajahnya. Pintu itu pun segera tertutup kembali, dan Rara Wulan pun mendengar pintu itu diselarak dari luar.</p>
<p>Namun Rara Wulan masih mendengar Pangeran Ranapati itu bercakap-cakap, sehingga Rara Wulan tahu bahwa masih ada orang lain di rumah itu.</p>
<p>Malam itu, Glagah Putih tidak beranjak dari tempatnya. Tetapi ia adalah orang yang terlatih wadagnya dan jiwanya. Karena itu, ia dapat bertahan tanpa beringsut dari tempatnya. Bahkan ia sama sekali tidak merasakan lapar dan haus.</p>
<p>Menjelang tengah malam, maka orang-orang yang mendapat perintah untuk mengambil Sungkana dan Sumbaga itu telah kembali. Ranti mendengar dengan jelas laporan mereka, bahwa rumah itu kosong. Sungkana dan Sumbaga tidak ada di rumahnya.</p>
<p>“Jangan-jangan perempuan itu berbohong.”</p>
<p>“Aku telah membangunkan tetangganya, Pangeran. Aku bertanya apakah rumah itu dihuni dua orang laki-laki bernama Sungkana dan Sumbaga. Tetangga itu membenarkannya. Rumah itu memang dihuni oleh dua orang laki-laki yang bernama Sungkana dan Sumbaga. Ketika aku bertanya apakah di rumah itu juga tinggal seorang perempuan, tetangganya itu tidak begitu memperhatikan. Namun tetangganya itu memang pernah mendengar suara seorang perempuan di rumah itu.”</p>
<p>Orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu menggeram. Katanya, “Aku masih saja penasaran. Aku ingin tahu, apa yang dilakukan oleh orang-orang itu di dekat batu pipih itu. Apakah mereka sekedar menjadi heran melihat batu pipih yang besar itu serta pagar yang mengelilinginya, atau mereka mempunyai maksud-maksud yang lain.”</p>
<p>Orang bertubuh agak pendek yang telah mendatangi rumah Sungkana dan Sumbaga tetapi kosong itu, tidak menjawab.</p>
<p>“Baiklah.” berkata orang yang mengaku dirinya sebagai Pangeran Ranapati itu, “kita akan pergi ke sanggar. Ikutlah aku. Biarlah Reksa dan Dama saja yang menunggu rumah ini. Petilasan itu harus diawasi dengan baik. Mungkin ada orang lain lagi yang datang untuk mengamati patilasan itu dengan maksud-maksud tertentu.”</p>
<p>“Marilah, Pangeran.”</p>
<p>“Bawa perempuan itu.”</p>
<p>“Apakah ia juga harus berjalan di malam yang sudah menjelang dini hari ini?”</p>
<p>“Ya.”</p>
<p>“Apakah tidak sebaiknya besok biarlah aku membawanya menyusul Pangeran?”</p>
<p>“Tidak. Aku mau perempuan itu pergi bersamaku sekarang.”</p>
<p>Tidak ada yang dapat mencegahnya lagi. Orang bertubuh agak pendek itu pun terpaksa mengetuk pintu bilik Ranti, yang agaknya sudah tidur nyenyak.</p>
<p>Sebenarnyalah bahwa Rara Wulan memang sempat tidur sejenak. Tetapi telinganya yang tajam mendengar setiap bunyi di dalam bilik itu. Ia pun tentu dapat mendengar jika pintu biliknya itu dibuka, betapapun sangat berhati-hati. Tetapi derit pintu itu sudah cukup keras untuk dapat membangunkannya.</p>
<p>Orang bertubuh agak pendek itu pun kemudian mengetuk pintu bilik Ranti. Meskipun ia dapat begitu saja mengangkat selarak dan membuka pintu itu, tetapi orang bertubuh agak pendek itu tidak mau mengejutkannya. Karena itu maka ia pun telah mengetuknya perlahan-lahan.</p>
<p>Dari dalam bilik itu terdengar suara Ranti, “Siapa?”</p>
<p>“Aku, Ranti. Junjunganku memanggilmu. Kau akan diajak pergi ke sanggarnya.”</p>
<p>“Ke sanggarnya? Di mana letak sanggarnya?”</p>
<p>“Di dekat petilasannya itu.”</p>
<p>“Di dekat petilasannya? Malam-malam begini?”</p>
<p>“Tidak ada orang yang dapat membantahnya. Kau harus pergi. Benahi pakaianmu, dan jangan mencoba untuk membantah, jika kau tidak ingin menjadi lumat.”</p>
<p>Ranti tidak menjawab. Ia pun kemudian mendengar selarak pintu yang diangkat, serta pintu yang berderit terbuka.</p>
<p>“Marilah,” berkata orang bertubuh agak pendek itu.</p>
<p>Ranti berdiri termangu-mangu. Namun ia pun kemudian bertanya, “Di mana letak petilasannya itu? Jauh atau dekat?”</p>
<p>Orang itu termangu-mangu sejenak. Bagi orang bertubuh pendek itu serta kawan-kawannya, petilasan itu tentu dianggapnya hanya dekat saja. Tetapi tentu berbeda bagi perempuan itu. Apalagi di malam yang sudah menjadi larut, bahkan sudah merambah ke dini hari.</p>
<p>Tetapi orang bertubuh pendek itu tidak dapat berbuat lain kecuali membawa Ranti.</p>
<p>Karena itu, maka ia pun berkata, “Ranti. Jangan bertanya apakah petilasan itu dekat atau jauh. Yang penting, kau harus mengikuti junjunganku pergi. Kau tidak mempunyai pilihan lain.”</p>
<p>Ranti memang tidak akan dapat mengelak lagi. Ia pun kemudian membenahi rambutnya. Baru kemudian ia melangkah keluar bilik itu.</p>
<p>Di ruang depan, orang yang disebut Pangeran itu sudah menunggu. Demikian Ranti datang bersama orang bertubuh pendek itu, maka orang yang disebut Pangeran itu pun segera berkata, “Marilah. Jangan sampai kesiangan. Sebelum fajar kita harus sudah sampai.”</p>
<p>Demikianlah, maka orang yang disebut Pangeran itu pun segera meninggalkan rumah itu. Orang bertubuh agak pendek itu telah menggiring Ranti bersama beberapa orang yang lain.</p>
<p>Ternyata yang tinggal di rumah itu lebih banyak dari dugaan Ranti. Setelah mereka pergi mengikuti orang yang disebut Pangeran itu, maka di rumah itu masih ada beberapa orang yang tinggal menunggui tempat itu.</p>
<p>Di malam yang gelap, Ranti harus berjalan mengikuti orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu. Dengan tertatih-tatih Ranti berjalan, diikuti oleh orang yang bertubuh agak pendek itu. Nampaknya Ranti mengalami kesulitan berjalan di kegelapan. Sekali-sekali kakinya terperosok ke dalam lubang jalur roda pedati yang sering melewati jalan itu di siang hari.</p>
<p>Sebenarnyalah Rara Wulan sama sekali tidak mengalami kesulitan berjalan di jalan yang betapapun rumitnya. Pandangan matanya pun sangat tajam, apalagi jika ia mengetrapkan Aji Sapta Pandulu. Tetapi sebagai Ranti, maka ia mengalami banyak kesulitan, sehingga jalannya pun menjadi lambat.</p>
<p>“Seret perempuan itu, jika ia tidak dapat berjalan cepat,” berkata orang yang disebut Pangeran itu.</p>
<p>Orang bertubuh pendek itu tidak menjawab. Namun ia berkata kepada Ranti hampir berbisik, “Cepat sedikit Ranti, agar aku tidak harus menyeretmu.”</p>
<p>Ranti tidak menjawab. Tetapi ia berusaha berjalan lebih cepat sedikit, meskipun setiap kali terdengar ia berdesah.</p>
<p>Sebenarnya Rara Wulan sudah tahu di mana letak petilasan itu. Tetapi sebagai Ranti, maka ia menjadi bingung dalam gelap malam yang pekat. Apalagi jika mereka berjalan di padukuhan yang mempunyai rumpun bambu yang lebat.</p>
<p>Mereka memang harus memilih jalan-jalan sepi dan gelap untuk menghindari gardu-gardu perondan.</p>
<p>Seperti yang dikehendaki oleh orang yang disebut sebagai Pangeran itu, menjelang fajar mereka telah sampai di sebuah rumah yang agak terpencil dari sebuah padukuhan kecil, di sebelah padukuhan tempat Pangeran Ranapati memagari batu pipih yang disebutnya sebagai petilasan itu.</p>
<p>Ketika mereka akan memasuki padukuhan itu, maka mereka pun berhenti sejenak. Orang yang disebut Pangeran itu memerintahkan dua orang pengikutnya untuk mendahului memasuki padukuhan itu. Ketika kedua orang itu tidak memberikan isyarat apa-apa, maka barulah orang yang disebut Pangeran itu memasuki padukuhan itu pula, dan kemudian memasuki regol halaman sebuah rumah yang agak terpencil.</p>
<p>Demikian mereka hilang di balik regol halaman, maka seorang yang mengikuti mereka pun telah bergeser dan meloncat ke halaman rumah di sebelahnya. Namun sejenak kemudian orang itu pun telah meloncati dinding halaman, dan berada di halaman samping rumah yang dipergunakan sebagai sanggar oleh orang yang disebut Pangeran itu.</p>
<p>Sejenak Glagah Putih menunggu. Ia mendengar lamat-lamat orang yang disebut Pangeran itu memberikan beberapa perintah. Ketika ia mengetrapkan Aji Sapta Pangrungu, maka ia mendengar orang yang disebut Pangeran itu berkata, “Masukkan perempuan itu ke biliknya. Besok aku akan berbicara kepadanya.”</p>
<p>“Baik, Pangeran,” jawab orang yang bertubuh pendek itu.</p>
<p>Demikianlah, maka Ranti pun telah dibawa ke dalam sebuah bilik yang telah disediakan. Demikian Ranti duduk, maka ia telah mendengar pintu bilik itu diselarak dari luar.</p>
<p>Sejenak kemudian, dengan Aji Pameling Rara Wulan pun sempat berhubungan dengan Glagah Putih. Dengan isyarat Rara Wulan pun mengatakan, bahwa agaknya di sisa malam ini dan besok sehari ia akan berada dalam keadaan aman.</p>
<p>“Kakang dapat beristirahat, makan, dan baru besok jika malam turun, Kakang datang lagi ke mari.”</p>
<p>“Jika terjadi sesuatu besok, beri aku isyarat,” berkata Glagah Putih.</p>
<p>“Baik, Kakang.”</p>
<p>Demikianlah, sebelum fajar, Glagah Putih pun telah meninggalkan sarang orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu lagi. Ia tidak tahu, apa saja yang akan dilakukan oleh Pangeran itu.</p>
<p>Tetapi sesuai dengan perhitungan Rara Wulan, maka setidak-tidaknya sampai besok malam, tidak akan terjadi apa-apa dengan Rara Wulan itu. Meskipun demikian, ia tidak boleh berada terlalu jauh dari padukuhan itu.</p>
<p>Namun satu hal yang penting, bahwa dengan demikian Glagah Putih dan Rara Wulan sudah mengetahui setidaknya dua tempat tinggal orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu. Satu di dalam lingkungan dinding Kota, sedang yang satu lagi berada di padukuhan di sebelah padukuhan yang dibangun sebuah petilasan dari orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu.</p>
<p>Glagah Putih mempergunakan waktunya yang sehari untuk bertemu dan berbicara dengan Madyasta. Adalah kebetulan bahwa Sungkana dan Sumbaga juga berada di rumah itu.</p>
<p>“Berhati-hatilah,” berkata Glagah Putih.</p>
<p>“Sejak semalam kami berada di sini,” sahut Sungkana.</p>
<p>“Untunglah kalian berada di sini. Semalam orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati mengirim orang ke rumah kalian untuk menangkap kalian.”</p>
<p>“Dari mana ia tahu rumah kami?”</p>
<p>“Rara Wulan. Tetapi aku sudah mengatakan kepada Rara Wulan, bahwa kalian berdua tentu tidak berada di rumah. Kalian berdua tentu berada di sini.”</p>
<p>“Lalu, apa yang mereka lakukan?”</p>
<p>“Karena kalian tidak ada, maka mereka pun segera kembali. Tetapi mereka sudah mencoba untuk membuktikan bahwa rumah itu benar rumah kalian. Mereka telah bertanya pada tetangga kalian.”</p>
<p>“Untunglah aku tidak terlalu banyak berhubungan dengan tetangga, sehingga mereka tidak terlalu banyak mengetahui tentang diriku.”</p>
<p>“Sekarang, untuk sementara Sungkana dan Sumbaga jangan terlalu sering keluar. Kalian masih tetap diburu. Biarlah Madyasta yang tidak mereka kenal berusaha mencari keterangan, apakah orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu sudah membuat hubungan dengan Pangeran Jayaraga.”</p>
<p>“Baik. Aku akan berusaha. Aku mengenal beberapa orang pejabat di Istana Pangeran Jayaraga. Meskipun mungkin agak lamban, tetapi agaknya aku akan mendapatkan keterangan itu.”</p>
<p>“Baiklah. Kita akan melakukan tugas kita masing-masing.”</p>
<p>“Apa yang harus kami lakukan?” bertanya Sungkana dan Sumbaga hampir berbareng.</p>
<p>“Pada saatnya kalian akan mendapatkan tugas yang mungkin tidak kalah beratnya. Untuk sementara kalian dapat beristirahat di rumah ini.”</p>
<p>“Kami akan merasa seperti di penjara.”</p>
<p>Glagah Putih tertawa sambil bertanya, “Apakah kau pernah dipenjara?”</p>
<p>Keduanya pun tertawa pula. Demikian pula Madyasta.</p>
<p>Setelah memberikan beberapa pesan, maka Glagah Putih pun segera bersiap-siap untuk kembali ke rumah yang agak terpencil, di padukuhan sebelah padukuhan tempat petilasan Pangeran Ranapati itu dibangun.</p>
<p>Dengan pengalamannya semalam, maka Glagah Putih pun kemudian telah membeli makanan yang dapat disimpan semalam suntuk.</p>
<p>Di hari itu, Ranti harus menghadap orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati. Pangeran itu berharap agar Ranti berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungannya.</p>
<p>“Kalau kau berhasil, maka kau akan mendapat anugrah yang tidak pernah kau impikan, Ranti. Kau, perempuan yang seakan-akan tersisih dari pergaulan hidup, akan dapat menjadi selir seorang Pangeran. Tetapi segala sesuaatunya tergantung kepada dirimu. Kepada kemampuanmu menyesuaikan diri.”</p>
<p>Ranti hanya dapat menundukkan kepalanya. Namun ia tidak menjawab.</p>
<p>“Hari ini kau masih akan berada di dalam bilikmu. Mungkin besok dan lusa juga. Tetapi pada suatu hari kau akan mendapat kesempatan untuk hidup bebas, sebagaimana orang lain di rumah ini. Nah, sejak saat itu kau akan mengalami pendadaran, apakah kau pantas menjadi selir seorang Pangeran atau tidak.”</p>
<p>Namun dalam pada itu, pada saat orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu berbicara kepada Ranti, seorang perempuan yang nampaknya sedikit lebih tua dari Ranti memandanginya dengan sorot mata yang tajam. Ketika Ranti sempat memandang wajahnya sekilas, ia melihat pandangan mata perempuan itu seakan-akan menusuk sampai ke jantungnya.</p>
<p>“Kantil,” berkata orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu, “kau akan mempunyai seorang kawan. Perempuan ini akan tinggal di sini. Jika ia mampu menyesuaikan dirinya serta dapat menarik perhatianku, maka ia akan dapat aku angkat menjadi selir, untuk menemanimu.”</p>
<p>Perempuan itu tersenyum sambil berkata dengan lembut, “Ampun, Pangeran. Hamba akan menerimanya sebagaimana hamba menerima saudara hamba sendiri.”</p>
<p>“Ajari perempuan itu, apa yang harus dilakukannya, sehingga pada suatu saat ia akan dapat menjadi perempuan yang pantas untuk menjadi seorang selir dari seorang Pangeran.”</p>
<p>“Hamba, Pangeran. Hamba akan melakukannya. Hamba akan sangat bergembira mempunyai seorang saudara di sini. Selama ini hamba merasa bagaikan hidup sebatang kara.”</p>
<p>“Apakah kau tidak menganggap bahwa aku ada?”</p>
<p>“Maksud hamba, hamba tidak mempunyai saudara lagi.”</p>
<p>Orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu tersenyum. Katanya, “Sekarang, aku bawakan seorang saudara perempuan bagimu. Mudah-mudahan ia segera dapat menyesuaikan diri.”</p>
<p>“Hamba mengucapkan terima kasih, Pangeran.”</p>
<p>“Nah, bawa perempuan ini ke dalam biliknya. Untuk selanjutnya, kau akan mengurus perempuan itu. Ajari apa yang pantas dilakukan. Dalam waktu dua tiga hari ini, ia masih akan tetap berada di dalam biliknya, seperti yang telah aku katakan.”</p>
<p>“Hamba, Pangeran.”</p>
<p>“Ranti, ikutlah mbokayumu. Anggap bahwa ia adalah kakak perempuanmu sendiri.”</p>
<p>Ranti tidak menjawab. Ia hanya mengangguk saja. Di wajahnya masih membayang ketakutan yang mencekam.</p>
<p>Demikianlah, maka Kantil pun kemudian telah mengajak Ranti untuk pergi ke biliknya. Dengan kata-kata lembut serta wajah yang manis, Kantil itu pun berkata, “Marilah, adikku. Kau dapat beristirahat di dalam bilikmu. Jangan takut. Aku akan selalu melindungimu.”</p>
<p>Ketika Ranti berjalan ke biliknya, ia melihat beberapa orang laki-laki mengawasinya. Dengan lembut pula Kantil pun berkata, “Mereka tidak akan mengganggumu. Siapa yang berani mengganggumu, akan aku singkirkan untuk selama-lamanya.”</p>
<p>Ranti sama sekali tidak menjawab. Ia berjalan saja ke biliknya, diikuti oleh perempuan yang disebut bernama Kantil itu.</p>
<p>Namun demikian Ranti itu masuk, maka Kantil yang mengikutinya segera menutup pintu bilik itu. Tiba-tiba saja ia mendorong Ranti sehingga Ranti itu pun terjerembab ke pembaringannya.</p>
<p>Ranti terkejut sekali, Ketika ia mencoba berdiri dan berbalik, ia melihat mata Kantil itu menyala kembali. Sorot matanya yang tajam itu bagaikan langsung menusuk ke jantungnya.</p>
<p>“Perempuan jalang!” geram Kantil, “kenapa kau dapat sampai ke rumah ini? Kau tahu, aku adalah istri Pangeran Ranapati. Seharusnya aku adalah satu-satunya perempuan di rumah ini. Sekarang tiba-tiba saja kau hadir di sini.”</p>
<p>Wajah Ranti membayangkan ketakutan yang amat sangat. Ketika Kantil melangkah setapak demi setapak maju, Ranti justru surut ke belakang. Namun akhirnya ia telah berdiri melekat pembaringannya, sehingga Ranti itu tidak dapat bergeser mundur lagi.</p>
<p>“Apa yang kau lakukan, Mbokayu?”</p>
<p>“Perempuan laknat!” geram Kantil, “Kenapa tiba-tiba kau berada di rumah ini? Siapakah yang membawamu kemari, dan mengumpankanmu kepada Pangeran Ranapati?”</p>
<p>“Aku tidak tahu, Mbokayu. Yang aku tahu, beberapa orang pengikut Pangeran Ranapati itu berusaha menangkap kakakku, tetapi kakakku dapat melarikan diri. Tetapi justru akulah yang dibawanya kemari. Jadi keberadaanku di sini sama sekali bukan karena keinginanku sendiri.”</p>
<p>“Kau bohong! Kau berusaha memikat hati Pangeran Ranapati, agar kau diambilnya sebagai seorang selir. Kau lebih muda dan lebih cantik dari aku. Dengan demikian, kau mempunyai harapan untuk mendesak kedudukanku.”</p>
<p>“Tidak, Mbokayu, sungguh tidak! Bahkan aku akan sangat berterima kasih jika ada orang yang bersedia membawa aku keluar dari tempat ini.”</p>
<p>“Huh, ternyata kau juga pandai berpura-pura.”</p>
<p>“Sungguh, Mbokayu. Jika Mbokayu tidak percaya bahwa aku berada di sini bukan karena kemauanku sendiri, bertanyalah kepada beberapa orang yang telah berusaha menangkap kakakku dan calon suamiku itu.”</p>
<p>“Aku akan bertanya kepada mereka. Tetapi jika kau berbohong kepadaku, maka aku akan memotong bibirmu.”</p>
<p>“Aku tidak berbohong, Mbokayu.”</p>
<p>“Seandainya kau tidak berbohong, maka aku berpesan kepadamu, agar kau bersikap bodoh. Kau harus berusaha agar Pangeran Ranapati tidak tertarik sama sekali kepadamu. Mungkin kau nampak selalu kusut. Wajahmu selalu cemberut, atau tingkah lakumu yang tidak pantas dilakukan oleh seorang istri Pangeran, meskipun hanya seorang selir.”</p>
<p>“Ajari aku, Mbokayu. Jika aku tidak dikehendaki oleh Pangeran Ranapati dan aku dilepaskannya, aku tidak akan melupakan Mbokayu Kantil. Aku justru merasa sangat beruntung, karena aku akan dapat kembali kepada kakakku, kepada calon suamiku. Meskipun pada saat itu aku masih belum menyatakan kesediaanku menjadi istrinya, maka sekarang aku justru merasakan bahwa aku sangat memerlukannya.”</p>
<p>“Jangan kau bohongi aku. Meskipun aku seorang perempuan, tetapi jika kau bohongi aku, maka aku akan dapat melumatkan wajahmu yang cantik itu, sehingga kau akan menyerupai hantu. Aku akan dapat memotong lidahmu, sehingga kau tidak akan dapat berbicara sama sekali.”</p>
<p>“Aku tidak bohong, Mbokayu. Aku justru minta tolong, jika Mbokayu dapat melepaskan aku dari rumah ini, maka aku akan sangat berterima kasih.”</p>
<p>“Sampai saat ini aku mempercayaimu. Aku akan berusaha mencari jalan agar kau pergi dari rumah ini. Mungkin kau akan diusir, tetapi mungkin kau akan dihukum.”</p>
<p>“Jangan, Mbokayu. Jangan hukum aku. Bukankah aku tidak bersalah kepada siapa-siapa? Aku justru merasa terjerat di rumah ini, seperti terperosok ke dalam lubang yang gelap.”</p>
<p>Perempuan itu tidak berbicara lagi. Tetapi ia pun segera meninggalkan tempat itu.</p>
<p>Rara Wulan menarik nafas panjang. Namun dengan demikian, maka Rara Wulan pun tahu bahwa untuk beberapa lama ia tidak akan mengalami kesulitan apa-apa di rumah itu. Ia hanya harus menerima perlakuan buruk dari Kantil, yang merasa dirinya istri Pangeran Ranapati.</p>
<p>Tetapi Pangeran Ranapati sendiri tidak akan mengusiknya sampai dua tiga hari mendatang. Bahkan mungkin lebih lama lagi.</p>
<p>Rara Wulan pun kemudian telah menghubungi Glagah Putih dengan Aji Pameling. Rara Wulan telah memberikan isyarat tentang keadaannya sampai pada saat itu.</p>
<p>“Baiklah,” berkata Glagah Putih, “jika demikian, aku akan mengamati keadaanmu dari jauh. Aku tidak usah mendekati rumah itu. Tetapi jika terjadi sesuatu, jangan sampai terlambat. Aku memerlukan waktu untuk sampai ke tempat itu.”</p>
<p>“Ya, Kakang. Tetapi kakang juga harus selalu bersiaga di setiap saat.”</p>
<p>Demikianlah, Rara Wulan pun menjalani hari-harinya di rumah yang dihuni oleh Pangeran Ranapati itu. Dengan demikian Rara Wulan pun tahu, bahwa setiap hari ada beberapa orang yang datang dan pergi. Mereka menghubungi Pangeran Ranapati dengan tugas-tugas yang masih belum dapat diketahui.</p>
<p>Seperti yang dikatakan oleh Pangeran Ranapati, maka dalam dua hari Ranti masih belum boleh meninggalkan biliknya. Hanya untuk keperluan-keperluan tertentu saja Ranti diperkenankan keluar. Itu pun harus diawasi oleh Kantil atau dua orang abdi yang ditugaskan oleh Kantil.</p>
<p>Ternyata sikap Kantil masih saja berwatak rangkap. Di hadapan Pangeran Ranapati, Kantil bersikap sangat baik kepada Ranti. Kata-katanya lembut dan menarik. Tetapi di belakang Pangeran Ranapati, wajah Kantil pun menjadi seperti wajah iblis betina. Matanya menjadi merah. Lidahnya bagaikan menyiratkan api yang panasnya melampaui bara.</p>
<p>“Kau tidak boleh tersenyum di hadapan Pangeran Ranapati!” bentak Kantil.</p>
<p>“Aku tidak tersenyum sama sekali, Mbokayu.”</p>
<p>“Jangan bohong! Kau kira aku tidak melihat kerling matamu serta senyum di bibirmu?”</p>
<p>“Tentu tidak, Mbokayu. Bahkan aku hampir menangis ketika Mbokayu membawa aku menghadap.”</p>
<p>“Besok kau mulai membawa hidangan untuk Pangaran Ranapati. Tetapi ingat, kau tidak boleh tersenyum, apalagi mengerling. Kau harus menunduk dengan wajah yang bersungut-sungut dan gelap. Kau dengar itu?”</p>
<p>“Aku dengar, Mbokayu.”</p>
<p>“Tidak hanya sekedar didengar, tetapi harus kau lakukan.”</p>
<p>“Baik, Mbokayu.”</p>
<p>Sebenarnyalah, di hari berikutnya Ranti sudah boleh keluar dari biliknya, meskipun masih tetap dalam pengawasan. Hari itu, Ranti sudah mendapat tugas untuk menghidangkan minuman pagi bagi Pangeran Ranapati.</p>
<p>Kantillah yang menata mangkuk-mangkuk minuman dan makanan. Ketika Ranti membetulkan letak makanan yang berserakan, Kantil pun membentaknya, “Akulah yang mengatur makanan itu! Jangan kau rubah!”</p>
<p>“Tetapi ini nampaknya seperti tidak tertata, Mbokayu.”</p>
<p>“Apakah kau tuli? Akulah yang mengaturnya!”</p>
<p>Ranti tidak membantah.</p>
<p>“Tunggu sebentar. Aku akan duduk di serambi depan. Baru kau hidangkan minuman dan makanan bagi Pangeran dan bagiku ini.”</p>
<p>“Baik, Mbokayu.”</p>
<p>Kantil pun mendahului pergi ke serambi. Ia mendapatkan Pangeran Ranapati duduk di atas sebuah lincak kayu yang panjang. Sementara seorang pengikutnya duduk di lantai, di dekat tangga serambi.</p>
<p>Ketika orang yang duduk di serambi itu melihat Kantil mendekati Pangeran Ranapati, maka orang itu pun meninggalkan Pangeran Ranapati sendiri.</p>
<p>“Silahkan Pangeran, jika Pangeran masih akan memberikan perintah kepadanya.”</p>
<p>“Tidak. Tidak ada yang penting yang aku bicarakan dengan orang itu. Duduklah.”</p>
<p>Kantil pun kemudian duduk di lincak panjang itu pula. Katanya, “Aku sudah mengajari Ranti untuk dapat menghidangkan minuman dan makanan pagi ini, Pangeran. Mudah-mudahan ia dapat melakukannya dengan baik.”</p>
<p>“Bagus.” sahut Pangeran Ranapati, “ajari perempuan itu untuk dapat bertingkah laku seperti seorang putri. Kau dahulu juga seorang perempuan yang diangkat dari atas pematang. Kakimu dahulu hitam penuh dengan lumpur. Akhirnya, kau telah diangkat derajatmu menjadi istri seorang Pangeran. Aku harap bahwa Ranti pun akan dapat menjadi seorang perempuan yang baik, yang pantas menjadi seorang selir dari seorang Pangeran.”</p>
<p>“Aku akan berusaha Pangeran. Tetapi perempuan itu memang agak terlambat berpikir.”</p>
<p>“Maksudmu?”</p>
<p>“Ia bukan seorang perempuan yang cerdas, yang cepat tanggap atas petunjuk-petunjuk yang diberikan kepadanya.”</p>
<p>“Kau harus sabar, Kantil. Akhirnya ia tentu akan dapat juga melakukannya.”</p>
<p>“Ya, Pangeran. Hamba memang harus sabar.”</p>
<p>“Bukankah tidak ada hal yang sulit untuk dipelajari?”</p>
<p>“Nampaknya memang tidak, Pangeran.”</p>
<p>Pembicaraan itu terhenti ketika Ranti datang untuk menghidangkan minuman pagi serta makanan. Demikian Ranti berjongkok di sebelah Kantil, maka Kantil pun menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata dengan lembut, “Ranti, bukankah sudah aku katakan kepadamu berulang kali, bahwa kau harus tertib dan rajin. Bukankah tidak sepantasnya jika kau menghidangkan minuman dan makanan dengan cara ini? Bukankah kau dapat mengatur agar makanan yang kau hidangkan itu nampak lebih menarik, sehingga dapat menimbulkan selera makan Pangeran Ranapati? Kenapa kau biarkan makanan itu berserakan seperti itu?”</p>
<p>“Tetapi…” Ranti akan menjawab. Tetapi Kantil pun segera berkata, “Sudahlah, Ranti. Ingat-ingat sajalah untuk selanjutnya. Lain kali kau harus dapat menata makanan dan minuman yang akan kau hidangkan kepada Pangeran Ranapati.”</p>
<p>Ranti tidak menjawab. Tetapi ditundukkan kepalanya dalam-dalam.</p>
<p>“Ampun, Pangeran,” berkata Kantil kemudian, “hamba berjanji untuk mengajarinya, agar pada kesempatan lain Ranti dapat menjadi lebih terampil menata hidangan.”</p>
<p>Pangeran Ranapati tertawa sambil berkata, “Anak ini memang agak dungu, Kantil. Ternyata tugasmu menjadi lebih berat untuk membentuk anak ini agar menjadi anak yang pantas tinggal bersama kita.”</p>
<p>“Tetapi hamba kira, lambat laun ia akan dapat juga melakukannya, Pangeran.”</p>
<p>“Ranti,” berkata Kantil kemudian, “sudahlah. Kembalilah ke belakang. Nanti kau akan membantu aku di dapur. Kau akan belajar bagaimana seharusnya kau menyiapkan makan bagi Pangeran. Jika kelak pada suatu saat aku berhalangan, maka kau harus dapat melakukannya.”</p>
<p>“Ya, Mbokayu,” desis Ranti perlahan sekali.</p>
<p>Ranti pun kemudian meninggalkan Pangeran Ranapati dan Kantil yang masih duduk di serambi. Sementara itu, Ranti pun telah masuk ke dalam biliknya. Ia mengusap matanya yang tiba-tiba menjadi basah. Tetapi Ranti tidak menangis karena sedih dan ketakutan. Ranti menangis karena ia justru harus menahan diri. Jika saja ia tidak sedang menjalankan tugas, maka ia tentu akan menampar wajah Kantil. Jika Kantil itu mencoba melawan, ia akan meremas mulutnya sampai berdarah.</p>
<p>“Perempuan gila. Sampai kapan aku tahan diperlakukan seperti ini?” geram Ranti.</p>
<p>Namun pada saat itu, Kantil pun telah muncul di pintu biliknya, sementara Ranti pun segera mengusap air matanya dengan lengan bajunya.</p>
<p>“Kau menangis, perempuan cengeng?” bentak Kantil.</p>
<p>Ranti pun cepat-cepat menggeleng sambil menjawab, “Tidak, Mbokayu. Aku tidak menangis.”</p>
<p>“Lalu apa namanya jika bukan menangis, he?”</p>
<p>“Ada binatang kecil masuk ke dalam mataku, Mbokayu.”</p>
<p>“Jangan bohong! Kau tentu menangis. Aku tahu bahwa kau berusaha untuk meruntuhkan perasaan belas kasihan Pangeran Ranapati. Dengan demikian maka kau akan dapat menarik perhatiannya. Kau tidak berusaha memikatnya dengan senyum dan kerlingan mata, tetapi karena kau tahu bahwa hati Pangeran Ranapati itu sangat lembut, kau mencoba untuk memikatnya dengan menjual belas kasihan dengan menangis, dan pada kesempatan lain mengeluh berkepanjangan. Kau akan menceritakan nasibmu yang buruk dan tersia-sia. Dengan demikian maka kau akan dapat meruntuhkan hati Pangeran Ranapati itu.”</p>
<p>“Tidak, Mbokayu. Tidak. Bahkan aku masih ingin dapat keluar dari tempat ini, kembali kepada kakakku dan kemudian kembali kepada ibuku.”</p>
<p>“Omong kosong! Perempuan manakah yang tidak merasa beruntung dan berharga, bahwa ia dapat dipilih untuk menjadi selir seorang Pangeran?”</p>
<p>“Tidak, Mbokayu. Sungguh. Aku ingin pulang.”</p>
<p>“Jangan berpura-pura! Jangan munafik! Ingat, jika kau bertingkah macam-macam, aku akan melemparkanmu kepada laki-laki yang banyak berkeliaran di sini. Aku akan mengatakan kepada Pangeran bahwa kau sudah berzina dengan laki-laki itu. Atau bahkan dengan beberapa orang laki-laki.”</p>
<p>“Jangan, Mbokayu, jangan!” Ranti itu pun kemudian telah berjongkok di hadapan Kantil sambil menangis.</p>
<p>“Cukup!” bentak Kantil, “Sekarang segera pergi ke dapur! Nyalakan perapian. Aku akan masak.”</p>
<p>“Baik, Mbokayu.”</p>
<p>Ranti itu pun segera bangkit berdiri. Ia pun kemudian melangkah pergi ke dapur. Sementara itu mulutnya berkumat-kamit. Tetapi tidak seorang pun yang mendengarnya ia berkata, “Awas, perempuan gila. Aku akan memilin lehermu sampai patah.”</p>
<p>Di dapur, Ranti pun segera menyalakan api. Ketika Kantil datang ke dapur, api sudah menyala. Ranti sudah meletakkan belanga berisi air di atas api.</p>
<p>“Ambil air di sumur! Kelentingnya terdapat di sebelah gentong itu,” perintah Kantil.</p>
<p>Ranti tidak menjawab. Ia pun segera bangkit berdiri mengambil kelenting dan membawanya ke sumur untuk mengambil air.</p>
<p>Beberapa pasang mata laki-laki terbelalak menyaksikannya. Tetapi seorang di antara mereka berkata, “Perempuan itu adalah simpanan Pangeran Ranapati. Siapa yang mengganggunya berarti bahwa ia sudah jemu hidup.”</p>
<p>Semua orang berpaling kepada orang yang berbicara itu. Bahkan di luar sadarnya, Ranti pun berpaling pula kepadanya. Ternyata orang itu adalah orang yang bertubuh pendek, yang telah membawa Ranti kepada Pangeran Ranapati.</p>
<p>Tetapi Ranti pun kemudian berpura-pura tidak mendengarnya. Ia pun berjalan terus ke sumur untuk mengambil air dengan kelenting, yang kemudian diusungnya di lambungnya.</p>
<p>Pagi itu Ranti ikut sibuk di dapur membantu Kantil menyiapkan makan bagi Pangeran Ranapati siang nanti. Pangeran Ranapati memang tidak terbiasa makan pagi, kecuali minuman hangat dan beberapa potong makanan.</p>
<p>Sambil masak, Kantil tidak henti-hentinya bersungut. Sekali-sekali bahkan membentak. Ada saja yang dicelanya pada Ranti. Kata-katanya yang menurut Kantil terlalu kasar. Tingkah lakunya yang kurang mapan dan tidak mengenal unggah-ungguh. Pikirannya yang tumpul dan tidak mudah menangkap tuntunan dan bimbingan, dan masih banyak lagi cacatnya.</p>
<p>Ranti hanya menundukkan wajahnya. Namun sekali-sekali ia harus bangkit melakukan apa yang diperintahkan oleh Kantil.</p>
<p>Menjelang tengah hari, maka nasi pun masak. Kantil pun segera memerintahkan Ranti agar menyenduk nasi ke dalam ceting bambu.</p>
<p>Ranti yang selalu dianggap bersalah itu pun menyenduk nasi ke dalam ceting dengan sangat hati-hati. Tidak satu pun butir-butir nasi yang terjatuh di lantai dapur. Sebutir nasi akan dapat menjadi alasan bagi Kantil untuk mengumpatinya sehari penuh.</p>
<p>Sementara Kantil masih sibuk di dapur, maka seorang pengikut Pangeran Ranapati datang kepada Kantil untuk menyampaikan pesan Pangeran Ranapati, bahwa ada tiga orang tamu. Kantil diminta untuk menyiapkan suguhan bagi mereka..</p>
<p>“Siapa?” bertanya Kantil.</p>
<p>“Yang seorang adalah Mas Panji Wangsadrana.”</p>
<p>“Mas Panji Wangsadrana? Apalagi yang dimaui Mas Panji itu, sehingga ia terlalu sering datang kemari?”</p>
<p>“Entahlah. Tetapi bukankah Mas Panji itu salah seorang pejabat di Istana Kadipaten Panaraga? Ia salah seorang yang dibawa oleh Pangeran Jayaraga dari Mataram.”</p>
<p>“Aku tahu,” potong Kantil. “Lalu siapa yang lain?”</p>
<p>“Aku tidak tahu.”</p>
<p>Kantil nampak menjadi kurang senang. Dengan nada datar ia pun berkata, “Jika Mas Panji datang kemari, hampir pasti Pangeran Ranapati harus pergi. Aku ingin Pangeran tidak terlalu sering pergi.”</p>
<p>“Tentu ada keperluan, Nyi. Keberadaan Pangeran di sini tentu membawa beban tugas tersendiri.”</p>
<p>“Aku tidak berkeberatan jika Pangeran melakukan tugasnya di Panaraga. Tetapi lihat, sudah dua kali Pangeran pulang dengan membawa perempuan. Dan perempuan ini adalah perempuan yang ketiga. Untunglah bahwa perempuan-perempuan itu kemudian telah mengkhianati Pangeran Ranapati. Kalau tidak, maka tentu ada tiga orang perempuan yang berada di rumah ini selain aku.”</p>
<p>“Ya, Nyi,” orang itu mengangguk-angguk.</p>
<p>“Tetapi nampaknya perempuan ini pun pada suatu saat akan mengkhianati Pangeran Ranapati,” berkata Kantil lebih lanjut.</p>
<p>Namun pengikut Pangeran Ranapati itu berkata, “Tamu itu sudah agak lama duduk di serambi depan. Pangeran minta segera disuguhkan minuman dan makanan.”</p>
<p>“Baik, baik.”</p>
<p>Kantil itu pun segera menyiapkan minuman dan makanan untuk dihidangkan kepada tamu-tamu Pangeran, serta Pangeran Ranapati sendiri. Ketika pengikut Pangeran itu akan membawa hidangan itu ke serambi depan, Kantil pun berkata, “Biarlah aku sendiri yang membawanya.”</p>
<p>Kantil itu pun kemudian meninggalkan Ranti sendiri di dapur, untuk menghidangkan suguhan bagi tamu-tamu Pangeran Ranapati.</p>
<p>Demikian Kantil meninggalkan dapur, maka Ranti pun berbisik, “Apa yang dilakukan oleh kedua orang perempuan itu?”</p>
<p>“Mereka berkhianat.”</p>
<p>“Apa yang dilakukannya?”</p>
<p>Orang itu termangu-mangu sejenak. Ia pun kemudian berpaling ke pintu dapur. Baru kemudian ia menjawab, “Sebenarnya keduanya tidak bersalah. Tetapi Nyi Kantil itulah yang memasukkan laki-laki ke bilik perempuan-perempuan itu, sehingga Pangeran menjadi marah. Laki-laki dan perempuan itu telah dibunuhnya.”</p>
<p>“Dalam waktu yang bersamaan?”</p>
<p>“Tidak. Peristiwanya berselang sekitar sebulan.”</p>
<p>Ranti masih akan bertanya, tetapi laki-laki itu bergegas keluar sambil berdesis, “Keberadaanku di sini akan dapat menjerat leherku.”</p>
<p>Ranti yang memaklumi keadaannya, membiarkannya pergi tanpa bertanya lebih jauh. Ia pun kemudian sibuk melanjutkan kerja yang ditinggalkan oleh Kantil.</p>
<p>Namun agaknya Ranti dapat menebak bahwa Kantil memang memberikan kesempatan kepadanya untuk bertemu dan berbicara dengan para pengikut Pangeran Ranapati, untuk mendapat kesempatan pada suatu saat menjebaknya.</p>
<p>“Tetapi tentu tidak akan secepat ini,” berkata Ranti di dalam hatinya.</p>
<p>Tetapi dengan demikian, Ranti harus menjadi lebih berhati-hati. Ternyata Kantil adalah seorang perempuan yang berhati iblis.</p>
<p>Ketika kemudian Kantil kembali ke dapur, laki-laki yang dipesan Pangeran Ranapati untuk menyiapkan minuman bagi tamu-tamunya itu sudah tidak ada di dapur.</p>
<p>“Dimana orang itu?” bertanya Kantil.</p>
<p>“Maksud Mbokayu?”</p>
<p>“Laki-laki itu?”</p>
<p>“Yang menyampaikan pesan Pangeran kepada Mbokayu?”</p>
<p>“Ya.”</p>
<p>“Laki-laki itu pergi bersamaan dengan saat Mbokayu membawa minuman ke serambi depan.”</p>
<p>Kantil mengerutkan keningnya. Ia mengharapkan laki-laki itu berbincang-bincang dengan Ranti sepeninggalnya. Meskipun yang dibicarakan soal apa pun, tetapi ia sudah mendapat satu kesempatan untuk melontarkan tuduhan pertama. Tetapi ternyata laki-laki itu sudah pergi.</p>
<p>“Laki-laki pengecut,” katanya di dalam hati. “Matanya buta, sehingga ia tidak melihat perempuan cantik di depan hidungnya.”</p>
<p>Tetapi Kantil itu masih mempunyai banyak sekali kesempatan. Pada suatu saat, ia tentu dapat menuduh perempuan itu berkhianat, sebagaimana pernah dilakukannya. Tentu ada laki-laki dungu yang pada suatu saat mau masuk ke dalam biliknya, sebagaimana yang pernah terjadi.</p>
<p>Kantil pun kemudian melanjutkan kesibukannya di dapur, dibantu oleh Ranti. Namun Kantil masih juga sempat beberapa kali membentak Ranti karena kesalahan-kesalahan kecil, atau bahkan pada saat Ranti tidak melakukan kesalahan apa pun.</p>
<p>Tetapi Ranti berusaha untuk tetap sabar. Ia berusaha untuk tabah mendengarkan segala macam caci-maki dan bentakan-bentakan perempuan iblis itu. Tetapi setiap kali mereka berada di depan Pangeran Ranapati, maka sikap Kantil menjadi sangat lembut, melampaui lembutnya sikap seorang ibu kepada gadis kecilnya.</p>
<p>Dalam pada itu, tiba-tiba saja Pangeran Ranapati itu pun telah masuk ke dapur sambil berkata, “Kantil. Aku akan pergi sebentar bersama Ki Panji Wangsadrana.”</p>
<p>Dengan sikap yang dibuat-buat Kantil itu pun bertanya, “Pangeran akan pergi ke mana?”</p>
<p>“Ada sesuatu yang penting yang harus aku lakukan. Mungkin aku pulang jauh malam. Segala sesuatunya tergantung pada tugas yang aku lakukan.”</p>
<p>“Silakan, Pangeran. Hamba mohon Pangeran cepat pulang. Hamba tidak dapat terlalu lama Pangeran tinggalkan.”</p>
<p>“Baik, Kantil. Aku akan segera pulang, demikian aku selesai dengan pekerjaanku.”</p>
<p>“Hamba mohon Pangeran berhati-hati.”</p>
<p>“Tentu, Kantil. Tetapi tidak ada orang yang dapat menggangguku tanpa harus menebus dengan nyawanya.”</p>
<p>“Hamba percaya, Pangeran. Meskipun demikian mungkin, saja ada orang yang licik, yang dengki dan iri terhadap Pangeran, berbuat curang.”</p>
<p>Pangeran Ranapati tersenyum. Katanya, “Jangan cemas. Aku akan kembali.”</p>
<p>Kantil itu pun kemudian mengikut Pangeran Ranapati sampai turun ke halaman depan. Tamu-tamunya, terutama Ki Panji Wangsadrana mengangguk hormat kepadanya sambil mohon diri, “Kami mohon diri, Nyi Mas.”</p>
<p>“Silakan, Ki Panji.”</p>
<p>Demikian mereka keluar dari regol halaman, maka Kantil pun kembali ke dapur. Tetapi ia tidak segera menyelesaikan pekerjaannya. Bahkan ia pun berkata kepada Ranti, “Selesaikan kerja ini. Pangeran Ranapati tidak akan makan di rumah siang nanti, bahkan sore nanti. Biar nanti sore saja aku menyiapkan makan malam, jika Pangeran Ranapati kembali nanti.”</p>
<p>Ranti hanya dapat mengangguk mengiyakan. Tetapi Ranti itu pun berkata dengan ragu, “Tetapi aku tidak dapat masak, Mbokayu. Mungkin masakanku akan terasa tidak enak. Apalagi bagi Pangeran Ranapati.”</p>
<p>“Kau tidak akan masak buat Pangeran Ranapati. Sudah aku katakan, aku nanti yang akan masak bagi Pangeran Ranapati. Kau masak buat kau makan sendiri. Mungkin aku, jika aku tidak menjadi mual makan masakanmu.”</p>
<p>Ranti tidak berbicara lagi. Sementara itu Kantil pun telah meninggalkan dapur. Sejenak kemudian, Kantil itu telah berbaring di biliknya. Ia lebih senang tidur daripada berbuat sesuatu, jika Pangeran Ranapati tidak ada di rumah.</p>
<p>Di dapur, Ranti menjadi sibuk sendiri. Tetapi sebenarnyalah bahwa Rara Wulan sudah terbiasa berada di dapur. Ia adalah seorang perempuan yang sebenarnya pandai masak. Tetapi di rumah itu, ia sengaja membuat masakannya tidak terlalu enak. Ia sengaja membuat makanannya terasa kurang garam, sedangkan santannya terlalu cair.</p>
<p>Ranti menyadari bahwa di belakang dapur itu berkeliaran beberapa orang laki-laki pengikut Pangeran Ranapati. Tetapi Ranti berusaha untuk tidak terjebak karenanya. Karena itu ia sama sekali tidak mempedulikannya. Sementara laki-laki yang ada di belakang itu pun tidak ada yang berani menyapanya. Mereka sadar bahwa sedikit saja mereka melakukan kesalahan karena keberadaan perempuan itu, maka mereka akan dapat disingkirkan untuk selama-lamanya, seperti yang pernah terjadi sebelumnya.</p>
<p>Karena itu maka Ranti pun dapat bekerja dengan tenang di dapur, sementara Kantil pun masih saja berada di biliknya. Bahkan ia berharap bahwa ada seorang laki-laki yang mendatangi Ranti di dapur.</p>
<p>Tetapi tidak seorang pun yang akan membiarkan kepalanya dipenggal, atau tubuhnya digantung di dahan pohon benda di sudut kebun di belakang. Karena itu, tidak seorang pun yang berani mengusik Ranti yang sedang bekerja di dapur seorang diri. Apalagi Ranti pun kemudian telah menutup pintu belakang dapur itu.</p>
<p>Ranti sudah terbiasa bekerja cepat. Karena itu maka ia pun dengan cepat pula menyelesaikan masakan yang sudah dimulai oleh Kantil. Namun Ranti itu sengaja membuat masakannya tidak terlalu enak. Bahkan terasa hambar karena kurang garam.</p>
<p>Setelah selesai dengan masakannya, Ranti masih duduk sendiri di dapur. Ia sempat melihat-lihat tatanan perabot di dapur. Nampaknya Kantil memang seorang yang rajin. Ia menata perabot dapur dengan teratur. Dipilih-pilihnya perabot yang mudah pecah dan yang tidak. Kemudian yang terbuat dari bambu dan kayu, yang lain gerabah dan sebangsanya. Di sudut paga bambu terdapat perabot yang terbuat dari tembaga.</p>
<p>Ranti itu pun kemudian bangkit berdiri. Diamatinya perabot itu satu-satu, seakan-akan ia ingin menghitung, apa saja yang berada di dapur itu.</p>
<p>Sementara itu peralatan dapur yang baru saja dipakai oleh Ranti, telah dicucinya pula sehingga bersih. Ia pun menempatkan alat-alat dapur itu di tempatnya, sesuai dengan yang telah diatur oleh Kantil.</p>
<p>Ketika matahari mulai turun, maka Kantil itu pun telah keluar dari biliknya. Ketika ia pergi ke dapur, ia melihat Ranti itu masih berada di dapur.</p>
<p>“Apa yang kau lakukan di sini, he?” bertanya Kantil.</p>
<p>“Menyelesaikan kerja Mbokayu. Kemudian mencuci alat-alat dapur yang aku pergunakan, dan menempatkannya di tempat yang barangkali sesuai dengan keinginan Mbokayu.”</p>
<p>Sekilas Kantil memang melihat segala sesuatunya telah diatur dengan rajin sebagaimana ia lakukan. Tetapi justru karena itu ia menjadi semakin tidak senang kepada Ranti. Dengan kasar Kantil itu pun membentak, “Kenapa kau tidak menyiapkan makan siang bagiku? Apa kau kira jika Pangeran Ranapati tidak ada di rumah, aku tidak perlu makan?”</p>
<p>“Mbokayu belum memerintahkannya. Aku takut.”</p>
<p>Kedengkian Kantil agak terhibur ketika ia melihat wajah Ranti yang membayangkan ketakutan. Wajah itu menunduk dalam-dalam dengan pandangan mata yang terhunjam di lantai.</p>
<p>“Sekarang aku perintahkan kepadamu, supaya kau menyiapkan makan siang buatku.”</p>
<p>“Ya, Mbokayu. Tetapi dimana aku harus menyiapkan makan siang itu? Di ruang dalam atau di dapur ini saja?”</p>
<p>“Kau memang seorang perempuan yang dungu. Aku bukan budak di sini. Aku adalah istri Pangeran Ranapati. Bukankah kau pernah melihat bahwa aku selalu berada di dekatnya? Pada saat Pangeran Ranapati minum-minuman hangat di pagi hari serta makan beberapa potong makanan, aku juga menyertainya. Seharusnya kau tahu, bahwa aku akan makan di tempat Pangeran Ranapati makan, meskipun Pangeran Ranapati itu tidak ada di rumah.”</p>
<p>“Baiklah, Mbokayu. Aku akan menyiapkan makan Mbokayu di ruang dalam.”</p>
<p>“Kaulah yang nanti makan di sini setelah aku selesai.”</p>
<p>Ranti tidak menjawab. Tetapi rasa-rasanya ia ingin meremas bibir Kantil yang memuntahkan kata-katanya yang sangat menyakiti hatinya itu. Atau bahkan memotong lidahnya.</p>
<p>Tetapi Ranti tidak dapat melakukannya dengan tergesa-gesa. Ia harus membiarkan dirinya direndahkan, karena hal itu merupakan bagian dari pengorbanannya untuk mendapatkan keterangan lebih jauh tentang Pangeran Ranapati.</p>
<p>Selama ia berada di rumah itu, ia baru mendapatkan satu keterangan yang dapat disampaikannya kepada Glagah Putih, bahwa ada pejabat Panaraga yang sering datang ke rumah Pangeran Ranapati. Pejabat itu juga datang dari Mataram bersama Pangeran Jayaraga.</p>
<p>Demikianlah, maka Ranti pun telah menyiapkan makan siang Kantil di ruang dalam. Ia mencoba mengatur makan yang disiapkan itu sebagaimana seharusnya. Tetapi ada juga yang dengan sengaja dibuatnya tidak terlalu rapi.</p>
<p>Sebenarnyalah ketika Kantil kemudian duduk menghadapi makan siangnya, maka ia pun segera berteriak memanggil Ranti. Sehingga dengan tergesa-gesa Ranti pun berlari-lari kecil datang ke ruang dalam.</p>
<p>“Apakah matamu tidak dapat melihat apa yang baik dan apa yang buruk?” bertanya kantil.</p>
<p>“Maksud Mbokayu?”</p>
<p>“Lihat! Pantaskah seorang perempuan mengatur kelengkapan makan siang seperti ini? Apakah aku harus meloncat-loncat untuk menyenduk nasi, kemudian memungut lauknya yang kau letakkan di seberang ceting nasi. Kemudian sayurnya dan sambalnya yang berserakan?”</p>
<p>Ranti hanya menundukkan kepalanya. Tetapi Kantil tidak memberitahukan bagaimana sebaiknya ia mengatur nasi, lauk pauk dan sayurnya, sambalnya serta mangkuk-mangkuknya.</p>
<p>Ranti pun tahu, bahwa Kantil tentu berusaha agar Ranti tetap saja bodoh dan tidak dapat menyiapkan dan menata makan siang dengan pantas. Dengan demikian maka Pangeran Ranapati pun akan muak kepadanya.</p>
<p>Namun sejenak kemudian, Kantil itu pun membentaknya, “Sekarang, pergi! Kau baru akan makan setelah aku selesai makan. Atau barangkali kau sudah makan lebih dahulu, ketika kau berada di dapur sendirian?”</p>
<p>“Belum, Mbokayu. Aku belum makan.”</p>
<p>“Sekarang pergilah. Kenapa kau masih ada di situ?”</p>
<p>Ranti itu pun kemudian meninggalkan Kantil sendiri di ruang dalam. Tetapi Ranti pun menduga, jika Kantil sudah mencicipi sayurnya yang hambar, maka ia tentu akan berteriak-teriak lagi memanggilnya.</p>
<p>Sebenarnyalah bahwa demikian Ranti meletakkan tubuhnya, duduk di amben panjang di dapur, ia sudah mendengar lagi Kantil itu berteriak memanggilnya.</p>
<p>Ranti tersenyum. Namun ia pun berlari-lari kecil ke ruang dalam. Demikian ia memasuki ruang dalam, maka ia sudah tidak tersenyum lagi. Bahkan wajahnya menjadi ketakutan serta menunduk dalam-dalam.</p>
<p>“Kau ini perempuan atau bukan, Ranti?” bertanya Kantil.</p>
<p>“Kenapa Mbokayu?”</p>
<p>“Bagaimana aku dapat makan kalau begini caramu memasak sayur?”</p>
<p>“Aku tidak mengerti, Mbokayu.”</p>
<p>“Cicipi masakanmu! Cicipi!” bentak Kantil sambil menyodorkan mangkuknya.</p>
<p>Ranti masih saja nampak kebingungan. Namun kemudian Kantil pun melekatkan mangkuknya ke mulut Ranti sambil berkata, “Kau kira aku dapat makan sayur seperti ini?”</p>
<p>Ranti yang tidak mengira bahwa mangkuk itu akan dilekatkan ke mulutnya, tidak sempat mengelak. Namun sebenarnya Ranti sudah tahu bahwa sayur itu rasanya sangat hambar.</p>
<p>“Apakah sepanjang umurmu kau belum pernah masak?”</p>
<p>“Sudah, Mbokayu. Aku sering membantu ibu masak. Di Panaraga aku juga masak untuk kakakku.”</p>
<p>“Lidah mereka adalah lidah yang mati. Tetapi kau tidak dapat menghidangkan masakan seperti itu kepadaku.”</p>
<p>“Aku memang tidak pandai memasak, Mbokayu.”</p>
<p>“Bawa semuanya ini ke dapur. Kau sajalah yang makan masakanmu sendiri, karena hanya kau yang mau makan masakan yang rasanya seperti air limbah itu.”</p>
<p>Ranti tidak menyahut. Tetapi wajahnya menjadi semakin menunduk. Sementara Kantil pun membentaknya pula, “Bawa semuanya pergi! Kau harus menghabiskan masakanmu itu. Kau sendiri yang masak, maka biarlah kau sendiri yang makan.”</p>
<p>Ranti tidak berani bertanya. Yang dilakukannya, adalah membawa nasi serta sayur dan lauknya itu ke dapur. Namun Ranti pun kemudian menjadi ragu-ragu, apakah ia dapat makan atau tidak, sementara Kantil sendiri belum makan.</p>
<p>Tetapi ternyata Kantil yang marah itu masuk ke dalam biliknya, sehingga Ranti pun kemudian mempunyai waktu untuk makan.</p>
<p>Ranti sendiri menaburkan garam di mangkuknya, sehingga dengan demikian maka masakannya menjadi tidak terlalu hambar, meskipun itu masih terhitung kurang enak.</p>
<p>Setelah makan, maka Ranti pun telah mencuci mangkuk-mangkuk yang kotor. Ia tahu bahwa sore nanti, Kantil akan masak untuk menyediakan makan malam Pangeran Ranapati.</p>
<p>Setelah segala sesuatunya selesai, maka Ranti pun masuk ke dalam biliknya. Setelah menutup pintunya rapat-rapat, maka Ranti pun berusaha mencari hubungan dengan Glagah Putih dengan Aji Pamelingnya.</p>
<p>Karena Glagah Putih berada di tempat yang agak jauh, maka isyarat yang saling mereka berikan menjadi tidak sejelas jika Glagah Putih berada di halaman rumah itu.</p>
<p>Kepada Glagah Putih, Ranti sempat menceritakan pengalamannya, sehingga Glagah Putih tertawa karenanya.</p>
<p>Tetapi Glagah Putih pun berpesan, “Kau harus bersabar, Rara Wulan. Kau harus berusaha mengetahui apa yang dilakukan Ki Panji Wangsadrana di rumah Pangeran Ranapati. Pada kesempatan lain jika orang itu datang lagi, beritahu aku. Aku akan mencoba mengikuti mereka.”</p>
<p>“Kau harus berhati-hati, Kakang. Nampaknya Ki Wangsadrana selalu dikawal oleh prajurit-prajuritnya. Tetapi betapapun sulitnya, aku akan berusaha mengetahui apa yang dilakukan oleh Ki Panji Wangsadrana.”</p>
<p>“Tetapi kau harus berhati-hati, Rara,” pesan Glagah Putih.</p>
<p>Dalam pada itu, Glagah Putih sendiri berusaha menghubungi para pejabat di Istana Kadipaten Panaraga.</p>
<p>Madyasta yang sudah lebih lama berada di Panaraga, ternyata mempunyai seorang kawan yang menjadi seorang lurah prajurit di Panaraga. Meskipun pengenalannya atas kadipaten itu sangat terbatas, tetapi ternyata bahwa dari lurah prajurit itu Madyasta mendapat beberapa keterangan awal, yang agaknya dapat dipergunakan untuk menelusuri keterangan-keterangan lebih banyak.</p>
<p>Sementara itu, Rara Wulan masih harus menunggu kesempatan untuk dapat mengetahui keperluan Ki Panji Wangsadrana lebih jauh.</p>
<p>Seperti yang direncanakan, di sore hari Kantil telah memanggil Ranti untuk membantunya bekerja di dapur. Tetapi sebagaimana Kantil tidak memberitahu caranya mengatur hidangan makan, maka Kantil pun tidak mengajarinya agar Ranti itu dapat masak masakan yang lebih enak dan tidak hambar.</p>
<p>Yang dilakukan Ranti kemudian hanyalah menyalakan api, mengambil air, mencuci sayuran dan kerja yang lain, yang tidak langsung berhubungan dengan memasak sayur dan membuat lauk.</p>
<p>Tetapi sebenarnyalah bahwa Ranti tahu benar apa yang dilakukan Kantil. Ia pun dapat memasak sebagaimana Kantil itu, dan bahkan mungkin masakan Ranti justru lebih enak dari masakan Kantil.</p>
<p>Kantil masih saja sering membentak-bentak, menyindir, marah dan segala macam cela yang sangat menjengkelnya. Tetapi Ranti masih harus tetap bersabar dan menahan hatinya, yang sebenarnya sudah hampir meledak.</p>
<p>Menjelang senja, segala sesuatunya sudah siap. Karena di siang hari Kantil masih belum makan, maka Kantil pun tidak menunggu kedatangan Pangeran Ranapati. Meskipun sedikit, tetapi Kantil makan lebih dahulu, karena ia tidak dapat menahan lapar.</p>
<p>“Kau makan setelah Pangeran Ranapati makan malam nanti.”</p>
<p>“Ya, Mbokayu,” sahut Ranti. Tetapi di hatinya ia bertanya, “Kalau Pangeran Ranapati itu tidak pulang?”</p>
<p>Tetapi Ranti adalah orang yang terlatih. Ia memang dapat merasa haus dan lapar sebagaimana orang lain. Tetapi dalam keadaan memaksa, maka Ranti dapat saja menahan lapar, bahkan lebih dari satu hari satu malam. Pada saat ia harus menjalani laku sampai tiga hari tiga malam, dan kemudian pati geni sehari semalam, ia masih saja tetap tegar dan mampu melakukan kewajiban yang dibebankan kepadanya.</p>
<p>Ketika kemudian malam turun, maka seorang abdi Pangeran Ranapati itu telah menyalakan lampu di setiap ruangan dan di serambi. Bahkan di luar rumah dan di pintu regol telah dinyalakan oncor pula.</p>
<p>Tetapi biasanya Pangeran Ranapati pulang jauh malam atau bahkan menjelang dini hari. Bahkan jika banyak tugas yang harus dilakukan, Pangeran Ranapati sering tidak pulang sampai dua tiga hari.</p>
<p>Karena itu, malam itu Kantil pun tidak menunggu kedatangan Pangeran Ranapati. Demikian malam menjadi semakin dalam, maka Kantil pun telah pergi ke biliknya. Namun sebelumnya ia telah memerintahkan seorang abdi untuk menyelarak semua pintu. Bahkan pintu dapur sekalipun. Namun yang harus menyelarak pintu butulan adalah justru Ranti, setelah abdi itu keluar dari rumah.</p>
<p>“Pintu bilikmu sudah tidak diselarak dari luar lagi, Ranti. Tetapi itu bukan berarti bahwa kau mempunyai kebebasan mutlak dan dapat meninggalkan rumah ini. Di luar ada orang yang bertugas berjaga-jaga. Jika kau berusaha untuk lari dari rumah ini, maka kau akan mengalami nasib yang sangat buruk. Oleh Pangeran Ranapati kau akan dilemparkan kepada laki-laki yang ada di rumah ini, apa pun yang kemudian akan terjadi atas dirimu.”</p>
<p>Ranti hanya menundukkan wajahnya. Tetapi ia tidak menjawab.</p>
<p>“Nah, sekarang pergilah kebilikmu. Jangan keluar lagi.”</p>
<p>“Apakah aku tidak boleh ke pakiwan di malam hari, Mbokayu? Jika aku tidak pergi ke pakiwan, maka perutku menjadi sakit.”</p>
<p>“Sekarang pergilah ke pakiwan. Cepat! Kau dapat keluar lewat pintu butulan yang kau selarak dari dalam.”</p>
<p>Ranti menjadi ragu-ragu. Tetapi akhirnya ia pergi ke pakiwan. Sebenarnyalah bahwa Ranti ingin sekedar melihat suasana di luar rumah di malam hari. Apakah para pengikut Pangeran Ranapati itu benar-benar melakukan tugasnya dengan baik.</p>
<p>Ternyata para pengikut Pangeran Ranapati adalah pengikut-pengikut yang patuh. Meskipun Pangeran Ranapati tidak ada, tetapi mereka tetap saja menjalankan tugas mereka. Di belakang, nampak empat orang yang berjaga-jaga di serambi. Tentu di depan dan di samping juga ada pengikut Pangeran Ranapati yang bertugas mengawasi keadaan.</p>
<p>Para pengikut yang bertugas itu pun melihat Ranti itu keluar dari pintu butulan dan pergi ke pakiwan. Tetapi tidak seorang pun yang berani menyapanya, karena hal itu akan dapat membawa mereka ke dalam bencana.</p>
<p>Karena itu maka Ranti justru merasa aman karena orang-orang yang bertugas berjaga-jaga itu.</p>
<p>Namun Ranti pun sebenarnya tidak segera masuk ke dalam pakiwan. Di bawah bayang-bayang kegelapan, Ranti pun menyelinap. Ia ingin melihat sendiri kesiagaan di halaman samping rumah itu.</p>
<p>Sebenarnyalah bahwa para pengikut Pangeran Ranapati adalah pengikut yang setia.</p>
<p>Baru setelah mengamati keadaan di sekitar rumah itu, Ranti pun singgah sebentar di pakiwan.</p>
<p>Ketika ia kembali masuk lewat pintu butulan, Kantil itu membentaknya, “Apa yang kau lakukan, he? Begitu lama kau berada di pakiwan?”</p>
<p>“Maaf, Mbokayu. Perutku memang agak sakit.”</p>
<p>“Apakah kau sudah kelaparan?”</p>
<p>“Tidak, Mbokayu. Tidak.”</p>
<p>“Apa kau berhenti dan bercanda dengan laki-laki yang bertugas malam ini?”</p>
<p>“Tidak, Mbokayu. Sama sekali tidak. Aku tidak mengenal seorang pun di antara mereka.”</p>
<p>“Kalau kau sudah menyelarak pintu itu kembali, maka segera masuk ke bilikmu. Kau akan dibangunkan dan membantuku menyediakan makan Pangeran Ranapati, jika Pangeran pulang. Baru setelah itu kau boleh makan.”</p>
<p>“Ya, Mbokayu.”</p>
<p>“Kau harus mengucapkan terima kasih kepadaku, bahwa aku telah memberikan banyak kebebasan kepadamu.”</p>
<p>Ranti mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, “Ya, Mbokayu. Aku sangat berterima kasih kepada Mbokayu. Apapun yang harus aku lakukan, itu lebih baik daripada aku harus tetap berada di dalam bilik itu.”</p>
<p>“Sekarang masuk ke dalam bilikmu. Jangan keluar lagi, meskipun aku tidak akan menyelaraknya dari luar.”</p>
<p>“Ya, Mbokayu.”</p>
<p>Ranti pun kemudian masuk ke dalam biliknya. Tetapi Kantil masih duduk di ruang dalam, menunggu kedatangan Pangeran Ranapati dan mengawasi Ranti, seandainya Ranti keluar dari biliknya dengan diam-diam.</p>
<p>Tetapi Ranti memang tidak lagi keluar dari biliknya. Pada saat Kantil menduga bahwa Ranti sudah tidur nyenyak, namun sebenarnya Ranti tengah berhubungan dengan Glagah Putih dengan Aji Pamelingnya.</p>
<p>“Hati-hatilah,” berkata Glagah Putih, “jangan terjebak oleh permainan istri Pangeran Ranapati itu.”</p>
<p>“Aku akan sangat berhati-hati, Kakang.”</p>
<p>Di malam hari, Ranti pun menjadi sangat berhati-hati. Ia telah meletakkan sebuah sapu ijuk bertangkai bambu di depan pintu. Jika pintu itu dibuka, maka tangkai sapu ijuk itu akan roboh. Bagi Rara Wulan, bunyi tangkai sapu ijuk itu sudah cukup keras untuk membangunkannya.</p>
<p>Malam itu ternyata Pangeran Ranapati pulang sebelum jauh malam. Sebelum tengah malam, Pangeran Ranapati sudah mengetuk pintu rumahnya sambil memanggil nama Kantil.</p>
<p>Kantil pun dengan tergesa-gesa pergi ke ruang depan untuk membuka pintu pringgitan.</p>
<p>Ranti yang masih belum tidur itu juga mendengar bahwa Pangeran Ranapati telah pulang.</p>
<p>Namun agaknya Pangeran Ranapati itu tidak sendiri. Ia datang bersama beberapa orang. Seorang di antara mereka ternyata adalah Mas Panji Wangsadrana.</p>
<p>“Marilah, silakan duduk di ruang dalam saja,” Pangeran Ranapati mempersilakan.</p>
<p>“Baik, Pangeran,” sahut Mas Panji Wangsadrana.</p>
<p>Mereka pun kemudian duduk di ruang dalam. Dengan mengetrapkan Aji Sapta Pangrungu, Ranti sempat mendengar Kantil mempersilahkan mereka duduk.</p>
<p>“Buatkan kami minuman, Kantil,” berkata Pangeran Ranapati.</p>
<p>“Baik, Pangeran,” sahut Kantil.</p>
<p>Ranti pun menyadari bahwa Kantil tentu akan membangunkannya dan minta kepadanya untuk membantunya menyiapkan minuman di dapur.</p>
<p>Namun dengan Aji Sapta Pangrungu, Ranti masih mendengar Pangeran Ranapati berkata, “Aku sangat kecewa.”</p>
<p>“Tentu ada sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan,” berkata Ranti di dalam hatinya.</p>
<p>Namun ia tidak mempunyai banyak kesempatan. Ia pun segera mendengar pintu biliknya diketuk oleh Kantil.</p>
<p>“Bangun, pemalas!” panggil Kantil.</p>
<p>Ranti pun segera bangkit. Untunglah Kantil tidak membuka pintunya dari luar, sehingga tangkai sapu ijuknya tidak roboh dan mungkin agak mengejutkannya.</p>
<p>Ranti pun kemudian telah berada di dapur bersama Kantil. Ranti pun harus segera menyalakan api dan menjerang air.</p>
<p>“Jangan terlalu banyak, bodoh! Seperlunya saja, agar lebih cepat mendidih.”</p>
<p>“Ya, Mbokayu,” jawab Ranti dengan nada rendah.</p>
<p>Ketika Ranti kemudian duduk di depan perapian, meskipun ia mengetrapkan Aji Sapta Pangrungu, namun ia tidak lagi dapat mendengar pembicaraan antara Pangeran Ranapati dengan tamu-tamunya. Tetapi satu hal telah diketahuinya, bahwa Pangeran Ranapati malam itu menjadi kecewa.</p>
<p>Demikian minuman itu siap, maka Ranti berharap bahwa Kantil akan memerintahkannya membawa ke ruang depan. Tetapi ternyata Kantil sendirilah yang membawa minuman itu kepada Pangeran Ranapati dan tamu-tamunya.</p>
<p>Namun ketika Kantil tidak ada di dapur, sementara Ranti duduk dengan memusatkan pendengarannya dengan Aji Sapta Pangrungu, ia masih dapat mendengar lamat-lamat, dan bahkan kadang-kadang hilang tetapi kadang-kadang timbul kembali, Pangeran Ranapati itu mendesak kepada Mas Panji Wangsadrana, “Jangan terlalu lama, Mas Panji. Aku ingin Mas Panji melakukannya lebih cepat lagi.”</p>
<p>“Aku akan berusaha, Pangeran,” jawab Mas Panji. Tetapi pembicaraan mereka pun terhenti. Yang terdengar kemudian adalah suara Kantil yang hilang-hilang timbul, mempersilakan tamu-tamunya minum.</p>
<p>Bahkan Kantil itu pun bertanya, “Apakah hamba harus mempersiapkan makan malam, Pangeran?”</p>
<p>“Ya. Siapkan makan malam bagi kami.”</p>
<p>“Baik, Pangeran.”</p>
<p>Ketika Kantil kembali ke dapur, maka ia pun menjadi sibuk memanasi sayur dan lauk yang akan dihidangkan. Katanya kepada Ranti, “Siapkan mangkuk-mangkuk. Cepat!”</p>
<p>Ranti pun kemudian dengan cepat telah menyiapkan mangkuk-mangkuk yang diperlukan, sementara Kantil pun menyiapkan segala sesuatunya. Kantil sendirilah yang kemudian mengatur dan menghidangkan makan malam itu.</p>
<p>Ternyata Ranti tidak dapat lagi menangkap pembicaraan mereka yang sedang makan di ruang depan.</p>
<p>Sementara itu, Kantil tidak segera kembali ke dapur. Agaknya Kantil menunggui Pangeran Ranapati dan tamu-tamunya yang sedang makan.</p>
<p>Di dapur, Ranti berusaha untuk dapat berhubungan dengan Glagah Putih. Agaknya Glagah Putih sudah tidur nyenyak. Namun akhirnya Glagah Putih itu terbangun dan berusaha menerima pesan-pesan Ranti.</p>
<p>Kepada Glagah Putih, Ranti menceritakan bahwa nampaknya Pangeran Ranapati itu menjadi sangat kecewa malam itu. Tetapi Ranti tidak dapat mengetahui kenapa Pangeran Ranapati itu menjadi kecewa.</p>
<p>“Usahakan mengikuti persoalannya, Rara,” pesan Glagah Putih. “Nampaknya Pangeran Ranapati sedang merencanakan sesuatu yang berhubungan dengan tugas Pangeran Jayaraga.”</p>
<p>“Apakah Pangeran Ranapati sudah berhubungan dengan Pangeran Jayaraga?” bertanya Rara Wulan.</p>
<p>“Pangeran Jayaraga sudah mendengar bahwa di Panaraga telah hadir pula seorang Pangeran. Seorang saudara tua Pangeran Jayaraga yang bernama Pangeran Ranapati, putra Panembahan Senapati, yang sejak masa kanak-kanaknya tidak berada di Istana.”</p>
<p>“Apa tanggapan Pangeran Jayaraga?”</p>
<p>“Pangeran Jayaraga ingin bertemu dengan Pangeran Ranapati, yang mengaku sebagai saudara tua Pangeran Jayaraga.”</p>
<p>“Apakah mereka sudah bertemu?”</p>
<p>“Belum.”</p>
<p>“Mungkin karena itu Pangeran Ranapati menjadi sangat kecewa. Tetapi mungkin ada persoalan yang lain.”</p>
<p>“Baiklah. Usahakan untuk mengetahui lebih banyak tentang Pangeran Ranapati.”</p>
<p>“Baik, Kakang.”</p>
<p>Hubungan itu terputus. Ternyata Pangeran Ranapati serta para tamunya telah selesai makan. Kantil telah membawa mangkuk-mangkuk yang kotor ke dapur. Ketika Ranti akan membantunya mengambil mangkuk-mangkuk kotor itu, Kantil membentaknya, “Kau harus mencucinya! Kau tidak perlu ikut-ikutan melakukan tugasku, jika aku tidak memberikan perintah kepadamu.”</p>
<p>“Ya, Mbokayu,” jawab Ranti. Namun sikap Kantil itu telah sangat membatasi tugas-tugas Ranti untuk mengetahui lebih banyak tentang Pangeran Ranapati. Tetapi jika ia berusaha untuk melampauinya, maka kemungkinan buruk akan dapat segera terjadi. Justru terlalu cepat, sebelum ia mengetahui lebih banyak tentang Pangeran Ranapati.</p>
<p>Karena itu, yang dilakukan oleh Ranti adalah merendahkan dirinya, tunduk kepada semua perintah perempuan yang merasa dirinya sebagai istri Pangeran Ranapati itu.</p>
<p>Beberapa saat kemudian, Mas Panji Wangsadrana dan kawan-kawannya itu pun minta diri. Ketika Kantil juga melepas mereka sampai ke tangga, dengan Aji Sapta Pangrungu, Ranti yang berada di dapur masih dapat mendengar Pangeran Ranapati itu sekali lagi menyatakan kekecewaannya.</p>
<p>“Aku harap Ki Panji tidak gagal lagi.”</p>
<p>“Aku akan berusaha, Pangeran,” jawab Ki Panji.</p>
<p>Yang kemudian terdengar adalah Ki Panji itu minta diri beserta kawan-kawannya. Juga kepada Kantil.</p>
<p>Demikian tamu-tamu itu meninggalkan rumah Pangeran Ranapati, maka dengan Aji Sapta Pangrungu, Ranti mencoba untuk mendengarkan pembicaraan Pangeran Ranapati dengan Kantil di ruang dalam. Di ruang itu lebih dekat dengan dapur.</p>
<p>“Apa sebenarnya yang terjadi Pangeran?” bertanya Kantil.</p>
<p>“Ternyata aku telah bekerja sama dengan orang-orang bodoh seperti Panji Wangsadrana.”</p>
<p>“Apa yang seharusnya dilakukan?”</p>
<p>“Kau tidak usah ikut memikirkannya. Itu adalah persoalanku, bukan persoalanmu.”</p>
<p>“Mungkin aku akan dapat ikut memikirkannya.”</p>
<p>“Apa yang dapat kau pikirkan, kecuali sambal terasi? Sudahlah. Kau tidak usah mencoba mencampuri urusanku.”</p>
<p>“Baik, Pangeran.”</p>
<p>“Sekarang aku akan pergi ke pakiwan. Aku sudah mengantuk. Aku akan tidur.”</p>
<p>Pangeran Ranapati itu pun segera pergi ke pakiwan. Sementara itu Kantil pergi ke dapur untuk melihat Ranti yang masih sibuk mencuci mangkuk.</p>
<p>“Kau selesaikan kerjamu,” berkata Kantil, “kau boleh makan. Aku akan tidur. Setelah selesai, kau pun harus segera masuk ke dalam bilikmu. Jangan mencoba untuk melarikan diri dari rumah ini. Setiap sudut mendapat pengawasan yang ketat.”</p>
<p>“Apakah aku boleh pergi ke pakiwan, Mbokayu?”</p>
<p>“Untuk apa?”</p>
<p>“Mencuci tangan dan kaki.”</p>
<p>“Nanti sesudah selesai kerjamu. Sesudah itu kau harus masuk ke dalam bilikmu.”</p>
<p>“Baik, Mbokayu.”</p>
<p>Ketika kemudian Kantil masuk, Ranti sekali lagi mencoba menghubungi Glagah Putih. Ketika Glagah Putih menyahut, maka Ranti pun bertanya, “Apakah kau mengenal orang yang bernama Panji Wangsadrana?”</p>
<p>“Mas Panji Wangsadrana?”</p>
<p>“Ya.”</p>
<p>“Aku pernah mendengar nama itu.”</p>
<p>Ranti pun kemudian berkata, “Lacak orang itu.”</p>
<p>“Baik. Aku akan berusaha,” jawab Glagah Putih.</p>
<p>Ranti pun kemudian menghentikan hubungannya dengan Glagah Putih lewat Aji Pameling. Ia pun kemudian lewat pintu butulan keluar, pergi ke pakiwan.</p>
<p>Ternyata para pengikut Pangeran Ranapati memang orang-orang yang setia. Mereka sama sekali tidak beranjak dari tugas mereka. Bahkan ada pula di antara mereka yang bertugas meronda berkeliling halaman rumah itu.</p>
<p>Tetapi sebenarnya para pengikut Pangeran Ranapati yang bertugas itu tidak akan merupakan penghambat yang tidak tertembus, seandainya Rara Wulan minta Glagah Putih datang menghubunginya secara langsung. Tetapi nampaknya Rara Wulan masih belum memerlukannya.</p>
<p>Dalam pada itu, Glagah Putih yang masih menganggap bahwa Rara Wulan masih tetap aman, memusatkan perhatiannya kepada orang yang bernama Mas Panji Wangsadrana. Dari Madyasta, Glagah Putih pun kemudian mengetahui bahwa Mas Panji Wangsadrana adalah orang Mataram yang datang ke Panaraga bersama Pangeran Jayaraga.</p>
<p>“Ternyata Pangeran Ranapati telah berhasil membuat hubungan dengan Mas Panji Wangsadrana,” berkata Glagah Putih.</p>
<p>“Ya,” sahut Madyasta. “Agaknya berita tentang keberadaan seorang Pangeran di Panaraga yang didengar Pangeran Jayaraga itu juga dari Mas Panji Wangsadrana.”</p>
<p>“Ya. Tetapi apakah hubungan Mas Panji dengan Pangeran Jayaraga cukup dekat?”</p>
<p>“Ya. Mas Panji Wangsadrana merupakan salah seorang kepercayaan Pangeran Jayaraga.”</p>
<p>Glagah Putih mengangguk-angguk. Ia pun kemudian telah berpesan kepada Madyasta untuk mengikuti sikap dan tingkah laku Mas Panji Wangsadrana. Mungkin ada sesuatu yang dapat menarik perhatian.</p>
<p>Di hari berikutnya, Glagah Putih telah dihubungi kembali oleh Rara Wulan, yang memberitahukan bahwa agaknya usaha Mas Panji Wangsadrana sudah berhasil.</p>
<p>“Apa yang diusahakan, Rara?”</p>
<p>“Aku belum tahu, Kakang. Mungkin Kakang Madyasta dapat mencari jawabnya.”</p>
<p>Dalam pada itu, di hari berikutnya, Madyasta dengan agak tergesa-gesa menghubungi Glagah Putih. Baru saja ia mendengar bahwa Pangeran Jayaraga akan mengadakan adon-adon. Sebagai orang yang belum lama bertugas di Panaraga, Pangeran Jayaraga akan membuka semacam pendadaran untuk mendapatkan seorang yang terbaik, yang akan dapat menjadi pemimpin bagi prajurit Panaraga.</p>
<p>“Apakah hal ini sudah terbiasa dilakukan di sini?” bertanya Glagah Putih.</p>
<p>“Kita sama-sama berasal dari Mataram. Tetapi menurut orang Mataram, pendadaran semacam ini sering dilakukan, sejak masa Demak. Untuk mengangkat seorang Senapati, biasanya dilakukan dengan pendadaran. Bahkan di Mataram pernah diselenggarakan pertarungan untuk mendapatkan gelar Senapati terbaik di Mataram. Tentu saja bahwa pertarungan semacam itu dibatasi dengan berbagai aturan, sehingga tidak menimbulkan korban jiwa. Ketika Mas Karebet, yang kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya di Pajang, marah kepada seorang yang memasuki pendadaran untuk menjadi Senapati karena kesombongannya, yang kemudian langsung dihadapinya sendiri, sehingga perasaan marahnya tidak terkendali dan membunuh peserta pendadaran itu, Mas Karebet telah mendapat hukuman berat. Mas Karebet diusir dari Demak. Ia tidak boleh menginjakkan kakinya lagi di Demak, sampai saatnya datang pengampunan.”</p>
<p>“Ya. Aku juga pernah mendengar cerita itu.”</p>
<p>“Jadi jika Pangeran Jayaraga ingin menyelenggarakan pendadaran untuk mendapatkan prajurit-prajurit baru yang tangguh, tentu wajar-wajar saja.”</p>
<p>Glagah Putih pun mengangguk-angguk. Sementara Madyasta pun berkata, “Bukankah saat kau memasuki dunia keprajuritan, kau juga mengikuti pendadaran?”</p>
<p>“Ya,” Glagah Putih masih mengangguk-angguk pula. “Jadi yang akan dilakukan itu sekadar pendadaran, bukan adon-adon? Sebab antara keduanya ada bedanya.”</p>
<p>“Ya. Antara keduanya memang ada bedanya. Inilah yang agak berbeda dari kebiasaan yang sering dilakukan di Mataram. Pangeran Jayaraga akan mengadakan semacam pertarungan bagi para peminat yang berilmu tinggi, untuk memperebutkan kedudukan Senapati. Menurut pendengaranku, maka pertarungan itu akan berlangsung sampai salah seorang di antara mereka yang bertarung itu tidak dapat melawan lagi.”</p>
<p>“Jadi ada kemungkinan bahwa orang itu akan mati?”</p>
<p>“Itulah yang mendebarkan jantung.”</p>
<p>Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Ia menghubungkan keterangan Madyasta itu dengan pesan Rara Wulan, yang mengatakan bahwa usaha Mas Panji Wangsadrana itu sudah berhasil.</p>
<p>“Inikah yang dikehendaki oleh Pangeran Ranapati?” pertanyaan itu telah menggelitik jantung Glagah Putih. “Dengan demikian Pangeran Ranapati akan merintis jalan memasuki Istana Pangeran Jayaraga di Panaraga.”</p>
<p>Tetapi segala sesuatunya masih harus diyakinkannya lebih dahulu.</p>
<p>Namun demikian, Kantil itu pun menjadi agak cemas juga karena sikap Pangeran Ranapati, yang kemudian memang lebih sering berada di luar rumah bersama Mas Panji Wangsadrana. Yang ada di kepala Kantil adalah bahwa Pangeran Ranapati itu telah mempunyai simpanan perempuan yang lain, sehingga ia lebih banyak berada di rumah perempuan itu.</p>
<p>Kantil tidak pernah berpikir bahwa Pangeran Ranapati telah bekerja keras untuk ikut mengatur agar adon-adon yang akan diselenggarakan oleh Pangeran Jayaraga itu dapat terlaksana dengan baik dan secepatnya.</p>
</div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Buku 396 (Seri IV Jilid 96)]]></title><description><![CDATA[Buku 396 (Seri IV Jilid 96)]]></description><link>https://literanesia.com/buku-396-seri-iv-jilid-96/</link><guid isPermaLink="false">6a45610b815b0b0001ea8f8f</guid><category><![CDATA[ADBM]]></category><dc:creator><![CDATA[Literanesia]]></dc:creator><pubDate>Wed, 01 Jul 2026 18:53:21 GMT</pubDate><media:content url="https://literanesia.com/content/images/2026/07/ADBM.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<div class="kg-card-markdown"><img src="https://literanesia.com/content/images/2026/07/ADBM.jpg" alt="Buku 396 (Seri IV Jilid 96)"><p>Sebenarnyalah bahwa berita tentang adon-adon itu bukan sekadar berita burung. Di hari berikutnya telah tersiar pengumuman dari Istana Kadipaten Panaraga, bahwa Pangeran Jayaraga, penguasa baru di Panaraga, akan memanggil seorang Senapati yang mumpuni untuk melengkapi kedudukan Senapati di Panaraga. Orang-orang yang berilmu tinggi dipanggil untuk mengikuti perebutan kedudukan itu dengan melewati pertarungan. Siapa yang memenangkan pada pertarungan akhir, akan ditetapkan menjadi Senapati di Panaraga, melengkapi kedudukan Senapati yang telah ada. Bahkan mungkin akan mendapat kedudukan terbaik dalam jajaran keprajuritan di Panaraga.</p>
<p>Berita itu telah mendebarkan jantung Glagah Putih. Kepada Madyasta, Glagah Putih minta agar ia mengikuti perkembangan dari pengumuman itu untuk selanjutnya.</p>
<p>“Apakah kawanmu yang bekerja di Kadipaten Panaraga itu dapat dipercaya?”</p>
<p>“Ya. Kawanku itu dapat dipercaya.”</p>
<p>Pengumuman dari Pangeran Jayaraga tentang perebutan kedudukan Senapati itu menyebutkan bahwa pelaksanaannya akan berlangsung tiga pekan lagi. Karena itu maka siapa yang berminat, supaya segera menghubungi para pejabat yang bertugas.</p>
<p>“Begitu cepatnya,” desis Glagah Putih. “Hanya ada waktu tiga pekan. Apakah pengumuman itu sudah merata?”</p>
<p>“Sudah. Semua orang, semua prajurit dan semua bebahu kademangan telah diperintahkan untuk menyebarkan pengumuman itu.”</p>
<p>“Kita akan melihat, apa yang akan terjadi di arena pertarungan itu,” berkata Glagah Putih hampir kepada dirinya sendiri.</p>
<p>Di rumah Pangeran Ranapati, Rara Wulan pun melihat beberapa perubahan sikap dari Pangeran Ranapati itu. Ketika Mas Panji Wangsadrana datang kepadanya, maka Pangeran Ranapati itu sempat memujinya.</p>
<p>“Ternyata Mas Panji benar-benar seorang yang cekatan. Cekatan berpikir dan cekatan bertindak. Aku berharap bahwa segala sesuatunya dapat berlangsung dengan rancak.”</p>
<p>“Mudah-mudahan, Pangeran,” berkata Mas Panji.</p>
<p>Namun dari hari ke hari, sikapnya kepada Kantil pun mulai berubah. Pangeran Ranapati lebih memperhatikan keadaan di luar rumahnya. Yang dikatakannya kepada Kantil, bahwa ia sedang mengemban tugas yang sangat berat, sehingga mungkin ia akan lebih banyak berada di luar rumah.</p>
<p>“Jika itu akan menempatkan Pangeran dalam jenjang kedudukan yang terbaik, silahkan, Pangeran,” berkata Kantil.</p>
<p>“Ya. Jika aku berhasil, maka kau pun akan ikut merasakan mukti wibawa sebagai istri seorang Pangeran, dalam kedudukannya sebagai seorang Pangeran yang sesungguhnya.”</p>
<p>“Baik, Pangeran.”</p>
<p>Sementara itu, ada keuntungan lain yang diperoleh Rara Wulan. Dalam kesibukannya, Pangeran Ranapati tidak sempat memperhatikan keberadaan Rara Wulan di rumah itu. Apalagi Kantil selalu berusaha untuk memberikan kesan buruk kepada Rara Wulan. Bahkan Pangeran Ranapati itu seakan-akan telah lupa, bahwa di rumah itu ada perempuan lain yang bernama Ranti. Sikap Pangeran Ranapati itu memang sangat menyenangkan bagi Kantil. Tetapi juga sangat menguntungkan bagi Rara Wulan, sehingga ia akan mempunyai kesempatan lebih banyak untuk mengamati.</p>
<p>Waktu yang tiga pekan itu ternyata sangat cepat dilewati. Sehari sebelum pertarungan itu dilaksanakan, maka di alun-alun telah dibuat gawar lawe yang digayutkan pada tunggul yang dipasang mengelilingi sebuah arena.</p>
<p>Pertarungan itu akan berlangsung tiga hari penuh.</p>
<p>“Ternyata banyak pula peminatnya,” berkata Glagah Putih.</p>
<p>“Ya,” sahut Madyasta, “tiga hari itu hanya ancar-ancar. Mungkin masih belum selesai. Mungkin pertarungan antara dua orang yang berilmu tinggi dapat berlangsung setengah hari, atau bahkan lebih.”</p>
<p>“Jadi?”</p>
<p>“Pertarungan itu dapat saja berlangsung sampai sepekan. Menurut Pangeran Jayaraga, pertarungan itu akan dilaksanakan sampai selesai, tuntas, sehingga hanya ada seorang pemenang saja.”</p>
<p>“Bagaimana cara yang dipergunakan untuk memilih yang seorang itu?”</p>
<p>“Setiap pasang akan bertarung sampai salah seorang dianggap kalah oleh pengawas pertandingan. Yang menang akan bertarung dengan pemenang dari pasangan lain. Demikian seterusnya, sehingga yang terakhir nanti tinggal ada dua orang peserta.”</p>
<p>Glagah Putih menarik nafas panjang.</p>
<p>Dalam pada itu, Madyasta pun telah mengajak Glagah Putih untuk menemui seorang yang sudah berumur separuh baya. Seorang yang memiliki ilmu seakan-akan tidak terbatas.</p>
<p>“Kita akan menghadap Ki Darma Tanda.”</p>
<p>Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Dengan nada datar ia pun bertanya, “Siapakah Ki Darma Tanda itu?”</p>
<p>“Seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Aku ingin tahu, apakah ia mengikuti adon-adon untuk mendapatkan kedudukan yang diinginkan oleh banyak orang berilmu tinggi itu.”</p>
<p>“Orang itu tahu, siapa kau?”</p>
<p>“Tidak. Aku mengenalnya karena orang itu menolongku. Aku ikut berjudi di sebuah pertemuan, sekedar untuk mengenal lebih banyak orang. Ketika aku menang, ada orang yang menuduhku curang. Aku sengaja tidak memberikan perlawanan, untuk tetap menyembunyikan jati diriku. Ki Darma Tanda telah menolongku. Ia bertarung melawan sekelompok orang berilmu tinggi, tetapi nampaknya mereka bukan orang baik-baik.”</p>
<p>“Kenapa Ki Darma Tanda itu menolongmu?”</p>
<p>“Aku juga bertanya kepadanya, kenapa ia bersusah-payah menolongku, bahkan dengan mempertaruhkan keselamatan dirinya.”</p>
<p>“Apa katanya?”</p>
<p>“Ki Darma Tanda menganggapku orang baik. Aku berjudi dengan jujur, sehingga aku menang dengan wajar. Karena itu tidak patut jika orang-orang itu menganggapku curang.”</p>
<p>Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun akhirnya ia pun bersedia pergi bersama Madyasta.</p>
<p>Ketika mereka sampai di rumah Ki Darma Tanda, matahari sudah jauh melewati puncaknya</p>
<p>Ki Darma Tanda yang kebetulan ada di rumahnya itu pun menerima Madyasta dengan ramah. Sejak ia menolong Madyasta, Madyasta memang sering datang kepadanya untuk sekedar berbincang-bincang.</p>
<p>Madyasta memperkenalkan Glagah Putih sebagai adik sepupunya.</p>
<p>“Siang-siang Ki Madyasta datang ke pondokku, apakah ada semacam keperluan, atau sekedar menengok keselamatan keluargaku di sini?” bertanya Ki Darma Tanda.</p>
<p>“Sudah lama aku tidak datang kemari, Ki Darma Tanda. Entahlah, tiba-tiba saja ingin sekali bertemu dengan Ki Darma Tanda.”</p>
<p>“Sukurlah jika Ki Madyasta tidak mempunyai keperluan apa-apa. Bukankah Ki Madyasta tidak lagi berada di bawah ancaman orang-orang yang pernah memusuhi Ki Madyasta di tempat perjudian itu?”</p>
<p>“Tidak, Ki Darma Tanda. Aku pun sudah menjadi jera. Malam itu aku hanya sekedar ingin tahu. Tetapi ternyata aku terlibat dalam perjudian yang sungguh-sungguh.”</p>
<p>Ki Darma Tanda itu pun tertawa.</p>
<p>“Ki Darma Tanda,” berkata Madyasta kemudian, “sebenarnyalah aku telah didorong oleh sifat ingin tahuku. Bukankah mulai besok akan ada adon-adon di alun-alun? Semacam pendadaran untuk mendapatkan seorang yang mempunyai kemampuan terbaik, yang akan diangkat menjadi seorang Senapati di Panaraga, melengkapi Senapati yang telah ada. Pangeran Jayaraga masih ingin melengkapi jajaran keprajuritannya dengan orang-orang yang dapat diandalkan.”</p>
<p>“Ya. Aku juga mendengarnya.”</p>
<p>“Menurut penglihatanku, pada saat Ki Darma Tanda menolongku, Ki Darma Tanda adalah seorang yang mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Yang ingin aku ketahui, apakah Ki Darma Tanda juga mengikuti pendadaran untuk menjadi Senapati itu?”</p>
<p>Ki Darma Tanda tertawa pendek. Katanya, “Pangeran Jayaraga itu aneh menurut pendapatku, Ki Madyasta. Seorang Senapati tidak dapat hanya mengandalkan kemampuannya dalam olah kanuragan. Untuk menjadi seorang Senapati yang baik, seseorang harus dinilai pula kecerdasannya serta kemampuan berpikir. Kejujuran serta kesetiaan kepada tugasnya. Jika seorang Senapati hanya didasarkan pada kemampuan olah kanuragan, maka mungkin sekali seorang gegedug dan pemimpin segerombolan perampok yang berilmu tinggi, akan memenangkan adon-adon di alun-alun itu. Nah, jika demikian, apakah orang itu harus diangkat menjadi Senapati?”</p>
<p>Ki Madyasta mengangguk-angguk. Namun ia pun menjawab, “Itulah yang aku cemaskan, Ki Darma Tanda. Jika orang-orang yang berpihak kepada kejujuran, keadilan dan kebenaran tidak mau turun dalam pendadaran itu, maka yang dicemaskan oleh Ki Darma Tanda itu akan benar-benar dapat terjadi.”</p>
<p>“Tetapi aku tidak ingin melibatkan diri dalam pertarungan seperti itu, Ki Madyasta. Biarlah aku tinggal di gubugku ini bersama keluargaku. Biarlah setiap hari aku berjemur di sawah dan berendam di lumpur. Tetapi aku merasa bahwa hidupku tenang. Tidak ada persoalan-persoalan yang membuat aku menjadi gelisah dan cemas. Di malam hari aku dapat tidur nyenyak. Sedangkan di siang hari aku dapat makan dengan enak, meskipun hanya berlauk garam.”</p>
<p>Ki Madyasta menarik nafas panjang. Dengan nada datar ia pun berkata, “Jika Ki Darma Tanda ikut memasuki pendadaran itu, maka Ki Darma Tanda telah ikut menyelamatkan Panaraga dari kemungkinan buruk seperti yang Ki Darma Tanda katakan itu.”</p>
<p>“Aku juga tidak dapat menjamin bahwa seandainya aku berhasil menjadi seorang Senapati, aku kemudian tidak berubah sifat dan perangaiku. Jika Ki Madyasta menganggap sekarang aku orang yang baik, maka mungkin sekali setelah aku menjadi Senapati, aku akan berubah menjadi orang yang adigang, adigung, adiguna. Sapa sira, sapa ingsun. Karena sebenarnyalah bahwa keadaan kehidupan seseorang akan dapat merubah tingkah laku dan sifat seseorang.”</p>
<p>Ki Madyasta mengangguk-angguk. Demikian pula Glagah Putih. Yang dikatakan oleh Ki Darma Tanda itu memang benar. Kedudukan seseorang memang dapat merubah sifat dan tabiatnya.</p>
<p>Namun yang jelas bahwa Ki Darma Tanda itu tidak berniat untuk ikut serta dalam pertarungan untuk memperebutkan kedudukan Senapati.</p>
<p>“Tetapi esok aku akan melihat apa yang terjadi di arena itu,” berkata Ki Darma Tanda. “Apakah Ki Madyasta juga akan melihat?”</p>
<p>“Ya,” sahut Madyasta, “aku akan melihat.”</p>
<p>Demikianlah, setelah Madyasta dan Glagah Putih meneguk minuman yang dihidangkan bagi mereka, maka mereka pun kemudian minta diri. Sekali lagi Madyasta menyatakan penyesalannya, bahwa Ki Darma Tanda tidak bersedia untuk ikut dalam pertarungan itu.</p>
<p>Ketika Madyasta masih saja mendesaknya, maka Ki Darma Tanda itu pun berkata, “Segala sesuatunya sudah terlambat.”</p>
<p>Demikian mereka berdua pulang, maka Madyasta pun berkata kepada Glagah Putih, “Kemungkinan sebagaimana dikatakan oleh Ki Darma Tanda itu dapat terjadi.”</p>
<p>“Kita sudah memperhitungkan. Tetapi jika benar keterangan yang kau peroleh bahwa gagasan ini datangnya dari Mas Panji Wangsadrana, maka segala sesuatunya sebenarnya sudah jelas bagi kita. Gagasan itu tentu datang dari Pangeran Ranapati. Pangeran Ranapati yakin bahwa tidak ada orang yang dapat mengalahkannya, sehingga akhirnya ia akan memasuki Istana Kadipaten Panaraga. Ia akan mengejutkan Pangeran Jayaraga dengan pengakuannya bahwa ia adalah Pangeran Ranapati.”</p>
<p>Madyasta mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Menurut kawanku seorang pejabat di Istana Kadipaten Panaraga itu, di dalam daftar para peserta memang tidak tercantum nama Pangeran Ranapati.”</p>
<p>“Ya. Segala sesuatunya sudah jelas bagi kita. Besok kita akan melihat, apakah orang yang gambarannya kita kenal sebagai Pangeran Ranapati itu turun ke arena.”</p>
<p>“Besok, selagi perhatian orang tertuju ke alun-alun, aku akan minta Kakang Sungkana dan Sumbaga pergi ke Mataram untuk melaporkan perkembangan terakhir di Panaraga.”</p>
<p>Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Biarlah besok keduanya pergi ke Mataram. Di sini mereka sudah dikenali oleh para pengikut Pangeran Ranapati.”</p>
<p>Malam itu, Sungkana dan Sumbaga pun segera berkemas. Mereka memang merasa lebih aman bertugas ke Mataram, daripada tugas-tugas lain yang harus dilakukannya di Panaraga, karena para pengikut Pangeran Ranapati masih saja memburunya.</p>
<p>Demikianlah, di hari berikutnya, sebelum matahari terbit, Sungkana dan Sumbaga telah meninggalkan Panaraga menuju ke Mataram, untuk memberikan laporan tentang perkembangan Panaraga di saat-saat terakhir.</p>
<p>Sedangkan Madyasta dan Glagah Putih telah bersiap-siap pergi ke alun-alun, untuk melihat pertarungan di antara mereka yang ingin menjadi salah seorang Senapati terbaik di Panaraga.</p>
<p>Dalam pada itu, Glagah Putih pun selalu berhubungan dengan Rara Wulan yang masih berada di rumah Pangeran Ranapati. Menurut Rara Wulan, Pangeran Ranapati memang lebih banyak berada di luar rumah.</p>
<p>“Pangeran Ranapati sedang mengendalikan Mas Panji Wangsadrana,” berkata Glagah Putih. “Agaknya Mas Panjilah yang ditugaskan oleh Pangeran Jayaraga untuk menyelenggarakan adon-adon itu. Sebagai seorang yang mempunyai gagasan itu, maka Mas Panji tentu merupakan orang yang paling siap untuk melakukan tugas itu.”</p>
<p>Di rumah, Kantil yang semakin sering ditinggalkan oleh Pangeran Ranapati menjadi semakin sering marah. Apa pun dapat menjadi sebab kemarahannya. Namun ia tidak berani menunjukkan perasaannya itu kepada Pangeran Ranapati, sehingga Rantilah yang lebih sering menjadi sasaran kemarahannya. Bahkan pernah terjadi, air sebelanga telah disiramkan ke tubuh Ranti. Untung air itu adalah air dingin, bukan air panas.</p>
<p>Hampir saja Ranti kehabisan kesabaran. Tetapi dengan susah payah ia menahan diri untuk tidak menjadi garang.</p>
<p>Pada malam hari menjelang pertarungan dimulai di alun-alun, Pangeran Ranapati berada di rumah. Kepada Kantil ia pun berkata, “Besok aku memasuki satu tugas yang berat. Karena itu, aku minta bantuanmu.”</p>
<p>“Apa yang dapat hamba lakukan, Pangeran?”</p>
<p>“Doakan aku,” jawab Pangeran Ranapati, “hanya itu yang dapat kau lakukan.”</p>
<p>“Tetapi tugas apakah yang akan Pangeran lakukan?”</p>
<p>“Aku tidak dapat mengatakan kepadamu sekarang.”</p>
<p>Kantil tidak dapat memaksa Pangeran Ranapati untuk mengatakan. Sementara itu Ranti justru sudah tahu bahwa sejak besok pagi di alun-alun akan diselenggarakan pertarungan di antara orang-orang yang berilmu tinggi, untuk merebut kedudukan terhormat di Panaraga.</p>
<p>Dalam pada itu, menjelang fajar di hari berikutnya, Pangeran Ranapati itu telah meninggalkan rumahnya. Hari itu Mas Panji Wangsadrana justru tidak datang ke rumah Pangeran Ranapati itu.</p>
<p>Ketika matahari terbit, telah banyak orang yang pergi ke alun-alun untuk melihat adon-adon. Ternyata di alun-alun terdapat sebuah panggungan, yang akan dipergunakan oleh Pangeran Jayaraga untuk menyaksikan pertarungan itu. Meskipun resminya Pangeran Jayaraga hanya akan menyaksikan pertarungan yang terakhir, tetapi mungkin sekali-sekali Pangeran Jayaraga juga ingin menyaksikan pertarungan sebelumnya.</p>
<p>Beberapa lama para prajurit telah melakukan upacara. Pangeran Jayaraga ternyata hadir pula untuk membuka upacara adon-adon itu. Beberapa orang Senapati mendampinginya di panggungan.</p>
<p>Sekelompok prajurit bertombak pada upacara pembukaan itu berdiri memagari arena. Beberapa saat kemudian, sekelompok prajurit yang lain telah mendorong sebuah kerangkeng memasuki arena itu, yang ternyata di dalamnya terdapat seekor harimau yang garang, buas dan sengaja dibuat lapar.</p>
<p>Sejenak kemudian, sebagai pertanda bahwa adon-adon itu telah dibuka dengan resmi, maka Pangeran Jayaraga telah membunyikan sebuah bende beberapa kali. Sedangkan pada saat yang bersamaan, para prajurit telah membuka pintu kerangkeng yang didorong ke tengah-tengah arena itu.</p>
<p>Sejenak kemudian seekor harimau yang besar, buas dan lapar meloncat keluar sambil mengaum keras sekali. Sementara itu, tombak para prajurit pun segera merunduk.</p>
<p>Rampogan itu akan mengawali acara adon-adon yang akan dilangsungkan di arena itu pula.</p>
<p>Demikianlah, harimau lapar itu pun kemudian harus bertarung menghadapi beberapa orang prajurit yang bersenjata tombak.</p>
<p>Namun malang bagi harimau itu. Setelah beberapa lama harimau itu mencoba menembus ujung tombak yang memagarinya, maka akhirnya justru harimau itulah yang terbunuh. Bangkainya terkapar di arena, yang segera diangkat dan dimasukkan kembali ke dalam kerangkeng. Sejenak kemudian, maka kerangkeng itu pun segera dibawa keluar dari arena.</p>
<p>Demikianlah, di atas darah harimau yang sudah mengalir membasahi arena itulah, pertarungan untuk memperebutkan kedudukan Senapati akan berlangsung.</p>
<p>Pangeran Jayaraga ternyata tidak segera meninggalkan panggung demikian rampogan itu selesai. Tetapi Pangeran Jayaraga masih ingin menyaksikan pertarungan yang pertama dari mereka yang ingin memperebutkan kedudukan senapati itu.</p>
<p>Tetapi ternyata pertarungan yang pertama itu tidak menarik. Meskipun keduanya berilmu tinggi, tetapi nampaknya pertarungan itu menjadi berat sebelah. Pertarungan itu sendiri tidak berlangsung lama, karena seorang di antara mereka telah melakukan kesalahan yang berakibat sangat buruk baginya.</p>
<p>Karena itu, ketika orang itu bangkit dengan susah payah setelah terbanting jatuh, maka ia pun segera dinyatakan telah kalah.</p>
<p>“Aku belum kalah,” katanya.</p>
<p>“Jika kau berkelahi lebih lama lagi, maka kau akan dapat mati di arena ini,” berkata Senapati yang menjadi pelerai dalam pertarungan itu.</p>
<p>Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian orang itu pun keluar dari arena.</p>
<p>Terdengar para penonton pun bersorak. Orang yang keluar dari arena itu menjadi sangat malu. Tetapi ia masih sayang akan nyawanya, sehingga ia tidak melanjutkan pertarungan.</p>
<p>Pangeran Jayaraga tidak merasa tertarik lagi akan pertarungan-pertarungan yang bakal dilakukan. Nampaknya pada pertarungan di tahap awal itu masih belum menunjukkan pertarungan yang mendebarkan. Meskipun sebelum adon-adon itu dimulai telah dilakukan rampogan untuk memanasi darah para peserta, namun masih banyak pertarungan yang tidak seimbang tampil di hari pertama itu.</p>
<p>Dengan demikian maka pertarungan itu pun dihentikan sejenak pada saat Pangeran Jayaraga meninggalkan panggungan. Baru kemudian pertarungan itu pun dimulai lagi.</p>
<p>Adalah kebetulan bahwa Madyasta dan Glagah Putih dapat bertemu dengan Ki Darma Tanda di pinggir arena, sehingga mereka pun dapat menonton pertarungan itu bersama-sama.</p>
<p>Meskipun pertarungan pada putaran pertama itu masih belum menarik, tetapi ada juga di antara dua orang yang berilmu tinggi kebetulan bertemu, sesuai dengan hasil undian di antara mereka. Pertarungan yang demikian, kadang-kadang dapat berlangsung lama.</p>
<p>Di hari pertama itu, Glagah Putih dan Madyasta terkejut ketika mereka melihat seseorang yang menurut ciri-cirinya adalah orang yang mengaku Pangeran Ranapati. Tetapi di arena itu ia telah mempergunakan nama lain. Meskipun demikian Madyasta dan Glagah Putih yakin bahwa orang itu adalah Pangeran Ranapati.</p>
<p>Pertarungan di antara orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati dan lawannya itu berlangsung dalam waktu yang pendek saja. Lawannya pun tiba-tiba telah terbanting jatuh, sehingga mengalami kesulitan untuk bangkit.</p>
<p>Senapati yang melerai pertarungan itu pun segera memberi isyarat bahwa pertarungan itu sudah selesai. Yang terjatuh dan tidak segera dapat bangkit kembali itu pun dinyatakan telah kalah, sehingga akan segera tampil pasangan berikutnya.</p>
<p>Demikianlah, pasangan demi pasangan pun telah bertarung. Namun orang-orang yang menyaksikan pertarungan itu telah menundukkan kepalanya, ketika ada di antara mereka yang terkapar dengan darah yang segar meleleh dari antara bibirnya. Bukan karena bibirnya pecah atau giginya patah, tetapi darah itu mengalir dari rongga dadanya.</p>
<p>Tetapi orang yang merasa menang itu sama sekali tidak menyesali apa yang telah terjadi. Seorang yang bertubuh agak gemuk justru telah menepuk dadanya sambil menggeram, seperti seekor orang hutan yang baru saja berhasil membunuh lawannya.</p>
<p>Dua orang senapati telah mendatanginya untuk memberikan peringatan kepadanya, bahwa untuk selanjutnya ia harus menjaga agar ia tidak membunuh lawannya.</p>
<p>“Salahnya sendiri,” berkata orang yang diperingatkan itu, “ia terlalu lemah untuk ikut dalam pendadaran yang keras seperti ini.”</p>
<p>“Tetapi kau dapat mencegah kematian. Jika orang yang sudah tidak berdaya ini tidak kau angkat dan kemudian kau jatuhkan punggungnya di atas lututmu, maka ia tidak akan mati.”</p>
<p>“Jadi apa yang harus aku lakukan di arena ini? Kalau lawanku mati, tentu bukan salahku.”</p>
<p>“Tetapi setidak-tidaknya kami tidak melihat bahwa kau memang berniat untuk membunuhnya.”</p>
<p>“Persetan dengan ketentuan-ketentuan yang cengeng ini,” geramnya.</p>
<p>“Dengar. Kau tinggal memilih. Melakukan sebagaimana aku katakan, atau kau tidak akan ikut untuk selanjutnya.”</p>
<p>“Itu tidak adil.”</p>
<p>“Itu adalah ketentuan yang paling adil.”</p>
<p>“Tidak. Aku akan ikut pendadaran ini untuk seterusnya. Bahkan sekarang aku minta lawan yang lain. Aku tidak mau pergi dari arena ini. Aku akan melawan siapa saja yang memaksaku turun dari arena sekarang ini, meskipun para Senapati sekalipun.”</p>
<p>“Kau tidak dapat berbuat lain. Kau harus turun. Bahkan untuk seterusnya.”</p>
<p>“Tidak.”</p>
<p>“Kau lihat harimau yang garang itu tadi?”</p>
<p>Orang yang agak gemuk itu termangu-mangu. Ketika ia memandang berkeliling, maka dilihatnya beberapa orang prajurit yang bersenjata tombak telah berdiri di pinggir arena, sebagaimana saat harimau yang garang itu dilepas dari kerangkeng.</p>
<p>Namun tiba-tiba seseorang telah muncul pula di arena. Seorang yang sebelumnya telah memenangkan pertarungan di arena itu, tetapi ia tidak membunuh lawannya.</p>
<p>Hampir bersamaan, Glagah Putih dan Madyasta berdesis, “Pangeran Ranapati.”</p>
<p>“Kau mau apa?” bertanya Senapati yang sedang berusaha memaksa orang yang telah membunuh lawannya itu turun.</p>
<p>“Ki Sanak,” berkata orang yang baru masuk ke arena itu, “jika Ki Sanak mengijinkan, biarlah aku mengusirnya dari arena. Atau Ki Sanak dapat menganggap bahwa aku yang memenangkan pertarungan di putaran pertama, akan memasuki putaran kedua, karena orang yang telah membunuh itu pun telah memenangkan pertarungan dalam putaran pertama.”</p>
<p>Dua orang Senapati yang berada di arena itu termangu-mangu sejenak. Mereka tidak menduga bahwa dalam adon-adon itu akan ada persoalan yang sebelumnya belum pernah dibicarakan.</p>
<p>Namun yang kemudian memasuki arena adalah Mas Panji Wangsadrana, sambil berkata, “Kita akan membiarkan orang ini memasuki pertarungan pada putaran kedua, meskipun belum waktunya, karena mereka yang bertarung di putaran pertama saja belum selesai. Tetapi kita menghadapi persoalan yang tiba-tiba saja muncul.”</p>
<p>“Bagaimana menurut pendapat Mas Panji?” bertanya salah seorang Senapati itu.</p>
<p>“Bukankah kita tidak berekebaratan? Pemenangnya nanti akan langsung memasuki putaran ketiga.”</p>
<p>“Tentu tidak nanti.”</p>
<p>“Ya, kapan saja. Besok atau lusa.”</p>
<p>Akhirnya para Senapati, termasuk Senapati yang bertugas melerai pertarungan itu, tidak berkeberatan. Dua orang yang telah mengalahkan lawan-lawannya akan memasuki pertarungan pada putaran kedua.</p>
<p>Beberapa orang peserta ada yang mengajukan keberatan, tetapi keputusan para senapati itu pun akhirnya dilaksanakan juga.</p>
<p>“Bagus,” berkata orang yang tubuhnya agak gemuk, yang menepuk dadanya sambil menggeram setelah ia membunuh lawannya. “Aku akan membunuh dua orang hari ini. Mungkin besok aku akan membunuh lebih banyak lagi.”</p>
<p>Glagah Putih, Madyasta dan Ki Darma Tanda termangu-mangu menyaksikan mereka yang bakal bertarung di arena. Ketegangan telah menyentuh jantung mereka. Mereka sudah mengira bahwa seorang di antara keduanya akan mati di arena itu pula.</p>
<p>“Permainan di hari pertama ini sudah diwarnai dengan darah,” desis Ki Darma Tanda, “bukankah sama sekali tidak menyenangkan untuk ikut dalam pendadaran itu?”</p>
<p>Madyasta mengangguk sambil menjawab, “Ya, Ki Darma Tanda. Untunglah bahwa Ki Darma Tanda tidak ikut dalam adon-adon itu.”</p>
<p>“Bayangkan, apa jadinya jika orang yang bertubuh agak gemuk dan yang dengan bangga membunuh lawannya itu kelak memenangkan pertandingan. Apakah pantas orang itu menjadi Senapati di Panaraga?”</p>
<p>Madyasta mengangguk sambil menjawab, “Ya. Jajaran keprajuritan di Panaraga akan dirusaknya.”</p>
<p>“Kesalahan ini terletak pada Pangeran Jayaraga yang kurang bijaksana.”</p>
<p>“Tetapi kebijaksanaan ini sudah tidak mungkin dicegah lagi.”</p>
<p>“Kecuali bahwa pada saat terakhir, jika orang itu memenangkan perebutan kedudukan ini, ada yang mengajukan tantangan untuk berperang tanding. Tidak dalam rangka perebutan kedudukan itu sendiri.”</p>
<p>Glagah Putih dengan ragu-ragu bertanya, “Apakah Ki Darma Tanda akan melakukannya? Maksudku, jika orang itu kelak memenangkan pertarungan ini, Ki Darma Tanda akan menantangnya berperang tanding?”</p>
<p>Ki Darma Tanda tidak menjawabnya. Tetapi perhatiannya sudah tertuju lagi ke arena. Dua orang yang sudah memenangkan pertarungan di putaran pertama.</p>
<p>Sejenak kemudian, keduanya sudah bersiap. Senapati yang akan menjadi pelerai dalam pertarungan itu terdiri dari dua orang, serta Mas Panji Wangsadrana sendiri. Nampaknya Mas Panji sangat menaruh perhatian terhadap pertarungan itu.</p>
<p>Demikianlah, maka sejenak kemudian pertarungan pun segera dimulai. Orang yang bertubuh agak gemuk itu memang seorang yang kasar. Sayangnya ia berilmu sangat tinggi, sehingga ia benar-benar menjadi orang yang sangat berbahaya.</p>
<p>Namun dalam putaran kedua itu, ia langsung berhadapan dengan orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati, tetapi yang sedang menyamarkan dirinya dengan nama lain. Pada saatnya ia memang berniat mengejutkan Pangeran Jayaraga. Jika ia berhasil memenangkan adon-adon itu, maka baru ia akan mengatakan siapa dirinya kepada Pangeran Jayaraga.</p>
<p>Sejenak kemudian, pertarungan di antara keduanya pun menjadi semakin cepat. Orang yang bertubuh agak gemuk itu menjadi semakin garang pula. Serangannya datang seperti angin prahara menerjang batu karang.</p>
<p>Tetapi Pangeran Ranapati adalah seorang yang mumpuni pula. Bahkan ia sudah meyakini bahwa dirinya akan memenangkan adon-adon itu dan segera diangkat menjadi Senapati di Panaraga. Dengan demikian maka ia akan dapat menjadi bagian dari penguasa di Panaraga. Bahkan jika ia berhasil mengembangkan pengaruhnya, maka ia akan dapat menentukan langkah-langkah yang akan diambil oleh Pangeran Jayaraga.</p>
<p>Dengan demikian, maka pertarungan antara keduanya pun semakin lama menjadi semakin sengit. Para peserta yang lain, yang masih belum mendapat kesempatan sekali pun memasuki arena, memandangi pertarungan itu dengan jantung yang berdebaran. Ketika orang yang bertubuh gemuk itu membunuh lawannya, jantung para peserta itu pun sudah bergejolak. Mereka yang merasa berilmu tinggi telah mendendam orang itu. Mereka mengharap bahwa mereka akan memenangkan pertarungan di putaran pertama, dan di putaran kedua dapat langsung berhadapan dengan orang yang sombong, kasar dan tidak berperasaan itu.</p>
<p>Namun ternyata seorang yang lain, yang tiba-tiba saja menerobos ke putaran kedua, telah berhadapan dengan orang itu.</p>
<p>Tanpa disadari, maka para peserta yang lain yang bukan kawan-kawan orang bertubuh agak gemuk itu, menjadi bingung. Mereka tidak tahu, siapakah di antara keduanya itu yang diharapkan menang. Mereka memang berharap agar merekalah yang mendapat kesempatan untuk mengalahkan orang itu. Dengan demikian maka seharusnya orang yang bertubuh gemuk itu dapat memenangkan pertarungan di putaran kedua itu, sehingga ia masih akan kembali ke arena. Tetapi jika demikian, maka lawannya itu pun tentu akan dibunuhnya pula. Apalagi ia merasa ditantang secara khusus oleh lawannya itu.</p>
<p>Dalam kebimbangan, akhirnya para peserta adon-adon itu tidak lagi berharap siapa yang sebaiknya menang. Siapa pun, akhirnya harus mereka hadapi pula.</p>
<p>Demikianlah, maka pertarungan itu semakin lama menjadi semakin seru. Orang yang memasuki arena untuk menantang orang yang bertubuh agak gemuk itu nampaknya bukan orang yang lemah, sehingga sulit bagi orang yang bertubuh gemuk itu untuk mengalahkannya.</p>
<p>Jika dalam putaran pertama ia tidak terlalu lama bertarung, sehingga akhirnya ia berhasil mengangkat tubuh lawannya dan kemudian membanting orang itu pada punggungnya di lututnya, sehingga tulang punggung itu patah dan lawannya itu langsung mati, lawannya yang kedua ini ternyata tubuhnya sangat liat. Ia masih dapat menghindari serangan dalam keadaan yang paling sulit. Bahkan dengan cepat ia pun dapat membalas menyerangnya. Sementara itu serangan-serangan orang yang bertubuh agak gemuk itu justru semakin lama menjadi semakin sulit untuk menembus pertahanan lawannya, sedangkan pertahanannya sendiri seakan-akan menjadi semakin terbuka. Serangan-serangan lawannya itu menjadi semakin sering mengenai tubuhnya. Bahkan dalam benturan-benturan yang terjadi, maka orang yang bertubuh agak gemuk itulah yang tergetar surut.</p>
<p>“Gila orang ini,” geram orang yang agak gemuk itu, “jika saja aku dapat menangkap tubuhnya. Aku akan mengangkatnya dan kemudian mematahkan punggungnya, dengan membenturkan punggungnya itu pada lututku.”</p>
<p>Tetapi jangankan menangkap dan mengangkat tubuhnya, jika orang itu berusaha mendekat maka ia pun akan segera terlempar menjauh. Kaki atau tangan lawannya akan menghentaknya sehingga ia tergetar surut.</p>
<p>Orang bertubuh agak gemuk itu mulai menjadi gelisah. Ia tidak mengira bahwa di antara mereka yang ikut adon-adon itu ada orang yang ilmunya dapat mengimbanginya, sehingga sangat sulit baginya untuk dapat mengalahkannya.</p>
<p>Orang itu pun kemudian telah menghentakkan tenaga dan kemampuannya. Ia tidak ingin dicemoohkan oleh banyak orang jika ia dapat dikalahkan. Bahkan karena ia telah membunuh lawannya, jika ia kemudian kalah, maka ia pun akan dibunuh pula oleh lawannya itu.</p>
<p>Dalam waktu yang pendek, hentakan ilmunya berhasil mendesak lawannya. Tetapi hanya sebentar. Sekejap kemudian, lawannya itu pun telah menghentakkan ilmunya pula.</p>
<p>Glagah Putih, Madyasta dan Ki Darma Tanda pun telah dapat menebak, bahwa akhirnya orang yang bertubuh agak gemuk itu tentu akan dikalahkan. Namun apa yang kemudian akan terjadi, mereka masih harus menunggu.</p>
<p>Sebenarnyalah bahwa serangan-serangan Pangeran Ranapati itu pun sudah tidak terbendung lagi. Perlawanan orang bertubuh pendek itu semakin lama menjadi semakin menyusut. Apa pun yang dilakukan, namun ia tidak lagi mampu mengatasi lawannya, Pangeran Ranapati.</p>
<p>Betapapun orang bertubuh pendek itu berusaha, namun serangan Pangeran Ranapati telah melandanya seperti banjir bandang.</p>
<p>Beberapa kali orang itu terbanting jatuh. Dengan sisa-sisa tenaganya ia selalu berusaha untuk bangkit berdiri. Tetapi semakin lama, tenaganya pun menjadi semakin menurun.</p>
<p>Akhirnya ketika kaki Pangeran Ranapati yang terjulur menyamping mengenai dadanya, maka orang bertubuh agak gemuk itu pun telah terbanting jatuh. Demikian kerasnya, sehingga sulit baginya untuk bangkit berdiri.</p>
<p>Pangeran Ranapati memandanginya dengan tajamnya. Namun kemudian ia pun berpaling kepada orang-orang yang berada di seputar arena itu sambil mengangkat tangannya. Ternyata Pangeran Ranapati tidak berniat membunuhnya. Ia hanya mengalahkannya, dan setelah orang itu terkapar jatuh, maka Pangeran Ranapati pun hanya membiarkannya.</p>
<p>Namun dengan demikian Pangeran Ranapati itu menjadi lengah. Ia mengira bahwa orang bertubuh pendek itu benar-benar sudah tidak mampu bangkit berdiri, sehingga karena itu perhatian Pangeran Ranapati tidak tertuju kepadanya.</p>
<p>Tetapi orang bertubuh agak gemuk itu sangat licik. Ia tidak benar-benar terkapar tanpa dapat bangkit kembali. Ketika perhatian Pangeran Ranapati tidak tertuju kepadanya, tetapi tertuju kepada orang-orang yang menonton pertarungan itu sambil bersorak-sorak, maka orang itu pun tiba-tiba telah bangkit. Dengan serta-merta ia telah menyergap Pangeran Ranapati dari belakang. Kemudian, apa yang diinginkannya itu dapat dilakukannya. Ia mengangkat tubuh Pangeran Ranapati yang terlentang, kemudian orang itu telah siap membantingnya dengan membenturkan tulang punggungnya ke atas lututnya yang telah diangkat.</p>
<p>Tetapi yang tidak terduga itu telah terjadi. Tubuh yang sudah terangkat tinggi-tinggi itu pun menggeliat.</p>
<p>Pada saat orang-orang yang berada di sekeliling arena itu menjadi sangat tegang, maka tubuh yang menggeliat itu justru telah melenting seperti seekor ulat kilan. Sekejap kemudian tubuh itu pun meluncur dengan cepatnya.</p>
<p>Yang tertangkap lebih dahulu oleh tangan orang yang melenting dan meluncur dengan cepat itu adalah kepala orang yang agak gemuk itu. Terdengar tulang lehernya yang patah.</p>
<p>Demikian lawannya itu berdiri di atas kedua kakinya dan melepaskannya, maka orang yang agak gemuk itu pun segera berguling seperti sebatang pohon pisang.</p>
<p>Orang itu tidak sempat mengaduh. Demikian lehernya patah, maka ia pun langsung kehilangan nyawanya.</p>
<p>Lawannya itu pun melangkah surut. Ia pun kemudian mengangguk hormat kepada para Senapati yang menjadi pelerai pada pertarungan itu. Pangeran Ranapati itu pun kemudian berkata, “Maafkan aku. Aku tidak berniat membunuhnya. Yang terjadi adalah dengan tiba-tiba saja, di luar kendali.”</p>
<p>“Kau tidak bersalah,” Mas Panji Wangsadranalah yang menjawab, “orang itu berniat berbuat curang.”</p>
<p>Pangeran Ranapati tidak menjawab. Sementara Mas Panji pun berkata, “Kembalilah ke tempatmu.”</p>
<p>Pangeran Ranapati pun kemudian meninggalkan arena dengan kepala tunduk.</p>
<p>Namun sorak yang gemuruh masih saja terdengar. Orang-orang menjadi sangat kagum kepada Pangeran Ranapati. Ia sama sekali tidak berniat membunuh lawannya. Tetapi justru lawannya itulah yang telah memaksanya untuk melakukannya.</p>
<p>Dalam pada itu, karena matahari sudah menjadi semakin rendah, maka pertarungan untuk hari itu pun telah diakhiri. Besok pertarungan akan dilanjutkan. Para peserta akan kembali memasuki putaran pertama.</p>
<p>“Untunglah bahwa Pangeran Jayaraga tidak menyaksikan dua orang yang sudah terbunuh di arena,” berkata seorang Senapati.</p>
<p>“Bukankah laporan dari peristiwa itu akan sampai juga kepada Pangeran Jayaraga?”</p>
<p>“Tetapi kesannya tentu lain. Pangeran Jayaraga sekedar membaca laporan, atau menyaksikan langsung peristiwa itu.”</p>
<p>Yang lain mengangguk-angguk kecil.</p>
<p>Demikianlah, sejenak kemudian maka arena itu pun sudah menjadi sepi. Para peserta telah kembali ke barak yang menjadi tempat menampung mereka. Demikian pula para penonton pun telah pulang ke rumah masing-masing.</p>
<p>Para peserta adon-adon itu tidak banyak lagi yang saling berbincang. Mereka masing-masing merenungi apa yang sudah mereka lihat.</p>
<p>Tetapi mereka rata-rata adalah orang yang berilmu tinggi pula, sehingga mereka tidak menjadi gentar melihat dua orang di antara mereka yang telah menunjukkan tataran ilmu kanuragan mereka.</p>
<p>Sementara itu, Ki Darma Tanda yang berjalan perlahan-lahan bersama Glagah Putih dan Madyasta, masih sempat berbicara tentang kedua orang yang bertarung terakhir, yang dihitung sebagai pertarungan di putaran kedua.</p>
<p>“Keduanya memang berilmu tinggi,” berkata Ki Darma Tanda.</p>
<p>“Ya, Ki Darma Tanda,” sahut Madyasta, “nampaknya orang yang memenangkan pertarungan di pasangan terakhir itu dapat menggertak calon lawan-lawannya besok.”</p>
<p>“Ya. Tetapi para peserta yang lain agaknya tidak menjadi ketakutan. Mereka masih saja nampak tenang-tenang saja. Agaknya mereka juga merasa sebagai orang-orang yang berilmu tinggi.”</p>
<p>“Sukurlah bahwa pembunuh itu telah dapat dihentikan,” sahut Glagah Putih kemudian, “sehingga ia tidak lagi menjadi hantu yang mungkin akan dapat merebut gelar Senapati itu.”</p>
<p>“Ya,” Ki Darma Tanda pun mengangguk-angguk.</p>
<p>Namun akhirnya mereka pun berpisah. Madyasta dan Glagah Putih langsung pulang. Demikian pula Ki Darma Tanda.</p>
<p>Di perjalanan pulang, Glagah Putih pun berkata, “Ternyata banyak juga orang yang berilmu tinggi yang tertarik untuk mengikuti pendadaran itu. Setiap pasang telah menyisakan seorang di putaran pertama, sehingga mereka akan memasuki putaran kedua.”</p>
<p>“Besok kita akan melihat lagi.”</p>
<p>Sebenarnyalah, di keesokan harinya keduanya kembali telah berada di alun-alun pada saat matahari naik.</p>
<p>Tetapi mereka tidak segera menemukan Ki Darma Tanda, meskipun mereka berada di tempat mereka menyaksikan pertarungan itu kemarin.</p>
<p>“Mungkin hari ini Ki Darma Tanda tidak pergi ke alun-alun,” desis Madyasta, “agaknya Ki Darma Tanda hanya ingin melihat akhir dari pendadaran ini.”</p>
<p>Glagah Putih mengangguk-angguk.</p>
<p>Beberapa saat kemudian, ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka pendadaran dengan cara adon-adon itu pun segera dimulai lagi. Pertarungan demi pertarungan. Glagah Putih dan Madyasta melihat bahwa beberapa orang benar-benar menunjukkan ilmunya yang tinggi. Mereka pada umumnya bertarung dengan baik, sehingga di hari kedua itu tidak ada korban yang terbunuh di arena, meskipun ada di antara mereka yang terluka parah di bagian dalam tubuhnya. Tetapi itu terjadi dengan wajar, bukan karena keganasan para peserta yang bengis.</p>
<p>Tetapi pada hari ketiga, ketika pertarungan benar-benar sudah memasuki putaran kedua, maka pertarungan di arena itu pun menjadi semakin panas. Apalagi pada hari keempat. Jika semula pertarungan itu hanya direncanakan berlangsung tiga hari, tetapi sampai pada hari keempat, pertarungan itu masih belum sampai kepada pertarungan puncak antara dua orang pemenang.</p>
<p>Baru pada hari kelima, pertarungan itu memasuki putaran yang menentukan. Pertarungan di hari kelima itu akan berlangsung hanya dua pasangan saja. Dari keduanya akan terpilih dua orang terbaik yang akan memasuki putaran terakhir. Namun untuk putaran terakhir, pertarungan akan ditunda, untuk memberikan waktu beristirahat serta mempersiapkan diri bagi kedua orang yang akan menentukan, siapakah yang akan merebut kedudukan Senapati itu.</p>
<p>Namun agaknya pada hari kelima, pada saat pertarungan itu berlangsung bagi dua pasangan dari empat orang terbaik, Pangeran Jayaraga sendiri berkenan untuk menyaksikannya.</p>
<p>Demikian matahari naik pada hari kelima, maka pertarungan pun telah dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Dua orang Senapati akan menjadi pelerai, didampingi oleh Mas Panji Wangsadrana sendiri.</p>
<p>Seperti hari-hari sebelumnya, Glagah Putih dan Madyasta pun telah berada di alun-alun pula. Ternyata pada hari itu mereka bertemu lagi dengan Ki Darma Tanda.</p>
<p>“Baru kali ini aku melihat lagi pertarungan ini,” berkata Ki Darma Tanda.</p>
<p>“Kami datang setiap hari, Ki Darma Tanda,” sahut Madyasta.</p>
<p>“Ternyata kau tertarik juga kepada olah kanuragan, sehingga kau perlukan datang setiap hari.”</p>
<p>“Aku memang tertarik untuk menyaksikannya, asal aku sendiri tidak harus ikut terjun ke dalamnya.”</p>
<p>Ki Darma Tanda pun tersenyum. Tetapi ia tidak menyahut lagi.</p>
<p>“Hari ini Pangeran Jayaraga akan turun ke panggungan itu pula,” berkata Madyasta.</p>
<p>“Ya. Aku juga mendengar pengumumannya,” sahut Ki Darma Tanda.</p>
<p>Beberapa saat kemudian, terdengar isyarat bahwa Pangeran Jayaraga telah datang ke arena pertarungan di hari kelima itu.</p>
<p>Yang lebih dahulu memasuki lingkungan di sekitar panggungan adalah para prajurit pengawal, dengan tombak yang siap menghentak di tangan mereka. Kemudian para pengawal yang bersenjata pedang dan perisai. Baru kemudian dua orang Narpacundaka memasuki lingkungan panggungan. Di belakangnya adalah Pangeran Jayaraga, diikuti oleh para Senapati dan para pemimpin Panaraga yang lain.</p>
<p>Pada saat yang sudah ditentukan, maka pertarungan antara dua pasang peserta adon-adon itu akan segera dimulai. Beberapa orang peserta yang telah dikalahkan di arena, mendapat kesempatan untuk menyaksikan pertarungan itu. Tetapi sebagian ternyata harus berbaring di bawah perawatan para tabib karena luka-luka. Bukan saja luka-luka yang terbuka, tetapi juga luka-luka di bagian dalam dadanya, pada saat mereka turun ke arena.</p>
<p>Yang harus turun pertama di arena pendadaran itu adalah dua orang yang berilmu sangat tinggi. Seorang yang sudah separuh baya, serta ujung-ujung rambutnya yang mencuat dari ikat kepalanya sudah nampak bercampur dengan uban. Namun ia adalah seorang yang berpakaian rapi. Bajunya nampak bagaikan melekat pada kulitnya. Kainnya disingsingkan sampai ke atas lututnya. Celananya yang hitam nampak bergaris kuning melingkar di bawah lututnya.</p>
<p>Orang yang sudah separuh baya itu berperawakan sedang. Matanya agak cekung. Pandangannya tajam, seolah-olah langsung menusuk ke dada lawannya.</p>
<p>Sedangkan lawannya adalah seorang yang berperawakan agak tinggi kekurus-kurusan. Namun tubuhnya nampak lentur sekali. Seakan-akan tulang-tulangnya mampu menggeliat sebagaimana dikehendakinya. Wajahnya nampak cerah, sedangkan kakinya yang panjang nampak ringan sekali.</p>
<p>Keduanya pun kemudian berhadapan di arena. Dua orang Senapati yang menjadi pelerai dari pertarungan itu sudah berada di arena pula. Bahkan bersama dengan Mas Panji Wangsadrana.</p>
<p>Mas Panji itu pun kemudian berdiri menghadap Pangeran Jayaraga yang duduk di panggungan. Ia pun mengangguk hormat. Kemudian katanya, “Pangeran, segala sesuatunya sudah siap untuk memulai dengan pertarungan menjelang putaran yang terakhir. Pemenang dari putaran ini serta putaran berikutnya, akan bertarung besok lusa, untuk mencari pemenang sejati dari pendadaran yang diselenggarakan selama ini, yang waktunya sudah lewat dari waktu yang ditentukan.”</p>
<p>Pangeran Jayaraga pun kemudian mengangguk sambil berkata, “Mulailah.”</p>
<p>Mas Panji pun segera memberi isyarat kepada kedua Senapati yang menjadi pelerai dari pertarungan itu. Keduanya pun kemudian memberikan pertanda pula kepada kedua orang yang sudah siap untuk bertarung.</p>
<p>Pertarungan itu sejak awal sudah terasa menjadi panas. Agak berbeda dengan putaran-putaran sebelumnya, maka kedua orang itu nampak bersungguh-sungguh dan sangat berhati-hati. Namun beberapa saat kemudian pertarungan itu pun menjadi semakin seru, sehingga di arena itu bagaikan sedang bertiup angin pusaran.</p>
<p>Kedua orang yang berada di arena pendadaran itu benar-benar dua orang yang berilmu sangat tinggi. Tubuh mereka nampak sangat ringan, sehingga kaki mereka bagaikan tidak menyentuh tanah. Tetapi sambaran kaki dan tangan mereka nampak sangat berat, bagaikan ayunan segumpal timah.</p>
<p>Keduanya pun saling berloncatan menghindari serangan-serangan lawan. Namun sekali-sekali telah terjadi benturan yang sangat keras.</p>
<p>Ki Darma Tanda menyaksikan pertarungan itu dengan dahi yang berkerut. Ia tidak melihat pertarungan-pertarungan sebelumnya, sehingga karena itu maka Ki Darma Tanda itu pun langsung menyaksikan pertarungan antara dua orang yang berilmu lebih tinggi dari beberapa peserta yang lain, yang telah tersisih di putaran-putaran sebelumnya.</p>
<p>Mereka yang telah tersisih, yang berkesempatan menyaksikan pertarungan itu, menarik nafas panjang. Mereka harus mengakui bahwa kedua orang itu memang pantas untuk memasuki putaran menjelang putaran yang terakhir. Pemenang dari pertarungan itu besok lusa akan bertanding di pertarungan pada babak akhir, melawan pemenang dari pertarungan pasangan yang satu lagi.</p>
<p>“Mereka memang berilmu sangat tinggi,” berkata Ki Darma Tanda.</p>
<p>“Ya,” sahut Madyasta, “tetapi apakah mereka dapat menyamai tataran kemampuan Ki Darma Tanda?”</p>
<p>“Tentu,” jawab Ki Darma Tanda, “aku tidak yakin bahwa aku mampu mengalahkan salah seorang di antara mereka berdua. Apalagi pada pertarungan di putaran akhir.”</p>
<p>“Tentu dapat. Aku sudah menyaksikan bagaimana Ki Darma Tanda bertempur, bahkan tidak di arena seperti ini, melawan tidak hanya satu orang yang berilmu tinggi.”</p>
<p>“Aku masih belum yakin.”</p>
<p>Madyasta tidak menjawab lagi. Sementara itu Glagah Putih memperhatikan pertarungan itu dengan seksama. Ia pun mengakui bahwa kedua orang itu berilmu sangat tinggi. Tetapi sebagai seorang yang berbekal ilmu cukup, maka Glagah Putih masih belum menjadi silau melihat pertarungan itu.</p>
<p>Pangeran Jayaragapun memperhatikan pertarungan itu dengan dahi yang berkerut. Pangeran Jayaraga adalah seorang yang juga memiliki ilmu yang sangat tinggi. Namun kemampuan kedua orang yang bertarung itu memberikan harapan kepada Pangeran Jayaraga, bahwa ia akan mempunyai seorang lagi Senapati yang berilmu sangat tinggi.</p>
<p>“Bahkan aku akan dapat mengangkat kedua-duanya,” berkata Pangeran Jayaraga di dalam hatinya, sambil membayangkan pertarungan di putaran terakhir esok lusa.</p>
<p>Menurut gambaran angan-angan Pangeran Jayaraga, maka kedua orang yang akan memasuki arena pertandingan di putaran terakhir, tentu dua orang yang berilmu sangat tinggi. Jika kedua-duanya diangkatnya menjadi Senapati, maka jajaran keprajuritan Panaraga tentu akan menjadi kokoh.</p>
<p>Demikianlah, kedua orang yang bertarung di arena itu telah meningkatkan ilmu mereka pula, sehingga dengan demikian maka pertarungan itu pun menjadi semakin sengit.</p>
<p>Keduanya berloncatan berputaran dengan kecepatan yang tinggi. Benturan-benturan pun menjadi semakin keras, sehingga bergantian mereka tergetar surut.</p>
<p>Serangan yang seorang datang seperti prahara, sedangkan yang lain bagaikan angin taufan yang menggempur bukit-bukit karang.</p>
<p>Namun pertarungan itu pun harus berakhir. Ketika pada saat-saat terakhir benturan-benturan menjadi semakin sering terjadi, maka pertahanan orang yang bertubuh tinggi agak kekurus-kurusan itu mulai menjadi goyah.</p>
<p>Lawannya yang sudah separuh baya itu tidak mau kehilangan kesempatan. Pada saat orang bertubuh tinggi itu tergetar oleh serangannya yang berhasil menyusup pertahanannya, maka lawannya pun telah memanfaatkan keadaan itu. Ia pun dengan kecepatan yang tinggi telah memburu lawannya dengan serangan-serangan yang bagaikan amuk gelombang setinggi bukit, yang datang susul-menyusul menghantam tebing.</p>
<p>Satu serangan yang sangat keras lewat sebuah tendangan kaki yang terjulur lurus menyamping, berhasil menyusup pertahanan orang yang tinggi kekurus-kurusan itu, langsung mengenai dadanya. Sehingga dengan demikian, maka orang itu pun telah tergetar beberapa langkah surut. Dengan sigapnya orang yang sudah separuh baya itu meloncat untuk mengulangi serangannya. Tetapi dua orang Senapati yang menjadi pelerai dalam pertarungan itu telah menahannya.</p>
<p>Pada saat itulah, orang bertubuh tinggi agak kekurus-kurusan yang tubuhnya liat itu pun jatuh terbaring di tanah.</p>
<p>Orang itu masih berusaha bangkit. Tetapi mulutnya menyeringai menahan sakit. Bahkan ia memerlukan waktu beberapa lama untuk dapat berdiri. Namun keseimbangannya sudah menjadi goyah.</p>
<p>Karena itu, maka kedua orang Senapati yang menjadi pelerai dalam pertarungan itu, serta Mas Panji Wangsadrana sendiri, telah mengambil keputusan, bahwa orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu dinyatakan kalah.</p>
<p>Ternyata orang itu dengan lapang dada mengakui kekalahannya. Ia pun kemudian mengangguk hormat kepada Mas Panji Wangsadrana, kepada kedua Senapati yang menjadi pelerai dalam pertarungan itu, dan kemudian ia pun mengangguk dalam-dalam menghadap kepada Pangeran Jayaraga yang berada di panggungan.</p>
<p>Penonton pun kemudian telah bersorak gemuruh. Meskipun orang bertubuh tinggi itu kalah, tetapi ia kalah dengan terhormat. Ia sudah memberikan perlawanan yang hampir seimbang. Namun agaknya orang bertubuh tinggi itu tidak memperhitungkan tenaga serta ketahanan tubuhnya, sehingga tenaga dan kekuatannya menjadi lebih dahulu menyusut.</p>
<p>Tetapi setiap orang yang menyaksikan pertarungan itu mengakui, bahwa keduanya hampir seimbang.</p>
<p>Demikianlah, maka kedua orang itu pun kemudian telah keluar dari arena. Orang yang bertubuh tinggi, yang berjalan tertatih-tatih itu pun telah dipapah oleh seorang prajurit, yang kemudian membawanya duduk di tempat yang memang disediakan bagi para peserta yang telah kehilangan kesempatan untuk ikut dalam putaran berikutnya. Namun demikian ia duduk, maka beberapa orang yang ada di sebelah-menyebelahnya telah berbisik, “Ilmu Ki Sanak ternyata tinggi sekali.”</p>
<p>“Tetapi aku sudah dikalahkannya.”</p>
<p>“Nampaknya keberuntungan saja yang masih belum hinggap pada Ki Sanak.”</p>
<p>Orang itu tersenyum. Namun dadanya masih terasa sakit sekali. Bahkan nafasnya pun masih terasa sesak.</p>
<p>Setelah beristirahat sejenak, maka pasangan terakhir pun memasuki arena pertarungan. Seorang di antara mereka adalah orang yang mengaku Pangeran Ranapati itu. Namun ketika ia menyatakan diri mengikuti adon-adon untuk memperebutkan kedudukan Senapati di Panaraga itu, ia mempergunakan nama lain.</p>
<p>Demikianlah, dua orang sudah siap di arena. Lawan Pangeran Ranapati itu adalah seorang yang wajahnya nampak cerah. Sekali-sekali nampak tersenyum. Giginya yang putih itu pun nampak berkilat. Namun di sorot matanya, orang-orang yang sedikit mempunyai kedalaman pengenalan tentang sifat dan watak seseorang, melihat bahwa orang itu adalah orang yang licik. Orang itu dapat berbuat sesuatu di luar dugaan.</p>
<p>Bahkan Pangeran Jayaraga yang berada di panggungan dalam jarak yang tidak terlalu dekat, mengerutkan dahinya melihat orang yang licik itu. Namun Pangeran Jayaraga melihat lawannya adalah seorang yang sikapnya nampak mantap. Seorang yang sudah matang mengambil sikap, sehingga orang itu tentu juga mengetahui, bahwa lawannya adalah orang yang licik.</p>
<p>Beberapa saat keduanya berdiri berhadapan. Dua orang Senapati yang menjadi pelerai bersama Mas Panji Wangsadrana itu segera dapat mengenali kedua orang yang berada di arena. Seorang yang terpaksa membunuh lawannya yang curang. Dan yang seorang memerlukan perhatian lebih banyak, karena sikapnya yang kadang-kadang menyimpang dari aturan pertarungan.</p>
<p>Sebelum pertarungan pasangan terakhir itu dimulai, Mas Panji Wangsadrana telah memberikan beberapa peringatan, terutama ditujukan kepada lawan Pangeran Ranapati. Jika terjadi kecurangan, maka pertarungan akan dihentikan. Yang berbuat curang langsung dinyatakan kalah.</p>
<p>Orang itu hanya tersenyum saja. Tidak ada kesan apa pun di wajahnya, seakan-akan ia tidak pernah melakukan kecurangan itu.</p>
<p>“Saat ini Pangeran Jayaraga hadir menyaksikan pertarungan ini. Karena itu, maka pertarungan ini harus bersih. Tidak boleh ada kecurangan sedikit pun juga, karena Pangeran Jayaraga tentu akan melihatnya, karena Pangeran Jayaraga adalah seorang yang berilmu sangat tinggi.”</p>
<p>Demikianlah, maka para Senapati yang akan menjadi pelerai dalam pertarungan itu pun segera memberikan isyarat agar kedua-duanya mempersiapkan diri. Pertarungan akan segera dimulai.</p>
<p>Sebenarnyalah, sejenak kemudian kedua orang yang berdiri berhadapan di arena itu pun mulai dengan pertarungan dalam putaran terakhir. Siapa yang menang, akan sampai pada pertarungan yang menentukan, besok lusa. Yang menang dalam pertarungan besok lusa akan segera diangkat menjadi Senapati, melengkapi jumlah Senapati yang ada di Panaraga.</p>
<p>Sekali lagi Pangeran Jayaraga itu berpikir, “Kenapa hanya seorang? Kedua pemenang dalam pertarungan ini akan dapat aku ambil bersama-sama. Tetapi untuk menentukan yang terbaik dari keduanya, yang tentu akan mendapat pangkat yang lebih tinggi, maka pertarungan besok lusa akan terus dilangsungkan.”</p>
<p>Pangeran Jayaraga masih belum berniat menyampaikan gagasannya itu kepada orang lain.</p>
<p>Sejenak kemudian, kedua orang itu pun sudah saling berloncatan. Keduanya pun mulai saling menyerang dengan sengitnya. Tangan dan kaki mereka terayun-ayun berputaran, menebas, terjulur lurus dengan jari-jari yang berkembang, atau dengan jari-jari yang justru merapat.</p>
<p>Ki Darma Tanda yang tidak menyaksikan pertarungan sebelumnya, mengamati pertarungan itu dengan tegang. Orang yang sorot matanya membayangkan kecerdikannya sekaligus kelicikannya itu pun berloncatan dengan kecepatan yang sangat tinggi.</p>
<p>Namun pertahanan kedua orang itu ternyata sangat rapat. Sehingga yang sering terjadi adalah benturan-benturan yang keras. Serangan yang bagaikan taufan yang dahsyat telah membentur pertahanan yang kokoh seperti batu karang.</p>
<p>Para Senapati yang menjadi pelerai dalam pertandingan itu menjadi sangat berhati-hati. Mereka seakan-akan tidak berani berkedip, karena sekejap demi sekejap pertarungan itu pun berkembang dengan cepatnya.</p>
<p>Pertarungan antara kedua orang itu pun menjadi semakin sengit. Keduanya memang berilmu sangat tinggi.</p>
<p>Tanpa berbuat curang pun, orang yang berwajah cerah itu mampu bertempur mengimbangi Pangeran Ranapati. Keduanya saling mendesak. Saling menyerang, menghindar dan bahkan saling berbenturan.</p>
<p>Dengan demikian maka di arena itu pun telah terjadi pertarungan yang dahsyat, bagaikan angin pusaran yang saling melilit dan sulit untuk diurai.</p>
<p>Namun sekali-sekali orang yang berwajah cerah, dengan sorot mata yang memancarkan kelicikannya itu, terlempar dan terpelanting jatuh. Tetapi kemudian Pangeran Ranapati itulah yang terbanting dan terguling di tanah.</p>
<p>Orang yang dianggap licik itu memang tidak mempunyai kesempatan untuk berbuat curang. Ia tidak mau diusir dari arena karena kecurangannya, sementara selangkah lagi, jika ia memenangkan pertarungan itu, akan maju ke putaran terakhir. Dengan demikian maka ia berusaha untuk bertempur sebaik-baiknya.</p>
<p>Pangeran Jayaraga yang berada di panggungan pun menjadi tegang. Kedua orang yang bertempur di arena itu ternyata memiliki ilmu yang seakan-akan seimbang, sehingga sulit untuk menebak, yang manakah yang akan menang.</p>
<p>Namun Pangeran Ranapati telah menempa diri di pertapaannya untuk waktu yang lama. Ia pun mempunyai pengalaman yang sangat luas, sehingga dengan demikian maka ia merupakan seorang yang sangat tangguh dan tanggon.</p>
<p>Di luar arena, Ki Darma Tanda menyaksikan pertarungan itu dengan tegang pula. Rasa-rasanya empat orang yang bertanding hari itu memiliki tataran ilmu yang hampir seimbang. Agaknya hanya kesempatan dan keberuntungan sajalah yang membuat seorang dari setiap pasangan itu memenangkan pertarungan.</p>
<p>Namun bagi Glagah Putih, pertarungan itu merupakan satu kesempatan baginya untuk mengetahui tataran kemampuan Pangeran Ranapati. Agaknya untuk mengatasi lawannya, Pangeran Ranapati telah mengerahkan segenap kemampuannya.</p>
<p>“Masih ada satu kesempatan lagi,” berkata Glagah Putih di dalam hatinya, “jika Pangeran Ranapati memenangkan pertarungan ini, maka aku akan melihat kemampuan tertinggi dari Pangeran Ranapati.”</p>
<p>Glagah Putih harus mengakui bahwa Pangeran Ranapati memang berilmu sangat tinggi. Sedangkan Glagah Putih mengemban tugas untuk membawa Pangeran Ranapati itu ke Mataram. Untuk itu maka ia harus dapat mengatasi kemampuan Pangeran Ranapati itu.</p>
<p>Tetapi agaknya tugas yang dibebankan kepadanya itu adalah tugas yang akan menjadi sangat rumit. Kalau Pangeran Ranapati itu sudah terlanjur menjadi Senapati di Panaraga, maka segalanya tentu harus melalui Pangeran Jayaraga. Apalagi jika Pangeran Ranapati kemudian dianggap sebagai seorang Senapati yang mempunyai kedudukan yang dekat dengan Pangeran Jayaraga.</p>
<p>Tetapi jika ia melakukannya sebelumnya, maka yang turun ke arena itu bukan Pangeran Ranapati. Ia seorang yang lain, yang tidak akan dapat dituduh seorang yang mengaku-aku sebagai seorang Pangeran, karena nama yang dipergunakan adalah nama yang lain sama sekali. Nama yang tidak dapat disangkutpautkan dengan pemalsuannya tentang kedudukannya sebagai Pangeran. Ia akan dapat mengingkarinya jika dituduhkan kepadanya, bahwa ia bersalah karena mengaku sebagai putra Panembahan Senapati.</p>
<p>“Tetapi kelak aku tentu akan menemukan jalan,” berkata Glagah Putih. Ia pun merasa bahwa ia tidak sendiri. Untuk menghadapi Pangeran Ranapati yang berilmu sangat tinggi, apabila ia mengalami kesulitan, maka Rara Wulan yang juga berilmu sangat tinggi akan dapat membantunya.</p>
<p>Sementara itu pertarungan di arena itu pun menjadi semakin sengit. Keduanya ternyata telah membangun pertahanannya yang sangat rapat, sehingga sulit bagi lawan-lawannya untuk menembusnya sehingga mampu menyentuh sasarannya.</p>
<p>Namun seperti pertarungan yang pertama, apa pun yang terjadi, pertarungan itu pun harus berakhir.</p>
<p>Ternyata lawan Pangeran Ranapati itu pun tidak mampu mengimbangi daya tahan tubuh Pangeran Ranapati. Meskipun ia memiliki ilmu yang seimbang, tetapi tenaganyalah yang lebih dahulu mulai menyusut.</p>
<p>Dengan demikian, maka akhirnya para Senapati yang menjadi pelerai dari pertarungan itu sepakat, bahkan Mas Panji Wangsadrana pun memutuskan untuk menghentikan pertarungan.</p>
<p>Ternyata lawan Pangeran Ranapati yang sebelumnya dianggap licik, sehingga pada pertarungan dalam putaran menjelang putaran terakhir itu perlu diperingatkan, telah menjunjung tinggi keputusan para Senapati yang menjadi pelerai dalam pertarungan itu. Ia sama sekali tidak menunjukkan kelicikannya. Bahkan wajahnya nampak ikhlas ketika ia mengangguk hormat kepada para Senapati, kepada Mas Panji Wangsadrana, dan kepada Pangeran Jayaraga yang berada di panggungan.</p>
<p>Dengan demikian maka dua pertarungan di hari itu sudah selesai. Pangeran Jayaraga pun segera kembali ke Istana. Sementara para penonton di alun-alun sudah menjadi semakin sepi.</p>
<p>Ki Darma Tanda yang pulang bersama Glagah Putih dan Madyasta pun bertanya, “Kalian tahu, bahwa ada unsur-unsur gerak yang bersamaan dari salah seorang yang bertarung pertama dan salah seorang yang bertarung kemudian.”</p>
<p>Sebenarnyalah bahwa Glagah Putih juga melihat persamaan itu. Tetapi ia tidak menjawab. Sementara Madyastalah yang menyahut, “Yang mana, Ki Darma Tanda?”</p>
<p>“Yang memenangkan pertarungan pertama, dan yang dikalahkan pada pertarungan kedua.”</p>
<p>Madyasta dan Glagah Putih mengangguk-angguk.</p>
<p>Bahkan Glagah Putih sudah mengambil kesimpulan bahwa keduanya adalah saudara seperguruan. Namun menurut penglihatan Glagah Putih, orang yang sudah separuh baya yang bertarung pertama, memang memiliki kelebihan dari saudara seperguruan yang bertarung terakhir.</p>
<p>Demikianlah, maka Ki Darma Tanda yang langsung akan pulang itu pun berpisah pula dengan Glagah Putih dan Madyasta yang juga akan pulang.</p>
<p>Di sepanjang jalan, Glagah Putih dan Madyasta telah membicarakan kesulitan yang bakal mereka jumpai untuk membawa Pangeran Ranapati ke Mataram. Selain Pangeran Ranapati berilmu sangat tinggi, maka kemungkinan terbesar ia akan mendapatkan kedudukan yang tinggi di Panaraga.</p>
<p>“Bagaimana kalau kita melakukannya sebelum pertarungan di putaran terakhir?” bertanya Madyasta.</p>
<p>“Orang itu tidak mengaku bernama Pangeran Ranapati. Tidak ada saksi yang dapat menyudutkannya, bahwa ia adalah orang yang telah mengaku bernama Pangeran Ranapati. Bukankah orang itu tidak dapat dipersalahkan mengaku seorang Pangeran, putra Panembahan Senapati?”</p>
<p>“Tetapi saat ia mengaku putra Panembahan Senapati, ia sudah menjadi seorang Senapati di Panaraga, serta mendapat perlindungan dari Pangeran Jayaraga.”</p>
<p>“Itulah yang membingungkan.”</p>
<p>“Lalu, apakah yang akan kau lakukan?”</p>
<p>“Untuk sementara aku masih harus memikirkan, jalan manakah yang dapat aku tempuh kemudian.”</p>
<p>Madyasta mengangguk-angguk.</p>
<p>Demikian mereka sampai di rumah, maka Madyasta pun langsung pergi ke dapur. Ia masih mempunyai nasi dan sayur meskipun sudah dingin. Tetapi bagi mereka, nasi dingin dan sayur yang dingin tidak ada salahnya jika perut lapar.</p>
<p>Sementara itu, Rara Wulan masih saja selalu menghubungi Glagah Putih. Kantil semakin lama menjadi semakin garang, karena Pangeran Ranapati tidak pernah pulang.</p>
<p>“Pangeran itu baru menempuh pendadaran,” sahut Glagah Putih.</p>
<p>“Tetapi Nyi Kantil tidak tahu. Ia mengira bahwa Pangeran Ranapati mempunyai simpanan baru, sehingga telah melupakannya. Namun akulah yang menjadi sasaran kejengkelannya itu, sehingga aku hampir menjadi gila.”</p>
<p>Glagah Putih justru tertawa. Tetapi Rara Wulan segera memotongnya, “Kau mentertawakan aku?”</p>
<p>“Tidak. Bukan maksudku. Aku mentertawakan perempuan yang kau ceritakan. Kasihan orang itu. Tetapi kau harus menahan diri agar rencana kita dapat berhasil.”</p>
<p>“Aku akan berusaha. Tetapi jika kelak setelah aku keluar dari rumah ini aku menjadi gila, aku jangan kau tinggal pergi.”</p>
<p>Ketika Glagah Putih tertawa, Rara Wulan pun memotongnya pula, “Kau mentertawakan aku lagi?”</p>
<p>“Tidak. Aku tidak akan mentertawakan kau.”</p>
<p>Pembicaraan dengan Aji Pameling itu memang tidak selancar pembicaraan jika mereka saling berhadapan. Tetapi kedua-duanya telah menguasainya, sehingga keduanya dapat berhubungan dengan lancar.</p>
<p>Di hari berikutnya tidak ada pertarungan di alun-alun. Karena itu, ketika Glagah Putih dan Madyasta pergi ke alun-alun, maka alun-alun itu nampak lengang.</p>
<p>Hari itu mereka yang akan bertarung di putaran terakhir mendapat kesempatan untuk beristirahat. Mereka harus mempersiapkan diri untuk menghadapi pertarungan yang tentu akan sangat berat. Dua orang yang berilmu sangat tinggi akan turun di arena untuk memperebutkan gelar Senapati, melengkapi kedudukan Senapati yang sudah ada di Panaraga.</p>
<p>Dalam pada itu, mereka yang akan turun ke arena di keesokan harinya masih juga berada di barak mereka. Bahkan dengan bebas para peserta yang terdahulu dapat menemui mereka untuk menyatakan dukungan mereka.</p>
<p>Kedua orang yang akan bertanding di keesokan harinya itu agaknya akan mendapat dukungan yang seimbang. Sementara itu, orang yang disebut memiliki ciri-ciri yang sama, tetapi yang dikalahkan pada pertandingan kemarin, telah menemui orang yang turun ke arena pertarungan besok.</p>
<p>“Orang itu memang luar biasa, Kakang,” berkata orang yang dikalahkan oleh Pangeran Ranapati itu.</p>
<p>“Kau sudah berusaha sebaik-baiknya. Tetapi orang itu memang berilmu tinggi. Tetapi aku akan mencoba mengalahkannya esok.”</p>
<p>“Kalau Kakang tidak berhasil?”</p>
<p>“Aku akan mempergunakan ilmu pamungkasku. Apa boleh buat. Aku sudah merintis jalan dari bawah sekali. Jika aku harus gagal, biarlah tidak ada orang yang akan dapat berhasil. Orang itu pun harus gagal pula. Mungkin kami akan mati bersama-sama. Tetapi itu lebih baik daripada kedudukan itu jatuh ke tangan orang lain.”</p>
<p>“Orang itu tentu juga menyimpan ilmu pamungkas.”</p>
<p>“Ilmu pamungkasku adalah ilmu linuwih. Jarang ada yang dapat mengimbanginya.”</p>
<p>“Mudah-mudahan Kakang berhasil tanpa harus mempergunakan ilmu pamungkas. Kami semuanya yang bertarung juga tidak mempergunakan ilmu-ilmu puncak kami, karena telah disebutkan bahwa tidak dibenarkan mempergunakan ilmu puncak, yang dapat menyebabkan kematian dengan serangan berjarak.”</p>
<p>“Hanya kalau sudah tidak ada kemungkinan lain. Sudah aku katakan, lebih baik kami nanti mati bersama-sama daripada harus menyerahkan kedudukan itu kepada lawan. Jika ilmu kami seimbang, kekalahan dalam pertarungan seperti ini adalah sangat menyakitkan, sehingga tidak ada pilihan lain daripada kami binasa bersama-sama di arena.”</p>
<p>Adik seperguruannya menarik nafas panjang. Namun segala sesuatunya terserah kepada kakak seperguruannya.</p>
<p>Tetapi orang itu justru mempunyai harapan. Jika kakak seperguruannya dan lawannya itu mati bersama-sama di arena, atau karena penggunaan ilmu puncak mereka dianggap menyalahi peraturan, maka akan ada kesempatan baginya untuk tampil dalam pertarungan akhir melawan orang yang telah dikalahkan oleh kakak seperguruannya itu.</p>
<p>Demikianlah, maka hari yang mendebarkan itu akhirnya tiba pula. Pagi-pagi sekali Glagah Putih mencoba membuat hubungan dengan Rara Wulan. Namun agaknya Rara Wulan baru sibuk, sehingga ia tidak mempunyai kesempatan untuk berhubungan dengan Glagah Putih.</p>
<p>Namun beberapa saat kemudian, pada saat Rara Wulan mempunyai kesempatan, barulah ia menghubungi Glagah Putih.</p>
<p>“Hari ini adalah hari terakhir,” berkata Glagah Putih, “kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Kita pun tidak tahu, jika Pangeran Ranapati menang, apakah ia akan segera pulang untuk mendapat perawatan perempuan yang bernama Kantil itu atau tidak. Tetapi sebaiknya kau berhati-hati.”</p>
<p>“Ya, Kakang. Jika Pangeran Ranapati pulang, aku akan segera memberikan isyarat kepada Kakang.”</p>
<p>“Kalau aku mengetahuinya lebih dahulu, aku akan memberitahukan kepadamu.”</p>
<p>“Sudahlah, Kakang. Kantil itu datang kemari.”</p>
<p>Hubungan itu pun telah terputus. Sementara Kantil dengan kasar membentak, “Apa yang kau lakukan? Apa kau kira pantas bagimu untuk melamun pagi-pagi begini? Apakah kau juga mengharap Pangeran Ranapati segera pulang?”</p>
<p>“Tidak, Mbokayu, tidak.”</p>
<p>“Kau tidak berhak mengharap Pangeran itu segera pulang. Kau tidak punya hak itu.”</p>
<p>“Tidak, Mbokayu. Aku lebih senang mengabdi kepada Mbokayu daripada kepada Pangeran Ranapati.”</p>
<p>Kantil memandang Ranti dengan sorot mata yang tajam, seakan-akan langsung menusuk sampai ke jantung.</p>
<p>“Jadi kau lebih senang bahwa Pangeran Ranapati tidak pulang ke rumah ini?”</p>
<p>“Ya, Mbokayu.”</p>
<p>“Jadi kau senang kalau aku mati kekeringan seperti sebatang pohon yang tidak pernah disiram? Begitu, he?”</p>
<p>“Bukan. Bukan begitu maksudku. Pangeran Ranapati memang sebaiknya pulang bagi Mbokayu Kantil. Tidak bagiku.”</p>
<p>Nafas Kantil itu pun menjadi terengah-engah. Tetapi ia pun kemudian duduk di amben panjang di dapur.</p>
<p>Ranti segera mengambil minuman dan memberikannya kepada Kantil, sambil berkata, “Minumlah, Mbokayu. Mbokayu tidak usah menjadi begitu cemas. Bukankah Pangeran Ranapati sedang menjalankan tugas yang sangat berat?”</p>
<p>“Darimana kau tahu?”</p>
<p>“Bukankah ketika akan berangkat, Pangeran mengatakannya kepada Mbokayu?”</p>
<p>Kantil itu pun minum seteguk. Namun yang seteguk itu memang membuat dadanya menjadi tenang.</p>
<p>“Kalau dalam dua tiga hari ini Pangeran tidak pulang, aku akan mencarinya.”</p>
<p>“Kemana Mbokayu akan mencarinya? Sebaiknya Mbokayu menunggu saja di rumah. Jika saatnya pulang, maka Pangeran tentu akan pulang.”</p>
<p>“Tentu Mas Panji itu yang telah membawa Pangeran Ranapati kepada perempuan yang lain. Perempuan yang lebih muda dan lebih cantik daripadaku, sehingga Pangeran menjadi tergila-gila kepadanya. Karena itu maka Pangeran tidak lagi pernah pulang.”</p>
<p>“Belum tentu, Mbokayu. Belum tentu.”</p>
<p>Kantil pun terdiam. Namun Kantil itu pun kemudian bangkit berdiri dan masuk ke dalam biliknya.</p>
<p>Sementara itu di alun-alun Panaraga,, pertarungan pada putaran terakhir pun sudah siap dilakukan, Pangeran Jayaraga telah berada di alun-alun dan duduk di panggungan.</p>
<p>Dengan jantung yang berdebar-debar Pangeran Jayaraga menunggu pertarungan itu berakhir. Jika kedua-duanya adalah orang-orang yang berilmu sangat tinggi, maka Pangeran Jayaraga akan dapat mengambil kedua-duanya untuk mengisi kedudukan Senapati di Panaraga. Menurut Pangeran Jayaraga, jajaran keprajuritan Panaraga memang masih harus diperkuat dengan orang-orang berilmu tinggi.</p>
<p>Pada saatnya, maka dua orang yang mengikuti pertarungan pada putaran terakhir itu pun sudah siap di arena. Seorang adalah orang yang sudah separuh baya, yang bergerak dengan mantap di arena. Matanya yang agak cekung tajam memandang lawannya, hampir tanpa berkedip.</p>
<p>Sedangkan yang seorang adalah Pangeran Ranapati. Namun Pangeran Jayaraga tidak mengetahui bahwa orang itulah yang pernah disebut-sebut oleh Mas Panji Wangsadrana mengaku bernama Pangeran Ranapati.</p>
<p>Sejenak kemudian para Senapati yang akan menjadi pelerai sudah berada di arena pula. Dua orang Senapati dengan Mas Panji Wangsadrana itu sendiri, sehingga menjadi tiga orang.</p>
<p>Setelah mereka memberikan hormat kepada Pangeran Jayaraga yang berada di panggungan, maka para Senapati yang menjadi pelerai itu pun telah memberikan isyarat kepada kedua orang yang akan bertarung di arena, bahwa pertarungan sudah dapat dimulai.</p>
<p>Sudah dapat diduga, keduanya adalah orang-orang yang sudah matang, sehingga mereka tidak nampak tergesa-gesa. Mereka dengan tenang menghadapi lawan yang mereka ketahui berilmu sangat tinggi.</p>
<p>Berapa saat mereka bergeser berputaran di arena. Namun tiba-tiba saja mereka pun mulai berloncatan menyerang.</p>
<p>Meskipun serangan-serangan mereka masih merupakan sekedar penjajagan, tetapi setiap ayunan telah menimbulkan desir angin yang tajam menerpa kulit lawannya.</p>
<p>Di pinggir arena, di antara para penonton yang menjadi semakin banyak, Madyasta, Glagah Putih dan Ki Darma Tanda berdiri dengan tegang pula. Mereka mengikuti setiap gerak dengan jantung yang berdebaran.</p>
<p>Dengan sangat teliti Glagah Putih mencoba mengurai setiap langkah, loncatan, ayunan tangan dan kaki Pangeran Ranapati. Ia mencoba untuk mengetahui sifat dan watak setiap unsur geraknya. Ia harus mempelajarinya baik-baik, sebelum ia sendiri akan membenturkan ilmunya melawan orang yang mengaku seorang pangeran dari Mataram itu.</p>
<p>Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin meningkat. Kedua-duanya memang tidak nampak tergesa-gesa, sehingga mereka tidak terlalu cepat meningkatkan ilmu mereka. Pada setiap tataran keduanya mencoba untuk benar-benar membenturkan kemampuan mereka.</p>
<p>Pangeran Jayaraga yang duduk di panggungan itu memang menjadi tegang. Tetapi baginya kedua-duanya pantas untuk menjadi Senapati pilihan di Panaraga. Tetapi salah seorang harus mendapat hak yang lebih dari yang lain.</p>
<p>Karena itu maka pertarungan itu harus diselesaikan dengan tuntas.</p>
<p>Kedua orang di arena itu pun semakin mengerahkan tenaga dalam mereka. Loncatan-loncatan mereka menjadi semakin cepat dan mantap. Jika terjadi benturan, maka bukan saja arena itu yang bergetar, tetapi rasa-rasanya seluruh alun-alun itu pun telah bergetar pula.</p>
<p>Orang-orang yang menonton pertarungan itu pun menjadi semakin tegang pula. Rasa-rasanya mereka ikut terancam oleh orang-orang yang berada di arena itu. Serangan-serangan mereka menjadi semakin deras dan berbahaya, mengarah ke sasaran yang paling lemah di tubuh lawan.</p>
<p>Sekali-sekali Pangeran Ranapati terlempar dan terpelanting jatuh. Namun sesaat kemudian lawannyalah yang terbanting di tanah, sehingga mulutnya menyeringai menahan sakit betapapun daya tahannya sangat tinggi.</p>
<p>Ternyata bahwa kedua orang itu memiliki ilmu yang hampir seimbang. Pangeran Ranapati merasa sangat sulit untuk mengalahkan lawannya. Tetapi lawannya pun merasa bahwa ia tidak akan dapat menundukkan lawannya itu.</p>
<p>Sementara itu, serangan demi serangan yang berhasil menyusup pertahanan lawan telah membuat tubuh lawannya sakit dan nyeri dimana-mana.</p>
<p>Lengan orang yang sudah separuh baya dan bermata cekung itu terasa bagaikan retak. Dadanya kesakitan dan nafasnya menjadi sesak. Sedangkan Pangeran Ranapati pun merasa tulang-tulang iganya yang seakan-akan telah retak. Sendi-sendinya bagaikan terlepas yang satu dengan yang lain.</p>
<p>Namun nafas Pangeran Ranapati rasa-rasanya masih lebih panjang dari nafas lawannya yang terasa semakin terengah-engah.</p>
<p>Ketika pertarungan itu berlangsung semakin lama, maka mulai nampak betapa keseimbangan antara keduanya mulai terguncang. Orang yang sudah separuh baya yang bermata cekung itu tidak dapat mempertahankan tenaga dan kekuatannya. Betapapun kemampuannya masih tetap mapan, tetapi unsur kewadagannya mulai menjadi penghambat.</p>
<p>Orang-orang yang berilmu tinggi, termasuk Pangeran Jayaraga, Ki Darma Tanda, Glagah Putih dan Madyasta serta beberapa orang Senapati, mulai dapat menebak, siapakah di antara keduanya yang akan mampu bertahan.</p>
<p>Meskipun demikian, yang tidak terduga masih akan dapat terjadi. Jika orang yang mulai mengatasi lawannya itu melakukan kesalahan, maka keadaan justru akan dapat berbalik.</p>
<p>Namun orang yang sudah separuh baya itu sendiri akhirnya meyakini bahwa ia benar-benar tidak akan dapat memenangkan pertarungan itu. Ia sadar bahwa tenaganya mulai menyusut. Agak lebih cepat dari lawannya.</p>
<p>Karena itu maka orang itu tidak mempunyai pilihan lain. Ia sudah bertekad, jika ia tidak dapat menguasai kedudukan itu, maka lawannya tidak pula. Baginya lebih baik mati bersama di arena itu daripada ia harus melepaskan kesempatan itu kepada lawannya, yang ilmunya tidak jauh berbeda dengan tataran ilmunya sendiri.</p>
<p>Sementara itu, Pangeran Jayaraga sendiri menjadi lebih tertarik pada pertarungan itu. Ia sudah berniat untuk mengangkat kedua orang itu menjadi Senapati di Panaraga, meskipun salah seorang dari mereka harus menang, agar Pangeran Jayaraga itu menjadi lebih mudah untuk menempatkan mereka pada tataran dalam keprajuritan Panaraga.</p>
<p>Pangeran Jayaraga sudah hampir pasti bahwa Pangeran Ranapati yang masih belum dikenalnya itu akan memenangkan pertarungan di putaran terakhir itu.</p>
<p>Tetapi Pangeran Jayaraga itu pun sangat terkejut. Bukan hanya Pangeran Jayaraga, tetapi para Senapati yang menjadi pelerai di arena, termasuk Mas Panji Wangsadrana, Ki Darma Tanda yang berada di luar arena, Madyasta dan Glagah Putih, serta beberapa orang Senapati yang lain, ketika mereka melihat bahwa orang yang sudah separuh baya itu tiba-tiba saja meloncat beberapa langkah surut untuk mengambil jarak.</p>
<p>“Kita akan mati bersama-sama, Ki Sanak. Itu lebih baik daripada aku harus melepaskan kedudukan ini kepadamu.”</p>
<p>Pangeran Ranapati yang juga terkejut telah bergeser pula. Secepat lawannya, maka Pangeran Ranapati pun telah memusatkan nalar budinya.</p>
<p>“Betapapun tinggi ilmumu, tetapi ilmu puncakmu itu tidak akan dapat menandingi ilmu puncakku,” geram orang yang sudah separuh baya itu.</p>
<p>Para prajurit yang berada di sekeliling arena menjadi gelisah, terutama mereka yang kebetulan berada di belakang Pangeran Ranapati.</p>
<p>Mereka pun segera berloncatan sambil memberi isyarat kepada para penonton untuk bergeser.</p>
<p>Tetapi ketika para prajurit yang berada di belakang orang yang sudah separuh baya itu melihat bahwa Pangeran Ranapati juga mempersiapkan serangan dengan ilmu pamungkasnya, maka para prajurit itu pun segera bergeser pula sambil memberi isyarat pula kepada para penonton.</p>
<p>Demikian para penonton itu menyibak, maka orang yang sudah separuh baya itu pun segera melepaskan ilmu puncaknya.</p>
<p>“Tunggu! Jangan!” teriak Mas Panji Wangsadrana.</p>
<p>Tetapi terlambat. Ilmu pamungkas itu telah meluncur dari telapak tangan orang yang sudah separuh baya itu. Namun dalam pada itu, dari tangan Pangeran Ranapati pun telah meluncur pula selerat sinar yang menyongsong serangan orang yang sudah separuh baya itu.</p>
<p>Benturan pun telah terjadi dengan dahsyatnya. Dua ilmu pamungkas pun telah berbenturan. Alun-alun Panaraga itu pun bagaikan telah terguncang. Pepohonan pun bergetar, sehingga dedaunan serta ranting-ranting berpatahan, runtuh jatuh ke tanah.</p>
<p>Panggungan tempat Pangeran Jayaraga duduk menyaksikan pertarungan itu pun telah goyah bagaikan diterpa gempa, sehingga Pangeran Jayaraga pun telah bangkit berdiri.</p>
<p>Yang terjadi di arena telah menggetarkan jantung orang-orang yang menyaksikannya. Pangeran Ranapati telah terlempar beberapa langkah surut. Tubuhnya terguling beberapa kali. Namun Pangeran Ranapati itu masih mampu untuk berdiri meskipun tubuhnya menjadi gemetar. Darah segera meleleh dari sela-sela bibirnya karena luka di dalam dadanya.</p>
<p>Di sisi lain, orang yang sudah separuh baya yang terlalu yakin akan kemampuan ilmunya itu justru terbanting jatuh. Sekali ia menggeliat sambil mengerang kesakitan.</p>
<p>Saudara seperguruannya, yang telah dikalahkan oleh Pangeran Ranapati di putaran sebelumnya, yang berkesempatan menyaksikan pertarungan itu, segera meloncat berlari mendekatinya. Beberapa orang yang di dalam hatinya berpihak kepadanya pun telah mengerubunginya pula.</p>
<p>Dua orang prajurit yang bertugas bersama seorang tabib telah berlari pula mendekat dan berjongkok di sebelahnya.</p>
<p>Orang itu masih mengerang kesakitan. Kepada saudara seperguruannya ia pun berdesis perlahan, “Ternyata ilmu orang itu sangat tinggi.”</p>
<p>“Kakang,” desis saudara seperguruannya itu.</p>
<p>Tetapi orang itu sudah tidak dapat menjawab. Dadanya bagaikan terbakar, sehingga orang itu tidak mempunyai kesempatan lagi untuk bertahan.</p>
<p>Tabib yang datang kepadanya itu pun kemudian menggeleng sambil berdesis, “Sayang, nafasnya telah terputus.”</p>
<p>Satu kematian lagi telah terjadi di arena itu. Pangeran Ranapati yang terluka di dadanya, namun karena daya tahannya yang sangat tinggi masih mampu berdiri tegak, mengangguk dalam-dalam ke arah Pangeran Jayaraga yang berdiri di panggungan.</p>
<p>Mas Panji Wangsadrana pun kemudian berdiri di sebelahnya. Ketika seorang Senapati datang kepadanya kemudian membisikkan kematian orang yang sudah separuh baya itu, maka Mas Panji itu pun mengangguk dalam-dalam menghadap kepada Pangeran Jayaraga.</p>
<p>“Ampun, Pangeran. Seorang di antara peserta pendadaran pada putaran terakhir ini telah terbunuh.”</p>
<p>Sedangkan Pangeran Ranapati pun menyambungnya, “Ampun, Pangeran. Sungguh hamba tidak berniat membunuh. Tetapi hamba terkejut, bahwa tiba-tiba saja orang itu menyerang dengan ilmu puncaknya.”</p>
<p>Pangeran Jayaraga pun memandang Pangeran Ranapati dengan tajamnya. Namun kemudian ia pun berkata, “Ya. Aku melihatnya. Kau memang tidak bersalah.”</p>
<p>“Terima kasih, Pangeran. Hamba junjung tinggi kemurahan hati Pangeran.”</p>
<p>“Benahi segala sesuatunya. Aku akan kembali ke Istana. Kau yang memenangkan pertarungan pada putaran terakhir ini nanti aku minta menghadap.”</p>
<p>“Hamba, Pangeran. Perkenankan hamba membenahi diri lebih dahulu. Mungkin hamba juga memerlukan minum seteguk reramuan, untuk mengatasi perasaan nyeri di dada hamba.”</p>
<p>“Baik. Kau dapat melakukannya. Biarlah nanti Mas Panji Wangsadrana yang mengaturnya.”</p>
<p>Demikianlah, maka orang-orang yang berada di alun-alun untuk menyaksikan pertarungan di putaran terakhir itu pun mengalir meninggalkan alun-alun melalui tiga pintu gerbang. Sedangkan beberapa orang prajurit sibuk dengan korban yang terbunuh di arena pertarungan itu. Untunglah bahwa Pangeran Jayaraga sendiri menyaksikannya, sehingga Pangeran Jayaraga itu langsung dapat menentukan bahwa orang yang memenangkan pertarungan dan bahkan telah menyebabkan kematian lawannya itu tidak bersalah.</p>
<p>Sementara itu, Ki Darma Tanda meninggalkan alun-alun bersama Madyasta dan Glagah Putih. Sambil berjalan di antara banyak orang, Ki Darma Tanda pun berkata, “Untunglah bahwa yang memenangkan pertarungan ini adalah orang yang nampaknya baik dan cerdas. Yang pantas untuk menjadi salah seorang Senapati di Panaraga.”</p>
<p>Madyasta dan Glagah Putih mengangguk-angguk. Namun Glagah Putih itu pun bertanya, “Kenapa Ki Darma Tanda tidak tertarik untuk menjadi Senapati di Panaraga?”</p>
<p>Ki Darma Tanda tersenyum. Katanya, “Belum tentu aku dapat melampaui orang-orang berilmu tinggi itu, Ngger. Tetapi sejak semula aku memang tidak tertarik. Sudah aku katakan, bahwa bagiku hidup sebagaimana aku jalani sekarang ini merupakan jalan kehidupan yang paling tepat bagiku dan keluargaku.”</p>
<p>Glagah Putih masih saja mengangguk-angguk.</p>
<p>Akhirnya mereka bertiga pun telah berpisah. Ki Darma Tanda yang langsung pulang ke rumahnya itu pun berpesan, “Sering-seringlah datang ke rumahku, Ngger. Kita dapat berbincang-bincang tentang banyak hal. Juga tentang Senapati yang baru itu.”</p>
<p>“Terima kasih, Ki Darma Tanda,” Madyastalah yang menjawab, “dalam satu kesempatan, kami akan mengunjungi Ki Darma Tanda. Bukankah rumah kami tidak terlalu jauh?”</p>
<p>Ki Darma Tanda tersenyum. Katanya, “Terima kasih, Ngger. Kadang-kadang aku memang menginginkan orang yang dapat aku ajak berbicara tentang berbagai macam hal, seperti Angger berdua ini.”</p>
<p>Setelah mereka berpisah, Glagah Putih dan Madyasta pun langsung pulang ke rumah yang mereka huni selama ini.</p>
<p>Demikian mereka tiba di rumah, maka Glagah Putih pun segera menghubungi Rara Wulan yang kebetulan duduk sendiri di dapur, untuk memberitahukan bahwa Pangeran Ranapati telah memenangkan pendadaran untuk memperoleh kedudukan Senapati, yang akan melengkapi jajaran Senapati di Panaraga.</p>
<p>“Namun bagi Pangeran Ranapati, langkah ini hanyalah sekedar langkah pertama dari rencana perjalanannya yang panjang di Panaraga,” berkata Glagah Putih.</p>
<p>“Lalu langkah apa yang akan Kakang ambil?”</p>
<p>“Aku belum memutuskan.”</p>
<p>Demikianlah, maka kemenangan Pangeran Ranapati itu merupakan isyarat bagi Rara Wulan untuk menjadi lebih berhati-hati. Ia tidak tahu langkah apa yang kemudian akan dilakukan oleh Pangeran Ranapati itu. Apakah ia akan kembali kepada Kantil dan benar-benar menempatkannya sebagai seorang istri Pangeran, atau Pangeran Ranapati akan berbuat lain. Keberadaannya di rumah itu juga harus diperhitungkan dengan cermat. Namun agaknya Pangeran Ranapati sampai saat-saat terakhir di rumah itu hampir tidak pernah menghiraukannya.</p>
<p>Dalam pada itu di Istana Kadipaten Panaraga, setelah berbenah diri, Pangeran Ranapati pun telah menghadap Pangeran Jayaraga, yang telah diangkat menjadi Adipati di Panaraga. Pangeran Ranapati menghadap Pangeran Jayaraga diantar oleh Mas Panji Wangsadrana, yang merupakan salah seorang yang terhitung dekat dengan Pangeran Jayaraga.</p>
<p>“Aku terkesan oleh kemampuanmu,” berkata Pangeran Jayaraga.</p>
<p>“Hamba, Pangeran. Sebenarnyalah hamba tidak ingin menunjukkan kelebihan-kelebihan hamba. Tetapi hamba terpancing oleh kemampuan lawan hamba yang sangat tinggi, sehingga hamba terpaksa meningkatkan kemampuan hamba. Bahkan akhirnya hamba sangat terkejut ketika hamba melihat lawan hamba itu berniat mempergunakan puncak ilmu, dengan serangan berjarak yang menurut ketentuan tidak boleh dipergunakan.”</p>
<p>“Ya, aku melihatnya.”</p>
<p>“Hamba mohon ampun, bahwa hamba telah menyebabkan kematiannya, karena hal itu terjadi di luar niat hamba.”</p>
<p>“Sudah aku katakan, aku melihatnya. Itu bukan salahmu. Sebenarnya aku ingin mengangkat kalian berdua menjadi Senapati di Panaraga, karena ilmu kalian berdua nampaknya memenuhi syarat. Tetapi karena salahnya sendiri, maka seorang di antara kalian yang bertarung pada putaran terakhir itu telah terbunuh.”</p>
<p>“Hamba, Pangeran.”</p>
<p>“Sekarang, hanya kau sendiri sajalah yang akan aku tetapkan menjadi Senapati, melengkapi jajaran keprajuritan di Panaraga. Tetapi sebelumnya aku tentu ingin tahu, siapa kau dan berasal dari mana. Asal kelahiranmu dan perguruanmu.”</p>
<p>“Ampun, Pangeran, sebenarnya hamba segan untuk menyebut asal-usul hamba, karena mungkin Pangeran tidak mempercayainya. Tetapi bukankah hal itu tidak penting, sehingga hamba tidak perlu menguraikannya?”</p>
<p>“Tentu penting bagiku. Karena itu, kau harus menyebutnya dengan jujur.”</p>
<p>“Baiklah, Pangeran. Tetapi biarlah Mas Panji Wangsadrana sajalah yang mengatakannya, karena hamba sudah berterus-terang kepadanya.”</p>
<p>“Benar begitu, Mas Panji?”</p>
<p>“Hamba, Pangeran.”</p>
<p>“Baiklah. Jika demikian, katakan serba sedikit tentang orang yang telah memenangkan pendadaran untuk merebut kedudukan Senapati ini.”</p>
<p>“Ampun, Pangeran. Hamba mohon seribu ampun. Sebenarnyalah orang yang telah mengikuti pendadaran ini adalah putra dari Mataram yang tersia-sia. Putra Panembahan Senapati yang sejak kecilnya telah tersisih dari Istana, sehingga kemudian tinggal di sebuah padukuhan terpencil di kaki Gunung Merapi. Namun justru karena itu, maka penderitaannya itu merupakan laku prihatin, sehingga akhirnya putra Panembahan Senapati ini memiliki ilmu yang sangat tinggi, sebagaimana sudah Pangeran saksikan sendiri di arena pendadaran.”</p>
<p>“Putra Panembahan Senapati? Seorang Pangeran maksudmu?”</p>
<p>“Ya. Pangeran Ranapati. Tetapi keberadaannya tidak diakui oleh ayahanda Pangeran Ranapati, Kanjeng Panembahan Senapati.”</p>
<p>“Jadi orang ini putra Panembahan Senapati?”</p>
<p>“Ya. Ia termasuk putra yang terhitung tua. Memang lebih muda dari Pangeran Rangga, tetapi Pangeran Ranapati sendiri tidak tahu ia berada di urutan yang ke-berapa, karena sejak bayi ibundanya sudah tidak berada lagi di Istana.”</p>
<p>“Tetapi bagaimana mungkin hal seperti itu terjadi?”</p>
<p>“Bukankah Pangeran juga tahu, bahwa sifat dan sikap Kanjeng Panembahan Senapati itu tidak dapat terduga? Apakah Pangeran belum pernah mendengar bahwa salah seorang istri Panembahan Senapati telah dihukum mati tanpa melakukan kesalahan apa-apa?”</p>
<p>“Bohong.”</p>
<p>“Pangeran pernah mendengar cerita tentang Pangeran Umbaran, yang harus menyarungkan kerisnya pada sepotong kayu cendana pelet putih?”</p>
<p>“Ya, cerita itu memang hanya cerita. Tentu tidak terjadi sebenarnya.”</p>
<p>“Mungkin, Pangeran. Tetapi Pangeran Ranapati itu benar-benar sudah terusir dari Istana Mataram sejak masih terlalu kecil.”</p>
<p>Pangeran Jayaraga termangu-mangu sejenak. Seakan-akan kepada diri sendiri ia pun berkata, “Apakah aku harus mempercayainya?”</p>
<p>“Pangeran. Selain cerita tentang kayu cendana pelet putih itu, tentu Pangeran juga pernah mendengar cerita tentang kakanda Pangeran sendiri. Kanjeng Pangeran Rangga yang meninggal dililit ular raksasa di lehernya.”</p>
<p>“Ya, kenapa?”</p>
<p>“Pangeran percaya bahwa Kanjeng Pangeran Rangga benar-benar dililit ular di lehernya?”</p>
<p>“Ya. Ya, aku percaya. Kenapa?”</p>
<p>“Kalangan Istana mempunyai cerita lain tentang kematian Pangeran Rangga.”</p>
<p>“Kalangan Istana itu siapa? Aku juga orang Istana. Aku adalah Pangeran ke-sembilan. Sedangkan Adimas Prabu di Mataram adalah Pangeran ke-sepuluh. Seisi Istana Mataram mengetahuinya.”</p>
<p>“Baiklah, Pangeran. Setiap orang di kalangan Istana memang mengatakan bahwa Pangeran Rangga yang nakal itu telah mengganggu seekor ular raksasa yang sedang bertapa. Namun akhirnya Pangeran Rangga harus menebus dengan nyawanya. Meskipun ular itu berhasil dibunuhnya, namun Pangeran Rangga sendiri meninggal karena dililit lehernya. Tetapi menurut nalar, ular manakah yang akan dapat membunuh Pangeran Rangga, yang mempunyai kesaktian jauh di atas kesaktian para Pangeran di Mataram? Bahkan Pangeran Rangga telah mempermalukan tamu dari Tuban, yang dipimpin oleh Kanjeng Adipati Tuban sendiri.”</p>
<p>“Cukup,” bentak Pangeran Jayaraga, “Apa maksudmu sebenarnya dengan mengatakan dongeng-dongeng itu semuanya?”</p>
<p>“Ampun, Pangeran. Hamba hanya ingin mengatakan bahwa kemungkinan buruk itu dapat juga terjadi pada ibunda Pangeran Ranapati, yang harus meninggalkan Istana pada saat Pangeran Ranapati masih kanak-kanak. Tetapi seandainya Pangeran Jayaraga tidak menghendaki hal itu sebagai satu kenyataan, aku kira juga bukan apa-apa. Pangeran Ranapati dengan tulus ingin mengabdi kepada Pangeran Jayaraga. Karena Pangeran Ranapati merasa ragu bahwa kenyataan dirinya akan dapat diterima, maka ia telah menempuh cara yang berlaku bagi setiap orang, tanpa terpengaruh oleh darah keturunannya.”</p>
<p>Tiba-tiba saja hati Pangeran Jayaraga itu tersentuh. Bahkan kemudian suaranya pun merendah, “Baiklah. Aku akan mencoba mempercayainya, bahwa yang berhasil memenangkan pendadaran di Panaraga adalah saudaraku sendiri. Kakangmas Pangeran Ranapati, putra Kanjeng Panembahan Senapati.”</p>
<p>“Ampun, Pangeran,” Pangeran Ranapati itu menyesal, “seandainya hamba diterima sebagaimana orang kebanyakan, hamba sudah merasa bahagia sekali. Bagi hamba, apakah hamba dikenal sebagai seorang Pangeran atau tidak, itu tidak ada bedanya. Yang penting hamba dapat mengabdikan diri hamba di Panaraga. Di Mataram, hamba adalah anak yang terbuang. Seperti singgat belatung, hamba dicungkil dan dilemparkan ke dalam api yang menyala. Bahkan abunya pun dilemparkan ke sungai yang mengalir deras. Di sini, jika hamba boleh mengabdi, maka hamba akan melakukannya dengan sepenuh hati.”</p>
<p>“Sudahlah, Kakangmas,” sahut Pangeran Jayaraga, “aku mohon maaf atas penerimaan yang kurang akrab. Tetapi siapa pun Kakangmas, biarlah aku menganggapnya sebagai saudara sendiri. Kakangmas adalah seorang yang berilmu tinggi, yang akan dapat ikut membina Panaraga untuk menjadi besar.”</p>
<p>“Hamba, Pangeran.”</p>
<p>“Panggil aku sesuai dengan hubungan di antara kita.”</p>
<p>“Apakah hamba pantas melakukannya?”</p>
<p>“Kenapa tidak?”</p>
<p>“Baiklah, Adimas Pangeran Jayaraga. Aku akan berusaha menempatkan diri sebagaimana Adimas kehendaki.”</p>
<p>“Jadi selama ini dimana Kakangmas tinggal?”</p>
<p>Pangeran Ranapati pun segera menceritakan bahwa ia tinggal di sebuah pondok di sebuah padukuhan. Ia tinggal di sebuah rumah sederhana, di antara rumah-rumah sederhana yang lain.</p>
<p>“Baiklah, Kakangmas. Sejak saat ini, Kakangmas dapat tinggal di Istana. Di sebelah kanan ada gandok yang terhitung luas. Kakangmas dapat tinggal di gandok, sementara rumah yang pantas akan dibangun kemudian.”</p>
<p>“Terima kasih, Adimas. Terima kasih.”</p>
<p>“Dengan siapa Kakangmas tinggal di padukuhan itu?”</p>
<p>“Sendiri, Adimas.”</p>
<p>“Sendiri? Selama ini Kakangmas sendiri saja?”</p>
<p>“Ya. Aku adalah pengembara yang tidak menetap. Karena itu, selama ini aku hanya sendiri.”</p>
<p>“Kalau Kakangmas tinggal di Istana ini, Kakangmas juga sendiri?”</p>
<p>“Ya, Adimas. Aku akan sendiri saja.”</p>
<p>“Baiklah. Malam nanti Kakangmas dapat tinggal di gandok. Kakangmas tidak usah kembali ke tempat tinggal Kakangmas itu.”</p>
<p>“Ampun, Dimas. Jika aku nanti pulang, aku sekedar akan membenahi segala sesuatunya. Aku akan minta diri kepada beberapa orang tetangga, dan selanjutnya aku akan langsung datang kemari, meskipun mungkin agak malam.”</p>
<p>“Baiklah. Terserah kepada Kakangmas. Para petugas di Istana ini akan mendapat perintah untuk membuka pintu gerbang, kapan pun Kakangmas datang.”</p>
<p>“Terima kasih, Adimas. Aku merasa mendapat kehormatan yang sangat tinggi dalam hidupku.”</p>
<p>Pangeran Jayaraga tertawa. Katanya, “Bukan penghargaan yang sangat tinggi. Kakangmas mendapat penghargaan yang seharusnya. Kakangmas akan menjadi Senapati linuwih yang akan mengendalikan prajurit Panaraga, sehingga kita akan dapat mencapai satu tataran yang menempatkan Panaraga sebagai satu kadipaten yang terbaik.”</p>
<p>Demikianlah, maka Pangeran Ranapati pun segera minta diri. Ia ingin kembali ke rumahnya lebih dahulu, sebelum untuk selanjutnya ia akan tinggal di Kadipaten.</p>
<p>Ketika Pangeran Ranapati keluar dari pintu gerbang Kadipaten, dua pasang mata memperhatikannya saksama. Namun demikian Pangeran Ranapati pergi menjauh, maka seorang di antaranya berkata, “Kakang Madyasta, sebaiknya Kakang Madyasta pulang.”</p>
<p>“Kau?”</p>
<p>“Aku akan mengawasi Pangeran Ranapati.”</p>
<p>“Aku ikut bersamamu.”</p>
<p>“Jangan, Kakang. Pangeran Ranapati adalah seorang yang ilmunya sangat tinggi. Jika kita tidak pandai membawa diri, maka keberadaan kita akan dapat dirasakannya. Bukan maksudku meremehkan kemampuanmu, tetapi orang ini adalah orang yang sangat berbahaya.”</p>
<p>Madyasta harus menyadari seberapa tinggi kemampuannya. Jika ia memaksa untuk ikut bersama Glagah Putih, maka ia justru akan dapat mengganggunya</p>
<p>Karena itu maka ia pun berkata, “Baiklah. Aku akan pulang. Tetapi jika kau perlukan aku, jangan segan untuk mengatakannya.”</p>
<p>“Aku mengerti, Kakang. Bukankah kita sedang mengemban tugas bersama?”</p>
<p>Madyasta pun kemudian dengan hati-hati meninggalkan tempat persembunyiannya dan pulang ke rumahnya, sementara Glagah Putih pun segera menghubungi Rara Wulan.</p>
<p>“Mudah-mudahan Rara Wulan tidak sedang sibuk,” berkata Glagah Putih di dalam hatinya.</p>
<p>Sebenarnyalah Rara Wulan dapat menerima pesan Glagah Putih. Menurut Glagah Putih, agaknya malam ini Pangeran Ranapati akan pulang.</p>
<p>“Kau pasti, Kakang?” bertanya Rara Wulan.</p>
<p>“Mungkin. Tetapi kemungkinan itu sangat besar. Karena itu berhati-hatilah.”</p>
<p>“Ya, Kakang.”</p>
<p>“Sekarang kau sedang apa?”</p>
<p>“Aku berada di bilik tidur. Kantil baru saja marah-marah. Aku telah ditamparnya. Hampir saja aku kehilangan kesabaran. Jika itu terjadi, maka perempuan itu tentu sudah terkapar mati.”</p>
<p>“Sabarlah. Mungkin tugas kita akan segera memasuki putaran yang lebih rumit. Karena itu, simpan tenagamu. Anggap saja perempuan itu perempuan gila.”</p>
<p>“Tetapi bukankah Kakang tidak tahu, apa yang akan dilakukan oleh Pangeran Ranapati nanti di rumah ini?”</p>
<p>“Ya, aku tidak tahu. Tetapi aku akan berada dekat dengan rumah itu. Jika terjadi sesuatu, aku akan melibatkan diri. Tetapi jika kau mampu mengatasi sendiri, maka biarlah kau yang mengatasinya.”</p>
<p>“Baik, Kakang.”</p>
<p>Rara Wulan pun telah memutuskan hubungannya dengan Glagah Putih lewat Aji Pameling. Ia masih membaringkan dirinya di pembaringan. Menjelang gelap Kantil telah menamparnya, karena Rara Wulan telah menumpahkan minuman hangat hampir mengenai kakinya.</p>
<p>“Apakah kau sudah gila?” geram Kantil setelah menampar pipi Rara Wulan, sehingga pipi itu menjadi merah.</p>
<p>“Ampun, Mbokayu.”</p>
<p>“Jika sekali lagi kau tumpahkan minuman panas di kakiku, aku bunuh kau.”</p>
<p>“Aku sama sekali tidak sengaja. Nampannya itu miring, sehingga mangkuk yang ada di dalamnya bergeser, sehingga isinya tumpah.”</p>
<p>“Letakkan mangkuk-mangkuk itu di dalam.”</p>
<p>Rara Wulan pun telah meletakkan mangkuk-mangkuk minuman itu di ruang dalam. Satu mangkuk buat Kantil, satu disediakan jika Pangeran Ranapati pulang. Meskipun untuk beberapa lama Pangeran Ranapati tidak pulang, tetapi mangkuk itu tetap saja disediakan baginya.</p>
<p>Ketika malam kemudian menjadi semakin gelap, serta lampu-lampu minyak sudah menyala dimana-mana, Pangeran Ranapati telah mendekati regol rumahnya. Beberapa saat kemudian, Pangeran itu telah melangkah memasuki halaman.</p>
<p>Pangeran Ranapati menarik nafas dalam-dalam. Ia akan meninggalkan rumah itu dan tinggal di Istana kadipaten Panaraga bersama Pangeran Jayaraga. Meskipun Pangeran Ranapati tahu bahwa Pangeran Jayaraga belum mempercayainya sepenuhnya, tetapi kesempatan telah terbuka baginya. Jika ia dapat menunjukkan jasanya bagi Panaraga, maka Pangeran Jayaraga tidak akan menghiraukan lagi siapakah ia sebenarnya.</p>
<p>Pangeran Ranapati pun menyadari bahwa Pangeran Jayaraga sendiri adalah orang yang berilmu sangat tinggi. Tetapi Pangeran Jayaraga tentu tidak akan terlalu sering turun langsung untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh Panaraga.</p>
<p>Sejenak Pangeran Ranapati itu berdiri tegak di halaman. Namun kemudian ia pun segera melangkah mendekati pintu rumahnya.</p>
<p>Perlahan-lahan Pangeran Ranapati itu mengetuk pintu rumahnya. Sementara itu ternyata Kantil masih belum tertidur.</p>
<p>“Siapa?” bertanya Kantil.</p>
<p>“Aku, Kantil. Bukankah kau kenal suaraku?”</p>
<p>“Pangeran? Bukankah paduka Pangeran Ranapati?”</p>
<p>“Ya. Aku Pangeran Ranapati.”</p>
<p>Kantil pun segera berlari sehingga bahunya menyentuh pintu biliknya. Suaranya berderak mengejutkan.</p>
<p>Tetapi Ranti, yang sudah mendengar jawaban Pangeran Ranapati, tidak keluar dari biliknya. Jika ia ikut menyongsong Pangeran Ranapati, maka Kantil tentu akan menjadi marah, dan menuduhnya ikut-ikutan mengambil hati Pangeran Ranapati yang sudah beberapa lama pergi.</p>
<p>Demikian pintu dibuka, maka Pangeran Ranapati pun segera melangkah masuk, sedangkan Kantil pun berlutut di hadapannya sambil menyembah, “Sembah bakti hamba bagi Pangeran.”</p>
<p>“Terima kasih, Kantil. Tetapi bangkitlah. Duduklah.”</p>
<p>Kantil itu pun segera bangkit dan duduk di ruang depan. Demikian pula Pangeran Ranapati.</p>
<p>Namun Kantil itu pun kemudian berkata, “Ampun, Pangeran. Biarlah dipersiapkan minuman hangat bagi Pangeran. Pangeran tentu haus.”</p>
<p>“Terima kasih, Kantil. Siapakah yang akan menyiapkan minuman itu bagiku?”</p>
<p>Kantil menjadi ragu-ragu. Tetapi ia pun kemudian menjawab, “Ranti, Pangeran.”</p>
<p>“O. Jadi perempuan itu masih ada di sini?”</p>
<p>“Ya, Pangeran. Ia masih ada di sini.”</p>
<p>“Baiklah. Biarlah perempuan itu menyiapkan minuman hangat. Aku memang haus.”</p>
<p>Kantil pun segera pergi ke belakang. Ketika ia melihat pintu bilik Ranti masih tertutup, ia pun segera mendorong pintu itu sambil membentak, “He! Bangun, pemalas! Pangeran sudah datang. Kau harus merebus air dan menyiapkan minuman. Nanti biar aku sendiri yang menghidangkannya.”</p>
<p>“Ya, Mbokayu,” jawab Ranti sambil tergagap bangun.</p>
<p>Sejenak kemudian Ranti sudah berada di dapur. Setelah ia menyalakan api dan meletakkan belanga di atas perapian, maka ia pun mulai menghubungi Glagah Putih.</p>
<p>“Benar, Kakang. Pangeran telah pulang.”</p>
<p>“Aku melihatnya. Aku berada di sudut halaman depan.”</p>
<p>“Kenapa Kakang tidak menghubungi aku?”</p>
<p>“Aku tidak tahu, kau baru apa.”</p>
<p>“Aku sekarang sedang merebus air untuk membuat minuman bagi Pangeran Ranapati.”</p>
<p>“Bagiku juga.”</p>
<p>“Bagaimana aku akan menyerahkan kepadamu?”</p>
<p>“Tinggalkan saja di dapur. Jika ada kesempatan, biarlah aku ambil sendiri.”</p>
<p>“Kau ini ada-ada saja, Kakang. Kau tentu melihat bahwa para pengikut Pangeran Ranapati sangat setia menjalankan tugas mereka. Mereka berkeliaran dimana-mana.”</p>
<p>“Tentu aku akan berhati-hati. Tetapi seperti yang aku katakan, jika mungkin, atasi sendiri persoalan di rumah ini. Hanya jika perlu aku akan melibatkan diri. Aku masih merasa berkepentingan untuk menyembunyikan wajahku dari penglihatan Pangeran Ranapati.”</p>
<p>“Aku mengerti, Kakang.”</p>
<p>Dalam pada itu, maka Ranapati telah banyak bercerita kepada Kantil tentang apa yang diperbuatnya selama berhari-hari. Bagaimana ia harus bertarung di arena sampai beberapa rambahan, sehingga akhirnya ia dapat memenangkan pertarungan di putaran terakhir.</p>
<p>“Jadi Pangeran memenangkan pendadaran itu?”</p>
<p>“Ya. Aku pun telah berterus terang kepada Adimas Pangeran Jayaraga, bahwa aku adalah Pangeran Ranapati, putra Kanjeng Panembahan Senapati, sebagaimana Pangeran Jayaraga sendiri.”</p>
<p>“Berbahagialah kita, Pangeran. Lalu anugrah apa yang Pangeran terima dengan kemenangan Pangeran itu, selain kedudukan Senapati?”</p>
<p>“Aku haus, Nyi.”</p>
<p>“Baik, baik, Pangeran. Aku akan mengambil minuman.”</p>
<p>Kantil itu pun kemudian dengan tergesa-gesa telah pergi ke dapur. Pada saat yang tepat, Ranti telah selesai menuang dua mangkuk minuman hangat, sementara minuman yang disediakan di ruang dalam sudah menjadi dingin.</p>
<p>Sambil meneguk minuman hangat itu, Pangeran Ranapati pun berkata, “Nyi. Panggil semua orang yang ada di rumah ini. Para petugas dan para pekerja.”</p>
<p>“Untuk apa, Pangeran?”</p>
<p>“Biarlah mereka mendengar kemenangan yang telah aku dapatkan dalam pendadaran beberapa hari ini.”</p>
<p>“Tetapi kenapa semua petugas dan bahkan para pekerja?”</p>
<p>“Sudahlah. Panggil mereka. Biarlah mereka juga mendengar berita baik ini.”</p>
<p>“Hamba, Pangeran,” sahut Kantil kemudian sambil bangkit berdiri.</p>
<p>Dari pintu dapur, Kantil pun telah memerintahkan para petugas untuk berkumpul di ruang depan. Para petugas dan para pekerja.</p>
<p>“Pangeran membawa berita baik bagi kalian.”</p>
<p>Orang yang bertubuh agak pendek itu pun bertanya, “Siapa saja yang harus menghadap, Nyi?”</p>
<p>“Kalian semuanya.”</p>
<p>“Semuanya? Lalu siapakah yang bertugas?”</p>
<p>“Hanya sebentar. Sekedar mendengarkan berita baik.”</p>
<p>Perintah itu pun segera disampaikan kepada setiap orang yang ada di rumah itu. Yang bertugas ataupun yang sedang tidur mendengkur di belakang.</p>
<p>Sejenak kemudian orang-orang itu pun telah duduk di ruang depan. Mereka duduk di lantai menghadap Pangeran Ranapati, yang duduk di amben yang agak besar bersama Kantil.</p>
<p>Sementara itu, Rara Wulan terkejut ketika tiba-tiba seseorang menjenguk pintu dapur yang tidak diselarak</p>
<p>“Kau mengejutkan aku, Kakang,” desis Rara Wulan.</p>
<p>Glagah Putih tertawa tertahan. Katanya perlahan, “Aku sudah mengatakan, bahwa aku akan mengambil minumanku sendiri. Dinginnya di luar. Minuman hangat akan menyegarkan tubuhku.”</p>
<p>“Itu, minum dari mangkukku. Cepat. Mereka tidak akan lama.”</p>
<p>Namun dalam pada itu, Pangeran Ranapati yang duduk dihadap oleh para pengikutnya itu tiba-tiba saja bertanya kepada Kantil, “Masih ada yang kurang, Nyi.”</p>
<p>“Sudah semuanya, Pangeran.”</p>
<p>“Biarlah Ranti ikut mendengar juga.”</p>
<p>“Ranti? Apakah anak itu perlu dipanggil.”</p>
<p>“Ya, panggilah.”</p>
<p>Sebenarnya Kantil tidak ingin memanggil Ranti untuk ikut mendengarkan berita baik yang akan disampaikan oleh Pangeran Ranapati. Tetapi karena Pangeran Ranapati menghendaki, maka Kantil tidak dapat menolak.</p>
<p>Dengan sikap yang agak kasar Kantil pun melangkah pergi ke dapur. Sementara itu Glagah Putih sedang menikmati minuman bersama Rara Wulan.</p>
<p>Namun telinga mereka cukup tajam. Demikian mereka mendengar langkah ke dapur, Glagah Putih pun dengan cepat menghilang di balik pintu.</p>
<p>“Hampir saja,” berkata Rara Wulan di dalam hatinya.</p>
<p>“He, pemalas! Kau juga diperkenankan mendengarkan berita baik yang akan disampaikan oleh Pangeran Ranapati di ruang depan. Cepat. Pergilah ke ruang depan!”</p>
<p>Kantil tidak menunggu Ranti menyahut. Ia pun segera mendahului pergi ke ruang depan dan duduk di amben bersama Pangeran Ranapati. Sedangkan Ranti baru sejenak kemudian memasuki ruang depan itu pula.</p>
<p>Demikian ia masuk, maka Kantil itu pun membentaknya, “Cepat! Duduk di sini!”</p>
<p>Ranti itu pun kemudian duduk di lantai di dekat kaki Kantil, yang duduk di amben bersama Pangeran Ranapati.</p>
<p>Baru sejenak kemudian, setelah suasana menjadi tenang, Pangeran Ranapati itu pun berkata, “Ketahuilah bahwa aku sudah ditetapkan, meskipun belum diwisuda, menjadi salah seorang Senapati di Panaraga. Bahkan jika nasibku baik, aku akan dapat menjadi panglima prajurit Paranaga.”</p>
<p>“Jadi Pangeran memenangkan adon-adon itu?”</p>
<p>“Ya. Aku pun sudah berterus-terang bahwa aku adalah seorang Pangeran.”</p>
<p>“Jadi?”</p>
<p>“Aku berhak mendapat sebuah rumah yang pantas bagi seorang Pangeran. Namun sebelum rumah itu siap, aku akan tinggal di Istana.”</p>
<p>“Jadi kami juga akan tinggal di Istana?”</p>
<p>“Tentu curut-curut buruk seperti kalian tidak pantas ikut tinggal di Istana.”</p>
<p>“Maksud Pangeran?”</p>
<p>“Kalian akan tetap tinggal di sini. Kalian akan tetap menjadi pengikutku yang setia, yang akan melakukan tugas-tugas khusus yang aku perintahkan di luar jajaran keprajuritan. Karena itu aku masih memerlukan kalian. Jika untuk satu keperluan aku tidak dapat mempergunakan kekuatan prajurit Panaraga, maka kalianlah yang akan bergerak. Mungkin pada suatu ketika akan terjadi benturan antara kalian dan para prajurit Paranaga. Tetapi karena kedua-duanya berada di bawah kendali satu orang, maka jangan cemas bahwa akan timbul malapetaka.”</p>
<p>Para pengikut Pangeran Ranapati itu pun mengangguk-angguk.</p>
<p>“Aku tidak akan melupakan jasa-jasa kalian. Jika pada suatu ketika kelompok kalian itu sudah tidak diperlukan lagi, maka satu demi satu kalian akan aku tarik menjadi prajurit di Panaraga.”</p>
<p>“Terima kasih, Pangeran. Terima kasih.”</p>
<p>“Lalu bagaimana dengan hamba, Pangeran?” bertanya Kantil, “Bukankah hamba dapat ikut Pangeran tinggal di Istana?”</p>
<p>“Tidak, Nyi. Sesuai dengan pengakuanku, aku hanya seorang diri. Jadi, kau dan Ranti akan aku tinggalkan di rumah ini bersama para pengikutku.”</p>
<p>“Tetapi apakah Pangeran akan selalu datang kemari?”</p>
<p>“Tidak. Aku tidak akan datang lagi kemari.”</p>
<p>“Lalu bagaimana dengan hamba? Lalu hamba akan ikut siapa, jika Pangeran tidak akan pernah datang kemari?”</p>
<p>“Jangan takut, Nyi. Bukankah di sini banyak laki-laki? Mereka akan menemani kau sebagaimana aku sendiri.”</p>
<p>“Pangeran?” Kantil itu hampir menjerit.</p>
<p>Tetapi Pangeran Ranapati itu pun tertawa berkepanjangan. Sambil bangkit berdiri ia pun berkata, “Sudah waktunya aku pergi.”</p>
<p>Tetapi Kantil masih berteriak, “Pangeran! Jangan tinggalkan aku pergi.”</p>
<p>“Jadi maksudmu agar aku menunggui kau sampai tua? Kapan aku dapat menggapai satu kesempatan yang lebih baik, jika aku hanya menungguimu saja?”</p>
<p>“Pangeran. Waktu itu Pangeran singgah di rumah orang tuaku. Pangeran kehujanan sehingga basah kuyup. Malam itu Pangeran bermalam di rumahku. Di hari berikutnya Pangeran minta kepada orang tuaku untuk membawa aku ke Panaraga.”</p>
<p>“Bukankah aku sudah membawamu ke Panaraga?”</p>
<p>“Pangeran berjanji untuk menjadikan aku sebagai istri Pangeran, yang tidak akan Pangeran tinggal dalam keadaan apa pun juga.”</p>
<p>“Aku berjanji?”</p>
<p>“Ya. Pangeran berjanji. Karena itu, janji itu harus ditepati. Pangeran tidak dapat begitu saja mengingkarinya.”</p>
<p>“Siapa yang mengatakan bahwa janji itu harus ditepati? Apa pula akibatnya jika aku ingkar janji?”</p>
<p>“Pangeran adalah seorang ksatria. Apa yang terucapkan tidak akan dijilat kembali.”</p>
<p>“Aku adalah seorang yang tidak terikat oleh tatanan apa pun juga. Aku juga tidak perlu menyebut diri ksatria. Pokoknya, aku memang berniat ingkar janji, pergi dan meninggalkan kau dan Ranti di sini. Bukankah aku sudah berbaik hati untuk memberikan banyak laki-laki kepada kalian berdua?”</p>
<p>“Tidak, Pangeran, tidak. Aku telah Pangeran ambil dari orang tuaku. Sekarang Pangeran harus mengembalikan aku kepada orang tuaku pula.”</p>
<p>“Kenapa kau selalu berkata dengan harus, harus? Apa yang harus? Siapa yang berani memaksa aku dengan keharusan itu?”</p>
<p>“Pangeran! Pangeran! Tolong aku.”</p>
<p>Tetapi yang terdengar adalah suara tertawa itu pula.</p>
<p>Demikianlah, maka sejenak kemudian Pangeran Ranapati itu pun melangkah ke pintu. Ketika Pangeran Ranapati itu akan keluar, maka Kantil pun telah menerkam kakinya sambil menangis. Katanya, “Jangan pergi, Pangeran! Jangan pergi!”</p>
<p>Tetapi Pangeran Ranapati itu berjalan terus, sehingga Kantil itu pun terseret beberapa langkah. Di halaman, Pangeran Ranapati mengibaskan kakinya, sehingga Kantil itu pun jatuh terlentang.</p>
<p>“Jangan sentuh aku lagi. Jika kau berani mengotori kulitku, kulit Pangeran Ranapati, maka aku akan mencekikmu sampai mati.”</p>
<p>“Tetapi antar aku pulang, Pangeran.”</p>
<p>“Biarlah salah seorang laki-laki itu mengantarmu pulang, jika mereka menjadi jemu.”</p>
<p>“Pangeran yang mengambil aku. Pangeranlah yang harus mengantar aku pula.”</p>
<p>“Harus, harus. Sekali lagi kau mengatakannya, aku koyak mulutmu, dan aku potong lidahmu dengan kerisku ini,” geram Pangeran Ranapati. “Kau kira siapa orang tuamu itu? Ia tidak lebih dari seorang perabot di padukuhan kecil. Sedangkan aku adalah seorang Pangeran. Bagiku perabot kecil itu tidak akan ada artinya apa-apa. Juga anaknya. Kalau kau mau pulang, pulanglah sendiri, kalau laki-laki yang mengerubungimu itu tidak berkeberatan.”</p>
<p>“Pangeran! Pangeran!”</p>
<p>Tetapi Pangeran Ranapati itu tidak mendengarkannya lagi. Ia pun segera keluar dari regol halaman rumahnya dan menutup pintu regol itu.</p>
<p>Kantil pun berniat untuk berlari ke regol halaman itu. Tetapi seorang yang rambutnya sudah mulai ubanan telah berdiri di pintu yang sudah tertutup itu.</p>
<p>Orang itu pun tertawa. Suara tertawanya telah membuat seluruh rambut Kantil berdiri.</p>
<p>“Jangan menyesali nasib, Nyi. Selama ini kami harus sangat menghormatimu. Tetapi sekarang tidak lagi. Kau justru harus tunduk di hadapanku, menghormatiku seperti menghormati Pangeran Ranapati.”</p>
<p>“Kakang,” berkata seorang yang masih lebih muda, “sebaiknya biarlah kedua orang perempuan itu memilih. Siapakah yang akan dipilihnya lebih dahulu.”</p>
<p>Orang yang sudah ubanan itu tertawa. Katanya, “Kau mulai dengan cara yang licik. Mereka tentu memilih orang-orang muda lebih dahulu. Tetapi sebaiknya kitalah yang membuat urutan itu. Dari yang paling tua, hingga yang paling muda.”</p>
<p>Namun mereka terkejut ketika tiba-tiba saja Ranti berlari kecil mendekati Kantil. Ditariknya pergelangan tangan Kantil sambil berkata, “Marilah, Mbokayu. Menepilah.”</p>
<p>Kantil tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Ranti. Ia pun mengikuti saja ketika Ranti itu menariknya ke sudut halaman. Ranti yakin bahwa Glagah Putih ada di sekitar tempat itu.</p>
<p>Tetapi sebagaimana dikatakan oleh Glagah Putih, jika Rara Wulan dapat mengatasi persoalan itu sendiri, maka biarlah Rara Wulan mengatasinya. Karena untuk kepentingan yang lebih besar, Glagah Putih masih akan menyembunyikan wajahnya dari Pangeran Ranapati atau pengikut-pengikutnya.</p>
<p>Beberapa orang laki-laki di halaman itu terkejut melihat sikap Ranti. Seorang di antara mereka bertanya, “Kau mau apa, anak manis? Nampaknya kau memang lebih menarik dari Nyi Kantil yang lebih tua itu.”</p>
<p>Namun beberapa orang laki-laki yang ada di halaman itu semakin terkejut ketika mereka melihat Ranti justru menyingsingkan kain panjangnya. Namun mereka pun segera melihat Ranti dalam pakaian khususnya.</p>
<p>Orang yang rambutnya sudah ubanan itu pun dengan nada tinggi bertanya, “Siapakah kau sebenarnya, dan apa maksudmu?”</p>
<p>“Ki Sanak,” geram Rara Wulan, “manusia adalah mahluk ciptaan Yang Maha Agung yang derajadnya tertinggi di muka bumi. Manusia diberi-Nya akal budi, untuk dengan perlahan-lahan mengangkat peradaban manusia itu sendiri. Itulah bedanya manusia dengan binatang yang dikuasai oleh nalurinya. Jika kalian tidak dikendalikan oleh akal budi dan hanya menuruti hasrat naluriah, maka apa bedanya kalian dengan binatang?”</p>
<p>“Anak iblis. Kau berani menyebut kami binatang?”</p>
<p>“Lalu apa sebutan kalian, yang dengan mata merah menyaksikan kami, dua orang perempuan, hanya dari sisi kewadagan? Kalian telah dibakar oleh nafsu untuk mendapatkan kenikmatan sesaat, tanpa memikirkan akibatnya yang akan berkepanjangan.”</p>
<p>“Akibat apa yang kau maksudkan?”</p>
<p>“Kau telah melanggar nilai-nilai yang diturunkan oleh Yang Maha Agung, yang telah menciptakan langit dan bumi. Kau akan mempertanggungjawabkan di hadapan-Nya.”</p>
<p>Tetapi orang yang rambutnya ubanan itu pun tertawa. Katanya, “Kau tidak dapat menakut-nakuti aku dengan apa yang tidak aku percaya. Aku telah membunuh, telah merampas kemerdekaan orang lain, melanggar kebebasan dan bahkan memperkosa. Apa artinya jika aku melakukannya sekali lagi? Dua kali atau berulang-ulang lagi?”</p>
<p>“Ketidakpercayaanmu tidak akan dapat menghapuskan hukuman abadi yang harus kau jalani. Percaya atau tidak percaya, maka kau akan memasuki satu masa penyiksaan abadi, karena kau akan terpisah dengan Penciptamu untuk selama-lamanya.”</p>
<p>Orang itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia pun menggeretakkan giginya, “Persetan dengan sesorahmu. Menyerahlah! Apa pun yang akan terjadi atasku, bukan tanggung jawabmu. Aku bukan pemimpi yang sempat membayangkan satu kehidupan yang tidak pernah ada.”</p>
<p>“Lihat dirimu. Siapakah yang telah menghembuskan nafasmu di lubang hidungmu?”</p>
<p>Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba beberapa orang yang berdiri di belakangnya berkata, “Kakang, aku tidak akan ikut melibatkan diri. Aku akan pergi ke belakang. Aku akan tidur saja.”</p>
<p>“Pengecut!” orang yang ubanan itu menggeram. “Yang tidak berani menantang ketiadaan, pergilah! Sedangkan yang tetap berjiwa tegar sebagaimana seorang laki-laki jantan, lakukan sebagaimana aku akan melakukannya.”</p>
<p>Beberapa orang pun telah meninggalkan halaman depan. Sedangkan masih ada empat orang yang tetap berdiri di halaman itu.</p>
<p>Tetapi seorang di antara empat orang itu masih berteriak, “Apakah yang kau harapkan dengan sikapmu itu? Kau ingin masuk ke dalam surga? Selama ini kau usung dosamu itu tanpa merasa terbebani. Tiba-tiba ketika kau ingin menambah dosamu sekuku ireng, kau merasa berkeberatan. Itu adalah pertanda bahwa jiwamu mulai rapuh. Dan kau akan dikutuk oleh kerapuhan jiwamu sendiri. Kau akan menyesal untuk waktu yang lama!”</p>
<p>Orang-orang yang meninggalkan halaman depan itu memang berhenti. Berpaling. Tetapi mereka pun melanjutkan langkah mereka pergi ke belakang. Mereka sendiri tidak tahu, kenapa tiba-tiba mereka menjadi muak atas tingkah laku kawan-kawannya itu. Padahal sebelumnya mereka pun telah menjalaninya.</p>
<p>Namun kata-kata perempuan yang menyingsingkan kain panjangnya dan mengenakan pakaian khusus itu rasa-rasanya memang sangat menyentuh hati. Apalagi ketika perempuan itu kemudian bertanya, “Jika kelak kau mati karena sebab apa pun juga, seseorang bertanya tentang dirimu, apakah kira-kira jawabnya? Mungkin kau sendiri tidak mendengar pertanyaan itu karena kau sudah mati. Tetapi kau tidak akan dapat menutup telinga hati, jika pertanyaan itu datang dari tempat yang selama ini tidak kau kenal. Dari tempat yang jauh dan tinggi tanpa ukuran. Di dalam dunia abadi, pertanyaan itu pun akan kau dengar dengan abadi pula. Memburu dengan seribu macam pertanyaan yang lain.”</p>
<p>“Tutup mulutmu, perempuan gila!” geram orang yang rambutnya ubanan.</p>
<p>Sementara itu, orang-orang yang pergi ke belakang itu pun berjalan terus. Bahkan mereka mulai merenungi kata-kata perempuan yang mengenakan pakaian khusus itu.</p>
<p>“Sekarang tidak ada waktu bagimu untuk berbicara panjang lebar,” berkata orang yang berambut ubanan. “Kalian akan menjadi tawanan kami. Jangan bicara tentang akal budi. Jangan berbicara peradaban manusia karena manusia bukan binatang. Itu semuanya terserah kepada kami. Apakah kami mau menjadi binatang atau mau menjadi manusia.”</p>
<p>“Baik,” jawab Rara Wulan, “aku akan menyesuaikan diri. Jika kalian berlaku seperti binatang, maka aku akan memperlakukan kalian seperti binatang. Tetapi jika kalian bertingkah laku seperti manusia, maka aku akan memperlakukan kalian seperti manusia.”</p>
<p>“Persetan kau, iblis betina!” teriak seorang di antara mereka. “Kau kira kau ini siapa, he? Kau telah menyurukkan dirimu sendiri ke dalam malapetaka yang tidak akan dapat kau tangguhkan.”</p>
<p>“Bersiaplah. Jangan menyesali nasibmu yang buruk,” geram Rara Wulan. Katanya kepada Kantil, “Minggirlah, Mbokayu.”</p>
<p>Keempat orang itu bergerak hampir berbareng. Tetapi seorang di antara mereka berkata, “Jangan berbuat apa-apa. Biarlah aku menangkapnya. Kita rentangkan tangan dan kakinya dan kita ikat kepada kedua batang pohon itu. Biar ia tahu, siapakah kita. Kita lebih biadab dari binatang, dan bahkan dari iblis sekalipun.”</p>
<p>Ketiga orang kawannya memang berhenti. Seorang yang bertubuh tinggi besar melangkah maju mendekati Ranti sambil menggeram. Tetapi Ranti sama sekali tidak beranjak dari tempatnya berdiri.</p>
<p>“Ranti,” yang terdengar justru suara Kantil, “jangan kau korbankan dirimu. Jika aku harus ikut menanggungnya, biarlah aku akan mengalaminya.”</p>
<p>Tetapi Ranti tidak berpaling. Ia bahkan bergeser menyongsong orang yang bertubuh tinggi besar itu.</p>
<p>Sesaat kemudian, orang yang bertubuh tinggi besar itu pun telah menjulurkan tangannya mengarah ke leher Ranti. Ia ingin mencekik Ranti, dan kemudian seperti yang dikatakan, kawan-kawannya akan dimintanya mengikat tangan dan kaki Ranti, direntang pada dua batang pohon di halaman itu.</p>
<p>Ranti memang tidak segera berbuat sesuatu. Ia sengaja menunggu orang yang bertubuh tinggi besar itu menjadi semakin dekat.</p>
<p>Tiba-tiba saja orang bertubuh tinggi besar itu pun terkejut. Tiba-tiba saja Ranti telah melenting seperti uler kilan. Demikian cepat dan kerasnya kakinya meluncur, langsung menyambar dada orang itu.</p>
<p>Orang itu sama sekali tidak menduga bahwa perempuan yang sehari-hari kelihatan seperti seorang penakut di bawah tekanan Kantil itu dapat menjadi garang, seperti seekor harimau jantan.</p>
<p>Dengan demikian, maka orang itu sama sekali tidak bersiap menghindar atau menangkis serangan itu. Yang dapat dilakukan adalah melindungi dadanya dengan tangannya yang bersilang. Tetapi tekanan serangan Ranti itu sangat keras, sehingga orang itu tidak saja terdorong surut, tetapi ia benar-benar terlempar beberapa langkah dan terbanting jatuh.</p>
<p>“Perempuan binal!” orang itu berteriak, tetapi kemudian mulutnya menyeringai menahan sakit pada saat ia berusaha untuk bangkit.</p>
<p>Sejak orang-orang itu melihat pakaian khusus yang dikenakan oleh perempuan itu, maka mereka memang sudah mengira bahwa serba sedikit perempuan itu memiliki kemampuan olah kanuragan. Tetapi mereka tidak mengira bahwa perempuan itu dapat melakukan serangan demikian kerasnya.</p>
<p>Ketika laki-laki yang bertubuh tinggi besar itu tertatih-tatih berdiri, maka ketiga kawannya tidak membiarkannya. Mereka pun tidak mau melakukan kesalahan lagi sehingga serangan perempuan itu meretakkan tulang dada.</p>
<p>Sejenak kemudian, maka pertempuran pun segera membakar halaman rumah Pangeran Ranapati itu. Orang bertubuh tinggi besar itu masih mencoba untuk bergabung dengan ketiga orang kawannya untuk melawan Rara Wulan.</p>
<p>Demikianlah, pertempuran itu pun berlangsung dengan sengitnya. Keempat orang itu benar-benar tidak mengira bahwa mereka akan berhadapan dengan seorang perempuan yang berilmu tinggi. Seorang perempuan yang selama berada di rumah itu diperlakukan sebagai seorang budak yang tidak berharga. Namun ketika ia bangkit, maka ternyata ia memiliki bekal yang nggegirisi.</p>
<p>Empat orang itu adalah empat orang terbaik dari para pengikut Pangeran Ranapati. Karena itu maka mereka harus menjaga harga diri mereka, agar mereka tidak dipermalukan oleh perempuan. Apalagi hanya seorang saja.</p>
<p>Pertempuran itu pun terdengar dari halaman belakang. Orang-orang yang menyingkir ke belakang itu tidak mendengar teriakan-teriakan sebagaimana yang mereka bayangkan akan mereka dengar. Tetapi yang mereka dengar justru pertempuran, yang semakin lama menjadi semakin sengit. Teriakan-teriakan dan hentakan-hentakan dari kedua belah pihak. Empat orang laki-laki dan seorang perempuan.</p>
<p>“Aku akan melihat, apa yang telah terjadi,” berkata salah seorang dari mereka.</p>
<p>“Aku ikut,” sahut yang lain.</p>
<p>Ternyata beberapa orang telah mengikutinya. Mereka ingin melihat apa yang telah terjadi di halaman depan.</p>
<p>Orang-orang itu pun terkejut. Mereka melihat keempat orang terbaik dari para pengikut Pangeran Ranapati itu tengah bertempur dengan garangnya. Mereka berloncatan menyerang berturut-turut seperti arus banjir bandang yang datang dari segala arah.</p>
<p>Tetapi pertahanan Rara Wulan benar-benar sangat kokoh. Serangan keempat lawannya itu tidak segera mampu menembus pertahanannya. Namun sebaliknya, justru serangan-serangan Rara Wulanlah yang mulai menyentuh sasarannya. Kakinya sekali-sekali terayun mendatar menampar kening. Namun kemudian kedua kakinya itu terjulur menghentak dada.</p>
<p>Satu per satu keempat orang itu mengalami kesakitan, sehingga mulut mereka pun setiap kali menyeringai menahan sakit.</p>
<p>Sejenak orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu menjadi termangu-mangu. Namun setiap kali mereka menyaksikan kawan-kawan mereka terlempar dan terbanting jatuh. Sekali-sekali terdengar keluhan panjang. Tetapi sekali-sekali yang terdengar adalah umpatan kasar.</p>
<p>“Luar biasa,” desis seorang di antara mereka yang menyaksikan pertempuran itu.</p>
</div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Temu Kecil dalam Pameran Antologi 2026 Lumbung Puisi 27-28 Juni 2026]]></title><description><![CDATA[Temu Kecil dalam Pameran Antologi 2026 Lumbung Puisi 27-28 Juni 2026 ]]></description><link>https://literanesia.com/temu-kecil-dalam-pameran-antologi-2026-lumbung-puisi-27-28-juni-2026/</link><guid isPermaLink="false">6a41737b815b0b0001ea8f7c</guid><category><![CDATA[Temu Kecil]]></category><dc:creator><![CDATA[Literanesia]]></dc:creator><pubDate>Sun, 28 Jun 2026 19:23:18 GMT</pubDate><media:content url="https://literanesia.com/content/images/2026/06/cfcd4696-3b87-44dd-8644-a9fdb2ed440a-1.jpeg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<div class="kg-card-markdown"><img src="https://literanesia.com/content/images/2026/06/cfcd4696-3b87-44dd-8644-a9fdb2ed440a-1.jpeg" alt="Temu Kecil dalam Pameran Antologi 2026 Lumbung Puisi 27-28 Juni 2026"><p>Temu Kecil Lumbung dalam Pameran Antologi 2026 Lumbung Puisi 27-28 Juni 2026 diikuti oleh para peserta pameran dan undangan serta simpatisan sastra Indonesia<br>
Mereka tak  kami tak dapat sebutkan satu persatu.<br>
Bahwa perjalanan itu mahal dan melelahkan apalagi menuju kota kecil di utara Jawa Barat, Indramayu dimana Lumbung Puisi Berada. Namun kesetiaan dan pengabdian terhadap literasi bangsa membuat yang mahal dan melelahkan itu hilang berganti gembira, Niat yang tulus menjadikan kita berlimpah berkah dan rezeki utukmu Mas dan Mbak: Naim Emel Prahana, Barokah Nawawi, Wardjito Soeharso bersama Ibu, Bambang Widiatmoko bersama ibu, Enthieh Mudakir, Budi Mulyono berserta ibu, Juniarso R, Doddi Ahmad Fauji, Sartikah, Ritawati Jassin, Imansyah Firman berserta Keluarga, KKcrayfish Phing, Acep Syahril, Biayanglana, Slamet Suryadi, Sri Sunarti, dan lain-lain yang tak dapat disebutkan satu-persatu serta segenap keluarga besar pendidik Kecamatan Sindang Indramayu.<br>
<img src="https://literanesia.com/content/images/2026/06/cfcd4696-3b87-44dd-8644-a9fdb2ed440a.jpeg" alt="Temu Kecil dalam Pameran Antologi 2026 Lumbung Puisi 27-28 Juni 2026"></p>
<p><img src="https://literanesia.com/content/images/2026/06/Logo-Pameran-Buku-13.png" alt="Temu Kecil dalam Pameran Antologi 2026 Lumbung Puisi 27-28 Juni 2026"></p>
</div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Nulis-nulis saja nanti ada orang lain yang memikirkan (rg bagus warsono)]]></title><description><![CDATA[Nulis-nulis saja nanti ada orang lain yang memikirkan (rg bagus warsono)]]></description><link>https://literanesia.com/nulis-nulis-saja-nanti-ada-orang-lain-yang-memikirkan-rg-bagus-warsono/</link><guid isPermaLink="false">6a345032815b0b0001ea8f66</guid><category><![CDATA[Artikel Sastra]]></category><dc:creator><![CDATA[Literanesia]]></dc:creator><pubDate>Sat, 20 Jun 2026 21:14:54 GMT</pubDate><media:content url="https://literanesia.com/content/images/2026/06/pena-lumbung-1.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<div class="kg-card-markdown"><img src="https://literanesia.com/content/images/2026/06/pena-lumbung-1.jpg" alt="Nulis-nulis saja nanti ada orang lain yang memikirkan (rg bagus warsono)"><p><img src="https://literanesia.com/content/images/2026/06/HB-Jassin.jpeg" alt="Nulis-nulis saja nanti ada orang lain yang memikirkan (rg bagus warsono)"><br>
Media koran Nasional yg terbit di Jakarta  dengan kolom puisi masuk meja HB Jassin, di daerah tumbuh pula koran regional juga dengan kolom puisi, tak semua penyair terdata di PDS HB Jassin, tetapi pengamatan HB Jassin tak ada duanya di negeri ini. (rg bagus warsono)</p>
<p><img src="https://literanesia.com/content/images/2026/06/Korrie_Layun_Rampan_at_UNY-_2015-06-08.jpg" alt="Nulis-nulis saja nanti ada orang lain yang memikirkan (rg bagus warsono)"><br>
Di tempat lain tumbuh antologi antologi (Korrie Layun Rampan)<br>
Yang membuat Antologi bukan aku sendiri, dan bukan yang dipamerkan saja, di tempat lain ribuan antologi tumbuh bak jamur. Dengan mengunjungi Pameran Antologi 2026 Lumbung Puisi menyadari bahwa penyair tidak kita saja, ternyata banyak Sahabat Lumbung menulis antologi.</p>
<p><img src="https://literanesia.com/content/images/2026/06/umbu.png" alt="Nulis-nulis saja nanti ada orang lain yang memikirkan (rg bagus warsono)"><br>
1976 Umbu membuka komunitas penyair, terbuka untuk semua, di Jogya pun ada komunitas serupa juga di kota-kota lain ada komunitas serupa, guru itu dimana-mana, tetapi Umbu Landu Paranggi tak terlupakan (rg bagus warsono)</p>
<p><img src="https://literanesia.com/content/images/2026/06/linus-s-ag.jpg" alt="Nulis-nulis saja nanti ada orang lain yang memikirkan (rg bagus warsono)"><br>
Linus terkenal dengan prosa lrik, sebuah gaya penulisan ini lebih mengutamakan ekspresi emosi, musikalitas kata, dan bahasa kiasan, namun tetap disajikan dalam bentuk paragraf alih-alih bait namun Linus Suryadi AG tidak mengaku yang pertama kali seperti kasus puisi esai itu, keluhuran budi ciri seorang penyair. (rg bagus warsono)</p>
<p><img src="https://literanesia.com/content/images/2026/06/abdul-hadi-wm.jpg" alt="Nulis-nulis saja nanti ada orang lain yang memikirkan (rg bagus warsono)"><br>
Abdul Hadi Wiji Muthari: “Dengan tulisan, saya mengajak orang lain untuk mengalami pengalaman religius yang saya rasakan. Sedang Taufik menekankan sisi moralistisnya.” Intelektual itu ditunjukan bukan oleh dirinya tetatpi oleh orang lain, karena buku-bukunya (rg bagus warsono)</p>
<p><img src="https://literanesia.com/content/images/2026/06/Rg-Bagus-Warsono-1.jpg" alt="Nulis-nulis saja nanti ada orang lain yang memikirkan (rg bagus warsono)"><br>
Nulis-nulis saja nanti ada orang lain yang memikirkan (rg bagus warsono)</p>
</div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[KUNCI CADANGAN, M Noer Setho]]></title><description><![CDATA[KUNCI CADANGAN, M Noer Setho]]></description><link>https://literanesia.com/kunci-cadangan/</link><guid isPermaLink="false">6a32f1879ca26f0001ab32ac</guid><category><![CDATA[puisi]]></category><dc:creator><![CDATA[Literanesia]]></dc:creator><pubDate>Wed, 17 Jun 2026 19:14:34 GMT</pubDate><media:content url="https://literanesia.com/content/images/2026/06/Logo-Lumbung-Puisi-2-4.jpeg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<div class="kg-card-markdown"><img src="https://literanesia.com/content/images/2026/06/Logo-Lumbung-Puisi-2-4.jpeg" alt="KUNCI CADANGAN, M Noer Setho"><p><strong>M Noer Setho</strong></p>
<p><strong>KUNCI CADANGAN</strong></p>
<p>Pernah kukira memahami orang lain adalah hal yang mudah.<br>
Rupanya yang terlihat hanyalah sebagian cerita.<br>
Ada pintu-pintu yang tidak pernah kita masuki.<br>
Namun kita sering merasa sudah tahu isi ruangannya.<br>
Anggapan itu tumbuh dari kesimpulan yang terburu-buru.<br>
Jangan sampai merasa tahu menjadi kesombongan yang tersembunyi.<br>
Ingatlah bahwa hidup setiap orang memiliki jalannya sendiri.<br>
Waktu akan menunjukkan hal yang belum kita mengerti.</p>
<p>Akhirnya kusadari, tidak semua pintu ditakdirkan untuk kubuka.</p>
<hr>
<p>Sering kali kita bukan kekurangan informasi.<br>
Kita hanya kelebihan kesimpulan.<br>
Ya Allah, jauhkan aku dari merasa paling tahu.<br>
Ajarkan aku kerendahan hati untuk memahami<br>
bahwa setiap manusia memiliki perjalanan</p>
<p>yang tidak seluruhnya dapat kulihat.</p>
<hr>
<p><em>✦ kawruh pranajiwa // KC-06-58 ✦<br>
Lembah Wening Budi — 16 Juni 2026</em></p>
</div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Semua Antologi Hebat]]></title><description><![CDATA[Semua Antologi Hebat ]]></description><link>https://literanesia.com/semua-antologi-hebat/</link><guid isPermaLink="false">6a31c4c19ca26f0001ab32a7</guid><category><![CDATA[Pameran Antologi 2026]]></category><dc:creator><![CDATA[Literanesia]]></dc:creator><pubDate>Tue, 16 Jun 2026 21:50:27 GMT</pubDate><media:content url="https://literanesia.com/content/images/2026/06/Logo-Pameran-Buku-12.png" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<div class="kg-card-markdown"><img src="https://literanesia.com/content/images/2026/06/Logo-Pameran-Buku-12.png" alt="Semua Antologi Hebat"><p>**Semua Antologi Hebat **<br>
Membaca antologi antologi puisi peserta Pameran Antologi 2026 Lumbung Puisi ternyata semuanya Hebat!<br>
Antologi kita bukan dibangun seperti gedung koperasi yang lagi santer pemberitaan. Pokoknya bangun dimana saja dana tersedia, gambar tersedia,  yang penting cepat besok diresmikan. Antologi kita dibangun dari proses bertermin (bertahap) yang cukup panjang,  desainya tidak tersedia seperti bangunan koperasi yang berkios-kios seperti di atas itu tetapi hasil umpul-umpul material (puisi) yang cukup memakan waktu dan energi.<br>
Setelah bahan kumpul barulah dibuat desainnya dengan judul yang mengena sesuai material. Jika masih belum cukup puisi menunggu beberapa hari bulan dan tahun adik puisi lahir.<br>
Tidak cukup di situ, proses selanjutnya editing,  penerbitan, menunggu hingga peluncuran. Pendek kata antologi dibangun dengan proses panjang.<br>
Jika koperasi yang di atas dibangun dengan tujuan mensejahterakan si pembangun, maka antologi itu sebaliknya yaitu memberi manfaat khalayak pembaca.<br>
Disinilah antologi itu hebat luar biasa, bahagia, gembira, sejahtera, sentosa gemah ripah loh jinawi  selamanya.<br>
*(Rg Bagus Warsono) *<br>
<img src="https://literanesia.com/content/images/2026/06/Rg-Bagus-Warsono.jpg" alt="Semua Antologi Hebat"></p>
</div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Ada pantun Hari Ini]]></title><description><![CDATA[Ada pantun Hari Ini]]></description><link>https://literanesia.com/ada-pantun-hari-ini/</link><guid isPermaLink="false">6a299b7d9ca26f0001ab329f</guid><category><![CDATA[pantun]]></category><dc:creator><![CDATA[Literanesia]]></dc:creator><pubDate>Wed, 10 Jun 2026 17:16:38 GMT</pubDate><media:content url="https://literanesia.com/content/images/2026/06/7.-tamu.jpeg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<div class="kg-card-markdown"><img src="https://literanesia.com/content/images/2026/06/7.-tamu.jpeg" alt="Ada pantun Hari Ini"><p>Ada pantun Hari Ini</p>
<p>Judul                : Ada pantun Hari Ini<br>
Jenis                : Fiksi<br>
Sastra               : Kumpulan Pantun<br>
Penulis              : Sunawi<br>
Asal Penulis         : Yogyakarta<br>
Penerbit             : Manuskrip<br>
Kota Ter bit         :  Yogyakarta<br>
Tahun Terbit         : 2026<br>
Cetakan             : 1<br>
Isi                       : -         Halaman<br>
ISBN                  : -</p>
<p><img src="https://literanesia.com/content/images/2026/06/Logo-Pameran-Buku-11.png" alt="Ada pantun Hari Ini"></p>
</div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Kembang Widuri]]></title><description><![CDATA[Kembang Widuri]]></description><link>https://literanesia.com/kembang-widuri/</link><guid isPermaLink="false">6a299aca9ca26f0001ab329c</guid><category><![CDATA[Novel]]></category><dc:creator><![CDATA[Literanesia]]></dc:creator><pubDate>Wed, 10 Jun 2026 17:13:07 GMT</pubDate><media:content url="https://literanesia.com/content/images/2026/06/6.-Tamu.jpeg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<div class="kg-card-markdown"><img src="https://literanesia.com/content/images/2026/06/6.-Tamu.jpeg" alt="Kembang Widuri"><p>KembangWiduri</p>
<p>Judul                : KembangWiduri<br>
Jenis                : Fiksi<br>
Sastra               : Novel<br>
Penulis              : Sunawi<br>
Asal Penulis         : Yogyakarta<br>
Penerbit             : Manuskrip<br>
Kota Ter bit         : Yogyakarta<br>
Tahun Terbit          : 2026<br>
Cetakan               : 1<br>
Isi                   :  161        Halaman<br>
ISBN                  : -<br>
<img src="https://literanesia.com/content/images/2026/06/Logo-Pameran-Buku-10.png" alt="Kembang Widuri"></p>
</div>]]></content:encoded></item></channel></rss>