Rinjani di Pencakar Langit, Mas Yono Buanergis Muryono

  1. Rinjani di Pencakar Langit, Mas Yono Buanergis Muryono

Dalam sebuah bazar buku penyair ini menunggui antologinya yang terdapat di meja bazar bersama antologi-antologi penyair lain.
Tak ada yang menanyakan antologi penyair ini. Bukan karena antologinya tak disentuh pengunjung tetapi karena penyair ini mentok harga sangat mahal. Kenapa? Karena proses membuat puisi juga mahal.
Untuk lebih memahami Pencakar Langit, kita lihat puisinya yang indah ini:
Rinjani,

//Aku pernah memandangmu dari puncak tertinggi negerimu
Lalu membisikkan pada awan, kabut dan angin
Agar pesanku sampai pada jiwamu/

Demikian puisi pendek itu dibuat melalui proses artinya walau puisi pendek juga melalui perenungan sehingga puisi itu mahal. Karena proses itulah menghasilkan puisi yang indah.
Pada puisi pendek lain Buanergis Muryono pun menulis:

Rambutku Dulu Hitam

/Rambutku dulu hitam legam
Kini putih mengelabu
Agar semakin tahu siapa jati diri ini, dan kemana tsoak langkah terus melaju//

Demikian puisi-puisi pendek di Pencakar Langit memberi cerah pada penyair bahwa sebetulnya penyair itu berada dalam istana para dewa.
(Rg Bagus Warsono)