RESEP KEMERDEKAAN Anas Bachtiar Arief
RESEP KEMERDEKAAN
Anas Bachtiar Arief
Ibu menanak nasi kemerdekaan
Dengan air mata yang dihemat
Dengan beras yang ditakar sendok
Dengan api kompor yang dipelankan
Di atas meja seng
Terbentang bendera dari kertas minyak
Di sampingnya:
Garam. Bawang. Dan doa.
Merdeka... katanya.
Tapi kenapa piring masih kosong?
Merdeka... katanya.
Tapi kenapa perut masih busung?
Bapak pulang membawa upah.
Cukup untuk gula dan minyak.
Tidak cukup untuk daging.
Tidak cukup untuk sekolah.
Anak bertanya,
"Bu, kapan kita makan enak?"
Ibu menjawab,
"Kalau bendera sudah dilipat."
Delapan puluh satu tahun merdeka.
Tapi dapur kami masih dijajah.
Oleh harga.
Oleh utang.
Oleh tanggal tua.
Merdeka bukan tiang yang tinggi.
Bukan hadiah di pucuk bambu.
Merdeka adalah panci yang mengepul.
Semua sendok menemukan bagiannya.
Tak ada lagi ibu
Yang harus memilih
Antara membayar listrik
Atau membeli beras.
Hari ini kami tidak memanjat.
Kami menanam
Di halaman yang sempit
Benih harapan
Bernama: cukup.