Renjana di Tepian Hulu, Wiji Yulianto

Wiji Yulianto**
**
Renjana di Tepian Hulu

Di bibir telaga, mawar jingga menyulut sepi,
Mekarnya meranum, membasuh kelopak fajar yang mati.
Tiada tara ia berseri, melukis udara dengan sasmita,
Menitip harum pada angin, menyebar bius ke ujung mata.
Aku adalah musafir di punggung sampan tua,
Menantang arus dari hilir, membelah riak duka.
Dayung kupacu menuju hulu, mencari muara rupa,
Tempat mawar itu bertahta, jauh dari ingar-bingar dunia.
Namun langkahku surut, takluk pada titah nurani,
Sebab keindahan tak selamanya berjodoh dengan jemari.
Biarlah ia tetap suci, kekal dalam renung dan kagum,
Daripada kupetik paksa, lalu layu dalam genggam yang ranum.
Menentang arus tak lagi elok bagi jiwa yang fana,
Membawa pulang aib, jika nafsu bertahta di atas sana.
Cukuplah kutitip rindu pada riak yang kembali pulang,
Menjaga mawar tetap abadi, di pelupuk ingatan yang terang.