REMY SYLADO, oleh Harry Tjahjono

REMY SYLADO
(12 Juli 1945 - 12 Desember 2022)
ADA NAMA yang selalu menggetarkan ingatan saya: Remy Sylado. Seniman serba bisa, puisi mbeling, jurnalis pelukis, pencipta lagu, penyanyi, dramawan, kritikus seni, mahaguru bagi jurnalis dan seniman muda—seorang yang seakan mustahil dibatasi hanya dalam satu sebutan. Ia seniman paripurna. Menguasai delapan bahasa. Ia hidup di banyak medan seni, selalu hadir dengan satu watak: keberanian untuk berbeda, dan disiplin yang teguh pada kerja kreatif. Nama aslinya Yapi Tambayong.
Dari Mas Remy, saya belajar satu hal yang terus membekas, yakni disiplin membaca dan menulis. Bukan sekedar disiplin, tapi menulis dengan standar yang keras: press clear. Tak boleh ada salah ketik! Ia percaya bahwa seorang penulis bukan hanya menyalurkan ide, melainkan juga menjaga mutu kerja, menjaga harga diri profesi. Mas Remy mengajarkan bahwa kesalahan kecil, seperti salah ketik, bisa berarti kelalaian terhadap pembaca. Itu ajaran sederhana tapi berakar kuat, yang terus saya bawa sepanjang hidup menulis.
Di balik kerasnya prinsip, Mas Remy adalah sahabat yang hangat. Kami sering berbincang tentang seni, tentang kehidupan, tentang kejenakaan yang tiba-tiba menyelinap di antara obrolan serius. Ia bisa tertawa keras, bisa mengutip ayat suci beragam agama, filsafat, atau puisi, bisa tiba-tiba bernyanyi atau melukis kata di udara. Bersamanya, seni terasa bukan sekadar karya, tapi juga cara hidup sehari-hari.
Saya masih ingat, ketika sakit mulai merenggut tubuhnya, Mas Remy tetap seorang pejuang. Tubuhnya hanya bisa terbaring tapi ia mengisahkan ide cerita novelnya mendatang kepada saya. Cerita tentang polisi berpangkat rendah. Tubuh boleh melemah, tapi kata-katanya tetap tegas, matanya masih menyala. Saya hadir di sisinya, bukan sekedar sebagai teman, tapi sebagai seorang murid yang berhutang rasa terima kasih. Hingga saat ia berpulang, saya menyaksikan betapa sosoknya tetap kokoh, seorang seniman sejati yang pergi dengan martabat.
Persahabatan dengan Mas Remy Sylado bagi saya bukan hanya soal pertemanan pribadi. Itu adalah bagian dari perjalanan seni saya sendiri. Ia meninggalkan teladan: bahwa karya lahir dari disiplin, bahwa keberanian melawan arus itu mungkin, bahwa hidup bisa dijalani dengan seni sebagai napasnya.
Kini, setiap kali saya menulis, saya masih mendengar gema nasihatnya: press clear, tak ada salah ketik. Sebuah pengingat kecil, tapi sarat makna. Persahabatan saya dengan Mas Remy adalah warisan jiwa—dan dengan itu, saya merasa ia masih hidup, masih berbicara, masih menuntun langkah saya.***
Hartjah
09102025